
Deka dan Starla sedang makan malam berdua, sejenak suasana hening, hanya terdengar suara sendok yang berbenturan dengan piring, tak ada percakapan sama sekali di antara keduanya.
Sejak tadi Starla terus saja melirik Deka yang duduk di hadapannya, dia terbawa perasaan hingga senyum-senyum sendiri membayangkan jika saat ini dirinya dan Deka seperti pasangan suami istri.
"Bang!" tegur Starla yang memecah keheningan.
"Hem." Deka hanya berdeham tanpa memandang Starla.
"Abang ngerasa tidak kalau kita ini seperti pasangan suami istri yang sedang makan malam bersama?" tanya Starla sambil terkekeh geli.
Deka menghentikan aktivitasnya dan termangu. Entah mengapa jantungnya berdebar mendengar pertanyaan menggelikan Starla itu?
"Mana ada pembantu makan satu meja dengan majikannya, berdua pula," lanjut Starla, tawanya semakin lebar.
"Kalau begitu kau jangan makan satu meja denganku," sahut Deka pura-pura tak acuh, dia sedang berusaha mengontrol degup jantungnya yang mulai tak beraturan.
"Ish, Abang! Kok gitu, sih?" protes Starla dengan wajah masam.
"Biar kita tidak seperti pasangan suami istri," ucap Deka enteng lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Starla merengut, dia kesal mendengar ucapan Deka itu. Padahal tadinya dia berharap lelaki itu merespon dengan baik, tapi nyatanya tidak.
Starla pun beranjak dari duduknya dan mengangkat piring serta gelas miliknya, lalu berlalu ke dapur. Deka hanya memperhatikan tingkah wanita itu tanpa berusaha menghentikannya, mendadak hati Deka merasa bersalah, seharusnya dia tidak bicara seperti tadi.
Di dapur, Starla duduk di lantai sambil terus mengomel.
"Dasar manusia es batu, tidak peka! Kalau bicara suka bikin kesel!"
Dengan gerakan kasar dia menyuapkan makanan ke dalam mulut kemudian mengunyahnya dengan cepat.
Namun tiba-tiba Deka menyusul Starla ke dapur dan duduk di samping wanita itu.
Starla sontak memalingkan wajahnya, dia merajuk.
__ADS_1
"Kenapa belakangan ini kau suka sekali merajuk?" tanya Deka.
"Tahu, ah!"
"Aku cuma bercanda tadi," ujar Deka.
"Bercandanya nyebelin!" keluh Starla.
"Ya sudah, maaf!" ucap Deka.
"Minta maafnya kayak tidak ikhlas!" gerutu Starla, wajahnya merengut.
Deka mengembuskan napas kasar, "Baiklah, aku minta maaf, ya?"
Starla pun mengangguk.
"Kalau begitu, ayo kembali ke meja makan! Jangan makan di sini! Kau jadi seperti kucing dapur."
"Mana ada kucing dapur cantik kayak aku!" sungut Starla.
Starla menurut, dia bangkit sambil membawa piring dan gelas miliknya.
"Aku jadi ngerasa kayak suami yang lagi membujuk istrinya kalau gini," imbuh Deka sembari menuntun Starla kembali ke meja makan.
Starla hanya senyum-senyum mendengar penuturan Deka itu. Tepat di saat bersamaan Dani membuka pintu, Deka sontak melepaskan genggamannya di lengan Starla.
"Bang Dani." gumam Starla sedikit terkejut.
Dani melangkah masuk, di belakangnya menyusul Rakis yang membawa tas besar.
"Paman!" seru Deka lalu melirik tas yang Rakis bawa, "Ada apa ini?"
"Dani sedang dalam bahaya, untuk sementara kami tinggal di sini dulu, ya?" Rakis bertanya.
__ADS_1
Deka mengernyitkan keningnya, "Bahaya?"
"Tadi Reyhan datang ke rumah kami." Dani mulai buka suara.
Starla terkesiap, begitu juga dengan Deka.
"Reyhan? Dari mana dia tahu tempat tinggal Abang?" tanya Starla.
"Ponsel dan dompet ku disita oleh ayahmu, dia pasti tahu alamatku dari kartu tanda penduduk," terang Dani. Sementara Rakis hanya diam menyimak, sesekali dia menatap Starla yang baru kali ini dia temui.
"Mau apa dia ke rumah kalian?" Deka pun ikut bertanya.
"Dia mengatakan agar aku pergi dari rumah itu karena ayahnya Starla sedang mencari-cari kami."
Deka mendadak penasaran, "Kenapa dia memintamu untuk pergi? Bukankah seharusnya dia menangkap mu?"
"Reyhan pasti ingin membantu Bang Dani menyelamatkan diri. Dia tak mau Bang Dani sampai tertangkap lagi dan aku terpaksa menyerahkan diri seperti waktu itu. Dia memang baik," sela Starla.
"Iya, yang Starla katakan benar. Dia tidak mau Starla kembali ke rumah itu lagi," sambung Dani.
"Ya sudah, kalau begitu untuk sementara waktu kalian tinggal di sini saja," kata Deka.
Rakis dan Dani mengangguk bersamaan.
Dani kemudian memperkenalkan Rakis pada Starla, begitu juga sebaliknya.
"Oh, jadi ini calon menantu Ayah?" goda Rakis.
Deka dan Starla tercengang, kemudian saling pandang.
"Doakan saja, Yah," jawab Dani sambil cengar-cengir.
Starla memaksakan senyuman, sedangkan Deka hanya bergeming dengan wajah masam.
__ADS_1
***