
"Maafkan Paman, Ka. Ini semua salah Paman," sesal Rakis, cairan bening seketika jatuh dari mata tuanya.
Deka terdiam dengan tatapan menyelidik.
"Kalau saja waktu itu Paman tidak membocorkan keberadaan ayahmu, mungkin saat ini ayahmu masih ada dan kau tidak akan kesepian," ungkap Rakis.
Pengakuan Rakis itu sungguh mengejutkan Deka, luka di hatinya semakin dalam. Sakit sekali.
"Apa maksud, Paman?"
"Ayahmu sebenarnya adalah algojo Tuan Victor, tapi saat itu dia sedang jadi buronan polisi. Tuan Victor memerintah dia untuk kabur ke luar negeri tapi tanpa kau. Ayahmu tak mau, dia lebih memilih mengundurkan diri lalu kabur ke kampung halamannya bersama dirimu, dan hanya Paman yang tahu keberadaannya karena kami bersahabat," terang Rakis mengenang masa dua puluh tahun silam.
Deka bergeming menyimak cerita ayah sahabatnya itu dengan jantung yang bergemuruh.
"Tuan Victor marah, karena dia tahu Paman adalah sahabat ayahmu, Tuan Victor menculik istri Paman dan mengancam akan membunuhnya kalau Paman tidak memberitahu di mana ayahmu. Paman akhirnya terpaksa buka mulut, Paman minta maaf," lanjut Rakis lalu menangis terisak-isak.
Deka tak tahu harus mengatakan apa lagi, saat ini yang dia rasakan adalah sakit dan marah. Tanpa bicara sepatah kata pun, Deka berbalik dan pergi begitu saja dari hadapan Rakis.
"Deka, kau mau ke mana?" teriak Rakis sembari bangkit dan hendak mengejar Deka yang buru-buru masuk ke dalam mobilnya lalu tancap gas.
Tepat bersamaan dengan Dani yang baru pulang setelah semalaman melepaskan kesedihannya di sebuah klub malam.
"Itu kan Deka? Mau apa dia?" gumam Dani yang turun dari motornya dan bergegas menghampiri sang ayah.
"Mau ngapain dia ke sini, Yah?" tanya Dani penasaran.
Rakis mengembuskan napas, "Deka sudah tahu semuanya."
"Maksud Ayah?"
__ADS_1
Rakis akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dani pun terkejut setengah mati, tak menyangka jika Victor lah orang yang selama ini Deka cari, dan yang lebih membuatnya tak percaya adalah pengkhianatan yang telah ayahnya lakukan pada ayah Deka. Entah mengapa hatinya ikut merasa bersalah.
"Dia pasti ingin menemui Tuan Victor, kita harus susul dia dan menghentikannya!" ujar Dani panik, dia takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu. Walaupun sedang sedih dan marah, dia tetap khawatir pada Deka, karena bagaimanapun juga dia menyayangi sahabatnya itu.
"Iya, yuk!" Rakis segera menutup dan mengunci pintu, dia tak ingin nasib Deka berakhir seperti sang ayah.
Keduanya pun langsung menyusul mobil Deka, namun sepertinya pria itu memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi hingga motor matic Dani tak bisa mengejarnya.
***
Starla segera mengajak Reyhan ke rumah Jhon Koto ketika dia terbangun dan tak menemukan Deka di rumahnya, dia panik dan cemas setengah mati. Dia tak menyangka Deka akan tetap pergi padahal semalam dia sudah memohon kepada kekasihnya itu.
Dua orang itu tiba di depan rumah Jhon Koto yang sudah dipenuhi polisi dan tim medis, perasaan mereka mulai tidak enak.
"Rey, aku takut." Starla memegang lengan Reyhan dengan tangan gemetar.
Keduanya bergegas masuk ke dalam rumah megah itu, tapi seorang polisi melarangnya, "Maaf, dilarang melewati garis polisi!"
"Tapi ada apa ini, Pak?" tanya Starla penasaran, dia ingin memastikan yang terjadi.
"Pemilik rumah ini ditemukan tewas, saksi mata mengatakan dia dibunuh oleh seseorang yang kini sudah melarikan diri," terang polisi itu lugas.
Starla dan Reyhan terkejut, mereka bisa menebak pasti Deka pelakunya. Tubuh Starla seketika lemas dan dengan cepat air matanya berlinang, dia tak menyangka ayah angkatnya itu tewas di tangan kekasihnya sendiri.
"Kamu tidak apa-apa?" Reyhan merasa cemas melihat Starla menangis.
"Aku takut, Rey."
"Kalau begitu sekarang kita keluar dulu!" Reyhan memapah Starla keluar dan menjauh dari kerumunan polisi serta para medis.
__ADS_1
"Dia menghabisi Papa, Rey," lirih Starla.
Reyhan yang juga syok, tak tahu harus berkata apa lagi, dia hanya mengusap punggung Starla untuk menenangkannya.
Pandangan Reyhan tak sengaja tertuju pada dua bodyguard Jhon Koto yang sedang berbicara dengan polisi, sepertinya mereka belum menyadari kehadirannya dan juga Starla.
"Sebaiknya sekarang kita pergi dari sini, sebelum polisi mengetahui jika kita mengenal pelakunya."
Starla mengangguk dan menuruti Reyhan, keduanya pun meninggalkan rumah Jhon Koto. Namun tiba-tiba Starla teringat pada Dani, dia harus memberitahukan hal ini pada lelaki itu. Starla segera mengambil telepon genggamnya dari dalam tas dan menghubungi Dani.
"Kamu menelepon siapa?" tanya Reyhan bingung.
"Bang Dani, dia harus tahu ini," sahut Starla.
"Mungkin saja dia sudah tahu dan Deka ada bersamanya saat ini," tebak Reyhan, tapi Starla tak menyahut.
"Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi." Terdengar suara operator seluler yang menjawab panggilan Starla, nomor Dani tidak bisa dihubungi.
"Cckk." Starla berdecak sebal lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Kenapa?"
"Tidak bisa dihubungi," keluh Starla.
"Jadi sekarang bagaimana?"
"Kita ke rumahnya!" cetus Starla.
***
__ADS_1