Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Apakah dia setuju..?


__ADS_3

Dewa melihat Silvia tangannya ditarik oleh seorang laki-laki berusia antara 50 tahunan dan seorang wanita paruh baya terlihat sedang memarahi Silvia, "Kamu jangan membangkang Silvia, kamu itu mbok ya nurut gitu lho..!! Kami itu melakukan ini untuk kebaikanmu..!!" bentak wanita itu.


"Lepaskan Silvia.. Kalian mau bawa kemana dia..?" teriak Naia sambil berusaha melepas genggaman tangan orang itu dari tangan Silvia.


"Kalian jangan ikut campur.. Sana pergi saja kalian..!!" bentak orang itu sambil mendorong Naia hingga terjatuh.


Oki dan Ivan juga berusaha untuk membantu Silvia dan Naia, namun beberapa orang dengan tubuh kekar menghalangi mereka. Perkelahianpun terjadi diantara mereka, orang-orang bertubuh kekar itu menyerang Oki dan Ivan, tapi Oki dengan mudah menangkis pukulan dan membalasnya, tapi berhasil ditangkis olehnya.


Ctaaaaakk.. Cplaaaaakk.. Ctaaaaapp..


Taaapp.. Ctaaaaakk..


Sebaliknya pukulan salah seorang lainnya mendarat di tubuh Oki. Ivanpun langsung membalas orang yang memukul Oki dengan tendangannya.


Jbuuuugg.. Jdaaaakk..


Sementara itu, sambil meringis menahan sakit, Naia berusaha berdiri dengan dibantu oleh Nuraini. Dewa menghentikan perkelahian dengan membentak mereka, "Berhenti..!! Siapa kalian..? Kenapa kalian membuat onar disini..?!" bentak Dewa.


Beberapa orang bertubuh kekar, yang sepertinya adalah anak buah orang itu maju dan berusaha menyerang Dewa, tapi laki-laki itu menghentikan mereka, "Berhenti kalian..!! Jangan sembarangan menyerang orang, tujuan kita kemari bukan untuk berkelahi, melainkan untuk membawa keponakanku..!!" ucap laki-laki itu kepada anak buahnya.


Merekapun mundur, Dewa menenangkan Oki dan Ivan agar tidak menyerang mereka lagi dan mereka mundur ke belakang Dewa. Silvia pun berhasil lepas dari genggaman tangan orang itu dan segera berlari menuju belakang Dewa.


"Silvia, kembali kamu..!! Dan siapa kamu..?! Jangan ikut campur urusan kami.." ucap laki-laki itu tapi Dewa sama sekali tidak menghiraukannya.


"Siapa mereka Vi..? Kamu kenal sama mereka..?" tanya Dewa kepada Silvia.


"Dia adalah om Amir, tante Lisa dan Joni anaknya. Tante Lisa adalah adik almarhum papa, merekalah mengambil alih seluruh kekayaan papa dan menikmati untuk kesenangan mereka sendiri.." jawab Silvia dengan suara bergetar.


"Lalu apa yang mereka lakukan disini dan mengapa dia sampai menyeretmu..?" tanya Dewa heran.


"Mereka memaksaku untuk ikut mereka dan menikahkanku dengan orang pilihan mereka. Tapi mungkin lebih tepatnya mereka menjualku untuk kesenangan mereka sendiri.." sahut Silvia dengan pandangan benci kepada mereka.


"Jaga ucapanmu Silvia..!! Kami memaksamu karena kamu keras kepala, sedangkan yang om pikirkan adalah kebahagiaanmu..!! Bagaimanapun kami ingin menikahkanmu dengan pengusaha besar dan sukses.. Kau pasti tidak akan kekurangan jika kau menikah dengan bos Sugeng..!!" hardik pak Amir


"Cih....!! Sejak kapan kalian memikirkan kebahagiaanku..? Selama ini kalian memikirkan kesenangan kalian sendiri. Sudahlah, aku sudah bahagia hidup bersama mereka. Mereka keluargaku sekarang. Lebih baik kau nikahkan saja anak perempuanmu dengannya..?!" balas Silvia sinis.


Mendengar jawaban Silvia, muka Amir menjadi merah padam, amarah menguasai Amir karena dia merasa disepelekkan oleh Silvia. Lisa pun terlihat khawatir kalau apa yang direncanakannya akan gagal, "Terserah kamu mau bilang apa, om tidak mau mendengar alasanmu. Bos Sugeng sudah memilihmu dan pokoknya hari ini kamu harus ikut kami, semua sudah om putuskan. Bagaimanapun kau harus menikah dengan bos Sugeng. Asal kamu tau, kami sudah menentukan tanggal pernikahannya..!!" jawab Amir memaksa.


"Ciiihhh..!! Yang kalian lakukan sebenarnya menjual diriku dengan orang yang usianya 30 tahun lebih tua dariku dengan dalih pernikahan, ck..ck..ck.." ucap Silvia sambil menggelengkan kepalanya, kemudian melanjutkan ucapannya, "Mengapa harus aku..? Apakah anak perempuanmu tidak laku kau jual..? Sekarang aku tegaskan, aku tidak akan mengikuti kemauan kalian, sekali tidak ya tidak..!! Aku berhak menentukan hidupku sendiri. Aku hanya akan menikah dengan orang yang aku cintai..!" jawab Silvia tegas.


Dewa tersenyum sinis, "Oohhhh.. Ternyata kalian ini hanya memutuskan sepihak saja..? Kalian ini sangat tidak tau malu ya..? Memanfaatkan orang lain hanya untuk kepentingan pribadi.. Bahkan kalian tidak pernah bertanya kepada Silvia apa dia setuju atau tidak dengan rencana kalian.." sahut Dewa sambil menyalakan rokok.

__ADS_1


"Jangan ikut campur urusan keluarga kami..!! Jangan sok jadi pahlawan kau..!!" bentak Amir.


"Apa telingamu tuli..? Bukankah Silvia sudah mengatakan bahwa aku adalah keluarganya..? Jadi aku harus ikut campur.. Lagi pula kalian mengaku sebagai keluarga Silvia tapi kalian tega menjualnya demi keuntungan pribadi kalian..?!" bentak Dewa.


Mendengar ucapan Dewa yang sedikit pedas, Joni menjadi emosi. Dia memberikan kode kepada anak buahnya untuk menyerang Dewa. Dengan cepat salah satu anak buah Joni yang bertubuh kekar menyerang Dewa dengan tinjunya. Dewa sama sekali tidak menghindar, tapi kaki Dewa lebih cepat dari tinjuan anak buah Joni dan mendarat di dada anak buah Joni, yang membuat laki-laki bertubuh kekar itu terpental dan jatuh menabrak salah satu pot di teras basecamp.


Jdaaaaagggg.. Praaaanggg..


Tanpa menunggu aba-aba, seorang lagi langsung menyeranh Dewa dengan tendangannya. Tapi dengan sigap Dewa berhasil menangkap kaki orang itu dan....,


Ctaaaaaaappp.. Kraaaaaaakk..


Dewa menendang kaki yang menjadi tumpuan orang itu hingga pergelangan kakinya bergeser dan orang itu pun terjaruh.


Bruuuugg..


"Aaaarrggggghh.. K-kakiku patah..." rintih anak buah Joni.


Melihat kedua temannya dengan mudah dijatuhkan Dewa, kedua orang lainnya yang ingin menyerang Dewa menjadi gentar dan ragu-ragu untuk menyerang. Dewa segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang kedua orang anak buah Joni lainnya.


Jbuuuuuggg.. Jdaaaaagggg


Braaaaakkk..


Amir dan Joni hanya bisa terkejut melihat keempat anak buahnya tidak mamu menghadapi Dewa. Terlihat ketakutan di wajah mereka saat Dewa berjalan mendekati pak Amir.


"A-apa maumu..? M-masalah ini t-tidak ada hubungannya denganmu.." ucap pak Amir ketakutan.


"Jadi ini yang kalian andalkan..? Menggunakan kekerasan saat keinginan kalian tidak terpenuhi..? Asal kalian tau, selama aku disini, kalian tidak akan pernah berhasil..!!" ucap Dewa dengan tegas dengan tatapan mata tajam.


Melihat pak Amir dan Joni yang ketakutan, bu Lisa mencoba menekan Silvia dengan memanfaatkan keluarga besarnya, "Kau jangan egois Silvia..!! Seluruh keluarga sudah memutuskan masalah ini, kau tidak bisa seenaknya memutuskan sendiri, semua harus dibicarakan dengan keluarga besar..!!" ucap istri pak Amir dengan keras untuk menekan Silvia.


"Simpan saja ucapan itu untukmu sendiri.. Kau punya anak perempuan, nikahkan saja dia sama orang itu.. Aku tidak akan menuruti apa mau kalian lagi.." jawab Silvia sinis.


"Jaga mulutmu Silvia..!! Kami sudah cukup bersabar menghadapimu, tapi kau terus saja menguji kesabaran kami..!!" Bentak Joni yang tidak terima dengan ucapan Silvia.


Mendengar Joni membentak Silvia, Dewa menampar Joni beberapa kali, darah mengalir dari mulut Joni dan beruang kali dia harus meludah untuk mengeluarkan darah yang ada di rongga mulutnya.


Plaaaakk.. Plaaaaakk.. Ploooookk..


Mungkin ada giginya yang terlepas karena tamparan Dewa tadi.

__ADS_1


"Jaga mulutmu..!! Bukankah benar yang dikatakan Silvia..? Atas dasar apa kalian memaksa Silvia untuk menikah dengan orang itu..?! Sekali lagi aku tegaskan, Silvia adalah kelurgaku, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya..?!" bentak Dewa.


"Sudahlah.. Sebaiknya kalian pergi..!! Mulai saat ini tidak ada lagi hubungan keluarga diantara kita, jadi jangan ganggu aku lagi.." ucap Silvia tegas.


"Kami akan mengingat penghinaanmu hari ini Silvia, kami tidak akan pernah tinggal diam.. Jangan sampai kamu menyesal nantinya..!!" ancam Amir lalu mereka pergi meninggalkan basecamp.


Silvia sama sekali tidak menanggapi omongan dari omnya itu. Justru dia lebih menghawatirkan keadaan Naia yang tadi terjatuh saat didorong oleh Amir, "Kamu gak pa pa kan Naia..? Mana yang sakit..? Maaf ya, gara-gara aku, kamu jadi didorong sama om Amir sampai terjatuh.." ucap Silvia khawatir dan menyesal.


"Udah jangan gitu ah.. Aku gak pa pa kok, gak ada yang serius.. Kan juga ada mas Dewa, jadi gak perlu khawatir gitu.." jawab Naia dengan tersenyum.


Dewa memeriksa kondisi Oki dan Ivan yang sempat berkelahi dengan anak buah pak Amir. Dewa juga memuji keberanian mereka untuk membela Silvia dan Naia, "Beladiri kalian semakin bagus, dan kalian menggunakannya dengan baik. Seseorang yang menguasai beladiri, selain untuk melindungi dirinya sendiri, juga untuk melindungi orang lain yang lebih lemah.." ucap Dewa sambil memberikan acungan jempol kepada mereka.


"Terimakasih bang, kalau bukan karena abang, mana mungkin kami bisa belajar bela diri sampai tahap seperti ini.. Aku akan selalu mengingat pesan bang Dede.." jawab Oki diikuti anggukan Ivan.


"Terimakasih kalian sudah berusaha untuk melindungi Naia dan Silvia.." ucap Dewa sambil menepuk pundak Oki dan Ivan.


"Iya sama-sama bang.. Maaf kami belum bisa maksimal buat melindungi mereka.." jawab Ivan sambil menunduk.


"Gak pa pa.. Itu sudah lebih dari cukup.. Yang penting selagi masih ada waktu, tingkatkan terus kemampuan beladiri kalian.." jawab Dewa memberikan mereka semangat.


Kemudian Dewa mengajak Naia, Silvia dan Nuraini pulang, "Sepertinya Silvia tidak mengalami trauma dari kejadian barusan. Mungkin berlatih beladiri membuat Silvia jauh lebih kuat mentalnya.." gumam Dewa dalam hati.


*****


Nuraini langsung menuju dapur untuk membuatkan kopi untuk Dewa dan teh untuk Naia dan Silvia. Sedangkan Dewa ditemani Naia dan Silvia duduk di ruang tamu.


"Udah jangan khawatir.. Selama ada aku, rencana mereka tidak akan berhasil, kamu tenang aja. Eeemm, kamu tau siapa Sugeng itu..? Sepertinya aku juga tidak asing dengan nama itu.." ucap Dewa


"Aku juga gak begitu kenal siapa Sugeng, tapi yang aku tau, beberapa tahun yang lalu, dia pernah berurusan dengan polisi karena kasus pelecehan anak dibawah umur, tapi kasusnya tidak dilanjutkan lagi.." jawab Silvia.


"Eeee.. Mungkin papa tau siapa Sugeng itu. Apa perlu aku tanyakan ke papa..?" tanya Naia.


"Tidak usah, aku akan cari informasinya sendiri. Sekarang lebih baik fokus saja sama tujuan kita.." jawab Dewa sambil memegang pipi Naia.


Dewa merasa bahwa pak Amir dan keluarganya tidak akan menyerah begitu saja, "Kalian harus lebih serius lagi berlatih beladiri, setidaknya kalian mempunyai pertahanan kalau terjadi sesuatu yang tidak kalian inginkan. Masih ada tiga minggu lagi sebelum kalian kembali ke kota AB.." ucap Dewa.


"Lalu setelah itu mas Dewa juga akan meninggalkan Lerengwilis setelah KKN kami selesai..?" tanya Naia.


"Pastinya aku menemani kalian di kota AB, ya hanya sesekali saja ke Lerengwilis untuk berkoordinasi dengan yang lainnya, karena pusat pelatihan aku tempatkan disini, di bekas gudang yang gak terpakai, di dekat pasar Lerengwilis.." jawab Dewa.


"Oh, emang gudang itu milik siapa kak..?" tanya Nuraini.

__ADS_1


"Akunjuga tidak tau, yang jelas urusan itu aku serahkan sama Loreng. Gudang itu kakak beli sebagai aset perusahaan. Oiya, setelah proses jual beli deal, kamu bikin desain untuk tempat pelatihannya. Untuk detailnya nanti saja setelah proses selesai.." jawab Dewa.


__ADS_2