
"Ver,tunggu aku mau bicara,"Satria mencekal tangan Vera saat Vera mendahului berjalan.
"Bicara apa mas,aku enggak apa apa sebaiknya kamu pulang,aku mau pulang sendiri saja,"Vera melepaskan cekalan tanganya.
"Anak yang kamu kandung anaku kan Ver,"Ucap Satria yang membuat Vera menghentikan jalannya.
"Jangan ngaco mas,"Jawab Vera tanpa menoleh dia tidak mau Satria tahu yang ada pernikahanya dengan Bonita bisa gagal kasihan orang tua Satria.
"Aku enggak ngaco,kita terakhir bertemu sebulan yang lalu dan aku ingat waktu itu aku tidak memakai pengaman,dan aku mengeluarkanya di dalam Ver,saat itu Wisnu bersama perempuan itu kan,dan kalian tidak pernah bersama kamu sendiri yang bilang Ver,ayo jawab Ver ini anak aku kan?"Satria mendekati Vera dan mencekeram bahu Vera.
"Ahh sakit mas,lepaskan kamu nyakitin aku,"Vera menunduk dia berusaha melepaskan cengkraman tangan Satria.
"Maafkan aku,tolong jawab Ver ini anak kita kan Ver,dia buah hati kita kan?"Tanya Satria lagi dan Vera tidak bisa berbohong dan menutupi perasaanya lagi,bahunya bergetar menandakan dia menangis,Satria langsung memelukknya ada perasaan bahagia karena ada benih cintanya di dalam rahim Vera.
"Jangan menangis,kasihan anak kita aku akan bertanggung jawab Ver meski tidak bisa memilikimu jangan pernah mencoba untuk menggugurkan kandungan kamu,"Satria mengelus kepala Vera.
"Tapi mas,bagaimana aku bilang kepada mas Wisnu dan orang tuaku,pasti mereka akan bertanya tanya tentang kehamilan ini,aku takut mas,"Ucap Vera mendongak menatap Satria.
"Tenanglah,aku akan fikirkan bagaimana caranya,"Jawab Satria mengecup kening Vera.
"Jangan lama lama ya mas,ya ampun aku harus pulang mas keburu mas Wisnu datang habis mengantar ayah,"Vera melepaskan pelukan Satria dia teringat jika sudah terlalu lama keluar rumah dan mengajak Satria kembali kerumahnya karena motornya ada dirumah Satria.
Satria membawa Vera pulang kerumahnya,sebenarnya dia ingin sekali mengantar Vera pulang tetapi Vera menolak dengan alasan takut ketahuan ibunya.Kurang lebih dua puluh menit Vera telah sampai dirumahnya dan benar saja Wisnu sudah kembali dari Bandara.
"Bunda udah pulang itu nek,bundaaa,"Bisma berlari menghampiri Vera.
"Hae boy, maafkan Bunda ya lama ninggalin Bisma,Bisma enggak nakal kan sama nenek?"Tanya Vera sambil menciumi pipi Bisma.
"Enggak dong bun,tadi Bisma bermain sama nenek di belakang bun,"Oceh Bisma pada bundanya dan ditanggapi tawa oleh Vera.
"Ver,kamu habis darimana?"Tanya Wisnu menatap Vera yang baru masuk rumaah.
__ADS_1
"Maafin Vera mas,tadi Vera beli obat tapi tiba tiba pusing makanya Vera istirahat dirumah Rini dulu,"Jawab Vera sambil menunjukkan obat yang tadi dia beli.
"Untung tadi gak lupa beli obat meriangnya,"Batin Vera lega.
"Ya ampun Ver,kenapa tadi enggak nunggu aku pulang dulu seh,kan aku bisa antar kamu ke dokter,"Panik Wisnu lalu menuntun istrinya duduk,tetapi Vera justru merasa perhatian Wisnu aneh,seperti tidak tulua.
"Aku enggak apa apa mas,nanti minum obat juga sembuh,"Jawab Vera.
"Kalian makan malam lah dulu,biar Bisma tidur sama ibu ya kalian cepatlah buatkan adek untuk Bisma,"Goda bu Karina yang membuat Vera tersedak saat minum.
"Uhuk uhuk,"
"Pelan pelan aja dong sayang minumnya,"Kata Wisnu.
"I iya mas,ibu apaan seh,"Vera melirik ibunya.
"Benar kata ibu Ver,Bisma sudah waktunya dibuaatkan adek,"Bisik Wisnu yang mendapat pelototan dari Vera untuk menghilangkan kegelisahanya.
"Ver,kok kamu kelihatan lemes dan pucaat sekali nak,apa masih sakit?"Bu Karina memperhatikan Vera dan memegang keningnya.
"Enggak bu tinggal lemes aja,udah enggak pusing,"Jawab Vera berbohong(Maafin Vera bu sudah berbohong pada ibu)batin Vera.
"Ya sudah kamu duduk saja biar ibu yang membuat sarapan,ibu buatkan jahe anget dulu ya,"Bu Karina berlalu ke dapur.
Setelah semua keluarga sarapan Wisnu berpamitan akan menemui asisten Jodi,dia akan meminta Jodi untuk berlatih mengurus perusahaan ayahnya.Sedangkan Bisma mengajak neneknya ke pasar kesempatan itu di manfaatkan Vera untuk menghubungi Satria.
"Halo mas bisa kita bertemu?"Sapa Vera dia menghubungi Satria lewat ponsel.
"Bisa Ver,dimana?"Tanya Satria.
"Kita bertemu di taman dekat rumah ibu aja gimana?mumpung mas Wisnu pergi.
__ADS_1
"Iya baiklah,tunggu sebentar lagi aku kesana,"Jawab Satria lalu mematikan sambungan tlfnya.
Vera bersiap siap terlebih dahulu,dia sedikit memakai lipstik agar tidak kelihatan pucat,dia hanya berjalan kaki ke taman karena memang dekat dengan rumah bu Karina.Vera sudah duduk disalah satu bangku taman menunggu kedatangan Satria,sekitar sepuluh menit akhirnya yang ditunggu tiba.
"Kamu sudah lama?"Satria tersenyum menatap Vera.
"Baru sepuluh menit mas,"Jawab Vera cemberut.
"Maaf ya,tadi ada Bonita dhatang kerumah,"Jawab jujur Satria.
"Kalau ada dia kenapa pakai kesini segala seh,"Vera merasa cemburu.
"Kenapa memangnya hem,kamu cemburu ya hayo ngaku?"Goda Satria sambik menoel hidung mancung Vera.
"Ihh apaan seh pegang pegang,siapa juga yang cemburu gak,"Vera nampak cemberut seketika modnya berubah.
"Haha kamu kalau cemburu lucu yang,meskipun nanti aku bersama Bonita itu hanya ragaku Ver,hati dan cintaku cuma buat kamu dan calon anak kita,"Satria memegang tangan Vera.
"Terus bagaimana aku memberi tahu keluargaku mas,"Vera menatap Satria dengaan mata berkaca kaca.
"Ya kamu tinggal bilang kalau kamu hamil dong sayang,dan kamu bilang kehamilan kamu baru dua minggu,kalau Wisnu ngajak periksa kandungan kamu ajak aja kerumah sakit Husada temui dokter Jihan,dia temen aku Ver dia juga sudah tahu tentang kita,jadi Jihan enggak akan bilang kepaada Wisnu,"Jelas Satria.
"Yakin aman mas,"Tanya Vera ragu.
"Apa kamu enggak percaya lagi sama aku Ver?"Satria balik bertanya.
"Bukan begitu mas,aku percaya baiklah aku akan turuti ide kamu ini,"Vera kembali bersandar pada Satria.
"Nah gitu dong,ini nonya dokter Jihan kamu hubungi dia dulu kalau mau periksa ya,"Satria mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyerahkan kepada Vera.
Dirasa sudah cukup lama mereka bersama akhirnya Vera pamit akan pulang,dia takut keduluan Wisnu dan ibunya,Vera dan Satria sangat bahagia akankah mereka bisa bersatu?
__ADS_1
Sesampainya dirumah ternyata masih sunyi yang artinya Wisnu,ibu dan anaknya belum pulang Vera lalu memasak untuk menyiapkan makan siang bersama keluarga mereka.Wisnu yang masih berada di kantor ayahnya berusaha mencoba merayu Jodi agar perusahaan di serahkan kepada dirinya tetapi Jodi menolaak karena wewenang yang berhak menentukan itu Vera istrinya Wisnu.