
"Kapten.., eh bos.. Aku punya permintaan, aku harap bos bisa mengabulkannya. Biarkan aku mengikuti bos, aku sudah muak berada di lingkungan Baros.." ucap Suko.
"Kami berdua juga bos, mohon bos jangan menolak permintaan kami.." sambung Arman dan Ardi hampir bersamaan.
Dewa terdiam beberapa saat mendengar permintaan mantan anggota regunya itu, dengan persepsi jiwanya, Dewa memeriksa apa yang sebenarnya tersimpan di dalam pikiran mereka, "Hhmmmm.. Aku bisa merasakan dengan persepsi jiwaku, keinginan mereka mengikutiku sangat tulus, mereka sama sekali tidak memiliki niat jahat, mereka benar-benar ingin lepas dari cengkraman Baros dan antek-anteknya. Sebaiknya biarkan mereka menjadi informanku untuk mengetahui rencana Baros.." gumam Dewa dalam hati.
"Bagaimana bos, apakah bos bisa menerima kami..?" Suko kembali bertanya.
"Baiklah, aku bisa menerima kalian, tapi untuk sementara waktu kalian tetap berada di kelompok Baros. Berikan aku semua informasi tentang rencana Baros. Setelah semua selesai, kalian bisa meninggalkan militer dan bekerja bersamaku.. Tapi ingat, jika ada yang menghianati aku, maka aku tidak akan berbelas kasihan kepada kalian..!" ucap Dewa tegas.
"Tentu bos, kami tidak akan pernah menghianati anda. Tapi mengapa bos ingin tau rencana Baros kepada wanita itu..? Atau jangan-jangan bos kenal dengan wanita itu..?" tanya Arman.
Belum sempat Dewa menjawab, Yuma datang dengan wajah panik, "Bos gawat bos.." teriaknya sambil membuka pintu ruangan Dewa.
Masuk ke dalam ruangan Dewa, emosi Yuma tidak terkendali ketika melihat Suko, Arman dan Ardi. Yuma langsung mencengkeram leher Arman dan memakinya, "Bangsat..!! Ternyata kalian, anjing-anjing yang dikirim Baros untuk menculik nyonya bos..!! Lebih baik aku bunuh saja kalian..!!" cengkraman Yuma semakin kuat sehingga membuat Arman sulit bernafas.
Dewa beranjak dari duduknya, kemudian memegang tangan Yuma sambil membentaknya, "Yud cukup..!! Mereka sekarang adalah orang-orang kita..!! Hentikan atau kamu akan melihat sekali lagi kemarahanku..!!"
Yuma melepas cengkramannya dari leher Arman. Masih teringat jelas dalam pikiran Yuma, ketika Dewa menghajarnya hingga dia harus dirawat di ruang ICU selama beberapa minggu saat mereka baru pertama kali bertemu di pasukan Ganendra. Waktu itu Yuma dengan sengaja memprovokasi Dewa yang baru diangkat menjadi ketua regu III. Amarah Dewa tidak terkendali ketika Yuma dengan sengaja menghina ayah Dewa.
"T-tapi bos, mereka adalah orang-orang yang dikirimkan bajingan tua itu untuk......." Yuma tidak tidak meneruskan ucapannya ketika Dewa menyuruhnya diam.
"Diamlah dulu..! Berikan hak mereka untuk menjelaskannya.." ucap Dewa tegas.
"Nyonya bos..? J-jadi target kami sebenarnya istri kapten..? Apakah benar seperti itu kapten..?" tanya Suko terkejut.
"M-maafkan kami bos, kami benar-benar tidak tau k-kalau sebenarnya......." sambung Arman.
"Sudahlah jangan bermain drama, jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya tujuan kalian mendekati bos..? Aku tau kalian sekarang adalah anjing-anjing bangsat tua itu..!!" bentak Yuma.
__ADS_1
"Anda salah, kami bukanlah seperti yang anda katakan.. Kami sudah mengatakan semuanya dengan jujur kepada kapten. Kami benar-benar sudah tidak kuat lagi menjadi bawahan Baros, dan ingin bekerja untuk kapten bersama dengan kalian.." ucap Suko.
"Benar bang, dan bos memberi tugas kami menjadi mata-mata di pasukan Baros. Kami benar-benar tidak tau kalau yang kami targetkan adalah istri bos.." sambung Arman.
"Lalu apa yang membuatmu sangat panik Yud..? Apanya yang gawat.." tanya Dewa.
"Ahhhh sialan si karet, ternyata kamu ada disini. Mengapa kamu tidak bilang kalau bersama dengan bos sekarang..? Ini semua gara² si karet mengirimkan aku foto ini bos. Dia kasih tulisan bahwa mereka sudah menemukan nyonya bos. Aku pikir bos belum tau, makanya aku langsung kemari.. Ternyata kamu...." jelas Yuma sambil menjepit kepala Luki dengan lengannya.
"Aduh-aduh...., lepaskan bang, sakit tau.. Makanya baca dulu semua pesanku, atau jangan-jangan kamu buta huruf ya bang..? ejek Luki.
"Kalau kirim pesan yang lengkap baru dikirim, jangan sepotong-sepotong lalu dikirim.." jawab Yuma.
"Sudah jangan ribut sendiri, sekarang kita atur rencananya. Yud, antarkan mereka ke rumah Roni dimana kamu tinggal.. Kalian nanti bisa ambil gambar rumah itu, lalu kalian bisa melaporkannya kepada Baros. Lalu apapaun rencana mereka, segera laporkan kepadaku.." ucap Dewa.
"Kalian, jangan sekali-sekali berkhianat..! Atau aku akan memisahkan kepala kalian dari tubuh kalian..!" Yuma memberi peringatan kepada Suko, Ardi dan Arman.
Rencanapun dilaksanakan, Suko memfoto rumah yang ditinggali Yuma dan untuk meyakinkan Baros, dua orang perempuan anggota pasukan keamanan menyamar sebagai Naia dan Silvia, mereka duduk di ruang tamu rumah Yuma seakan-akan sedang mengobrol.
*****
Beberapa hari setelah mendapat laporan dari anak buahnya, Baros tiba di kota AG.
"Bagaimana situasinya, apakah kedua wanita itu tau kalau dia sedang diawasi..? Bagaimana dengan suami dari wanita yang hamil itu..?" tanya Baros.
"Mereka tidak mengetahui kalau sedang kita awasi, mereka kadang-kadang juga ke pasar untuk berbelanja.. Sedangkan suaminya, anak buahku jarang melihatnya.." Benny memberi laporannya.
"Hahahaha.. Bagus-bagus... Ben, segera siagakan anak buahmu di sekitar rumahnya, besok lusa aku sendiri yang menjemput mereka. Dan pihak kepolisian daerah akan mengawal kita sampai pangkalan militer.." ucap Baros.
"Baik pak, laksanakan.." sahut Benny kemudian meninggalkan kamar Baros.
__ADS_1
*****
Benny segera mengumpulkan akan buahnya di salah satu kafe tak jauh dari hotel dimana Baros menginap.
"Suko, Ardi Arman, kalian awasi terus pergerakan kedua wanita dan suami wanita yang sedang hamil itu. Laporkan kepadaku setiap satu jam sekali.." ucap Benny.
"Siap ndan.." jawab mereka bertiga.
"Untuk yang lainnnya, ikuti instruksiku.." kemudian Benny menjelaskan posisi dari masing-masing anak buahnya, "Jadi tugas kalian selain membantu pengawasan, juga melindungi tuan besar jika ada hal yang diluar dugaan.. Untuk situasi darurat, gunakan rencana B seperti yang sudah aku jelaskan tadi.." Benny memberikan instruksinya.
"Siap komandan.." jawab mereka serempak.
*****
Suko menceritakan semua rencana Benny bersama dengan tim nya kepada Dewa, "Benny membagi timnya dalam beberapa kelompok kecil untuk mengawasi rumah bang Yuma. Tujuannya adalah memastikan keamanan Baros saat membawa target. Benny menempatkan di titik-titik ini bos....." Suko menjelaskan.
"Kapan Baros akan menjalankan rencananya..?" tanya Dewa.
"Besok lusa bos, saat ini Baros masih berkoordinasi dengan kepolisian daerah untuk mengawal dirinya sampai ke pangkalan militer di kota L. Disana sudah menunggu helikopter dari militer untuk membawa target ke kota B.." jawab Suko.
"Wah ternyata sama persis seperti prediksi bos. Lalu bagaimana bos, apakah ada perubahan rencana..?" tanya Yuma.
"Tidak, lakukan sesuai rencana kita. Aku juga sudah menghubungi Niko untuk mengatasi masalah di pangkalan militer.. Suko segera kembali ke posisimu, tunggu instruksi dari Yudha.." ucap Dewa.
"Siap bos, kalau begitu aku permisi dulu.." sahut Suko.
"Tiara, kamu lindungi mbak-mbak mu, bawa belati ini. Di dalamnya terdapat kekuatan api suci dewi Agni. Gunakan untuk melawan para siluman itu.." sambung Dewa.
Setelah mendengar instruksi dari Dewa, merekapun mulai mempersiapkan diri. Sesuai dengan instruksi Dewa, Sandhi mulai merakit peralatan untuk mengacaukan saluran komunikasi anak buah Baros. Sedangkan Yuma, Faruq, Luki dan Dunhill bersama anggota timnya juga bersiap pada posisi mereka masing-masing.
__ADS_1