Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
45. Perhatian.


__ADS_3

Dani akhirnya datang setelah beberapa saat yang lalu Starla menghubunginya dan menceritakan apa yang terjadi pada Deka, pria berkulit coklat itu sangat panik dan cemas mendengar kabar buruk tentang sang sahabat, dia yang sedang bekerja pun sontak izin pulang dan bergegas ke sini.


Starla juga sempat memesan beberapa obat kepada Dani, seperti antibiotik, obat pereda nyeri yang lebih bagus juga obat penghenti pendarahan, cairan antiseptik dan perban.


"Ini obat-obat yang kau pesan tadi, untung saja masih ada apotek yang buka jam segini." Dani menyodorkan kantung plastik yang dia bawa ke hadapan Starla.


Starla menerima kantung plastik itu dan memeriksa isinya, memastikan tidak ada yang salah.


"Di mana dia? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Dani.


"Dia ada di kamar. Tadi lukanya masih berdarah, tapi dia sudah aku berikan obat pereda nyeri," jawab Starla.


"Kalau begitu aku lihat dia dulu."


"Iya, aku mau ambil air putih. Dia harus minum antibiotik dan obat penghenti pendarahan ini, lalu aku akan mengganti perbannya."


Dani mengangguk lalu bergegas naik ke lantai atas, sedangkan Starla ke dapur untuk mengambilkan air minum.


Dani mengetuk pintu kamar Deka tapi tak ada jawaban apalagi pintu terbuka, dengan perlahan Dani membuka pintu dan melangkah masuk, rupanya Deka tengah tertidur karena efek obat pereda nyeri yang sebelumnya dia minum. Dani menatap Deka dengan perasaan sedih bercampur cemas, dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya itu.


Dengan hati-hati Dani duduk di tepi ranjang, tapi rupanya Deka terbangun.


"Maaf aku mengganggu tidurmu. Bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik," jawab Deka pelan.


Dani memperhatikan perban di dada kiri Deka yang berwarna merah karena darahnya masih saja keluar, "Lukanya masih berdarah, kenapa kau tidak ke rumah sakit saja?"


"Dan, kalau aku ke rumah sakit, dokter akan bertanya ini kenapa. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya," dalih Deka.


"Kau bisa berbohong, katakan saja kecelakaan atau apalah," usul Dani.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku tidak perlu ke rumah sakit," bantah Deka.

__ADS_1


"Tapi aku dan Starla mencemaskan mu, ayahku juga pasti khawatir jika tahu hal ini."


Deka hanya bergeming, dia tak membalas ucapan Dani.


"Ka, aku mohon jangan keras kepala! Ini demi kebaikanmu."


Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, Dani dan Deka sama-sama menoleh ke arah pintu.


"Itu pasti Starla." Dani beranjak lalu membukakan pintu.


Starla berdiri dengan membawakan kantung plastik tadi dan segelas air putih, "Bang, tolong berikan obat ini pada Bang Deka! Terus sekalian bersihkan lukanya dan ganti perbannya dengan yang baru."


"Kau saja yang lakukan," pinta Dani.


"Tapi aku tidak boleh masuk ke kamarnya," ujar Starla.


"Masuk saja!"


"Boleh, Bang?" Starla memastikan.


Starla pun melangkah masuk ke dalam kamar Deka, aroma maskulin langsung tercium, dia termangu dan merasa kagum sebab kamar Deka begitu mewah juga rapi, padahal dia tak pernah membersihkannya sama sekali.


Starla mendekati Deka yang tergolek di atas ranjang, lelaki itu menatapnya dengan wajah pucat dan mata yang sayu.


"Bagaimana keadaan Abang?" Starla bertanya sembari meletakkan gelas yang dia bawa, lalu duduk di samping Deka.


"Sudah mendingan," sahut deka.


Dani hanya berdiri di belakang Starla dan memperhatikan keduanya.


Starla memeriksa perban di dada Deka, dia merasa cemas karena ternyata luka lelaki itu masih mengeluarkan darah.


"Abang minum obat ini dulu, tadi aku menyuruh Bang Dani untuk membelinya."

__ADS_1


"Sini aku bantu kau duduk." Dani langsung sigap membantu Deka untuk duduk dan bersandar.


Dengan hati-hati Starla pun membantu Deka meminum obat penghenti pendarahan serta antibiotik.


"Aku akan menggantikan perbannya," kata Starla.


Dia membuka perban di dada Deka yang sudah basah karena darah, Dani tercengang saat melihat luka di dada sahabatnya itu.


"Lukanya cukup parah, Ka. Sebaiknya kau ke rumah sakit saja, jangan pikirkan apa pun," usul Dani.


"Sudah aku katakan tidak, jadi berhenti menyuruhku pergi ke rumah sakit!" sungut Deka yang kesal.


Dani dan Starla saling pandang, mereka benar-benar tak habis pikir dengan sikap keras kepala Deka. Tapi Dani lebih memilih untuk tidak membalas ucapan sahabatnya itu.


Starla kembali fokus pada Deka, dia membersihkan darah di sekitar luka Deka dengan cairan antiseptik dan kapas, membuat lelaki itu meringis menahan sakit.


"Sakit, ya, Bang? Tahan sedikit, sebentar lagi selesai, kok." Starla berbicara sambil terus membersikan luka Deka dengan hati-hati.


Sejenak Deka tertegun menatap wanita itu, dia merasa ada getaran aneh ketika jarak wajah mereka sangat dekat seperti ini.


Setelah luka itu bersih, dia lantas kembali menutupnya dengan perban yang baru.


"Sudah. Sekarang Abang bisa tidur kembali, tapi posisi badannya harus lebih tinggi," ujar Starla sembari beranjak dan menjauh dari Deka.


Deka tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya ke Dani, "Dan, tolong bantu aku berbaring!"


Dani bergerak mendekati Deka dan meletakkan beberapa bantal agar posisi badan serta kepala Deka lebih tinggi, kemudian membantu sahabatnya itu berbaring.


"Kalau begitu aku keluar dulu," ucap Starla.


"Iya, terima kasih, ya," balas Dani, sementara Deka hanya bergeming menatap wanita itu dengan sorot mata tak terbaca.


Starla hanya mengangguk kemudian berlalu pergi dari kamar Deka.

__ADS_1


***


__ADS_2