Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
66. Bukan Anak Kandung.


__ADS_3

Setelah selesai makan, Deka dan Starla pulang ke rumah. Starla menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Dani, sejak tadi lelaki itu sangat cemas menunggu kabar dari mereka. Dani bahkan terkejut setengah mati ketika mengetahui jika selama ini Starla berbohong tentang sindikat perdagangan manusia yang mengejarnya, dia tak habis pikir kenapa wanita yang dia sukai itu harus menutupi semuanya dan mengarang cerita?


"Kenapa kau harus berbohong? Harusnya kau katakan saja yang sebenarnya," kesal Dani.


"Aku minta maaf, Bang. Aku cuma takut kalian memulangkan aku kepada Papa kalau aku cerita yang sebenarnya," dalih Starla sambil tertunduk merasa bersalah.


"Mana mungkin aku memulangkan dirimu jika aku tahu kau akan dinikahkan dengan bandot tua itu! Enak saja dia!" ujar Dani.


Deka tak berkomentar, dia hanya diam menyimak pembicaraan Dani dan Starla.


"Sekali lagi aku minta maaf, Bang."


"Berarti yang kemarin ngejar-ngejar kita itu memang suruhan papa kamu?" Dani memastikan.


"Iya, dia itu Reyhan, saudara aku," sahut Starla.


Dani mengernyitkan keningnya, "Saudara?"


Starla mengangguk, "Kami bersama sejak kecil, dan aku sudah menganggap dia seperti saudaraku sendiri."


Dani mengembuskan napas lega, "Hampir saja aku menemuinya dan minta maaf."


Deka akhirnya buka suara, "Buat apa kau minta maaf padanya?"

__ADS_1


"Iyalah, karena waktu itu aku sudah mengerjainya. Aku kan tidak mau dicap sebagai ipar kurang ajar," sambung Dani seenaknya.


Deka kembali terdiam. Ipar? Yang benar saja! Yakin sekali Dani akan menikahi Starla.


Starla tersenyum malu-malu, "Bang Dani bisa saja!"


Tiba-tiba Dani teringat sesuatu, "Tunggu! Jangan-jangan yang dikatakan dokter itu juga benar, ya?"


Starla terkesiap, dia hampir saja melupakan hal yang satu itu. Dengan sedikit ragu, Starla kembali mengangguk, "Iya, benar."


Deka yang tak mengerti arah pembicaraan Starla dan Dani mendadak bingung, "Apa? Sepertinya ada yang tidak aku ketahui!"


"Kemarin dokter yang menangani mu menyapa Starla, dia bertanya bukankah Starla koas di rumah sakit Embung Fatimah? Soalnya dia pernah lihat Starla di sana tapi Starla membantahnya. Saat itu aku sudah curiga, pantas dia tahu obat-obatan yang kau butuhkan," beber Dani.


Deka tercengang dan langsung menatap tajam Starla, membuat wanita itu menunduk takut. "Jadi kau calon dokter?"


Sekarang Deka paham, pantas saja Starla begitu teliti dan telaten merawat luka di dadanya, dia juga tahu saat luka Deka mengalami infeksi dan langsung sigap menanganinya.


"Ternyata banyak sekali yang kau sembunyikan dari kami. Jangan-jangan masih ada lagi yang kau tutupi!" tuduh Deka.


Starla menggeleng cepat, "Tidak ada, Bang. Tidak ada lagi yang aku tutupi, semua sudah aku katakan. Percayalah!"


"Aku tidak percaya!" bantah Deka.

__ADS_1


Wajah Starla berubah masam, "Ya sudah kalau tidak percaya!"


"Sudahlah, Ka! Aku rasa kali ini dia jujur," sela Dani.


Deka bergeming, dia melirik Starla yang wajahnya kini cemberut.


"Oh iya, ayahmu kerjaannya apa? Kok kaya sekali, bodyguardnya banyak lagi," tanya Dani penasaran.


Deka termangu mendengar pertanyaan Dani, dia tidak jadi ikut penasaran.


"Usahanya banyak, tapi aku tidak tahu usaha apa saja," jawab Starla.


"Masa kau tidak tahu?" Dani memastikan.


"Papa tidak pernah mau bilang, dia cuma katakan ada bisnis, salah satunya dengan Datuk Ramzi itu."


"Tapi kalau dipikir-pikir aneh juga, masa seorang ayah rela menjadikan putrinya sebagai istri kedua seorang pria tua bangka demi kerja sama bisnis?" imbuh Dani.


"Sebenarnya dia bukan ayah kandungku," beber Starla.


Dani dan Deka terkesiap mendengar pengakuan Starla.


"Kau serius?" Dani memastikan.

__ADS_1


Starla mengangguk dua kali.


***


__ADS_2