Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
8. Pembantu Dadakan.


__ADS_3

Deka membawa Starla pulang ke rumahnya, wanita itu tampak kagum melihat kediaman Deka yang sangat mewah. Dia benar-benar takjub, sampai-sampai melupakan rasa kesalnya karena sikap dingin lelaki itu tadi.


"Ini rumah Abang?" tanya Starla.


"Iya."


"Wah, mewah sekali!" seru Starla dengan mata berbinar.


"Hebat, ya! Jadi karyawan pabrik saja bisa punya rumah dan mobil mewah, bagaimana jika jadi pemiliknya?" lanjut Starla.


Deka tak membalas ucapan Starla, dia membuka pintu lalu mengajak wanita itu masuk, "Yuk, masuk!"


Starla termangu begitu melihat isi dalam rumah Deka, furniture nya bagus dan tertata rapi, tapi ada beberapa benda kecil yang terlihat berserakan, seperti bantal sofa yang berjatuhan ke lantai, gelas-gelas bekas terletak begitu saja di meja makan dan minibar, serta bungkus makanan juga camilan yang tidak dibuang ke tempat sampah. Dan yang paling menjijikkan, ada beberapa piring kotor di wastafel yang belum dicuci.


Bukan itu saja, beberapa barang dan furniture juga terlihat berdebu, bukti nyata jika benda-benda itu tidak pernah dibersihkan dalam waktu yang lama.


Deka menyadari jika wanita di sampingnya itu keheranan melihat keadaan rumahnya yang berantakan, "Maaf, rumahnya berserakan."


"Abang tinggal dengan siapa di sini?" Situasi rumah ini membuat Starla penasaran dengan pemiliknya.


"Sendiri."


"Sendiri? Tidak ada keluarga atau pembantu?"


Deka menggeleng, "Tidak, aku bisa mengurus rumahku sendiri."


"Tapi buktinya berantakan begini," gerutu Starla.


"Aku hanya tidak sempat membereskannya," bantah Deka.


"Ya sudah, sini biar aku bereskan." Tanpa permisi Starla langsung merapikan bantal-bantal sofa yang terjatuh.


"Sudah, tidak usah!"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku sudah biasa melakukannya. Abang mandi saja sana!"


Deka menghela napas, dan segera menaiki anak tangga menuju lantai dua. Dari atas dia sempat memperhatikan Starla yang dengan cekatan merapikan rumahnya, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.


Starla memungut bungkus bekas makanan dan camilan lalu membuangnya ke tempat sampah, dia juga merapikan gelas-gelas yang berantakan dan membawanya ke dapur. Dia lantas mencuci piring dan gelas kotor sampai semuanya bersih tanpa noda, lalu setelah itu dia mengelap furniture yang berdebu sambil bersenandung kecil.


Ketika membersihkan Buffett dia melihat sebuah pigura foto Deka mengenakan pakaian khas taekwondo dengan sabuk hitam yang terikat di pinggangnya.


"Sudah ganteng, jago berantem, kaya lagi. Walaupun sedikit angkuh dan cuek, tapi tetap keren," ujar Starla kagum.


Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Starla, "Bagaimana kalau aku melamar jadi pembantu di rumah ini? Jadi aku tidak perlu susah-susah mencari pekerjaan di tempat lain lagi, siapa tahu bisa sekalian pedekate."


Starla terkekeh geli setelah bicara sendiri, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Setengah jam kemudian, Deka yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian turun ke lantai bawah, dia tertegun melihat Starla masih menyapu dan kondisi rumahnya yang sudah rapi. Deka berjalan mendekati Starla dan melirik dapur yang juga sudah bersih, tak ada lagi gelas dan piring kotor seperti tadi, wanita itu benar-benar membereskan semuanya dalam waktu singkat.


Starla yang menyadari kehadiran Deka langsung berbalik ke arah lelaki itu, "Eh, Abang sudah selesai. Sedikit lagi aku juga selesai ini."


Starla kembali melanjutkan pekerjaannya sambil sesekali menyeka keringat yang menetes di kening, Deka memperhatikan wanita itu dengan wajah datar.


"Sudah selesai, Bang."


"Kau pasti lelah, maaf sudah merepotkan."


Starla menggeleng sambil mengibaskan tangannya, "Tidak masalah, aku sudah biasa melakukannya."


"Terima kasih," ucap Deka masih dengan wajah yang datar.


""Iya, sama-sama," balas Starla, "tapi aku jadi terpikir, bagaimana kalau aku jadi pembantunya Abang saja? Aku bisa membereskan rumah, mencuci, dan memasak. Memperbaiki genteng yang bocor juga bisa. Bolehkan, Bang?"


"Maaf, aku tidak butuh pembantu," tolak Deka tegas.


"Tapi aku butuh pekerjaan, Bang."

__ADS_1


"Aku akan mencarikan pekerjaan untuk mu."


"Aku takut diperlakukan buruk lagi jika bekerja dengan orang lain, aku kan tidak kenal mereka," bantah Starla.


"Kau juga tidak kenal aku, apa kau tidak takut aku perlakuan dengan buruk?"


"Memangnya Abang tega pada wanita malang ini?" Starla pura-pura sedih.


"Kenapa tidak tega? Aku ini tidak punya perasaan, loh," balas Deka.


Starla sontak tertawa.


Deka mengernyit, "Kenapa kau tertawa?"


"Mana ada manusia yang tidak punya perasaan, Bang. Memangnya setan apa!"


Deka tersenyum sinis, lalu mencondongkan badannya ke depan sehingga wajahnya dan wajah Starla sangat dekat, "Kau belum tahu saja siapa aku."


Starla menelan ludah, jantungnya seketika berdegup kencang saat nafas Deka menyapu wajahnya. Dia tertegun menatap lelaki itu.


"Badanmu bau tempat sampah. Kalau begini mana ada yang mau mempekerjakan mu," ejek Deka sambil menarik tubuhnya menjauhi Starla dan menutup hidungnya.


Starla tersentak dan buru-buru mencium kedua ketiaknya, "Iya, aku bau karena belum mandi dari semalam, mana tadi keringatan terus lagi."


"Dasar jorok! Ya sudah mandi dulu sana!" pinta Deka.


"Tapi aku tidak ada baju ganti, Bang."


"Aku pinjamkan bajuku, setelah ini kita beli bajumu." Deka langsung bergegas naik lagi ke lantai atas.


"Eh, tapi kita belum selesai bicara, Bang!" teriak Starla.


Deka tak menggubris Starla, dia sengaja menghindari pembicaraan dengan wanita itu sebab tak ingin menerimanya bekerja.

__ADS_1


"Ish, dasar menyebalkan!" umpat Starla kesal.


***


__ADS_2