Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Satu kepingan puzzle


__ADS_3

Dewa mendengarkan cerita Niko dengan seksama. Dia mencoba menahan emosinya saat mendengar skenario yang mereka buat untuk menjatuhkan anggota regu III. Beberapa kali Dewa menarik nafas panjang, menahan emosinya yang bergejolak, "Aku harus tetap tenang. Jangan sampai emosi menguasaiku.. Hhuuuffffh.. Mereka sungguh bukan manusia. Bisa-bisanya memutar balikkan fakta seperti itu.. Tapi aku yakin bahwa selain senjata, pasti ada narkotika di dalamnya. Senjata adalah kedok mereka saja untuk menjatuhkan kami.." gumam Dewa dalam hati.


Setelah mendengar cerita Niko, ada banyak pertanyaan yang bergelayut di pikirannya. Dewa pun mulai bertanya kepada Niko tentang apa yang ketahui oleh Niko, "Nik, apa yang membuatmu tidak percaya bahwa kami tidak melakukan penyelundupan senjata..?" tanya Dewa menyelidik.


"Sandi, Serka Sandi Yoga, kamu kenal dia bukan..? Anggota regu III kalian yang tewas tertembak, dia adalah saudara sepupuku. Sebelum berangkat bertugas dia sempat meneleponku. Dia mengatakan akan menjalankan misi penyergapan penyelundupan heroin di perairan Borneo.." ucap Niko sambil mengepalkan tangannya.


Dewa terkejut mendengar Sandi adalah sepupu Niko, "Innalillahi wa innailahi roji'un. Jadi Sandi itu sepupumu..? Maaf Nik, Sandi tertembak saat melindungi kami.. Aku sudah berusaha menyelamatkannya, tapi dia memaksaku untuk meninggalkannya.." ucap Dewa lalu menceritakan kejadian bagaimana Niko tertembak.


"Sudahlah Wa aku tau ini bukan salahmu ataupun tim mu. Ini semua sudah direncanakan. aku sendiri masih mencari siapa dibalik ini semua.." Niko berusaha membuat sahabatnya itu tidak merasa bersalah.


"Adakah informasi yang bisa kamu berikan padaku tentang siapa orang-orang yang terlibat dalam skenario itu..?" tanya Dewa


Niko tidak langsung menjawab pertanyaan Dewa, tapi membuka laptopnya dan menunjukkan kepada Dewa beberapa file yang berisi data orang-orang yang diduga terlibat dalam operasi pada waktu itu. Di dalam file tersebut tertulis lengkap profile dari orang-orang yang dimaksud. Niko membuka file tentang seseorang dan mulai menjelaskannya kepada Dewa, "Dia adalah salah satu penembak jitu yang ditugaskan pada saat itu. Melihat dari posisi yang ada di gambar ini, posisinya paling memungkinkan untuk menembak Sandi,  Mungkin dia sama seperti kita, hanya mendapat perintah tanpa tau tujuan dari perintah itu. Tapi aku yakin dia bisa menjadi petunjuk awal buatmu.." Niko terdiam sesaat, kemudian melanjutkan penjelasannya, "Seperti yang tertulis disini, dia bernama Santoso, berpangkat Letnan Dua dari pasukan penembak jitu angkatan laut. Dua hari setelah kejadian, dia dipindahkan ke sebuah koramil di kabupaten AE.."


Dewa mendengar penjelasan Niko sambil mempelajari file yang ada di laptop Niko, sambil berfikir, "Santoso, unit penembak jitu angkatan laut, dia akan menjadi kepingan pertama dari puzzle ini. Tapi mengapa dipindah tugaskan dua hari setelah kejadian itu.. ? Aku harus mencarinya kesana. Setidaknya dia pasti tau siapa yang memberikan perintah kepadanya.." ucap Dewa dalam hati. 


Niko masih melanjutkan penjelasannya, "Yang jelas dari informasi yang aku dapatkan, kasus ini melibatkan perwira tinggi angkatan darat atau laut, jadi ini tidak akan mudah bagimu.." jelas Niko.


"Adakah kemungkinan pihak diluar militer juga terlibat..?" tanya Dewa menyelidik.


"Dimungkinkan ada. Tapi aku belum mendapat data tentang itu. Sementara ini, yang aku dengar ini menyangkut bisnis dengan uang ratusan miliyar, bahkan mungkin sampai ratusan trilyunan.." Niko mencoba memaparkan analisanya.


"Hhhmmmmm.. Aku sudah menduga ini pasti ada hubungannya antara petinggi dengan bandar besar, bisa juga berhubungan dengan korporasi besar. Benar kata Niko, ini tidak akan mudah.." gumam Dewa dalam hati. Kemudian Dewa meminta kepada Niko, "Nik tolong bantu aku mengumpulkan informasi. Aku yakin dengan posisimu saat ini, akan lebih mudah bagimu mengumpulkan informasi" ucap Dewa.


"Pasti Wa, kamu tenang saja. Tapi kamu harus hati-hati, orang-orang yang ditugaskan mencarimu adalah personel terbaik militer.." ucap Niko memperingatkan. Dia menjelaskan bahwa dia adalah tim support, yang membackup data dan informasi tentang kasus yang menimpa Dewa. 


"Wa, kita tidak bisa selalu berkomunikasi dengan aplikasi yang ada di hp kita, kamu tau sendiri lah alasannya. Lebih baik kita berkomunikasi melalui email, berikan aku emailmu, setiap informasi apapun akan aku kirim kesana.." ujar Niko.


Dewa memberikan alamat emailnya kepada Niko. Email yang dia buat di negara Beruang Merah saat dia menjalankan misi gabungan bersama pasukan khusus negara itu.


Dewa merasakan dengan persepsi jiwanya bahwa Niko bersungguh-sungguh untuk membantunya, karena Niko juga ingin membalas kematian Sandi, saudara sepupunya. Sandi adalah seorang tentara yang dengan segenap jiwa dan raga menjaga negaranya, tapi dia harus mati dengan cara yang mengenaskan. Dia bersama rekan satu timnya dijebak dan dikorbankan untuk kepentingan segelintir orang. Dia mati dengan menyandang gelar seorang penghianat.


Tak terasa adzan shubuh berkumandang. Dewa pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka. Sebelum pulang Niko mengkopi semua data yang ada di laptopnya ke sebuah flashdisk dan menyerahkannya pada Dewa, lalu dia berpamitan kepada Dewa, "Wa.. Aku pamit dulu ya..? Kalau ada hal yang mendesak hubungi aku. Lebih baik jika menghubungiku, gunakan nomer orang lain dulu. Itu akan lebih aman buat kita.." ucap Niko.


"Iya tenang aja. Aku pasti akan mengungkap ini semua, tentunya aku butuh bantuanmu juga. Terimakasih Nik.." jawab Dewa sambil menjabat tangan Niko.

__ADS_1


Niko pun meninggalkan hotel dimana Dewa menginap. Setelah sholat shubuh, Dewa memejamkan mata sejenak untuk mengistirahatkan fisik dan pikirannya.


*****


Pagi itu di rumah Naia, setelah berterimakasih kepada driver ojek online yang mengantarkannya, Nuraini segera memasuki halaman dan mengetuk pintu rumah pak Wira .


"Assalamu'alaikum.." Nuraini memberi salam.


"Wa'alaikumsalam.." jawab bu Santi sambil membukakan pintu.


Nuraini segera menyalami bu Santi dengan mencium tangan beliau, lalu menyerahkan bungkusan yang dibawanya, dan diterima bu Santi dengan senyum ramahnya, "Eh.. Anak tante cantik sudah datang.. Loh apa ini..?" tanya bu Santi.


"Itu titipan dari ibu tan. Eeee kikil pedas kesukaan tante kata ibu.." jawab Nuraini.


"Waduuuhh.. Mbak Widya ini kok repot sih.. Terimaksih ya Nur, nanti biar tante telepon ibumu.. Ayuk masuk gih, tuh Naia masih tidur di kamar, kamu bangunkan dia gih.." jawab bu Santi.


Nuraini segera masuk ke dalam kamar Naia. Benar saja, Naia masih bersembunyi di balik selimutnya. Nuraini mendekati Naia yang masih tidur kemudian membangunkannya, "Eh.. Kak Naia, ayo bangun kak..? Udah jam berapa ini..?" ucap Nuraini sambil menggoyangkan tubuh Naia.


"Eeemmmm.. Udah jam berapa sih emangnya..? Masih ngantuk nih.." jawab Naia dengan suara serak.


Mendengar nama Dewa disebut, Naia langsung melompat bangun dari kasurnya. Dia menyambar handuk lalu masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, "Aku mandi dulu ya..? Kamu tunggu aja disini, cuma sebentar kok.." ucap Naia dan langsung masuk kamar mandi.


Nuraini tertawa geli melihat tingkah Naia. Melihat kasur yang acak-acakan, Nuraini membantu merapikan kasur dan melipat selimut yang dipakai Naia, "Kak Naia-kak Naia. Bangun tidur gak rapiin kasur dulu langsung aja ditinggal, seperti anak TK aja.. Hihihihi.." gumam Nuraini sambil tersenyum.


Setelah selesai merapikan kasur, Nuraini duduk di kursi yang ada di dalam kamar Naia. Sepuluh menit berlalu, Naia keluar dari kamar mandi hanya memakai pakain dalamnya saja, "Eehhh.. Kak.. Pakai baju dulu napa..? Langsung keluar aja dari kamar mandi..?" ucap Nuraini heran.


"Hihihihi... Tadi lupa gak bawa baju ganti. Itu ada di lemari bajunya.." jawab Naia sambil melangkah ke lemari untuk mengambil baju.


"Hadeeehh.. Tutupin handuk kek, tuh sampek kelihatan tumpah-tumpah gitu, Kak Naia ini pornoaksi deh.." Nuraini menepuk jidatnya sendiri.


"Eh.. Apaan sih Nur, apanya yang tumpah..? Loh mas Dewa beneran udah datang ya..? Terus ini kok tempat tidurku udah rapi .? Duuhhh makasih ya adik iparku.." ujar Naia sambil memakai bajunya.


Nuraini mengacungkan dua jempolnya sambil tersenyum lalu menjawab Naia, "Yang bilang udah datang siapa kak..? Nur cuma bilang kalau mas Dewa datang gimana..? Sedangkan kak Naia masih tidur.." jawab Nuraini.


"Hadeeehhh.. Kirain udah datang.." sahut Naia lalu duduk di kursi dan merapikan rambutnya yang panjang.

__ADS_1


Sambil menyisir rambutnya, Naia menceritakan obrolan dengan orang tuanya sore itu. Nuraini mendengarkan cerita Naia dengan seksama kemudian dia bertanya, "Lha bukannya bagus kalau om Wira setuju kak Naia menjalin hubungan dengan kak Dede, kan kak Dede itu kak Dewa..?" tanya Nuraini.


"Papa sama mama kan taunya mas Dede dan mas Dewa itu orang yang berbeda, jadi ya pasti akan ada anggapan yang berbeda pula..? Lagian mungkin bener sindiran Silvia, mas Dede dan mas Dewa mungkin tubuh yang sama, tapi mereka pribadi yang berbeda..." ujar Naia menjelaskan.


"Eeemmmmm.. Nur gak ngerti kak.. Gimana maksudnya..?" tanya Nuraini bingung.


"Jadi gini, kalau kemaren perjodohan jadi batal, lalu aku menjalin hubungan dengan mas Dede, dan akhirnya om Gunawan tau bahwa mas Dede itu mas Dewa, maka om Gunawan akan berfikir kami sudah mempermainkan mereka. Tapi kalau perjodohan itu tidak batal, ya gak akan terjadi apa-apa, toh kami memang dijodohkan dari awal.." jelas Naia.


"Tapi bukannya nanti om Wira berfikir bahwa kak Dewa membohongi mereka..?" tanya Nuraini.


"Kan mas Dewa punya alasannya sendiri..? Menyangkut keselamatan kita semua. Lagian, papa sama mama udah ngijinin aku menjalin hubungan dengan siapapun kan..? Jadi ya gak masalah.." sambung Naia.


Nurini hanya manggut-manggut mendengar jawaban Naia, dia berfikir, "Kak Naia berfikir sampai sejauh itu.. Mungkin ibu benar-benar melihat sosok kak Dewa di dalam diri kak Naia.." gumamnya dalam hati sambil tersenyum lalu memuji Naia, "Ternyata Nur punya kakak ipar yang hebat.. Gak salah keputusan ayah sama ibu menjodohkan kalian.." ujar Nuraini disambut tawa oleh Naia.


Sementara itu, tepat jam sepuluh siang Dewa sampai di kediaman pak Wira untuk menjemput Naia dan Nuraini. Kedatangannya disambut ramah oleh pak Wira dan bu Santi. Memang, selain dermawan, beliau berdua adalah orang yang ramah lagi rendah hati, "Kemaren kok gak istirahat disini saja..? Padahal ada kamar nganggur itu di belakang.." tanya pak Wira.


"Oh.. Semalam nginep di rumah teman pak. Ya sekalian temu kangen sama dia, semenjak lulus sekolah udah tidak pernah ketemu.." alasan Dewa


"Lho dulu mas Dede sekolah disini juga..? Dimana..?" tanya bu Santi.


"Itu bu, di SMA 5.." jawabnya singkat.


Mereka mengobrol cukup santai di ruang tamu. Tak terasa lima belas menit berlalu, tapi Naia belum juga keluar dari kamarnya hingga bu Santi memanggil Naia, "Naia, Nur.. Ini mas Dede sudah datang. Kalian mau di kamar sampai kapan..?" teriak bu Santi memanggil Naia.


"Iya ma... Ini juga mau keluar.." jawab Naia dengan membuka pintu kamar dan keluar menuju ruang tamu.


"Berangkat sekarang mas..?" tanya Naia begitu melihat Dewa dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Dewa, lalu mereka berpamitan kepada pak Wira.


"Tolong jaga Naia.." ucap pak Wira dengan menepuk pundak Dewa.


"Siap pak. Akan kulakukan yang terbaik.." jawab Dewa penuh keyakinan.


Setelah berpamitan kepada pak Wira dan bu Santi, mereka pun berangkat. Mereka berangkat menjemput Silvia sebelum melanjutkan perjalanan ke Lerengwilis.


*****

__ADS_1


__ADS_2