
Starla sudah selesai mandi dan memakai kaos serta celana training milik Deka, jelas pakaian itu kedodoran di tubuh mungilnya, tapi dia tetap terlihat cantik. Dia berjalan mendekati Deka yang tengah duduk di minibar sembari bermain ponsel.
"Bang!" tegur Starla.
Deka melirik wanita itu sambil berdeham, "Hem."
"Jemuran di mana?" tanya Starla.
Deka menatap Starla sembari mengernyitkan keningnya, "Jemuran? Buat apa?"
"Mau jemur pakaianku, Bang. Tadi aku mencucinya karena sudah kotor dan bau."
"Buat apa kau cuci dan jemur di sini? Setelah ini kita akan pergi mencari pekerjaan dan tempat tinggal mu yang baru, seharusnya nanti saja kau mencucinya."
"Kan tadi aku bilang, aku ingin bekerja di sini saja, Bang."
"Tapi aku kan tidak mengizinkannya," balas Deka.
Wajah Starla berubah masam, "Ya sudah, deh! Kalau begitu aku akan menginap di sini sampai pakaian ku kering. Besok kalau sudah kering, baru aku akan pergi dari sini."
"Hei, kenapa jadi kau yang memutuskan? Ini kan rumahku!" protes Deka.
"Ya mau gimana lagi? Aku sudah terlanjur mencuci pakaianku, termasuk dalaman ku juga," sahut Starla enteng.
Deka terkesiap, "Jadi sekarang kau tidak pakai dalaman?"
Starla menggeleng dengan wajah tak berdosa, "Tidaklah, mana bisa dipakai kalau basah. Bisa-bisa kulitku jamuran."
Deka menelan ludah, matanya langsung memindai tubuh Starla. Untung saja kaos yang gadis itu kenakan longgar, jadi tidak terlalu menampakkan bagian dadanya yang tidak memakai bra. Tapi tetap saja Deka yang sudah mengetahuinya, tidak bisa berhenti memandangi daerah itu.
Tepat di saat bersamaan, Dani datang dan menyelonong masuk, pemuda itu terkejut melihat Deka sedang berdiri berhadapan dengan seorang wanita cantik.
__ADS_1
"Waow, apa yang aku lihat ini?" teriak Dani heboh, membuat Deka maupun Starla tersentak kaget, keduanya sontak menoleh lelaki itu.
Melihat Dani berjalan ke arah mereka, Deka langsung bergerak cepat mengambil celemek yang tergantung di dapur dan buru-buru memakaikannya ke Starla.
"Pakai ini!" pinta Deka.
Saat Deka memakaikan celemek ke Starla, jarak mereka sangat dekat, wanita itu bahkan bisa menghirup aroma maskulin dari tubuh Deka. Tingkah Deka ini tentu saja membuat Dani maupun Starla bingung.
"Jangan buka celemek ini tanpa izin ku!" bisik Deka lalu menjauh dari Starla, gadis itu hanya mengangguk kebingungan.
"Apa yang kau lakukan? Siapa dia? Mangsa baru?" cecar Dani, dia menatap Deka dan Starla bergantian dengan penuh selidik.
"Bukan, dia korban human trafficking," jawab Deka tenang.
Dani mengerutkan keningnya dan menatap Deka dengan curiga, "Kenapa bisa ada di sini? Jangan bilang kau membelinya?"
"Enak saja! Aku dapat dia di jalan," sahut Deka asal.
"Kan tadi memang dapatnya di jalan, di depan gerbang pabrik kosong," balas Deka tak mau kalah.
"Iya, sih." Starla mengangguk, membenarkan ucapan Deka.
"Wanita secantik ini dibiarkan di jalanan? Sungguh keterlaluan!" Dani berkomentar seraya menatap kagum Starla, kemudian mengulurkan tangannya, "kenali nama aku Dani, sahabat Deka yang paling ganteng."
Deka geleng-geleng kepala mendengar kepercayaan diri Dani yang tinggi.
Starla menjabat uluran tangan Dani, "Aku Starla."
"Wah, namanya cantik, secantik orangnya," puji Dani, Starla hanya tersenyum.
"Kamu asli orang Batam?" tanya Dani penasaran.
__ADS_1
"Bukan, Bang. Aku orang Pekanbaru," jawab Starla.
"Wah, aku baru tahu kalau di Pekanbaru ada bidadari," Dani mulai menggombal, sedangkan Starla hanya tersipu malu.
Deka yang menyadari jika Dani sedang menggoda Starla, langsung menarik sahabatnya itu pergi, "Dasar buaya! Pantang lihat wanita cantik!"
"Ah, kau ganggu saja, Ka! Namanya juga lagi usaha," gerutu Dani yang tergopoh-gopoh mengikuti langkah Deka menjauh dari Starla.
"Usaha di tempat lain, jangan di rumah ku!" ujar Deka.
"Tapi targetnya ada di rumahmu," ujar Dani.
Starla hanya memandangi kepergian dua orang itu dengan bingung, apalagi saat Deka memakaikan celemek tadi, dia tak mengerti kenapa pria itu melakukannya.
"Apa karena aku tidak pakai dalaman, jadi dia tak mau temannya itu lihat?" tebak Starla, lalu tersenyum malu-malu, "walaupun sikapnya cuek dan dingin, ternyata dia perhatian juga."
Tapi kemudian dia menyadari jika pakaian belum dijemur, "Astaga! Aku lupa!"
Starla buru-buru mengambil ember yang berisi pakaiannya, lalu celingukan, "Aku harus jemur di mana?"
Starla lalu berjalan menuju sebuah pintu di sudut dapur dan membukanya, terlihat ada sebuah jemuran yang terbuat dari aluminium. Di jemuran itu juga ada beberapa potong baju dan celana yang dia yakini milik Deka, pakaian-pakaian itu sudah kering dan wangi tapi tidak diangkat.
"Kalau dia tidak punya pembantu, berarti dia mencuci pakaiannya sendiri. Dia mandiri juga ternyata, memang benar-benar suami idaman." Starla bicara sendiri lalu tersenyum membayangkan Deka menjadi suaminya.
"Starla, stop! Jangan mikir yang macam-macam!" Starla menepuk kepalanya sendiri saat pikirannya mulai kotor.
"Aku harus segera menjemur pakaianku."
Dia bergegas menjemur pakaian, lalu setelah itu mengangkat baju dan celana Deka, ada dua potong ****** ***** juga, meskipun sedikit risi, tapi Starla tetap mengangkat dua benda itu lalu membawanya masuk.
***
__ADS_1