
Pak Candra terlihat senang dengan perubahan Wisnu,dia menjadi tenang jika akan meninggalkan Vera dan cucunya bekerja keluar kota lagi,bu Karina juga berharap Vera segera hamil kembali.
"Mas,kita kerumah ibu yuk ayah akan berangkat ke luar kota hari ini,"Ajak Vera pada Wisnu saat bersantai bersama di ruang tamu.
"Loh ayah akan kembali lagi kerja?"Tanya Wisnu nampak terkejut.
"Iya mas,kata ayah beliau masih punya tanggungan,"Jawab Vera.
"Ya sudah aku ganti baju dulu ya,kamu tunggu diluar bersama Bisma,"Perintah Wisnu lalu dia masuk ke dalam kamar.
"Baik mas,terimakasih,"Vera lalu mengajak Bisma keluar dan menunggu di teras.
Vera tiba tiba merasa mual,dia sekuat hati menahannya tetapi tidak bisa Vera berlari masuk lagi ke dalam rumah dan muntah muntah.
"Hoek hoek,"Vera memuntahkan semua isi perutnya,Wisnu yang mendengar suara orang muntah muntah menghampirinya.
"Loh Ver,kamu kenapa?"Tanya Wisnu panik sambil memijit tengkuk Vera.
"Enggak tahu ne mas,tiba tiba mual aja,hooeekk,"Vera kembali muntah.
"Apa jangan jangan kamu hamil?"Tanya Wisnu.
"Ha,hamil,"Sesaat dia melamun dia teringat pertemuanya terakhir dengan Satria,mereka melakukan hubungan suami istri dan tidak memakai pengaman,sedangkan bersama Wisnu baru seminggu terakhir ini berhubungan jadi,,kalau Vera hamil berarti anak dari Satria.Batin Vera
"Ver,kok melamun apa benar kamu hamil?"Wisnu menepuk pundak Vera.
"Eh apa mas,ya gak mungkin dong mas aku hamil kita hubungan kan baru minggu kemaren masak iya langsung jadi,"Jawab Vera sebisa mungkin tenang.
"Hehe iya juga ya,aku sudah berharap Bisma mendapat adek,"
"Paling cuma masuk angin aja mas,tadi kan aku enggak sarapan,"Alasan Vera.
"Makanya jangan nunda nunda sarapan,gimana kita jadi enggak kerumah ayah?"Tanya Wisnu menuntun istrinya untuk duduk.
"Jadi mas,aku udah enggak mual ko hanya enggak enak diperut saja mas,"Jawab Vera.
"Ya sudah kamu tunggu disini dulu aku buatkan Teh ya,"Wisnu meninggalkan Vera,dia berjalan ke arah dapur.
"Apa benar aku hamil,bodohnya aku kan aku sudah telat datang bulan,berarti janin ini anaknya mas Satria,bagaimana ini?"Batin Vera menangis.
__ADS_1
"Ver ini tehnya diminum dulu nanti baru kerumah ayah,"Wisnu menyodorkan segelas teh kepada Vera.
"Terima kasih mas,"Vera lalu menyeruput teh buatan suaminya.
Dirasa sudah tidak mual lagi Vera mengajak Wisnu berangkat kerumah orang tuanya,sepanjang perjalanan dia hanya kepikiran tentang kejadian tadi sebenarnya Vera masih mual tetapi dia tahan takut Wisnu semakin curiga,dia akan memeriksanya nanti dirumah ibunya.Satu jam perjalanan mereka telah sampai dirumah pak Candra.
"Assalamualaikum bu,"Sapa Vera.
"Walaikumsalam,eh ada cucu nenek ayo masuk Ver,Wis,kalian sudah ditunggu ayah di dalam,"Ajak Bu Karina sambil menggandeng cucu kesayanganya.
"Yah,maaf kami baru sampai,"Vera mencium tangan ayahnya diikuti Wisnu juga Bisma.
"Iya enggak apa apa,ayah belum mau berangkat juga,"Jawab pak Candra lalu memangku Bisma dan menciuminya.
"Kalian minum dulu pasti lelah,"Bu Karina membawakan jus kepada Vera dan Wisnu.
"Ibu kok repot repot segala,kan Vera bisa buat sendiri bu,"Vera merasa tak enak hati.
"Enggak apa apa nak,sekali kali ibu yang melayani kalian,"Jawab Bu Karina lalu duduk disamping suaminya.
"Ayah jadi berangkat ke luar kota?"Tanya Wisnu memulai obrolan.
"Jadi Wis,nanti sekalian kamu antar ayah jika enggak keberatan,"Jawab pak Candra.
"Yang benar mas kamu mau bekerja diperusahaan kamu?"Vera terkejut dengan pembicaraan Wisnu tadi.
"Benar Ver,jika kamu mengijinkan,"
"Ya tentu lah mas,itu kan perusahaan kamu,"Vera tersenyum.
"Terima kasih sayang,"Wisnu merangkul bahu istrinya.
"Kami senang melihat kalian seperti ini,ayah harap selamanya kalian bisa seperti ini ya,"Nasehat pak Candra.
"Insaalah yah,aku akan membahagiakan anak juga istriku,"Jawab Wisnu.
"Aku percaya sama kamu nak,jika kamu tidak membutuhkan Vera lagi tolong jangan kamu sakiti dia lagi untuk kesekian kalinya,kembalikan dia pada ibu saja,"Jawab bu Karina.
"Baik bu,"Wisnu menunduk entah apa yang dia fikirkan.
__ADS_1
Hari beranjak sore,pak Candra telah siap berangkat keluar kota,Wisnu yang akan mengantar mertuanya ke Bandara dan ini dimanfaatkan Vera untuk membeli tespeck apakah dia benar benar hamil ataau hanya masuk angin biasa.
"Bu Vera keluar sebentar ya,nitip Bisma Vera enggak lama ko,"Vera berpamitan sama ibu Karina.
"Kamu mau kemana Ver,ini sudah sore lo,"Jawab Bu Karina yang sedang membereskan piring piring kotor bekas mereka makan bersama tadi.
"Ke apotik bu beli obat,badan Vera kurang sehat,"Alasan Vera pada ibunya.
"Baiklah,hati hati dan cepat kembali,"Jawab Bu Karina.
Vera lalu berangkat mengendarai motor ibunya,perjalanan ke apotik melewati rumah Satria dia ingin sekali mampir kerumah Satria tetapi takut menganggu Satria dengan pacarnya.Saat perjalan pulang kerumah Vera justru bertemu Satria awalnya Vera tidak akan berhenti tetapi Satria menghadangnya ditengah jalan.
"Ver,tolong berhenti sebentar aku ingin bicara,"Satria menghadang motor Vera.
""Kamu ini apa apaan seh mas,pergi aku mau lewat,"Bentak Vera.
"Enggak,aku enggak akan pergi sebelum kamu turun dan mau mendengarkan penjelasan aku,"Kekeh Satria.
"Penjelasan apa lagi seh mas,enggak ada yang perlu dijelaskan jika memang kamu menemukan jodoh kamu aku turut seneng,"Jawab Vera dengan hati yang terluka.
"Bohong,aku tahu kamu masih mencintai aku,tolong turun Ver untuk kali ini saja dengarkan aku,aku ingin bicara,"Satria memohon Vera yang tidak tega akhirnya luluh juga,dia lalu meminggirkan sepeda motornya dan masuk kerumah Satria.
Mau tidak mau Vera mengikuti Satria,tiba didalam rumah Vera dipersilahkan masuk ternyata rumah Satria masih tetap sama tidak ada orang laen selaen Satria.Untuk sesaat diam tidak ada obrolan hingga Vera akan beranjak pulang dan Satria mencegahnya,Satria menjelaskan awal mula perjodohan dia dengan Bonita anak teman ayahnya,entah Vera mendengarkan atau tidak tiba tiba dia jatuh pingsan yang membuat Satria panik,Satria berusaha membangunkan Vera tetapi tidak berhasil tanpa pikir panjang Satria membawa Vera kerumah sakit terdekat.
Sampai dirumah sakit Vera telah selesai diperiksa dan dia juga sadar,dokter justru senyum senyum melihat pasienya tersebut.
"Dok bagaimana keadaan Vera,"Tanya Satria kawatir.
"Selamat ya pak,bu karena kalian sebentar lagi akan menjadi ayah dan ibu,"Jawab dokter yang membuat keduanya terkejut.
"Maksud dokter sa saya hamil dok,"Tanya Vera sedangkan Satria masih dalam lamunanya.
"Iya bu,usia kandungan ibu sudah empat minggu,tetapi pesan saya tolong dijaga kandunganya ya bu,soalnya sangat lemah,"Jawab Dokter Tika sambil menuliskan resep vitamin untuk Vera.
"Ini pak resepnya tolong ditebus ya,biar istri anda tidak mual mual lagi setidaknya mengurangi rasa mual ibu,karena pada trimester awal ibu hamil memang akan mengalami mual dan susah makan,"Penjelasan dokter.
""Ba baik dok terimakasih,"Jawab Satria gugup.
"Kalau begitu kami permisi ya dok,"Pamit Vera.
__ADS_1
"Baik pak, bu silahkan,"Ucap dokter Tika.
Mereka keluar dari ruangan dokter dengan saling diam sibuk dengan fikiran masing masing,terutama Vera bagaimana dia akan menjelaskan kepada keluarga terutama Wisnu kalau anak yang dikandungnya anak Satria,sedangkan Satria dia tengah berfikir mungkinkah dia anaknya,jika usia kehamilan Vera empat minggu itu artinya terakhir kali mereka bertemu dan berhubungan,karena saat itu Wisnu tidak pulang kerumah.