
Sepeninggal orang tua Vera,dia lalu masuk kamar dan menangis sejadi jadinya,sejujurnya dia ingin pulang saja bersama orang tuanya tetapi karena pak Santo belum puluh Vera tak tega meninggalkan dia sendiri meski ada bibi dan Wisnu,apa lagi Wisnu sama sekali tidak peduli hati Vera sangat hancur,dia menjadi teringat Satria,ingin sekali dia menghubungi Satria tetapi dia tak berani.
"Mas Satria,aku kangen sama kamu,sedang apa kamu disana?"Vera menangis dengan bersandar pada pintu,tatapannya menerawang jauh mengingat masa masa bersama Satria.
Sedangkan di kota T,Satria juga merasakan rindu yang sangat dalam kepada Vera dia selalu memimpikan istri dari Wisnu tersebut,ingin rasanya dia menghubungi Vera tetapi takut ada Wisnu.Karena perasaanya tidak tenang Satria memutuskan untuk menghubungi Vera,urusan Wisnu dia pikirkan belakangan.
"Ha halo Ver,bagaimana kabar kamu?"Satria menghubungi Vera dan Vera tentunya senang karena dia juga sedang merindukan Satria.
"Halo mas Satria,kabar aku baek,"Jawab Vera dengan menghapus aer matanya.
"Ver,kamu habis menangis ya,"Tebak Satria.
"Enggak kok mas,siapa yang nangis emm kabar kamu bagaimana?"Vera mengalihkan pembicaraan.
"Kabar aku kurang baek,karena rindu seseorang,"Jawab Satria.
"Iyakah?kamu sudah menemukan wanita idaman kamu mas,"Tanya Vera sedih.
"Pasti lah,tetapi sayang dia sepertinya tidak merindukan aku,"
"Ya kamu samperin dong mas,"
"Bagaimana aku mau samperin jika dia bersama pasanganya,"
"Maksud kamu aku mas,"Tanya Vera sambil tersenyum.
"Nah gitu senyum kan cantik jangan cemberut aja,"Jawab Satria tertawa dia tahu jika Vera sedang sedih.
"Ihh sok tahu banget seh mas,"Vera mengelak.
"Tapi benar kan tebakan aku mbak,"
__ADS_1
"Tuh kan kok mbak lagi seh,nyebeliin,"Gerutu Vera dan disambut tawa oleh Satria.
"Sudah malam Ver,cepetan istiraahat ya jangan banyak begadang gak baek,"Saran Satria.
"Iya mas,terimakasih kamu juga jaga kesehatan ya,"
"Iya,salam buat Bisma ya,",
"Iya mas,besak aku sampaikan,aku matiin ya?"
"Iya Ver,Miss You,"
"Miss you to,"Lalu panggilan Vera matikan dia tersenyum senyum sendiri setelah mendapat tlf dari Satria,seolah kesedihannya sudah hilang.
Vera berdiri lalu menuju kamar mandi dan mencuci muka,perasaanya sedikit lebih tenang berkat tlf dari Satria.
Kondisi Pak Santo semakin memburuk,dia dilarikan kerumah sakit Jodi dan Vera yang membawa sedangkan Wisnu tidak kelihatan batang hidungnya.
"Ayah,bertahan ya yah aku masih butuh aya,"Vera sangat kawatir melihat kondisi ayah Santo yang memburuk.
"Jodi,mas Wisnu kemana?dia tidak ada aku hubungi tidak bisa,"Tangis Vera pecah.
"Saya tidak tahu nona,akan saya hubungi tuan Wisnu,"Jawab Jodi lalu mengambil ponsel dari sakunya.
Jodi berkali kali menghubungi Wisnu,tetapi tidak bisa ponselnya tidak aktif.Sebenarnya Jodi tahu dimana Wisnu berada yang pastinya bersama Nindi.Lalu Jodi pamit untuk mencari Wisnu tetapi dicegah Vera,dia tidak ingin ditinggal sendiri.
"Jo,tidak usah dicari mas Wisnu biarkan saja dia,kita urus saja ayah,"Jawab Vera yang masih menangis.
Sudaah setengah jam dokter memeriksa pak Santo tetapi belum ada tanda tanda dokter akan keluar,hingga sepuluh menit kemudian dokter keluar dengan lesu,Vera sudah lemas dan Jo memapah Vera untuk menghadap dokter.
"Dok,bagaimana kondisi ayah saya,"Tanya Vera dan dokter hanya diam menunduk.
__ADS_1
"Jawab dok,ayah saya baik baik saja kan?"Bentak Vera.
"Maafkan saya nona,bapak Santo tidak bisa diselamatkan beliau sudah meninggal,"Jawab dokter dengan menggeleng.
"Enggak,enggak mungkin,dokter pasti salah kan,ayah baik baik saja kan dok,"Vera menggoyang goyangkan bahu dokter Farel.
"Non,tenang lah yang ikhlas non,tuan Santo sudah berpulang,"Jawab Jo,Vera berlari masuk melihat ayahnya,pak Santo sudah terbujur kaku di ranjang rumah sakit,Vera mendekat dan membuka penutup kaen tersebut.
"Tidaaaaakkkkkk ayaahhhh bangun,ayah bangun in Vera yah,hik hik,aaku masih butuh ayah,jangan tinggalin aku yah,ayo bangun,"Jerit dan tangis Vera terdengar menyayat hati,Jo ikut meneteskan aer mata melihat Vera terpuruk seperti ini,dia pelan pelan mendekat ke arah Vera dan merangkulnya agar tenag.
"Non yang kuat,ikhlaskan ayah Santo,"Jo mendekat.
"Ayah hanya tidur Jo,dia baek baek aja Jo,lihat ayah tersenyum kan Jo,dia damai Jo dia hanya tidur,"Jawab Vera dengan tatapan kosong,sedetik kemudian Vera pingsan dan Jo membopongnya untuk diperiksa dokter.
Sedangkan Wisnu,justru bersenang senang dengan Nindi dia tidak tahu jika ayahnya sudah meninggal.Ponsel Wisnu sengaja dia matikan agar tidak ada yang mengganggu kebersamaan dia dan Nindi.
"Sayang kamu hebat banget seh,aku sangat puas banget jika berhubungan dengan kamu,"Wisnu memeluk Nindi.
"Makanya cepetin ceraikan Vera sayang,biar aku bisa melayani kamu setiap hari dan tidak sembunyi sembunyi seperti ini.
"Sabar sayang,sebentar lagi aku akan ceraikan dia tunggu ayah aku pulih dulu aku akan memasukkan gugatan perceraianku"Jawab Wisnu sambil mengelus rambut Nindi.
"Tapi jangan lama lama ya yang,"Ucap Nindi manja.
Wisnu dengan gemas menciumi Nindi kembali hingga terjadi pergulatan panas mereka yang kesekian kalinya.Waktu hampir pagi Wisnu terbangun dan membersihkan diri ,lalu dia mengaktifkan ponselnya dia heran banyak sekali panggilan dari Vera dan Jo.Hingga dia membaca pesan Jo yang mengatakan jika ayahnya meninggal semalam dengan panik Wisnu meloncat turun dari ranjang dan bergegas pulang tanpa berpamitan kepada Nindi.
Tiba didepan rumahnya sudah terpasang bendera kuning,dan banyak orang yang duduk dihalaman rumah Wisnu,dengan kaki bergetar dia masuk menerobos kerumunan orang,dia melihat ayahnya sudah dikafani dan dibacakan Yasin oleh para tetangga.Wisnu mendekat dan membuka kain penutup mayat ayahnya dan menangis.
"A ayah,bangun yah,maafkan Wisnu yah,maafkan Wisnu,"Dia bersimpuh dan memeluk jasad ayahnya.Vera semakin tersedu sedu melihatnya walau sebenarnya dia sangat sangat kecewa.
"Mas Wisnu yang sabar dan ikhlas ya,apa bisa dimakamkan sekarang ayah anda,kasihan beliau sudah dari semalam hanya menunggu kedatangan anda,bu Vera melarang kami menguburkan jenasah ayah anda,"Tanya pak Rt.
__ADS_1
"I iya pak Rt boleh,maafkan saya,ayah maafkan Wisnu,"Jodi mendekat ke arah Wisnu dan membawanya berdiri agar para warga bisa mengangkat jenasah pak Santo.
Pukul sembilan pak Santo sudah dimakamkan di pemakaman keluarga pak Santo,beliau di makamkan disamping istrinya bu Hasnah.Wisnu masih menyesali dirinya dia tidak ada disaat terakhir ayahnya,walau menyesalpun tak ada gunanya.Pak Santo sudah pergi untuk selamanya.