Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
63. Deka Turun Tangan.


__ADS_3

Para bodyguard yang membawa Dani menurunkan lelaki itu dipinggir jalan.


"Turun!" bentak salah satu bodyguard sambil menarik Dani keluar dari mobil, lalu mendorongnya hingga sahabat Deka itu tersungkur ke trotoar karena lemas dan tak sanggup menahan tubuhnya.


Para bodyguard itu pun bergegas meninggalkan Dani begitu saja.


Dani bangkit dengan susah payah lalu berjalan terseok-seok sambil memegangi perutnya yang agak sakit dan lapar, sebab sejak tadi malam dia belum makan apa-apa. Beberapa orang yang melintas memandanginya dengan heran, tapi dia tak peduli.


"Aku harus secepatnya menemui Deka dan menceritakan apa yang terjadi, aku harus menyelamatkan Starla," gumam Dani.


Dani lantas menyetop taksi yang kebetulan lewat, dan minta tolong diantarkan ke rumah sang sahabat.


Dua puluh menit kemudian, Dani tiba di depan rumah sahabatnya itu. Dia buru-buru turun dari taksi tersebut.


"Tunggu sebentar, Pak. Saya ambil ongkosnya dulu," pinta Dani, dan supir taksi itu mengangguk.


Dengan lemah Dani melangkah memasuki pekarangan rumah Deka lalu menggedor pintu, dia tidak memiliki kunci rumah Deka lagi sebab benda itu dia satukan di kunci motornya yang sekarang entah ada di mana. Sedangkan ponsel dan dompetnya masih di sita oleh pria berambut putih itu.


"Ka, buka pintunya!" teriak Dani sambil terus menggedor.


Tak berapa lama pintu pun dibuka oleh Deka, betapa terkejutnya dia saat melihat Dani babak belur.


"Dan, kau kenapa?"


"Nanti aku ceritakan. Sekarang tolong bayarkan ongkos taksinya!"


"Iya-iya." Deka pun langsung berjalan keluar dan membayar ongkos taksi yang masih menunggu di depan rumahnya.

__ADS_1


Dani melangkah masuk dengan perlahan, sekujur tubuhnya terasa sakit semua.


Deka sudah kembali dan langsung membantu Dani berjalan menuju sofa. Sementara dokter Adam sudah tidak ada di sana.


"Duduk dulu!" pinta Deka.


Dani menjatuhkan dirinya di atas sofa dengan hati-hati.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau sampai babak belur seperti ini?" tanya Deka penasaran.


Dani pun menceritakan apa yang terjadi padanya dan siapa pelakunya.


"Berengsek! Mereka masih belum jera juga rupanya!" geram Deka.


"Iya, dan aku sangat mencemaskan Starla. Dia dalam bahaya," sambung Dani, dia benar-benar mengkhawatirkan wanita itu.


"Jadi ini urusan yang dia maksud tadi? Kenapa dia tidak mengatakannya padaku? Aku kan bisa membantunya," sesal Deka, sekarang dia tahu kenapa tadi Starla pergi dengan terburu-buru.


"Aku sudah tidak apa-apa!"


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Dani.


"Aku akan menyelamatkan Starla," jawab Deka mantap.


"Aku ikut!"


"Ikut apanya? Kau saja sudah seperti ini. Sebaiknya kau istirahat, biar aku yang urus masalah ini, atau kau mau aku antar ke rumah sakit dulu?"

__ADS_1


Dani menggeleng, "Tidak usah! Aku tidak apa-apa, kok."


"Kalau begitu sekarang katakan di mana alamat orang-orang itu!"


"Tapi, Ka ...." Dani ragu.


"Dan, cepat katakan! Kita tidak punya banyak waktu!" desak Deka.


"Iya-iya. Perumahan Cempaka Mas, kalau tidak salah nomor sebelas. Nanti ada rumah mewah bercat putih dan gerbang hitam," terang Dani, meskipun dalam keadaan lemah, dia masih sempat memperhatikan kediaman pria yang menyekapnya itu.


"Baiklah, aku akan ke sana. Kau tunggu di sini!" Deka langsung beranjak dari duduknya.


Dani mendadak panik dan cemas, "Deka, kau belum pulih, sebaiknya jangan ke sana dulu!"


"Sudah, kau tenang saja!" sahut Deka, "oh iya, tadi Paman Rakis mencarimu, dia sangat mengkhawatirkan mu, jadi segera hubungi dia!"


"Tapi ponselku masih ada pada mereka," keluh Dani.


"Cckk, sialan! Ya sudah, pakai telepon rumahku saja."


"Baiklah."


"Aku pergi dulu," ujar Deka sembari melangkah meninggalkan Dani.


"Hati-hati, Ka!" teriak Dani dan Deka hanya mengangkat tangan kanannya tanpa menoleh sahabatnya itu.


Dani menghela napas melihat tubuh Deka menghilang di balik pintu, dia sungguh khawatir dan takut Deka kenapa-kenapa. Walaupun dia tahu Deka ahli beladiri, tapi saat ini sahabatnya itu tengah terluka, dia tak ingin luka itu semakin parah nantinya jika dia berkelahi.

__ADS_1


Saat di luar rumah dan hendak mendekati mobilnya, Deka merasa heran sebab posisi mobil tersebut sedikit berbeda dari terakhir kali dia memarkirkannya. Tapi karena tak ingin buang-buang waktu memikirkan hal itu, Deka pun mengabaikannya dan bergegas masuk ke dalam mobil lalu melesat pergi dengan kecepatan tinggi.


***


__ADS_2