
Pagi harinya Vera bangun lebih awal untuk membuatkan sarapan Satria,dia ingin melayani Satria dengan sebaik mungkin karena belum tentu besak besak bisa seperti ini lagi.
"Heemm baunya harum,kamu masak sayang?"Tanya Satria mendekat ke arah Vera.
"Iya mas,aku buatin nasi goreng sama ayam goreng cuma ada bahan ayam aja,"Jawab Vera menoleh ke arah Satria.
"Apapun yang kamu masak aku tetap suka dan enak Ver,"Jawab Satria sambil memeluk Vera dari belakang dan menciumi leher Vera.
"Alah gombal kamu mas,ihh mas geli aku lagi masak ini,"Jawab Vera.
"Eh siapa yang gombal serius ya,"Jawab Satria dan terus menciumi Vera yang membuat Vera kegelian dan berakhir di ranjang lagi.
Orang yang ditabrak Wisnu juga sudah bangun,dia bernama Rendra dia mengaku baru datang dari jakarta dan kecopetan tidak tahu alamat yang dituju Wisnu yang percaya mengijinkan Rendra tinggal dirumahnya dulu.
"Pagi tuan,maaf jika saya merepotkan tuan,"Ucap Rendra.
"Tidak masalah,aku hanya bisa membuat roti bakar biasanya istri saya yang menyiapkan sarapan tetapi dia sedang ada kerjaan diluar kota,"Jawab Wisnu sambil menyerahkan roti bakarnya.
"Oh tuan sudah punya istri,saya kira masih lajang karena tidak ada foto pernikahan tuan,maaf jika saya lancang,"Jawab Rendra.
"Tak masalah memang saya tidak punya foto pernikahan dengan istri saya Ren,jangan panggil tuan panggil Wisnu saja kayaknya kita seumuran,"Jawab Wisnu sambil memakan rotinya.
"Iya Tuan eh Wis,hehe jadi canggung,"Jawab Rendra sambil meringis.
"Oh ya saya akan berangkat ke kantor dulu kamu enggak apa apa kan saya tinggal dirumah sendiri ,"Tanya Wisnu.
"Oh enggak apa apa Wis silahkan,kamu enggak takut aku maling rumah kamu,"Tanya Rendra.
"Haha kalau kamu mau maling sudah dari semalam kamu maling aku kan,karena aku tidur sudah kaya kebo,"Jawab Wisnu dengan candaan.
"Hahah iya iya oke,hati hati Wis?"Jawab Rendra sambil tertawa.
__ADS_1
Selepas kepergian Wisnu,Rendra tersenyum miring dan memulai aksinya,dia memasuki kamar Wisnu untuk mencari serifikat rumah serta tentang data data perusahaan dia akan meretasnya dan menyerahkan kepada bosnya.
"Yes akhirnya aku berhasil,tetapi aku harus menghubungi bos dulu,"Gumam Rendra setelah mendapatkan apa yang dia mau.
Rendra merapikan apa yang dia rusak tadi dan mengembalikan seperti semula.Dia lalu menghubungi bosnya untuk memberitahu keberhasilanya.Saat dia akan berbalik dia tidak sengaja menyenggol bingkai foto dan jatuh untung saja bingkai tersebut tidak berasal dari kaca,Rendra memunguti apa yang dia senggol dan tanpa sengaja dia melihat foto Vera.
"Foto ini?seperti Vera ya apa cuma mirip,siapa perempuan ini apa istri Wisnu,"Batin Rendra.
Rendra teringat cinta monyetnya pada masa SMP dulu,Rendra sangat tergila gila dengan gadis cantik yang lugu serta apa adanya,dia adalah Vera istri Wisnu.
"Ah mungkin cuma mirip aja,aku harus cepat cepat bereskan ini dan menemui Bos,"Batin Rendra lalu mengembalikan kembali bingkai foto tersebut ketempaat semula.
Rendra keluar dengan memesan Taksi dia menemui bosnya yang tak laen adalah Nindi,Nindi menyuruh anak buahnya untuk menghancurkan Wisnu.
Ditempat laen Satria dan Vera telah selesai meting lalu mereka makan bersama disebuah restoran terkenal di kota Y,mereka sangat mesra sampai banyak yang iri sama mereka,tanpa mereka sadari ada salah satu pengunjung restoran yang mengenali Satria.Dia lalu memfoto dan menelfon istri Satria untuk menanyakan apakah Satria dirumah atau tidak.
"Halo Bonita,apa kabar lama tidak memberi kabar ya,"Ucap orang tersebut.
"Halo Indi ya ampun masih ingat aku ya ternyata,"Jawab Bonita ditlf mereka lalu mengobrol bersama dan Indi menanyakan apakah Satria dirumah dan Bonita mwnceritakan semuanya pada Indi.
"Bonita ya ampun aku kangen banget sama kamu,"Teriak Indi heboh lalu memeluk Indi yang ternyata teman Bonita dulu.
"Aku juga kangen banget sama kamu,kok bisa kamu dikota ini seh,"Jawab Bonita.
"Bisa lah,kamu keluar dari kerjaan itu aku juga ikut keluar dan pindah kesini,"Jawab Indi
"Lalu kamu bertemu mas Satria dimana In?"Tanya Bonita lalu Indi menceritakan apa yang dia lihat tadi pagi dan mengajak Bonita menemui Satria yang dia sudah tahu alamatnya dan tidak jauh dari tempat Indi.
Malam harinya mereka menuju hotel dimana Satria dan Vera menginaap,Bonita sudah tidak bisa tenang fikiranya sudah kemana mana.
"Yang,kamu pesan sesuatu ya kok itu pintu diketuk terus,"Tanya Vera pada Satria.
__ADS_1
"Enggak sayang,mungkin clening servis Ver,tadi aku menyuruh membersihkan kamar kita,"Jawab Satria.
"Kan ada aku mas,kenapa memanggil clening servis segala seh,"Jawab Vera.
"Sayang kita disini untuk menikmati waktu berdua bukan untuk bersih bersih oke,"Jawab Satria.
"Ya sudah aku buka pintu dulu ya mas,kamu buruan makanya,"Jawab Vera lalu berjalan menuju pintu.
Vera membuka pintu dan terkejut melihat ada dua orang wanita didepan kamarnya.
"Maaf anda siapa ya?"Tanya Vera sopan.
Plak sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Vera.
"Apa apan kamu,ngapain kamu menampar saya,"Tanya Vera sambil memegangi pipinya.
"Mana Mas Satria,kamu pantas mendapatkan itu semua dasar pelakor,"Jawab Bonita penuh emosi lalu menerobos masuk mencari Satria.
"Siapa yang dat,,,"belum selesai berbicara Satria dibuat kaget dengan kehadiran Bonita.
"Bo Bonita ngapain kamu disini?"Tanya Satria gagap.
"Seharusnya aku yang bertanya,ngapain kamu disini bersama wanita murahan itu mas,kamu itu suami aku kenapa tega hianati aku mas,"Jawab Bonita.
"Tutup mulutmu,dia bukan wanita seperti itu,"Bela Satria Vera lalu menemui Satria dengan Indi dibelakangnya.
"Ngapain kamu bela dia mas,disini aku yang istri kamu dia itu hanya pelakor yang merusak rumah tangga kita,"Jawab Bonita emosi.
"Aku tegaskan sekali lagi,dia bukan pelakor dia adalah orang yang saya CINTAI,dan gara gara kamu aku tidak jadi menikah denganya,"Jawab Satria tidak menutup nutupi lagi hubunganya.
Jduuaaaaarrrr seperti disambar petir Bonita tidak bisa menjawab lagi,hancur dan sakit perasaanya melihat kenyataan itu.
__ADS_1
"Dan saya tegaskan sekali lagi,aku menikahi kamu hanya demi status anak kamu itu jika anak itu lahir aku akan menceraikan kamu,"Tegas Satria yang membuat semia yang ada disitu terkejut terutama Indi.
Bonita pergi dari kamar itu sambil menangis dan disusul Indi sedangkan Vera dia seperti orang linglung fikiranya kacau,kata kata pelakor selalu terngiang diingatanya,Satria yang melihat Vera hanya diam menjadi kawatir dia menuntun Vera untuk duduk disofa.