
Kabar kehamilan Naia tidak hanya membawa kebahagiaan bagi Dewa dan Naia saja, tetapi juga membuat semua orang yang berada di sekitar mereka juga ikut merasakan kebahagiaan yang sama.
"Alhamdulillah ma, sebentar lagi kita akan mempunyai cucu. Aku akan dipanggil eyang kakung ma.." ucap pak Wira setelah menerima telepon dari Naia.
"Kita harus segera menyiapkan kamar buat cucu-cucu kita pa. Mama akan dekorasi kamar depan buat mereka.. Mumpung sekarang tidak ada kegiatan, kita belanja buat kebutuhan mereka pa.." ucap bu Santi.
"Sabar ma, yang terpenting persiapkan dulu acara selamatan buat Naia dan anak yang ada di perutnya, agar mereka semua selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa.." ucap pak Wira.
*****
"Sulaaaaamm..!! Apa saja kerjamu..?! Hanya menangkap seorang gadis saja kamu tidak mampu melakukannya..!! Gara-gara kerjamu yang lambat, kamu membuat aku harus menunggu lagi sampai pemilik tubuh Kilisuci melahirkan..!!" murka sang Ratu kegelapan.
"Ampuni hamba ratu, Sang Adhimurti dibantu oleh penguasa gunung Wilis selalu melindungi keduanya.. Dan kesaktian pangeran Gandarwamaya saat ini tidak bisa diremehkan lagi, hamba benar-benar tidak mampu melawan mereka.." jawab Sulam memohon.
"Tidak mungkin..!! Tidak ada satupun yang bisa melepaskan rantai belenggu raja Kegelapan, kecuali Badranaya kembali ke dunia ini. Karena hanya aji kulhugeni yang bisa melawan rantai pengikat jiwa sang Raja Kegelapan. Apakah kamu sedang mempermainkanku Sulam..?!" sahut sang Ratu.
"Hamba tidak berani yang mulia.. Apa yang hamba ceritakan benar adanya.. Beri hamba kesempatan lagi yang mulia, hamba akan segera mendapatkan mereka..." jawab Sulam.
"Pergilah, jalankan segera perintahku, aku tidak ingin kamu gagal lagi, atau bersiaplah menghadapi hukumanmu..!!" ucap sang Ratu.
Tubuh Sulam berangsur berubah menjadi kepulan asap hitam kemudian perlahan menghilang meninggalkan sang Ratu. Dengan penuh amarah, Bathari Uma mengirimkan pesan telepatinya kepada Baros, "Pangeran..!! Sekarang saatnya gunakan kekuasaanmu untuk segera menemukan pemilik tubuh Kilisuci ataupun Candrakirana. Aku tidak bisa lagi mengandalkan Sulam untuk melakukan itu..!!"
"Baik yang mulia ratu, aku akan segera melakukan perintah sang Bathari.." jawab Baros dalam hatinya.
"Ingat pangeran, pemilik tubuh Kilisuci saat ini sedang mengandung. Pangeran harus berhati-hati, jangan sampai dia kehilangan bayinya. Darah bayi dewi Kilisuci sangat baik untuk ritual kebangkitan penguasa kegelapan.." sambung sang Bathari kemudian memberikan gambaran melalui alam pikiran Baros ciri-curi fisik dan rupa dari pemilik tubuh kedua Dewi itu.
Setelah mendapat perintah dari sang Ratu, Baros segera mengumpulkan orang-orangnya untuk memberikan perintah pencarian terhadap pemilik kedua tubuh Dewi itu. Baros memberikan sketsa wajah pemilik tubuh Dewi, kepada anak buahnya, sketsa yang dibuat Baros sangat mirip dengan Naia dan Silvia.
__ADS_1
"Ini adalah wajah dari kedua perempuan itu, salah satu dari mereka sedang mengandung. Jika kalian menemukannya, segera beritahu aku, biar aku sendiri yang memastikan dan membawa mereka.." ucap Baros kepada anak buahnya.
"Maaf pak, apakah sudah diketahui perkiraan lokasi kedua perempuan ini..?" tanya salah satu anak buah baros, seorang perwira bintang satu di angkatan darat.
"Dari informasi yang aku dapatkan, dia berada di Propinsi Jerowetan. Kalian segera temukan dia, aku hanya memberi kalian waktu setengah tahun.. Ingat, lakukan ini secara diam-diam, aku tidak ingin mereka menjadi waspada.." ucap Baros serius.
"Baik pak.." ucap mereka.
Setelah pertemuan itu, anak buah Baros segera menyebarkan informasi kepada jajaran di bawahnya untuk mencari pemilik tubuh Dewi itu.
*****
Sementara itu di salah satu rumah makan di kota B, Dewa sedang berbincang dengan tiga orang, dimana salah satu dari mereka adalah pak Handoko, salah satu perwira bintang yang direkomendasikan Niko, "Maaf pak, siapakah beliau berdua ini..? Bukankah kita sepakat untuk berbicara empat mata saja..? Apakah bapak tidak mempercayai saya, sehingga harus membawa dua orang teman..?!" tanya Dewa dengan nada tegas.
"Tenang mas Dewa, mereka bukan orang lain, mereka orang kita juga. Baik saya akan perkenalkan mereka. Beliau yang berbaju biru adalah pak Sutiyono seorang purnawirawan jendral angkatan darat dan beliau ini pak Gatot seorang perwira bintang satu angkatan laut, dan saat ini beliau menjabat sebagai Kepala Intelejen dan Kemanan Negara.." ucap pak Handoko.
"Santai saja mas, pak Handoko sudah menceritakan semua kepada kami tentang masalah regu III Ganendra. Sebenarnya dari awal saya sudah curiga ada yang tidak beres dengan masalah ini, tapi dengan status purnawirawan, tidak ada yang bisa aku lakukan. Kebetulan pak Handoko dan pak Gatot juga sepemikiran dengan saya.." ucap pak Sutiyono.
"Kami bertiga yakin bahwa kalian tidak bersalah, tidak mungkin kalian melakukan apa yang dituduhkan oleh mereka.." sambung pak Handoko.
"Bagaimana anda yakin bahwa kami tidak bersalah..? Sedangkan mereka semua, para petinggi militer, bahkan pimpinan angkatan darat juga percaya bahwa kami berkhianat.." tanya Dewa serius.
"Aku sudah memeriksa rekam jejak kalian. Selain itu, sebenarnya beberapa kali secara tidak langsung kalian sudah membantu tugas dari Badan Intelejen juga. Kami juga sudah mencari beberapa informasi, termasuk kepada komandanmu, kolonel Sunardi, dan dari petunjuk yang kami dapatkan, aku bisa menyimpulkan bahwa kalian dijebak.." sahut pak Gatot kemudian menjelaskan petunjuk-petunjuk yang dia dapatkan.
"Jadi anda yang membuat rekomendasi untuk kolonel Sunardi ke Gazza..? Tapi mengapa..?" tanya Dewa penasaran.
"Beberapa kali komandanmu mendapat ancaman akan dihabisi oleh orang yang tidak dikenal. Setelah kami selidiki, yang mengancam Sunardi adalah anak buah Baros dari lingkungan militer.." jawab pak Gatot.
__ADS_1
"Komandanmu adalah saksi kunci dari kasus yang menimpa regumu. Aku hanya berusaha menyelamatkannya, demi mengungkap kasus ini. Karena dengan terungkapnya kasus ini, maka ulat-ulat di lingkungan militer dapat dibasmi.." jawab pak Sutiyono.
"Berarti memang benar, Baros berada dibalik semua ini. Tapi bagaimana dia bisa begitu berkuasa, sehingga para petinggi militer saja tunduk sama dia..?" tanya Dewa heran.
"Hanya ada satu jawabannya, itu semua karena uang. Keserakahan merekalah yang membuat mereka tunduk kepada Baros.." ucap pak Handoko.
Dewa kemudian menceritakan apa yang terjadi pada hari itu juga petunjuk yang didapatkannya dari Santoso dan Karman secara detail kepada mereka.
"Nah.. Klop sudah dengan beberapa bukti yang kami dapatkan. Oiya satu hal lagi, semalam saya mendapatkan informasi dari jaringan kami, beberapa bulan terakhir ini Baros sibuk melakukan lobi-lobi kepada anggota parlemen. Sepertinya dia mengincar posisi wapres.." ucap pak Gatot.
"Oiya bicara soal meninggalnya pak wapres, sepertinya beliau meninggal dengan tidak wajar. Aku yakin beliau tidak meninggal karena serangan jantung, tapi beliau dibunuh oleh seseorang.." ucap Dewa.
"Apa..? Bukankah sudah diperiksa oleh dokter kepresidenan bahwa beliau meninggal karena serangan jantung..? Tidak ada luka dan jejak racun di tubuh pak wapres, aku sendiri yang membantu memandikan jenazahnya.." sahut pak Sutiyono.
"Memang tidak dibunuh dengan senjata atau racun, tapi dengan kekuatan gelap. Mungkin bisa juga disebut dengan santet.." jawab Dewa.
"Mana mungkin..? Ini jaman apa, masih saja percaya tahayul seperti itu.." sahut pak Handoko.
"Sebentar-sebentar..., tapi aku percaya kepada Dewa. Saat pemakaman, duta besar dari negara gajah putih mengatakan kepadaku bahwa ada aura gelap di sekitar jantung dan hati pak wapres. Memang tidak semua orang bisa melihatnya, kecuali orang-orang dengan kemampuan khusus.." sambung pak Gatot.
"Aahhh.., aku baru ingat, pada saat memandikan jenazah pak wapres, salah seorang yang membantuku memandikan jenazah juga melihat bahwa dada dan wajah pak wapres menghitam, tapi aku melihatnya biasa saja.." sahut pak Sutiyono.
"Begini saja, komandan bisa coba memeriksa hasil pemeriksaan dari dokter kepresidenan. Saya yakin dengan posisi komandan, lebih mudah mendapatkan informasi itu. Aku yakin, dokter kepresidenan juga tidak tau apa penyebab sebenarnya kematian pak wapres.." ucap Dewa.
"Baik, aku akan segera memeriksanya. Semoga saja data pemeriksaan tidak dipalsukan. Oiya Wa, apakah kamu tau siapa kelompok yang akhir-akhir ini mengobrak-abrik tempat-tempat perjudian dan bandar-bandar narkoba di kota AB, D dan B..? Mereka sangat misterius dan terkoordinasi dengan baik. Bahkan kelompok tersembunyi milik kami di kota-kota itu tidak bisa mengetahui jejak mereka.. Cara kerja mereka sangat mirip dengan pasukan Ganendra, apakah mereka salah satu anggota regumu..?" tanya pak Gatot.
Dewa hanya menggelengkan kepala, "Pasti Serigala Darah yang melakukannya.." gumam Dewa dalam hati.
__ADS_1
Mereka melanjutkan obrolan hingga menjelang magrib. Beberapa bukti baru juga sudah dikantongi pak Gatot. Selangkah lagi Dewa dan teman-temannya akan mendapatkan kehormatannya kembali sebagai sorang prajurit sekaligus membersihkan benalu-benalu di lingkungan militer, bahkan di lembaga lainnya.