
Mentari mulai naik, cahayanya masuk melalui celah-celah jendela kamar Starla. Dengan perlahan Starla membuka mata setelah beberapa kali mengerjap, dia merasakan sesuatu melingkar di perutnya dan menoleh. Senyumnya langsung merekah saat mendapati wajah damai Deka yang sedang tertidur pulas.
Semalam, setelah melakukan perbuatan terlarang itu di sofa, mereka pindah ke kamar dan melakukannya untuk kedua kali. Deka 'membantainya' habis-habisan dan tanpa ampun.
Starla mengelus kepala Deka dengan penuh kasih sayang, dia tak marah atau pun membenci lelaki itu walaupun telah merenggut kesuciannya. Dia yakin Deka bukan pria berengsek dan akan bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi.
"Aku mencintaimu, Bang," ucap Starla pelan.
"Aku juga mencintaimu," balas Deka dengan mata terpejam.
Starla terkejut dan langsung bersungut-sungut, "Abang pura-pura tidur, ya?"
Deka tersenyum dan membuka mata, dia menatap wajah cantik Starla.
"Aku sudah mati, ya?" tanya Deka kemudian.
Starla mengernyit heran, "Kok Abang bertanya seperti itu?"
"Habis gitu buka mata, ada bidadari," jawab Deka.
Tawa Starla sontak pecah, dia merasa geli mendengar Deka menggombal seperti itu.
"Kenapa tertawa?"
"Abang belajar dari mana kata-kata gombal kayak gitu? Jangan diulangi! Geli aku dengarnya," ujar Starla lalu kembali tertawa.
Wajah Deka merah, dia jadi malu sendiri. Tadinya dia pikir Starla akan terharu mendengar kalimat itu, tapi ternyata wanita itu malah menertawakannya.
"Aku kan sedang berusaha menjadi pria romantis seperti Dani dan yang lainnya." Deka membalik tubuhnya, dia menatap langit-langit.
Starla berhenti tertawa, dia menggeser tubuh polosnya lalu meletakkan kepalanya di dada bidang Deka yang tak tertutup baju.
__ADS_1
"Abang tidak perlu menjadi seperti siapa pun! Karena aku mencintai Abang dengan versi seperti ini, dingin namun penuh kasih sayang."
Deka tersenyum, dia mengelus kepala Starla dan mengecupnya cukup lama.
"Aku berharap kita bisa sama-sama terus sampai maut memisahkan,"lanjut Starla, entah mengapa dia merasa sedih membayangkan harus berpisah dari Deka suatu saat nanti.
"Aku juga berharap seperti itu. Aku ingin kau menemani aku seumur hidup," sambung Deka, kemudian memeluk tubuh Starla dengan penuh cinta.
Sejak bertemu dengan Starla, Deka menyadari ada yang berbeda dari hidupnya, hari-harinya lebih berwarna dan dia menjadi sosok yang lebih berperasaan dari sebelumnya. Starla benar-benar membawa perubahan untuk dirinya.
Cukup lama mereka berpelukan dan berbagi perasaan, sampai kemudian Starla berengsut dan menarik diri dari Deka.
"Kau mau ke mana?" tanya Deka saat Starla bergerak menjauhinya.
"Mau mandi dan setelah itu menyiapkan sarapan," jawab Starla.
"Nanti saja, aku masih ingin memelukmu," rengek Deka seraya menarik Starla dan kembali memeluk wanita itu.
"Iya, sebentar lagi," ucap Deka, entah mengapa dia tak rela membiarkan Starla meninggalkannya.
Starla mendesah pasrah, dan kembali memeluk tubuh kekar Deka yang telanjangg.
"Selama dua puluh tahun aku hidup kesepian, tanpa kasih sayang dan perhatian," ungkap Deka tiba-tiba.
Starla terhenyak, namun dia tak ingin menyela.
"Tapi sejak kau datang ke dalam hidupku, aku merasa seperti disayangi dan dipedulikan," lanjut Deka.
"Tapi bukankah ada Bang Dani dan Paman Rakis? Aku lihat mereka peduli dan perhatian pada Abang."
"Iya, memang benar, tapi itu saja tidak cukup. Aku butuh keluarga, aku butuh seseorang yang selalu menemaniku setiap saat, mendengar keluh kesah ku dan menjadi semangat untuk aku terus bertahan dengan hidup yang berat ini."
__ADS_1
Starla tertegun, dadanya seketika sesak mendengar curahan hati Deka. Pria dingin dan kaku ini ternyata begitu merana dan kesepian selama ini.
"Aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, aku juga kehilangan ayahku di saat aku masih membutuhkan dia. Aku harus hidup bersama orang asing yang tak aku kenal sama sekali, dan terbiasa untuk melakukan segalanya seorang diri."
"Terkadang aku merindukan ayahku, aku rindu perhatian dan kasih sayangnya."
Starla bergeming, dia bisa merasakan kepedihan hati Deka, hingga tanpa sadar air matanya jatuh menetes. Padahal sebelumnya dia sudah mendengar kisah kelam Deka dari Dani, tapi mendengarnya langsung dari Deka jauh lebih memilukan.
"Aku pernah ingin mati agar bisa bertemu ayah dan ibuku, tapi saat teringat malam di mana ayahku dibunuh dengan sangat keji, aku memutuskan untuk bertahan agar bisa menemukan siapa orang yang telah membuat aku kehilangan ayahku. Aku ingin membalas dendam padanya."
Starla mengusap air matanya sebelum bicara, "Apa tidak sebaiknya Abang melupakan semua itu agar hidup Abang lebih tenang?"
Deka menggeleng, "Hidupku justru akan tenang jika sudah membuat keparat itu mati di tanganku."
Starla tercenung, dia tentu tak percaya Deka akan sekejam itu.
"Tapi bagaimana jika Abang tidak pernah menemukan orang itu?"
"Aku akan terus mencarinya sampai aku memastikan dia tak ada lagi di dunia ini," sahut Deka penuh dendam.
Starla mengembuskan napas berat, dia tak tahu harus mengatakan apa lagi. Sepertinya dendam sudah benar-benar menyelimuti hati Deka sampai dia tak bisa berhenti membenci pembunuh itu meski sudah dua puluh tahun berlalu.
Melihat Starla tidak terkejut mendengar kisah pahit sang ayah, Deka merasa ada yang aneh.
"Kenapa kau tidak terkejut mendengar semua ini?" tanya Deka curiga.
"Aku sudah mendengarnya dari Bang Dani," jawab Starla jujur.
"Dasar Dani!" seru Deka kesal.
***
__ADS_1