Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
75. Membongkar Kedok Si Pengkhianat.


__ADS_3

Deka berdiri di depan sebuah gudang kosong yang sudah tidak beroperasi lagi, dia telah menghubungi Victor untuk datang ke tempat itu dan tentunya pengkhianat yang bersekongkol dengan Julio juga. Dia merencanakan untuk membongkar kedok orang itu di depan Victor.


Deka memarkirkan mobilnya ditempat yang tersembunyi, dia memantau dari dalam mobil.


Sebuah mobil sedan hitam masuk ke halaman gudang dan berhenti sempurna, seorang pria yang tak lain adalah Bima keluar dari mobil itu dengan kebingungan. Dia celingukan kesana-kemari.


Deka pun keluar dari dalam mobil dan melangkah mendekati tangan kanan Victor itu.


Bima terkejut setengah mati saat melihat kemunculan Deka, dia mendadak panik dan gugup.


"Ka-kau?"


"Akhirnya kau datang juga," ujar Deka.


"A-apa yang kau lakukan di sini?"


"Menunggumu dan Tuan Victor."


Bima semakin panik, perasaannya mulai tidak enak.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan?"


"Membongkar kedok mu di depan Tuan Victor dan membalas perbuatan mu," sahut Deka dingin, auranya begitu mengerikan.

__ADS_1


Bima menelan ludah sambil bergidik ngeri, mungkin sebaiknya dia kabur dari sini sebelum hal buruk terjadi padanya, namun saat dia hendak masuk ke dalam mobil, ancaman Deka membuat dia mengurungkan niatnya.


"Tetap disitu atau kau akan berakhir seperti Julio!"


Bima termangu, dia sontak menoleh ke arah Deka dengan wajah pucat, "A-apa yang kau lakukan padanya?"


Deka tersenyum sinis, "Mengirimnya ke neraka."


Tubuh Bima seketika lemas dan gemetaran, dia sudah bisa menebak apa yang terjadi.


Mobil Victor akhirnya memasuki halaman gudang tersebut dan berhenti tepat di samping mobil Bima. Sama seperti Bima, Victor juga kebingungan.


"Ada apa ini?" Victor bertanya sebab heran melihat Deka menodongkan pistol ke Bima.


Victor tercengang dan sontak menatap Bima dengan tajam.


Sadar jika dirinya menjadi yang tertuduh, Bima berusaha membela diri, "Aku tidak tahu apa-apa, Tuan! Aku bersumpah!"


Deka menurunkan pistolnya, lalu mengeluarkan ponsel Julio serta potongan jari telunjuk lelaki itu dari sakunya, "Ini ponsel dan jari Julio."


Bima terperangah tak percaya, habislah dia kali ini.


Deka menggunakan jari tersebut untuk membuka kunci layar ponsel Julio, kemudian dia menghubungi sebuah nomor.

__ADS_1


Ponsel Bima pun berdering, dia mengeluarkan ponselnya dan semakin gemetar takut saat melihat nama Julio yang memanggil.


"Dia pengkhianat yang sudah bekerja sama dengan Julio Winata, mengalihkan Hendri Wang agar memesan barang dari Julio dan dia mendapat komisi. Dia juga yang membocorkan rencana kita kepada Julio sehingga malam itu aku dijebak dan terluka," terang Deka.


Bima yang sudah tertangkap basah tak bisa berkutik lagi, kali ini tamat sudah riwayatnya.


"Kurang ajar! Berani sekali kau melakukan itu!" geram Victor, dia langsung memukul Bima dengan sekuat tenaga.


"Ampuni aku, Tuan!" Bima memohon.


"Apa! Ampun katamu? Kau kan tahu, kalau aku paling benci dengan pengkhianat!" bentak Victor, dia kembali memukul wajah Bima hingga pelipis lelaki itu sobek dan mengeluarkan darah.


Bima meringis kesakitan.


Victor yang memukul wajah Bima dengan sekuat tenaga juga merasakan sakit, dia mengibas-ngibaskan tangannya yang nyeri.


"Deka, hajar dia! Tapi jangan sampai mati, karena aku masih ingin memberikan kejutan untuknya," pinta Victor, dia ingin Deka lanjut memukuli Bima.


Deka mengangguk, "Baik, Tuan."


"Tanganku sakit sekali, ternyata kepala si keparat ini keras juga," gerutu Victor sembari melangkah menjauh dari tangan kanannya itu.


Dengan wajah yang dingin dan bengis, Deka mendekati Bima lalu menghajar lelaki itu. Bima yang memang tidak mahir bela diri hanya bisa pasrah menerima pukulan demi pukulan yang Deka berikan padanya.

__ADS_1


***


__ADS_2