
Sepulang dari berlatih, mereka mampir di sebuah warung membeli empat bungkus tahu telor untuk makan malam. Entah mengapa malam itu mereka bertiga kompak untuk membeli makan malam diluar daripada memasak. Dewa juga membeli empat bungkus STMJ yang tidak jauh dari penjual tahu telor. Warung yang belum begitu ramai, membuat mereka tidak terlalu lama mengantri dan segera pulang setelah pesanan mereka selesai.
Sesampainya di rumah, "Ini STMJ nya kalian minum setelah makan. Bagus tuh buat kembalikan stamina dan memperbaiki daya tahan tubuh kalian, biar tubuh kalian tetap sehat.." ucap Dewa sambil memberikan kantong plastik kepada Naia.
"Mas mau dibikinin kopi juga..?" tanya Naia.
"Kalau itu gak usah ditanya Nai. Udah kamu tuang aja STMJ nya, biar aku yang bikin kopi nya. Kalian mau minum teh juga..?" tanya Silvia dan dijawab gelengan kepala Naia dan Nuraini.
Seperti biasa, mereka menikmati makan malam sambil mengobrol, "Gimana masih gak bisa terima cara nglatih bang Kosim..?" tanya Dewa kepada Naia.
"Ya terima gak terima sih. Kadang tuh bang Kosim masih suka bentak-bentak kita kalau kita salah melakukan gerakan. Tapi setelah selesai latihan, ya biasa lagi sikapnya.." ujar Naia.
Dewa tersenyum mendengar jawaban Naia, kemudian dia menjelaskan, "Makanya jangan salah paham dulu, itu namanya profesional. Bang Kosim gak perduli siapa kamu, pada saat latihan, ya dia bos nya. Semua itu demi kamu, demi kalian juga.." ucap Dewa.
Mereka satu persatu bercerita tentang keseruan berlatih bela diri, apa yang mereka rasakan selama berlatih dan hal-hal lucu tentang teman-teman mereka saat berlatih.
"Ternyata kalau tau tekniknya, mudah buat patahkan serangan lawan ya..?" ujar Naia.
"Ya karena ini latihan aja sehingga terlihat mudah. Coba kalau beneran, ya gak akan semudah itu. Makanya berlatih yang serius, biar hasil latihannya pun maksimal, sehingga benar-benar bisa membantu kalian apabila menghadapi situasi darurat.." Dewa memberi pemahaman dan ereka kompak menganggukkan kepala, sepertinya mereka bisa menerima penjelasan Dewa.
"Tapi kalau lihat kak Dewa pas bertarung kayaknya mudah gitu ya menghindar dan menangangkis serangan lawan..?" tanya Nuraini.
"Itulah yang dinamakan insting dan reflek ketika bertarung. Dengan insting kita jadi tau bagaimana harus bertindak saat lawan menyerang. Butuh puluhan bahkan ratusan pertarungan untuk bisa mengasah insting bertarung, tapi yang paling penting adalah menguasai dasar beladiri dulu. Makanya kalian harus serius belajar dasar-dasar bela dirinya, karena itu adalah pondasi bagi kalian.." jawab Dewa.
Saat tengah asik membahas masalah bela diri, tiba-tiba Silvia teringat undangan dari kantor Desa, "Oiya, hampir lupa.. Besok ada undangan di balai desa, ada grup mahasiswa dari salah satu kampus di kota AG datang untuk KKN juga. Kita disuruh datang untuk ikut berkenalan juga.." ucap Silvia.
"Eh.. Masak sih..? Siapa yang bilang..?" tanya Naia.
__ADS_1
"Itu di grup ada kak. Kakak gak pernah buka grup ya..? Hihihi.." sahut Nuraini, sisambut tawa kecil Naia.
"Wah kebetulan, besok aku mau ke balai desa. Mau tanya masalah pengajuan bantuan modal usaha buat mbah Binti.." sahut Dewa.
"Yaudah, besok bareng aja sekalian, gak pa pa kan sayang..?" tanya Naia, Dewa hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka mengobrol hingga malam, sampai akhirnya mereka lelah dan pergi tidur. Seperti biasa, sebelum tidur Naia selalu mengingatkan Dewa untuk tidak terlalu sering bergadang.
Malam semakin larut, mereka bertiga mungkin sedang berada di pulau mimpi yang sama. Dewa memanfaatkan waktunya untuk memeriksa email dan penyimpanan online yang diberikan oleh komandannya. Ada banyak email masuk dari Niko, selain mengabarkan tentang berita terbaru, dia juga berterimakasih kepada Dewa atas bantuannya menyatukan lagi hubungannya dengan Nuraini.
[nick007@] |Sepertinya para petinggi akan menghentikan mencari keberadaanmu, walaupun statusmu tidak berubah. Saat ini mereka para petinggi sedang membahasnya, tapi kamu harus tetap berhati-hati. Untuk informasi lain, aku sertakan di attachment|
[nick007@] |darimana kamu dapat informasi mengenai Sandhi..? Baik, aku akan coba menelusurinya. Oiya, memang ada pihak diluar militer yang ikut merencanakan dalam kasusmu ini. Sepertinya ini berhubungan dengan bisnis perjudian dan narkoba yang berpusat di negara Singa|
[nick007@] |terimakasih wa karena kamu aku bisa berbaikan lagi dengan Nuraini, aku mohon doa restumu, akhir bulan ini aku akan melamar Nuraini. Salam hormatku buat mu kak Dewangga|
Setelah membalas email dari Niko, Dewa membuka penyimpanan online milik kol. Sunardi. Ada beberapa berkas disana, berisi data petinggi yang merancang kejadian itu, termasuk secara spesifik peran mereka dalam kasus yang terjadi padaku. Selain itu ada beberapa orang diluar militer yang merencanakan terjadinya peristiwa itu. Mereka adalah dari korporasi yang menjalankan bisnisnya berpusat di negara Singa.
"Bisnis ini hanya kedok untuk melakukan pencucian uang saja. Aku akan memeriksa profil dari pengusaha-pengusaha itu, siapa mereka dan bisnis apa yang mereka mainkan, apakah memang benar mereka melakukan bisnis perjudian dan narkoba seperti yang dikatakan Niko..?" gumam Dewa dalam hati.
Dewa terus mempelajari file-file yang diberikan oleh komandannya dengan teliti, sampai dia menemukan sebuah catatan yang sengaja diketik oleh Kol. Sunardi. Catatan yang berisi sebuah permintaan maaf kepada Dewa dan semua anggota regu III atas kejadian yang menimpa regu III pasukan Ganendra. Di dalam catatan itu Kol. Sunardi menceritakan semua yang diketahuinya secara jelas, rencana dari segelintir orang berpangkat bintang yang pernah aku dan Yudha ganggu bisnisnya, hingga alasan orang-orang itu membuang beliau ke luar negeri.
|Awalnya aku tidak curiga dengan rencana misi itu, aku hanya berfikir bahwa misi itu untuk menjaga keamanan negara. Tapi salah seorang rekan dari divisi inteligen memberitahuku bahwa itu hanya jebakan. Aku semakin yakin bahwa itu jebakan setelah mendengar dari pasukan lain yang mengatakan berita yang berbeda, yaitu pasukan kita yang sengaja menyelundupkan senjata melalui perairan Borneo di tanggal dan jam yang sama. Aku berusaha mencari kejelasan akan hal ini kepada pimpinan, tapi yang terjadi adalah kalian dikarantina sehari setelah aku bertanya dengan alasan untuk menjaga kerahasiaan dari misi kalian. Beruntung sehari sebelum keberangkatan kalian aku berhasil menghubungi Sandhi dan mengubah formasi kalian…….|
Dewa terus membaca isi catatan dari komandannya dan akhirnya aku paham mengapa komandan mengubah formasi kami sehari sebelum kami berangkat, dan alasan dari komandan tidak mengantar mereka pada saat hari keberangkatan.
|Sandhi belum meninggal, dia berhasil selamat. Dia sekarang berada di salah satu pondok pesantren di desa Lerenglawu, Kota AD. Temui dia, kamu akan mendapatkan informasi lainnya. Satu hal lagi, dua orang bintang sedang dalam penyidikan pihak polisi militer karena kasusmu ini dan pimpinan tertinggi angkatan darat telah membekukan pasukan Ganendra. Masing-masing personel dikembalikan ke kesatuan pasukan khusus darimana mereka berasal. Masalah ini berhubungan dengan uang ratusan triliun, tidak hanya para petinggi militer yang terlibat, tapi juga petinggi polisi dan korporasi. Salah satu dari mereka ada di dalam lingkaran pemerintahan. Jika kamu ingin menyelidikinya, banyak pihak yang akan kamu singgung nantinya. Berhati-hatilah..!!|
__ADS_1
Setelah membaca catatan dari komandannya, Dewa terdiam dan berfikir, "Aku dan Yuma pernah menganggu bisnis seseorang, apakah mungkin saat aku melakukan misi di perbatasan..? Atau di misi di pulau Dewata..? Sebaiknya aku periksa saja siapa orang-orang ini.." gumam Dewa dalam hati.
Kemudian Dewa memeriksa satu persatu biodata orang-orang yang dimaksud oleh Kol. Sunardi. Dua orang berpangkat bintang sudah ditandai dalam penyidikan, sedangkan seorang lagi seorang pensiunan bintang tiga, yang saat ini duduk di pemerintahan, dan beberapa orang pengusaha yang salah satunya juga menjadi anggota parlemen, "Kalau aku petakan, pengusaha-pengusaha ini hanya tiga orang saja yang memegang kendali, lainnya hanya boneka saja. Satu orang ini dia akan sangat sulit, pensiunan bintang tiga dan berada dalam pemerintahan. Baik, aku akan mulai dari yang kecil dulu.." ucapnya dalam hati.
Dewa membuka file-file itu satu persatu dan mempelajarinya, hingga dia menemukan satu nama yang tidak asing, Karman Adikusuma, statusnya adalah pemilik Kusuma Grup. Lalu Dewa mendownload foto Karman dan menyimpannya di dalam hp, "Kalau benar ini adik tiri pak Wira, maka akan sangat menarik. Dia salah satu yang memegang peran dalam kasusku ini. Mungkinkah ini berhubungan dengan bisnis perjudian dan narkoba di pulau Dewata..?" tanyanya dalam hati.
Dewa sebenarnya tidak sengaja aku membongkar kasus perjudian dan Narkoba di pulau Dewata, "Kalau saja seorang tersangka ******* tidak lari dan bersembunyi disana, mungkin bisnis ilegal itu juga tidak akan terbongkar. Bahkan aku dan Yudha juga berhasil menemukan 1 ton sabu-sabu dan heroin disana. Karena kejadian itulah akhirnya polisi berhasil menemukan pabrik pembuat barang haram tersebut, yang menyeret beberapa nama dari jendral polisi dan militer menjadi tersangka. Tapi sampai sekarang kasus itu masih mengambang, hanya beberapa oknum kecil yang menjadi tumbalnya.." pikirnya.
Dewa mencoba mengingat-ingat kembali misi yang pernah dilakukannya bersama Yuma, "Kalau di perbatasan mungkin ini berhubungan dengan penyelundupan senjata yang berhasil aku bongkar, juga dengan Yudha waktu itu. Setelah kejadian itu memang beberapa perwira tinggi dicopot dari jabatannya.. Sebaiknya aku istirahat dulu. Memikirkan masalah ini membuat energiku pikiranku tercecer kemana-mana. Aku akan bermeditasi untuk mengumpulkan energiku spiritualku kembali.." gumam Dewa dalam hati.
Dewa mematikan laptopnya, kemudian menuju ruang tengah untuk bermeditasi memasuki alam weningnya guna menarik kembali energi yang tercecer. Dia duduk bersila dan larut dalam aliran nafasnya hingga membawanya masuk ke dalam telaga kalbunya. Dewa mendapati Sang Diri Sejati berada diatas singgasana bunga teratai ditemani dua wanita yang sangat cantik, kecantikan yang tidak dapat dia lukiskan, dan belum pernah dia lihat di alam nyata, "Apakah itu Dewi Kilisuci dan Dewi Candrakirana..?" ucap Dewa pelan.
Kedua putri itu tiba-tiba menyatu dengan Sang Diri Sejati, lalu seluruh telaga kalbu terhisap ke dalam Sang Diri Sejati. Kini Dewa berada pada suatu tempat yang gelap gulita bersama Sang Diri Sejati yang selalu memancarkan cahaya ungu keemasan dibalut api putih. Kemudian ditampakkanlah semua perbuatan, ketakutan, kesalahan dan keraguan yang ada di dalam diri Dewa. Semua perlahan-lahan terhisap ke dalam Sang Diri Sejati, menyatu, hingga keadaan benar-benar gelap di sekelilingnya. Dewa merasakan kedamaian, ketentraman, yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, hingga terdengar suara seperti gong yang dipukul.
Hooooooonnnggggggggg..
Dewa mendapati dirinya kembali di tengah telaga kalbu yang airnya sangat jernih, lebih jernih dari sebelumnya dengan warna-warni bunga yang berada di dalamnya. Dewa merasakan energi spiritualnya ribuan kali lebih kuat dan pekat dari sebelumnya. Kemudian dia melihat dirinya diselimuti api putih yang membuat keyakinannya terhadap Sang Pemberi Kehidupan pun semakin kuat. Sang Diri Sejati melambaikan tangannya dan perlahan membawa Dewa ke alam kesadaran jaganya, bersamaan dengan suara adzan shubuh berkumandang. Dewa membuka matanya dan mendapati Nuraini yang sedang sholat shubuh di sampingnya. Lalu Dewa segera mandi dan bersiap pergi ke musholla.
Seperti biasa, selesai berjamaah shubuh, Dewa mengobrol dengan mbah Sastro hingga langit menampakkan warna birunya. Dewa melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu rumahnya dan disambut dengan sapaan mesra gadisnya, "Met pagi sayang.." sapa Naia.
"Mau dibikinkan kopi mas..?" sambung Naia dan dijawab Dewa dengan anggukan kepala.
Naia segera menuju dapur, tak butuh waktu lama Naia kembali dengan beberapa cangkir teh dan kopi, bersamaan dengan Nuraini yang keluar kamar lalu duduk di samping Dewa, "Kak.. Ajari Nur bermeditasi dong..? Lihat kakak tadi tenang banget, Nur bisa merasakan ketenangan dalam diri kakak. Ajari Nur ya..?" ucapnya memohon.
"Eh.. Apa itu meditasi..? Seperti semedi gitu kah..? Ajari kami juga dong mas.." sahut Naia.
"Eh.. Mereka ini kenapa ya..? Kok tiba-tiba minta diajari..? Kan mereka cewek, apakah bisa aku mengajarkan kitab kalimasada kepada mereka..?" tanya Dewa dalam hati.
__ADS_1