Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
100. Ternyata Dia Orangnya.


__ADS_3

"Aku pernah melihatnya," jawab Reyhan.


Deka sontak berdiri dan menatap Reyhan dengan tajam, "Di mana?"


"Di kamar tidur Pak Jhon."


Deka dan Starla terperangah mendengar pengakuan Reyhan tersebut.


"Kau yakin?" Deka yang syok berusaha memastikan.


"Iya, dan Pak Jhon pernah cerita jika pedang bercorak naga itu hadiah dari teman lamanya dan hanya satu-satunya di dunia. Pedang itu bahkan pernah dia gunakan untuk menghabisi bandar narkoba besar di pesisir kepulauan Riau dua puluh tahun yang lalu."


Deka terhenyak dan menatap Reyhan curiga, "Apa kau bilang? Bandar narkoba besar di pesisir kepulauan Riau? Dua puluh tahun yang lalu?"


Reyhan mengangguk, "Iya, kalau tidak salah namanya Darlan Piliang."


Deka bagai tersambar petir rasanya saat Reyhan menyebut nama mendiang ayahnya itu, ternyata orang yang selama dua puluh tahun ini dia cari sudah dia temukan.


Starla yang tidak tahu jika itu nama ayah Deka mendadak perasaannya tidak enak ketika melihat ekspresi wajah Deka yang tegang. Dengan hati-hati dia memberanikan diri mendekati Deka dan duduk di samping lelaki itu.


"Ada apa, Bang?" tanya Starla penasaran.


"Itu ayahku, Jhon Koto yang sudah menghabisi ayahku," jawab Deka dengan bibir bergetar, tangannya terkepal kuat menahan amarah siap meledak detik itu juga.


Starla dan Reyhan terkejut setengah mati, mereka tak menyangka Jhon Koto lah orang yang selama ini Deka cari-cari. Semua kebetulan ini sungguh tak pernah mereka duga sebelumnya.


Deka bangkit dari duduknya dan hendak pergi, namun dengan cepat Starla ikut beranjak lalu menarik lengan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Abang mau ke mana?" tanya Starla yang mulai cemas.


"Aku harus membalas si keparat itu," sahut Deka dengan sorot mata penuh kemarahan.


"Aku mohon jangan, Bang! Aku tidak mau Abang kenapa-kenapa, aku takut." Starla memohon dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, jangan bertindak gegabah yang nantinya bisa membuatmu rugi sendiri." Reyhan menimpali.


"Selama dua puluh tahun aku mencarinya, aku menyimpan dendam dan rasa sakit ini. Sekarang giliran ku untuk menghabisi dia," kecam Deka lirih sambil melepaskan cekalan tangan Starla di lengannya.


Starla yang panik dan semakin cemas kembali menahan Deka, kali ini dia memeluk tubuh kekar itu dengan sekuat tenaga, "Aku takkan membiarkan Abang pergi!"


"Starla lepas!" pinta Deka sembari menarik tangan kekasihnya itu agar terlepas dari tubuhnya, tapi Starla justru semakin menguatkan pelukannya.


"Tidak, kalau Abang tetap nekad pergi, Abang tidak akan lihat aku lagi di dunia ini," ancam Starla


"Aku mohon jangan pergi, Bang. Aku tidak mau Abang membunuh orang lagi, aku takut Abang terluka lagi. Aku takut, Bang." Starla terisak-isak sambil terus memeluk erat tubuh Deka.


Entah mengapa Deka menjadi lemah, dia merasa tak tega mendengar isak tangis Starla yang terdengar begitu pilu. Tapi amarah dan dendam yang membara masih membakar hatinya, dia tak akan bisa hidup tenang bila orang yang telah melenyapkan ayahnya belum mati.


"Aku minta tenanglah, kasihan Starla." Reyhan berusaha mendinginkan hati Deka.


Deka mengembuskan napas berat dan menuruti permintaan dua orang itu lalu menatap Reyhan, "Baiklah, kalau begitu kembalikan pistol ku!"


Reyhan bergeming, dia tak mau menuruti permintaan Deka itu.


"Aku bilang kembalikan!" bentak Deka.

__ADS_1


Mau tak mau Reyhan akhirnya melempar senjata api yang sejak tadi dia pegang itu ke kasur.


"Sekarang kau keluar!" pinta Deka lagi.


"Tapi Starla?"


"Biarkan dia di sini, aku tidak akan menyakitinya," sahut Deka yang mengerti kecemasan Reyhan.


Dengan perasaan ragu dan khawatir, Reyhan pun melangkah keluar dari kamar Deka. Dia merutuki dirinya karena sudah membongkar cerita tentang Jhon Koto pada pria dingin itu, dia akan sangat menyesal jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, apalagi kalau sampai Starla yang kenapa-kenapa.


Sepeninggalan Reyhan, Deka melepaskan tangan Starla yang melingkar di pinggangnya, "Sudah, lepaskan! Aku ingin tidur sambil memeluk mu.


Starla yang masih terisak-isak mengangkat kepalanya menatap Deka, "Abang tidak akan pergi, kan? Abang tidak akan menemui Papa dan membunuhnya, kan?"


Deka tersenyum samar lalu berkata, "Sudahlah, sebaiknya sekarang kita tidur, aku ingin sekali memelukmu."


Starla menurut dan tak lagi mengoceh, dia pasrah Deka menariknya ke atas ranjang. Mereka kemudian berbaring sambil berpelukan. Dengan lembut Deka mengelus rambut Starla lalu mengecupnya.


"Maafkan aku karena sudah membuat kau takut."


Starla hanya bergeming, air matanya masih saja menetes sesekali.


"Seburuk apa pun perbuatanku, sejahat apa pun aku. Tapi percayalah, sedikitpun aku tidak pernah berniat menyakiti orang-orang yang aku sayangi." Deka mengusap setetes air matanya yang jatuh.


Starla mengeratkan pelukannya dan kembali menangis di dada Deka.


"Tidurlah! Aku akan menjaga dan mencintaimu seumur hidupku, sampai aku mati." Deka kembali mencium kepala Starla, entah mengapa hatinya merasa takut kehilangan wanita itu.

__ADS_1


***


__ADS_2