Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Berhasil atau gagal


__ADS_3

Obrolan Dewa dan Roni juga Kosim dan Icong membuat Naia, Silvia dan Nuraini diam tidak ikut berkomentar, karena mereka sendiri bingung harus berkomentar seperti apa, dalam pikiran mereka ini hanyalah dunia laki-laki. Mereka tidak tau bahwa banyak petarung-petarung perempuan di luar sana.


Melihat Naia, Silvia dan Nuraini diam saja, Dewa kemudian bertanya kepada mereka bertiga, "Kalian mau berlatih juga..? Ya minimal nge gym lah, biar tubuh kalian lebih kuat.. Gimana..?"


"Mau sih mas, tapi disini kan laki-laki semua, aku takut lah.." jawab Naia.


Roni dengan segera menjawab kekhawatiran Naia, "Eh.. Disini juga ada petarung ceweknya lho mbak. Ada lima orang malahan. Tapi ya mereka itu awalnya preman sih, anak buah Loreng.." Roni menjelaskan.


"Eh.. Iya kah..? Terus kalau cewek itu juga bertarung lawan laki-laki juga..? Emang kalau lawan laki-laki bisa menang mereka..?" tanya Silvia kaget.


"Ya enggak to mbak.. Kalau perempuan ya lawannya perempuan. Di negara kita punya banyak petarung perempuan lho, apalagi di luar negeri.." jawab Roni.


Kosim tau bahwa Naia, Silvia dan Nuraini adalah cewek-cewek manja yang tidak mungkin terjun ke dunia tarung bebas. Kemudian Kosim memberi alternatif berlatih beladiri, "Kalau mbak-mbaknya mau, bisa berlatih beladiri praktis aja. Jadi bisa untuk membela diri kalau ada kejahatan misalnya penjambretan, penodongan atau kejahatan lainnya.." sahut Kosim.


"Bela diri praktis itu seperti apa..? Apakah semacam silat atau karate gitu..?" tanya Silvia


"Jadi bela diri praktir itu teknik-teknik sederhana yang bisa digunakan untuk mematahkan serangan lawan, melepas kuncian, dikombinasi dengan serangan ke titik mematikan.." jawab Kosim


"Wah keren juga ya kalau ada yang berbuat jahat sama kita, kita bisa melawan.. Minimal gak terlalu takut kalau menghadapi orang yang mau berbuat jahat.." jawab Naia antusias.


"Ron, sini tunjukkan sama mbak-mbaknya, misalnya bagaimana menghadapi orang yang menodong kita.." ucap Kosim sambil berdiri. Mereka berdua memperagakan bagaimana bela diri praktis itu, sambil Kosim memberikan penjelasan sederhana, "Jadi gini mbak. Misalnya kita didekap dari belakang, jadi langkahnya seperti ini, kaki maju, tangan kanan kita seperti ini, lalu tangan lawan ditarik seperti ini, trus tendangan kita masuk.." ucap Kosim sambil memperagakan langkah-langkahnya.


Kosim dan Roni juga memberi beberapa contoh penggunaan bela diri praktis yang bisa mereka pelajari dalam menghadapi berbagai situasi. Naia, Silvia dan Nuraini terlihat memperhatikan gerakan demi gerakan yang diperagakan oleh Kosim dan Roni dengan antusias.


"Ternyata gak perlu hafalin jurus-jurus gitu ya..? Kalau seperti ini jadi mudah mempraktekkannya.." sahut Silvia.


"Jadi apa yang diperagakan bang Kosim sama Roni barusan itu membutuhkan kecepatan, ketepatan, refleks dan kekuatan. Jadi hal pertama yang kalian lakukan adalah memperkuat fisik kalian, kalian fitnes aja dulu. Gimana..?" tanya Dewa kepada mereka.


"Iya Nur mau kak. Biar Nur bisa hebat juga seperti kakak.. Gimana kak Naia dan Silvia..?" tanya Nuraini kepada Naia dan Silvia.


"Iya, aku mau lah. Daripada nganggur dan  bengong, mending latihan kan..?" jawab Naia diikuti anggukan Silvia.


Melihat antusias mereka, Dewa mulai mengatur jadwal latihan, "Ron, tolong buatkan jadwal latihan buat mereka, ambil saja di jam-jam dimana anak buahmu tidak berlatih biar mereka berlatihnya lebih nyaman.."


"Oh.. Siap bos, nanti saya buatkan jadwal khusus saja buat mbak-mbaknya ini. Oh iya bos, Icong pengen berlatih sama bos. Dia gak percaya aku kalah sama bos dalam 3 gerakan.." bisik Roni.


"Kesempatan akhirnya datang. Orang seperti Icong ini harus diberi sedikit pemahaman bahwa tidak semua bisa dia anggap remeh.." gumam Dewa dalam hati. Dewa pun menganggukkan kepala kepada Roni.


Roni memberi tau Icong bahwa Dewa bersedia berlatih sama dia. Mereka melangkah ke matras dan saling bersiap. Icong dengan percaya diri mampu mengalahkan Dewa, dia merasa bahwa dia adalah petarung semi profesional, "Ron ada sarung tangan kah..? Biar safety.." ucap Icong dengan percaya diri.


"Ron, kasih sarung tanganmu saja. Yang kamu pakai melawanku dulu.." Dewa memberi instruksi kepada Roni, lalu Roni melemparkan sarung tangannya yang berplat besi di dalamnya kepada Icong. Icong kaget setelah menerima sarung tangan yang diberikan Roni, "Eh.. Yakin pakai sarung tangan ini..? Ini kan ada plat besinya bos..?" tanya Icong khawatir.


"Pakai aja gak pa pa. Aturannya sama seperti saat aku melawan Roni, aku akan memberimu tiga gerakan. Kalau dengan tiga gerakan kamu tidak bisa merobohkanku, maka aku akan menyerangmu dengan satu serangan.." ucap Dewa


"Eh.. Sombong juga ya orang ini.. Oke-oke aku akan memaksimalkan kekuatanku. Satu serangan saja paling dia sudah KO.." gumam Icong dalam hati.


Mereka bersiap dan memasang kuda-kuda. Setelah beberapa detik, Icong menyerang Dewa dengan tendangannya. Sebagai seorang yang menguasai Taekwondo, tendangan Icong yentunya sangat cepat dan kuat.


Bweeeeettt..

__ADS_1


Dewa bergerak menghindari serangan Icong, dan secepat kilat dia berada di belakang Icong sehingga tendangan Icong hanya mengenai angin.


Sseeetttt..


"Satu..." teriak Dewa


"Aah apaan ini..? Cepat sekali, kapan dia berpindah di belakangku..?" gumam Icong dalam hati dan terkejut.


Kosim pun tak kalah terkejutnya melihat pergerakan Dewa, "Eh.. Gerakan apa itu..? B-bagaimnaa bos melakukannya..?" tanya Kosim dlaam hati.


Setelah kakinya mendarat, dengan cepat Icong berbalik dan berusaha menangkap Dewa, teknik dari beladiri Jiujitsu miliknya. Tapi dengan langkah Kalimasada Dewa dengan mudah menghindar dan bergeser ke samping kiri Icong.


Seeeetttt…


"Dua.." teriak Dewa


Dewa sengaja berpindah ke sebelah kiri Icong agar Icong mengeluarkan tendangan terkuatnya pada serangan terkahirnya. Dan rencana Dewa berhasil, Icong dengan cepat mengubah posisinya dan mengeluarkan tendangan sabit ke arah Dewa sambil tersenyum penuh kemenangan, "Hahha.. Kena kau.." ucap Icong dalam hati.


Bweeeettt..


Dewa menggeser tubuhnya sedikit ke kanan dari posisinya sebelumnya dan dengan sekali gerakan, Dewa menyapu kaki kiri Icong yang menjadi tumpuan saat menendang.


Jdaaaaaaagg.. Claaaaaakkk..


Bruuuuugg..


Icong jatuh di atas matras, engkel kakinya bergeser terkena sapuan kaki Dewa. Dengan cepat Dewa segera berjongkok di samping kepala Icong, "Tiga... Kau kalah.." ucapnya lalu tersenyum.


"Tenang, gak usah teriak-teriak. Itu kakimu tidak patah, hanya engkelnya saja yang bergeser. Bagaimana masih mau dilanjutkan..?" tanya Dewa sambil tersenyum.


"T-tidak.. tidak bos. A-aku kalah.. Sssshhhhhh.. A-adudududuh..." ucapnya menahan sakit.


Dewa bergeser ke arah kaki kiri Icong dan mengembalikan posisi engkel kaki icong seperti semula, "Tahan, hanya sakit sesaat aja.. Jangan banyak bergerak biar gak tambah bergeser tulangnya.." ucap Dewa menakuti Icong. Dengan sekali gerakan,


Ckraaaaaaakk..


Icong berteriak menahan sakit, "Aaaahhhhhh.. S-sakit-sakit.. Hyuuuuuhh... K-kakiku pasti patah ini.. Sakiiitt.."


"Udah-udah gak usah teriak-teriak. Udah gak sakit lagi itu. Coba gerakkan pergelangan kakimu.." ujar Dewa.


Icong menggerakkan kakinya, "Eh.. Bener udah gak sakit lagi. Hahha.. Terimakasih bos. Aku mengakui, bos memang benar-benar hebat.. Maaf bos aku sudah meremehkan kemampuan bos sebelumnya.." puji Icong sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Masalah kecil, gak usah dipikirkan.." jawab Dewa sambil menepuk pundak Icong.


Kosim yang sejak awal memperhatikan pertarungan mereka hanya bisa melongo sambil berfikir, "Apa benar bos ini manusia..? Untung saja bukan aku yang melawannya tadi.. Bos bisa memprediksi gerakan Icong, eh bukan bos lah yang menentukan bagaimana Icong harus bergerak dan menyerang. Selain itu kecepatan bos ini diluar kemampuan manusia. Siapa sebenarnya bos ini..?" gumam Kosim dalam hati.


Roni mendatangi Icong dan menertawainya, "Sudah percaya kan..? Masih berani berfikir macam-macam..?" Icong hanya mengangkat tangan dan menggelengkan kepalanya.


Kosim yang semula ngobrol dengan Dewa dengan gaya angkuh, tiba-tiba berubah menjadi lebih merendah setelah melihat sendiri pertarungan Dewa dengan Icong.

__ADS_1


Dewa tersenyum puas dengan perubahan sikap Kosim dan Icong, "Untuk menjinakkan anak macan ya harus menjadi induk macan. Gak cuma bisa kasih makan tapi juga harus bisa menunjukkan cara berburu kepada anak-anaknya.." gumam Dewa dalam hati.


Kosim yang masih keheranan dengan gerakan Dewa tadi, dengan ragu-ragu mulai bertanya, "Eeee.. Bos kalau saya boleh tau, itu gerakan tadi, eeeee.. bagaimana bos melatih gerakan tadi..?"


"Sederhana saja, aku berlatih hingga menembus batasan fisikku saja. Hanya ada dua kemungkinan, berhasil atau gagal.." jawab Dewa sekenanya.


"Caranya bos..? Lalu kalau gagal apa yang terjadi..?" sambung Roni.


"Banyak cara sebenarnya. Tapi aku lebih suka mendaki gunung menuruni lembah sambil berlari dengan membawa beban setengah dari berat tubuhku. Kalau gagal ya semua ototmu dan syarafmu akan rusak.." jawab Dewa serius.


"Kalau cara lainnya apa bos..?" lanjut Roni.


"Itu tadi cara paling mudah. Cara lain, dengan bertarung dengan binatang buas, seperti macan, singa atau beruang.." jawab Dewa. Mereka bertiga hanya melongo mendengar jawaban Dewa. Dengan tersenyum Dewa menawarkan kepada mereka bertiga, "Kalau kalian mau, kalian bisa memulai latihannya besok bersama aku. Kita bersama-sama naik gunung Wilis.. Gimana..?" 


Kosim dan Icong hanya menganggukkan kepala mereka. Dewa mengacungkan jempolnya, "Semua latihanku saat aku berada di pasukan Ganendra, adalah seperti di neraka. Prajurit biasa tidak akan mampu menjalaninya, kami mampu menjalaninya karena kami memiliki tekad dan kemauan untuk bertahan hidup.. Tapi peningkatan paling signifikan sebenarnya adalah saat aku berlatih kitab Kalimasada, namun demikian kitab Kalimasada juga memerlukan kondisi tubuh yang kuat.." ucap Dewa dalam hati.


Setelah cukup mengobrol, mereka pun pulang. Tidak butuh waktu lama, sekitar sepuluh menit untuk sampai rumah. Dewa mengambil tusuk gigi yang disimpannya di laci mobil untuk ditunjukkan kepada mbah Sastro, gurunya.


*****


"Alhamdulillah. Akhirnya sampai juga.." celetuk Naia sambil merebahkan dirinya di sandaran kursi.


"Eh mas, yang mas Dewa bilang tadi beneran..? Yang berlatih dengan berlari membawa beban sama bertarung dengan hewan buas itu..?" tanya Silvia penasaran.


"Ya beneran lah. Masak bohong sih..? Gak percaya..?" tanya Dewa.


Dewa menunjukkan sebuah tas ransel hitam yang berisi pasir besi dengan berat 30 kg, "ini beban yang biasa aku bawa saat lari.."


"Kakak emang pernah bertarung dengan binatang buas..?" sahut Nuraini penasaran.


Dewa mengangkat bajunya. Terlihat bekas luka cakaran hewan buas di dada, perut dan beberapa luka cakar juga di punggung Dewa. Naia, Silvia dan Nuraini melotot tidak percaya melihat bekas luka itu, Naia mendekati Dewa dan memegang bekas luka yang ada di perut Dewa, "Bagaimana mas mendapat luka ini..?" tanyanya pelan.


"Pelatihan kami bagai neraka. Kemungkinannya hanya hidup atau mati. Sudahlah, kalian tidak akan kuat mendengar bagaimana pelatihan yang ku jalani selama ini.." jawab Dewa.


"Eh.. Nai kamu nyuri kesempatan buat pegang-pegang mas Dewa ya. ?" Silvia mulai menggoda Naia.


"Eh.. Eee.. Ya gak lah.. Itu eee aku cuma pengen memastikan aja kalau itu mas Dewaku gak pa pa.." jawab Naia gugup.


"Oohhhh.. Tapi kenapa kamu gugup gitu..? Tuh wajahmu udah kayak udang rebus, merah merana, eh merona.. Kalau begitu aku juga pengen memastikan ah.. Apakah mas Dewa benar-benar baik-baik saja.." sahut Silvia menggoda Naia.


"Silvia ih.. Mesti gitu deh.." Naia menggembungkan pipinya lalu mendatangi Silvia dan menggelitiknya.


"Hahahhaha.. Udah-udah.. Geli ah.. Ampun-ampun.. Hahahha.."


Dewa dan Nuraini hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka, "Emang bener yang kamu bilang Nur, mereka itu lucu.. Sana bikin minum gih.." bisik Dewa.


"Ssstttt, jangan sampai mereka dengar kak.." jawab Nuraini sebelum pergi ke dapur.


"Hayooo.. Kalian bisik-bisik apa..?" tanya mereka kompak sambil melotot ke arah kakak beradik itu.

__ADS_1


Nuraini buru-buru pergi ke dapur, sedangkan Dewa berpura-pura memeriksa tas bebannya, "Mending menghadapi induk beruang daripada mereka.. Hiiiiiih ngeriii..." gumam Dewa sambil bergidik geli.


__ADS_2