Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Perjuangan terberat


__ADS_3

Aryo bersama dengan beberapa orang dari klub bela diri kampus mendatangi Naia yang sedang asik berbincang dengan Novi dan Dewa.


"Itu kang mereka, kebetulan ada orang yang pernah aku ceritakan dulu, orang yang mengancam aku kang.." ucap Aryo kepada pelatihnya.


Novi bangkit dari duduknya dan menghadapi mereka, "Ada apa kalian kemari..? Kalian mau bikin rusuh disini..? Apakah hanya ini yang bisa dilakukan oleh anak klub bela diri..? Nol prestasi tapi selalu bikin masalah..!! Memang sebaiknya dibubarkan saja klub bela diri kalian ini.." bentak Novi.


"Wah-wah-wah.., dosen magang saja sudah berani omong besar. Jangan lupa, status kita itu gak jauh beda, sama-sama belum mendapat pengakuan resmi dari kampus. Atas dasar apa kamu menilai kami seperti itu, bahkan ingin membubarkan klub bela diri kita..? Jangan ngelunjak kamu, aku pun bisa membuatmu dikeluarkan dari kampus ini.." ucap Mamat


Mamat laki-laki berusia sekitar 35 tahun dengan tinggi sekitar 181 cm itu merupakan pelatih dari klub bela diri di kampus Tri Darma.


Meskipun marah mendengar ucapan Mamat, Dewa tetap diam. Dia tidak ingin memulai keributan, "Lagi-lagi sikap arogan seorang yang mempunyai ilmu kanuragan. Dilihat saja dulu, selama dia tidak bermain kasar, aku tetap harus bersabar, bagaimanapun ini lingkungan pendidikan.." gumam Dewa dalam hati.


"Minggir, aku tidak ada urusan denganmu..!! Kebetulan orang yang aku cari ada disini. Aryo, apakah pemuda ini yang mengancammu..?" ucap Mamat sambil mendorong Novi hingga tubuhnya menabrak Naia.


Dewa berdiri melihat Mamat mendorong Novi hingga hampir jatuh. Jika saja tidak ada Naia, Novi sudah jatuh menimpa meja kantin. Dewa berdiri tepat di depan Mamat dan melihat mata Mamat dengan tajam.


"Hei kalian, apa kalian ingin menghancurkan kantinku..? Jangan ribut disini, kalau mau berkelahi, sana ke lapangan saja..!!" hardik ibu kantin.


"Tenang saja bu, menghadapi orang seperti ini tidak perlu sampai berkelahi.." ucap Dewa kemudian mencengkeram pundak Mamat dan menekannya sehingga Mamat jatuh bersimpuh sambil meringis menahan sakit.


Mulut Mamat komat-kamit melafalkan mantra, sedangkan Dewa semakin keras mencengkram pundak Mamat hingga tulangnya bergemeretak.


Kreteeeekk.. Kreeeeekkk..


Mamat meringis menahan sakit di pundaknya. Tiba-tiba tubuhnya lemas hingga tidak bisa digerakkan, "Kenapa..? Katanya mau melawanku, tapi mengapa kamu malah bersimpuh didepanku..? Ayo keluarkan semua aji jaya kawijayanmu. Bukankah kamu punya aji lembu sekilan..?" ucap Dewa.


Tiba-tiba suara letusan seperti petasan terdengar dari saku belakang Mamat, jimat yang selama ini dia bangga-bangakan tiba-tiba terbakar. Bersamaan dengan itu, Mamat berteriak kesakitan, "Aarrgghhh.. Sakiittt-sakiitt.. A-ampuun-ampun mas eh bang eh bos, a-aku mengaku k-kalaaahhh..!" teriaknya.


Dewa sedikit melonggarkan cengkramannya sambil berkata, "Aku akan melepaskanmu, tapi mulai sekarang tinggalkan klub bela diri di kampus ini, akan ada orang lain yang akan mengurusnya.."

__ADS_1


"Baik mas eh bang. Aku bersedia meninggalkan klub bela diri ini.." ucapnya mengiba.


"Sekarang aku akan menghapus kanuraganmu..." sahut Dewa.


"Tolong jangan hapus ilmuku, diluar sana aku mempunya banyak musuh.." Mamat memohon kepada Dewa.


"Karena ilmu kanuraganmu itulah, kamu mempunyai banyak musuh. Jika kamu masih ingin selamat, temui mereka dan minta maaflah, dan tebus semua kesalahanmu.. Jika kamu tulus, maka aku jamin musuh-musuhmu akan memafkanmu.." ucap Dewa kemudian membaca mantra kalimasada dan memusnahkan ilmu kanuragan Mamat dan memberikan sedikit energi spiritualnya agar Mamat bisa dimaafkan musuh-musuhnya saat dia meminta maaf.


"B-baik bang.." jawab Mamat.


Dan kamu Aryo, jika kamu masih menganggu calon istriku, maka akan aku buat kau duduk di kursi roda selamanya.. Sekarang kalian bubar..!" ucap Dewa dengan tatapan tajam.


"B-baik bang.." jawab Aryo ketakutan.


Merekapun pergi dari kantin disambut cemoohan dan ejekan dari para mahasiswa yang ada di kantin itu. Tiba-tiba Dewa berteriak, "Diam kalian semua..!! Jika ada yang mencemooh dan mengejek mereka, aku tidak akan segan-segan menampar mulut orang yang mencemooh dan mengejek mereka..! Jangan pernah meremehkan siapapun yang berniat bertobat dan memperbaiki diri, karena perjuangan paling berat adalah meninggalkan sesuatu yang buruk dan berubah menjadi baik. Seharusnya kalian menghargai dan mendukung mereka..!" ucapan Dewa membuat semua mahasiswa yang ada di kantin itu tertunduk dan terdiam.


"Kamu tidak pernah berubah, selalu memaafkan siapapun yang berniat berubah menjadi baik.. Tapi ngomong-ngomong siapa yang akan mengurus klub bela diri nantinya..?" tanya Novi.


*****


Setelah menyelesaikan urusan di kampus, bersama dengan Naia dan Silvia, mereka bertiga berangkat menuju padepokan Tunjung Seto, "Mbah Sumi bisa datang kan..? Nanti akan ada teman mas Dewa yang akan menjemput mbah Sumi, jadi mbah tidak usah bingung naik apa ke kota L.." ucap Naia.


"Iya cah ayu, mana mungkin aku tidak datang dihari bahagiamu..?" ucap mbah Sumi sambil memegang pipi Naia.


"Alhamdulillah mbah Sumi bisa datang Nai.. Tinggal memberitahu kakek Sastro, semoga kakek juga bisa hadir.." sahut Silvia yang dijawab dengan anggukan Dewa.


"Sang Adhimurti, bisa ikut aku sebentar..? Kalian berdua tunggu disini, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mas Dewa kalian.." ucap mbah Sumi sambil tersenyum, kemudian mengajak Dewa kesuatu tempat.


"Hihihihi...." Naia menutup mulutnya sambil tertawa.

__ADS_1


"Kenapa kamu tertawa..? Apanya yang lucu..?" tanya Silvia heran.


"Silvia, apa kamu gak sadar..? Bukan aku saja yang bilang, tapi mbah Sumi juga bilang kalau itu mas Dewa kita.. Hihihi..." sahut Naia.


"Hiiihhhh... Bisa aja tuh mulut ngomongnya.." balas Silvia sambil mencubit pipi Naia.


Naia hanya mengelus pipinya yang memerah karena cubitan Silvia. Setelah hampir tiga puluh menit, Dewa dan mbah Sumi kembali ke pendopo padepokan Tunjung Seto dan Dewa segera mengajak Naia dan Silvia untuk berpamitan kepada mbah Sumi.


"Mbah Sumi ngomong apa mas..? Sepertinya ada hal yang penting.." ucap Naia ketika berada di dalam mobil.


"Ya cuma beberapa pesan aja, intinya aku harus melindungi kamu.." jawab Dewa singkat.


"Hhmmm.. Apa yang dibicarakan mbah Sumi kepada mas Dewa ya..? Tapi sudahlah, apapun itu, aku percaya mas Dewa bisa menanganinya.." ucap Naia dalam hati.


*****


Tak terasa seminggu berlalu, dan sesuai kesepakatan Naia dan Nuraini, selama seminggu kedepan mereka harus menjalani pingitan dimana calon mempelai wanita dipingit atau tidak diperbolehkan bertemu dengan siapapun termasuk calon mempelai laki-laki dengan maksud untuk menjaga kehormatan dan keselamatan calon mempelai wanita sebelum akad nikah dilangsungkan.


Pagi itu, bersama dengan Naia dan Silvia, mereka berangkat menuju desa Lerengwilis. Pak Wira dan pak Gunawan sepakat untuk menjemput Naia dan Nuraini di desa Lerengwilis.


"Besok pagi papa dan ayah akan menjemput Naia dan Nuraini di Lerengwilis. Hhmmm.. Masih ada waktu untuk mempersiapkan semuanya.." ucap Dewa dalam hati.


Silvia yang duduk di belakang Naia sesekali mengamati raut muka Dewa, dia tau ada hal yang sedang dipikirkan Dewa, "Lagi mikir apa mas, kok dari tadi diem aja..? Lagi menghawatirkan Naia ya..? Tenang aja, aku akan mengawasi dan menjaga calon pengantin wanitanya.." ucap Silvia.


"Bukan apa-apa, hanya persiapan kecil aja untuk memastikan keselamatan semuanya saat di kota L.." jawab Dewa.


"Mas tenang aja, gak usah terlalu khawatir gitu dong.. Kan sekarang aku juga bisa bela diri.." sahut Naia.


"Iya, aku percaya itu, tapi biar aku lebih tenang, besok aku akan minta bang Kosim, Icong dan beberapa petarungnya mengawal kalian dan menjaga kalian selama di kota L. Sekalian mereka bisa bantu persiapan acaranya.." jawab Dewa.

__ADS_1


"Iya terserah mas aja gimana baiknya.." sahut Naia.


Jalanan yang sepi membuat Dewa memacu mobilnya lebih cepat lagi hingga batas maksimal kecepatan di jalan tol.


__ADS_2