
"Kamu ini koas di rumah sakit Embung Fatimah, kan?" tanya dokter itu.
Tepat bersamaan Dani muncul dari ruang tamu dan mendengar pertanyaan dokter muda itu.
Starla terdiam sambil menelan ludah.
"Saya pernah beberapa kali melihat kamu di sana," lanjut dokter muda itu.
Starla semakin panik, apalagi dia tahu Dani berdiri di belakang dokter itu dan pasti mendengar semuanya.
"Hem, a-anda salah orang, Dok. Saya tidak pernah jadi koas di rumah sakit itu, saya bahkan tidak tahu rumah sakit itu di mana," bantah Starla dengan gugup.
Dokter itu mengernyit, "Masa, sih? Tapi saya yakin pernah melihat kamu."
Starla tertawa gugup, "Anda pasti salah lihat! Mungkin mata anda mulai bermasalah."
Dokter itu menggeleng, "Tidak, penglihatan saya masih bagus, saya tidak mungkin salah lihat. Saya yakin itu kamu!"
"Dok, di dunia ini kan terkadang ada orang yang memiliki wajah serupa, mungkin saja kami mirip," sanggah Starla.
"Lagian saya ini datang dari Pekanbaru dan hanya seorang pembantu, sedangkan dia calon dokter. Ya beda jauh lah!" sambung Starla.
Dokter muda itu tampak berpikir seraya memperhatikan Starla dari ujung kaki sampai ujung kepala. Memang wanita yang dia lihat itu lebih modis juga terawat, sedangkan Starla kelihatan lusuh dan sedikit berantakan dengan pakaian sederhana. Meskipun wajahnya sama tapi penampilannya berbeda.
Dani sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan mereka, tanpa berniat mencampuri. Dia sendiri merasa penasaran dengan apa yang dokter itu katakan.
"Baiklah, mungkin kamu benar, koas yang saya lihat mirip dengan kamu. Maaf, ya," ucap dokter muda itu mengalah.
__ADS_1
Starla memaksakan senyuman, "Iya, tidak apa-apa, Dok."
"Kalau begitu saya permisi dulu, selamat pagi."
"Iya, selamat pagi, Dok," balas Starla.
Si Dokter berbalik dan melangkah pergi, dia sempat menegur Dani saat melewati lelaki itu.
Setelah dokter itu pergi, Dani pun mendekati Starla yang masih tegang dan canggung.
"Apa yang dikatakan dokter itu benar, kan?" Dani memastikan.
Starla tercenung, dia menelan ludah dengan susah payah. Dirinya semakin tegang dan panik karena saat ini Dani sedang menatapnya dengan curiga, namun dia berusaha menguasai diri dan bersikap biasa.
"Ya, tidak lah! Dia pasti salah lihat, kebetulan saja aku dan orang yang dia maksud itu mirip," Starla kembali membantah.
Starla sempat terdiam, namun akhirnya menjawab pertanyaan Dani itu, "Dulu sewaktu masih di Pekanbaru, aku pernah bekerja di toko obat. Sedikit banyak aku tahu tentang obat-obatan, tapi karena gajinya kecil, aku pun berhenti."
Dani menaikkan sebelah alisnya, "Benarkah?"
Starla mengangguk, "Benar, Bang! Percayalah padaku!"
"Tapi kenapa tadi kau terlihat gugup dan tegang?"
"Aku kaget saja saat tiba-tiba dia bertanya seperti itu," dalih Starla.
Tiba-tiba ponsel Dani berdering, Rakis menghubunginya. Dia buru-buru menjawab panggilan masuk itu dan bergerak menjauh dari Starla.
__ADS_1
Starla menghela napas lega karena Dani sudah pergi.
Sementara itu di dalam kamar Deka, Victor sedang mengobrol dengan lelaki itu.
"Tuan, apa dokter tadi tahu penyebab aku terluka?" tanya Deka.
"Tahu, aku sudah cerita semua padanya," jawab Victor yang duduk di sofa tak jauh dari ranjang Deka.
"Apa tidak masalah kalau dia tahu?"
"Tidak, dia itu anak temanku dan dia bisa dipercaya. Kau tenang saja!"
Deka merasa sedikit lega, dia sempat cemas tadi.
"Kita tidak bisa tinggal diam, kita harus membalas perbuatan mereka," ujar Victor.
"Iya, Tuan. Aku pasti membalas mereka," sahut Deka.
"Julio Winata sudah berani menyalakan api peperangan pada kita, dia harus mati!" geram Victor.
"Setelah aku sembuh, aku akan melenyapkannya."
"Iya, kau memang harus menghabisinya. Jangan biarkan dia hidup terlalu lama dan merusak bisnis ku," balas Victor dengan sorot mata penuh kebencian.
***
...Jangan lupa like dan komentar nya dong, biar aku makin semangat update.☺️...
__ADS_1