
Roni dan Yuma memasuki kafe, dan benar saja, Naia langsung merasa tidak nyaman saat melihat Yuma, ada perasaan takut saat melihat dia melihat Yuma. Dewa sangat memahami apa yang dirasakan Naia, kemudian dia meminta Roni untuk menemani Naia, dan mengajak Yuma duduk di tempat lain, tempat yang sudah pesan Dewa sebelumnya, "Duduk Yud.." ucap Dewa kepada Yuma.
Yudha Pratama atau yang saat ini dikenal sengan nama Yuma, diajuga anggota Pasukan Elit Ganendra regu III berpangkat Sersan Kepala atau Serka. Laki-laki berumur 31 tahun dengan tinggi badan 189 cm, berkulit sawo matang itu memiliki bekas luka melintang di wajahnya, membuat semua orang pasti takut saat pertama kali melihatnya. Sebelum tergabung di pasukan Ganendra, Yuma adalah anggota pasukan khusus serbu milik tentara angkatan laut. Dia adalah prajurit terkuat di angkatan laut, tidak ada satupun yang bisa mengalahkan dia dalam hal pertarungan. Itulah sebabnya dia direkomendasikan untuk masuk menjadi pasukan elit Ganendra. Yuma terkenal dengan julukan Raja Neraka atau Raja Yama, karena dia tidak pernah berkedip saat membunuh musuh-musuhnya, baik melalui pertarungan fisik atau dengan senjata. Dia menjadi tentara terkuat nomor dua setelah bergabung dengan Pasukan Ganendra.
Yuma memberi hormat kepada Dewa sebelum dia duduk, "Siap kapten.."
"Jangan seperti itu, dan jangan panggil kapten. Ingat saat ini kita bukan lagi anggota militer, kita ini buronan.." ucap Dewa.
"Oke.. oke. Aku akan panggil bos, sama seperti pria kecil yang hampir kupatahkan lehernya tadi pagi.." jawabnya santai.
"Hahahaha.. Sifatmu memang tidak pernah berubah. Bagaimana kabarmu..? Jadi selama ini kamu ada di kabupaten AE..? Bagaimana ceritanya kamu bisa sampai disini..?" tanya Dewa.
"Seperti yang bos lihat, aku baik-baik saja bukan..? Sebenarnya aku kebetulan saja berada disini kebetulan ada pertarungan. Kadi setelah kita berpisah, aku dan Petruk beberapa kali berpindah tempat. Terakhir aku bersama dia itu di kota AA, dan entah mengapa dimana kami tinggal, disitu keberadaan kami diketahui markas. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa di jam tangan sialan itu ada pelacaknya. Kemudian kami berpisah, Petruk menuju ke kota AB, sedangkan aku menuju kota H. Tapi Petruk sempat memberitahuku alamat yang dia tuju di kota AB.." Yuma menceritakan perjalanannya.
Petruk adalah nama panggilan yang diberikan Yudha kepada salah satu anggota regu III yang bernama Faruq karena sifatnya yang lucu dan suka menyanyikan tembang jawa, "Oke, kita akan bahas Petruk lain kali, lalu mengapa kamu ikut bertarung disini..?" tanya Dewa menyelidik.
"Aku butuh uang bos. Dan inilah cara paling mudah mendapatkannya. Terus bagaimana bos sampai disini..?" tanya Yuma.
Dewa menceritakan perjalanannya setelah berpisah dengan mereka, Dia pun mengalami hal yang sama, harus berpindah dari kota satu ke kota lainnya agar tujuannya ke desa Lerengwilis tidak diketahui. Dewa menceritakan semuanya, hingga saat mereka berdua bertemu di kafe itu.
"Haaaaaah...? Jadi aku akan jadi lawan kapt eh bos besok..?" ucap Yuma terkejut.
"Ya begitulah.. Bagaimana..?" tanya Dewa.
Yuma hanya bisa bergumam, "Gak perlu ditanya bagaimana hasilnya. Berapa kalipun aku melawanmu tidak pernah sekalipun aku menang. Sepertinya nomer dua akan selalu melekat padaku sampai aku mati.. Lalu tujuan bos ketemu aku disini buat apa..?" tanya Yuma heran.
"Aku hanya ingin kamu bergabung lagi denganku, kita cari kebenaran dari apa yang menimpa kita.. Kita akan berkumpul kembali.." jawab Dewa serius.
Mendengar ucapan Dewa, Yuma hanya menggelengkan kepalanya, dia merasa bahwa dia ingin menyerah saja, "Sampai detik ini aku tidak mendapat petunjuk apapun. Aku sudah menyerah dan terima nasib aja.." jawab Yuma pelan.
Dewa paham apa yang dirasakan Yuma, lalu dia menunjukkan video dan file yang didapatkannya dari Niko. Yuma melihat video itu, "I-ini maksudnya gimana bos..? Bagaimana kau dapat video ini..? Lalu itu siapa yang bertemu dengan komandan..?" Yuma bingung dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Aku mendapat file dan video ini dari seorang teman, dia seorang intelijen angkatan darat. Sayang sekali video ini tidak ada suaranya. Yang aku tau dia berasal dari pasukan khusus sniper angkatan laut. Dialah yang menembak Sandhi.. Lihat tanggal di rekaman cctv ini, sehari sebelum kita menjalankan misi itu.." jawab Dewa serius.
__ADS_1
Ada kekhawatiran yang sangat besar di hati Yuma. Dia mencoba mengingatkan Dewa tentang kejadian yang sudah mereka alami, "Apa temanmu itu bisa dipercaya..? Jangan lupa apa yang pernah kita alami.. Dan masalah sniper ini, kalau benar dia anggota pasukan khusus, pasti akan sulit mendapatkannya.. Lalu bagaimana cara kita untuk mendapat informasi dari dia..?" tanya Yuma mulai serius.
"Tenang, informanku sangat bisa dipercaya. Menurut data yang aku dapat, sniper ini bernama Santoso. Dia dipindahkan ke Koramil di wilayah Kabupaten AE dua hari setelah misi dengan alasan dia gagal menjalankan misinya.." jawab Dewa
"Oke aku siap bergabung.. Sekarang aku menjadi bersemangat lagi. Lalu apa rencana kita selanjutnya..?" tanya Yuma antusias.
"Berikan aku nomor hp mu, nanti aku akan menghubungimu, aku mau mencari penginapan dulu.. Nanti kita bahas detailnya.." jawab Dewa.
Yuma memberikan nomor kontaknya kepada Dewa. Setelah cukup lama mengobrol serius, mereka akhirnya mengobrol santai. Yuma melihat sekeliling kafe, sampai akhirnya dia memperhatikan Naia yang akhirnya membuat dia sangat terkejut. Yuma mengambil hpnya dan membuka galeri foto, "Eh.. Bos siapa wanita yang bersama orangmu itu..?" tanyanya dengan wajah serius.
"Oh.. Dia calon istriku. Kenapa emangnya, ada yang aneh..?" sahut Dewa.
"Eh.. S-Serius bos..? Wah gawat ini, benar-benar gawat. Salah ambil job ini namanya, cari mati sendiri aku.. Bos tolong jangan marah, aku benar-benar tidak tau.." ucap Yuma ketakutan sambil menunjukkan foto Naia.
"Ada apa Yud..? Loh, bagaimana kamu punya foto calon istriku..?" tanya Dewa heran
"Jadi gini, karena reputasiku di pertarungan, tiga hari yang lalu aku disewa seseorang untuk menculik wanita ini. Aku dibayar 500 juta, dan orang itu sudah mentransferku 100 juta sebagai tanda jadi. Tadi pagi orang itu mengirimkan enam pengawalnya untuk mengantarku ke lokasi target berada pada hari minggu lusa. Mereka akan mengantarku ke kota AG, dimana calon istrimu sedang KKN.." Yuma menjelaskan dengan hati-hati.
Dewa terdiam mendengar cerita Yuma, dia "Rupanya ancaman penculikan Naia masih saja terjadi. Pantas saja Pak Wira sangat khawatir dengan keselamatan Naia.." pikirnya. Dewa berusaha tetap tenang mendengar cerita Yuma, "Oh.. Lumayan dapat uang gratis 100 juta kan..? Kalaupun kamu kesana, emang kamu mampu menculiknya..? Udah tenang aja, aku gak marah, kita mainkan aja.. Tapi kamu tau siapa yang menyewamu..?" tanya Dewa menyelidik.
Dewa menyimpan nomer orang yang menyewa Yuma ke dalam kontak hp nya, "Pak Wira mungkin belum tau masalah ini.. Aku pasti akan menjaga Naia.." gumam Dewa dalam hati. Lalu Dewa melanjutkan ucapannya, "Jadi besok kita akan tetap bertarung, pertarungan sebenarnya, biar aku juga tau kemampuanmu sampai dimana sekarang. Nah.. Setelah pertarungan kita selesai, baru kita bereskan mereka.. Nah, aku akan menempatkan beberapa orang petarung untuk menjaga dia selama kita bertarung.." jawab Dewa santai.
"Oh.. Hehehehe.. Siap kapten.. Aku paham maksudmu bos, ternyata licik juga bos ini.. Hahahaha.." Yuma merasa lega.
Cukup lama mereka mengobrol, hingga tak terasa matahari semakin tinggi. Mereka lalu berpisah, Yuma kembali ke hotelnya dan Dewa dan Naia berputar-putar kabupaten AE untuk mencari hotel. Beberapa hotel yang mereka kunjungi selalu dalam keadaan penuh. Hingga akhirnya Dewa memasuki salah satu hotel bintang 4 di pusat perkotaan.
*****
Hotel Merdeka, Dewa langsung menuju resepsionis untuk check in, sedangkan Naia duduk di Lobby menunggu. Dewa segera memesan kamar kepada resepsionis, "Tolong 2 kamar ya mbak..?"
"Mohon maaf sebelumnya pak, tapi di hotel kami tinggal tersedia satu kamar type deluxe single bed.." jawabnya ramah.
"Hanya satu kamar saja..? Yaudah itu aja lah mbak.." jawab Dewa pasrah.
__ADS_1
Setelah membereskan urusan administrasi, petugas hotel mengantar mereka ke kamar 115. Petugas hotel yang mengantar merekapun segera pergi setelah menyelesaikan tugasnya. Dewa segera merapikan barangnya, sedangkan Naia hanya duduk di pinggir kasur, "Kok hanya pesan satu kamar aja mas..?" protes Naia.
"Cuma tinggal satu aja, mau bagaimana lagi..? Kita udah muter-muter tadi, penuh semua. Gini aja, nanti kamu aja yang tidur kamar, aku biar diluar aja.." jawab Dewa menenangkan Naia.
Naia tidak menjawab, dia hanya merebahkan dirinya diatas kasur, masih terlukis di pikiran Naia wajah Yuma, "Eeee.. Jadi itu tadi teman mas..? Ngeri gitu aku ngelihatnya.." ucap Naia sambil bergidig.
"Iya, Yudha namanya, orang terkuat di pasukan kami. Gak tau berapa musuh yang udah dia bunuh, mungkin itulah yang membuat orang ngeri melihat dia. Tapi sebenarnya dia itu baik.." jawab Dewa.
"Lalu apa yang akan mas lakukan selanjutnya..?" tanya Naia ingin tau
"Yang pasti kami akan tetap bertarung. Tapi tenang aja, sudah kami atur tadi.. Oiya, kamu kenal nomor ini..?" tanya Dewa sambil menunjukkan nomor kontak seseorang.
Naia mengamati nomor itu, lalu dia mengambil hp nya untuk mengecek nomor itu. Tertulis di hp ya sebuah nama yang Naia sangat kenal, "Loh, ini kan nomor om Karman..? Bagaimana mas Dewa bisa punya nomor om Karman..?" jawab Naia heran.
"Om..? Kamu kenal dia..?" tanya Dewa memastikan.
"Iya kenal lah, dia adik tiri papa. Memang sih ada perseteruan antara papa dan om Karman, tapi aku gak tau seperti apa detailnya. Puncaknya kejadian yang menimpa adikku itu.. Emang ada apa mas..?" tanya Naia khawatir.
Dewa manarik nafas panjang lalu menceritakan apa yang dikatakan oleh Yuma. Mendengar cerita kekasihnya itu, wajah Naia langsung pucat karena ketakutan, tapi ada sedikit keraguan dari cerita yang didengarnya itu, "Tapi aku dengar om Karman dipenjara karena kasus penculikan adikku itu, mungkinkah dia sudah bebas..? Aku takut mas.." ucapnya bergetar.
Melihat Naia ketakutan, Dewa berusaha untuk menenangkannya, "Tenang, aku gak akan membiarkan rencana om mu itu berhasil. Aku sudah menyusun strategi bersama Yudha. Kamu jangan takut ya..?" ucap Dewa sambil membeli rambut Naia.
"Iya sayang.. Aku percaya mas pasti akan melindungiku.." ucapnya sambil merebahkan kepalanya di dada Dewa.
*****
Tak terasa matahari sudah berada di langit barat, Dewa dan Naia menuju sebuah kafe yang ada di sekitar hotel tempatnya menginap. Dewa menghubungi Roni untuk mengajak Yuma menemuinya. Tak lama menunggu, Roni datang bersama Yuma, mereka duduk di satu meja yang berada di ujung kafe. Naia berusaha untuk tidak takut saat bertemu dengan Yuma, walaupun berulang kali Naia menyembunyikan wajahnya di lengan Dewa.
"Mohon ijin nyonya bos, mohon maaf kalau nyonya bos tidak nyaman dengan saya.." Yuma berusaha mengakrabkan diri yang dibalas dengan anggukan tanggung Naia.
"Eh.. Sudahlah kamu gak nyaman karena belum kenal aja sama Yudha. Dia memang sangar seperti singa, tapi kalau sudah kenal dia itu selembut musang, eh kucing maksudku.. Gak usah takut, tenang aja.." ucap Dewa.
Yudha berusaha untuk membuat Naia nyaman dengan kehadirannya. Naia pun perlahan bisa menerima kehadiran Yudha dan sedikit lebih nyaman walaupun selalu memeluk lengan Dewa.
__ADS_1
"Iya, kapten benar nyonya bos, aku seperti musang berbulu kucing, eh kebalik maksudku.." ucap Yuma berusaha bercanda.