
Jhon Koto terkejut setengah mati mendengar pengakuan Deka, dia ingat betul nama itu dan kejadian pembantaian tersebut.
"Ka-kau anaknya?" tanya Jhon Koto syok.
"Iya. Kau terkejut?"
Jhon Koto terdiam, tentu saja dia terkejut dan tak menyangka jika pria di hadapannya saat ini adalah putra Darlan Piliang. Rasa takut semakin merasukinya, dia tak ingin mati di tangan Deka.
"Kau telah membuat aku kehilangan ayahku, jadi sekarang saatnya aku mengirim kau ke neraka," ujar Deka dingin.
"Ja-jangan! Jangan bunuh aku! Aku mohon ampun, tolong kasihanilah aku!" Jhon Koto semakin gemetar ketakutan.
Deka tersenyum sinis, "Kasihan? Apa dulu kau mengasihani ayahku? Tidak, kan? Kau menghabisinya di depan mataku."
Jhon Koto terkesiap, seingatnya dulu tak ada siapa pun di tempat itu selain Darlan, ia dan para bodyguard nya.
"Sekarang matilah kau!" Deka mengangkat pedang tersebut hendak menikam Jhon Koto, tapi berhenti saat mendengar pengakuan pria itu.
"Tunggu! Aku hanya di suruh," teriak Jhon Koto kalut.
Deka mengerutkan keningnya, "Disuruh?"
Jhon Koto mengangguk cepat, berharap Deka mau mengurungkan niat untuk menghabisinya.
Deka mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Dulu aku hanya seorang pembunuh bayaran, dan seseorang memintaku untuk menghabisi nyawa ayahmu," ungkap Jhon Koto.
Deka lalu menatap Jhon Koto dengan curiga, "Siapa yang menyuruhmu?"
"Dia pemilik pabrik narkoba yang berkedok pabrik mainan, namanya Victor Chen."
__ADS_1
Deka terperangah mendengar nama itu, tidak mungkin orang yang dia hormati itu adalah otak dari pembunuhan sang ayah.
"Kau pasti bohong!" bentak Deka.
"Aku bersumpah, dia yang memintaku membunuh ayahmu, karena ayahmu tak mau menuruti keinginannya. Kalau kau tidak percaya, tanya pada karyawannya yang bernama Rakis, dia tahu semuanya," terang Jhon Koto.
"Paman Rakis?" gumam Deka.
Hati Deka sungguh terluka, kenapa kenyataan ini yang dia dapatkan? Ia tak percaya jika orang-orang yang selama ini begitu baik terhadapnya ternyata berkhianat di belakangnya.
"Jadi sekarang tolong lepaskan aku!" pinta Jhon Koto penuh harap.
Deka tersentak dan kembali menatap Jhon Koto dengan tajam, "Kau harus membayar semuanya. Pergilah ke neraka!"
"Jangan! Aku mohon jangan!" Jhon Koto memohon dan memelas.
Deka kembali mengangkat pedang itu lalu tanpa belas kasih menghunuskan nya ke dada kiri Jhon Koto. Seketika darah segar muncrat ke wajah dan pakaian Deka, kemudian mengalir keluar dari lubang di dada pria paruh baya itu, dia meregang nyawa dengan mata melotot.
Dengan amarah yang tengah meledak-ledak, Deka mencabut pedang tersebut dan pergi dari kediaman Jhon Koto sambil menyeret pedang berlumuran darah itu.
***
Deka berdiri di depan pintu rumah Rakis dengan wajah yang dingin, cipratan darah Jhon Koto sudah mengering di wajah dan pakaiannya. Dengan tangan yang terkepal kuat dan gemetar, Deka menggedor pintu rumah Rakis.
Tak lama kemudian pintu itu terbuka, Rakis terkejut melihat Deka datang subuh-subuh begini dengan darah yang mengotori wajah dan pakaiannya.
"Deka, kau kenapa?" tanya Rakis cemas.
Deka mengabaikan pertanyaan Rakis, dia menatap pria itu dengan tajam, tangannya masih terkepal dengan kuat, "Apa benar dalang dari kematian ayahku adalah Tuan Victor?"
Rakis tercengang, dia terkejut setengah mati mendengar pertanyaan Deka.
__ADS_1
"Bi-bicara apa kau ini?" Rakis yang gugup pura-pura bingung.
"Jangan pura-pura tidak tahu, Paman! Jhon Koto mengatakan jika Paman tahu semuanya."
Rakis kembali terkejut, tubuhnya seketika gemetaran mendengar pengakuan Deka dan lidahnya pun mendadak keluh. Bagaimana bisa Deka bertemu dengan orang tersebut? Dia saja bahkan tak tahu mantan penjagal itu ada di mana.
"Kenapa Paman diam? Jawab, Paman! Apa semua itu benar?" desak Deka tak sabar.
Rakis tertunduk lalu mengangguk pelan, dia tak bisa mengelak lagi.
Tubuh Deka rasanya lemas dan hatinya terluka, dia merasa kecewa dan dikhianati saat ini.
"Kenapa selama ini Paman menutupinya dariku?"
Rakis masih tertunduk membisu, rasa bersalah langsung menyergapnya dan memberikan penyesalan yang amat sangat besar.
"Kenapa Paman?" bentak Deka marah.
Rakis tersentak dan mengangkat kepalanya, "Deka tenanglah dulu! Mari masuk, kita bicara di dalam!"
"Tidak perlu! Aku hanya ingin Paman jawab, kenapa Paman menutupinya dariku?"
Rakis mengembuskan napas, raut wajahnya yang tegang berubah sendu, "Paman terpaksa menutupinya demi melindungi mu, Ka. Kalau kau tahu yang sebenarnya, kau pasti bisa terlibat masalah atau bahkan berakhir seperti ayahmu."
"Aku tidak peduli, Paman! Kalau pun aku harus mati, aku rela. Asalkan aku bisa membalas dendam pada orang yang sudah menghabisi ayahku."
"Deka, cukup ayahmu saja yang berakhir tragis seperti itu. Kau jangan! Kau berhak untuk hidup bahagia, Nak."
"Tapi selama dua puluh tahun ini aku sama sekali tidak pernah bahagia, Paman! Aku selalu hidup dalam kesepian dan bayang-bayang kematian ayahku," sungut Deka, air matanya sampai menetes dengan pilu.
Rakis kembali tertunduk, Rasa bersalah dan penyesalan semakin dalam menikam hatinya. Tiba-tiba dia berlutut di hadapan Deka, membuat pria dingin yang sedang dikuasai amarah itu mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Maafkan Paman, Ka. Ini semua salah Paman," sesal Rakis, cairan bening seketika jatuh dari mata tuanya.
***