Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
55. Demam.


__ADS_3

Siang harinya ....


Starla berdiri di depan kamar Deka sambil membawa nampan yang berisikan makan siang untuk lelaki itu.


Dia pun mengetuk pintu, "Bang, aku bawakan makan siang ini.


Tapi tak ada sahutan dari dalam, Starla kemudian mengetuk lagi.


"Bang, boleh aku masuk?"


Lagi-lagi tak ada jawaban sama sekali, Starla merasa sedikit cemas.


"Apa dia tidur? Atau terjadi sesuatu?" tebak Starla.


Dengan perlahan, Starla pun membuka pintu dan mengintip ke dalam kamar Deka, tampak lelaki berwajah rupawan itu tengah tidur.


"Oh, sedang tidur. Pantas tidak menyahut, kalau begitu aku masuk saja." Dengan hati-hati, Starla masuk, dia sedikit takut jikalau Deka marah sebab dia sudah masuk tanpa izin, namun dia tak ada pilihan lain, dia harus mengantarkan makan siang untuk sang majikan.


Starla meletakkan nampan yang dia bawa di atas meja nakas, lalu memandangi wajah Deka yang terlihat merah namun bibirnya pucat, dahinya juga berkeringat dan dia menggigil. Starla langsung duduk di sisi Deka lalu meletakkan punggung tangannya di kening lelaki itu kemudian menyentuh tangannya.


"Ya ampun, dia demam!" seru Starla cemas saat merasakan panas pada dahi dan lengan Deka.


Karena Starla menyentuhnya, Deka pun terbangun dan menatap wanita itu dengan mata yang sayu.


"Badan Abang panas sekali, Abang demam."

__ADS_1


Deka bergeming, dia terlalu lemah untuk sekedar membalas ucapan wanita itu.


"Maaf, boleh aku lihat lukanya?" tanya Starla.


Deka mengangguk.


Dengan perlahan Starla membuka baju Deka dan memeriksa lukanya, dia terkesiap ketika melihat luka di dada Deka membengkak dan tepinya kemerahan.


"Sepertinya luka Abang infeksi, kalau begitu aku ambil obat dulu!" Starla beranjak dan bergegas pergi.


Deka hanya memandangi kepergian wanita itu tanpa bicara apa pun, dia merasa sangat lemas dan kedinginan, luka di dadanya juga berdenyut, namun dia berusaha menahan rasa sakitnya.


Starla berlari ke lantai bawah dan mengambil kotak obat lalu membongkarnya, tapi obat yang dia cari tak ada.


"Apa dia tidak menyimpan ibuprofen atau sejenisnya?" gerutu Starla.


"Cckk, aku harus membelinya. Tapi apoteknya jauh dari sini."


Namun tiba-tiba muncul ide di kepala Starla, dia menyiapkan sebuah mangkuk kemudian mengisinya dengan air hangat lalu mengambil handuk kecil dan membawanya ke kamar Deka.


Starla kembali duduk di sisi Deka lalu mengompres dahi lelaki itu dengan handuk kecil yang sudah dia basahi dengan air hangat.


Deka bergeming menatapnya.


"Aku pergi beli obat penurun panas dulu, nanti aku kembali lagi," ujar Starla sambil melirik kunci mobil di atas meja.

__ADS_1


Deka mengangguk dua kali. Starla beranjak dan meletakkan mangkuk yang dia bawa di atas meja, tanpa sepengetahuan Deka, dia mengambil kunci mobil dan buru-buru pergi.


Starla mengemudikan mobil Deka menuju sebuah apotek yang berada cukup jauh dari rumah lelaki itu. Dia membeli obat penurun panas dan anti radang, serta salep antibiotik. Tak lupa juga dia membeli termometer untuk mengecek suhu tubuh Deka.


Starla memacu mobil itu dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di rumah, dia sedikit khawatir dengan keadaan Deka. Setelah tiba di rumah, Starla memarkirkan mobilnya sembarangan dan buru-buru lari menuju kamar Deka.


Starla kembali duduk di samping Deka, dia mengambil handuk di dahi Deka yang sudah hangat lalu membasahinya lagi kemudian meletakkannya di kepala lelaki itu. Dia juga menyelipkan termometer di ketiak Deka untuk mengecek suhu tubuh lelaki itu.


"Sekarang Abang makan dulu, ya? Baru setelah itu minum obatnya."


Deka menggeleng lalu berucap pelan, "Aku tidak berselera."


"Tapi Abang harus makan sebelum minum obat-obat ini. Sedikit saja pun tidak apa-apa, agar perutnya tidak kosong," bujuk Starla.


Deka pun menurut, Starla meraih piring yang berisikan makanan lalu menyuapkan sesendok nasi beserta lauk ke depan mulut Deka. Dengan perlahan Deka membuka mulut dan memakannya. Starla kembali melakukan hal yang sama, namun di suapan ketiga, Deka menolaknya.


"Sudah," ucap Deka pelan.


Starla tak mau memaksa, dia meletakkan kembali piring itu di atas meja kemudian mengeluarkan obat-obat yang dia beli dari bungkusnya dan mengambil segelas air.


"Sekarang minum obatnya dulu, Bang!" Starla membantu Deka meminum obatnya.


"Aku akan membersihkan luka Abang, tunggu sebentar!" Starla kembali beranjak sembari membawa nampan yang berisikan piring kosong itu pergi.


Deka hanya memandangi kepergian Starla dengan tatapan tak terbaca, dia takjub oleh setiap tindakan Starla, wanita itu sangat peduli dan perhatian padanya.

__ADS_1


***


__ADS_2