
Nuraini menceritakan pengalaman spiritualnya kepada Dewa. Entah mengapa Dewa tidak begitu terkejut mendengarnya. mungkin dia sudah menduga hal seperti itu akan terjadi pada adiknya, "Lalu apa yang terjadi selanjutnya..?" tanya Dewa penasaran.
"Nur gak begitu paham sih kak, tapi Nur ngerasa tubuh ini jadi lebih fit aja, terus ada perasaan nyaman dan damai gitu. Selebihnya sih Nur gak ngerti, Eeee, tapi kok Nur ngrasa kakak udah tau ya apa yang terjadi sama Nur..?" jawab Nuraini.
"Hhmmm.. Sebenarnya gak tau juga sih, tapi kakak ngerasa bahwa ada sesuatu yang luar biasa berada di dalam diri kamu. Tapi sudahlah, yang terpenting adalah apa yang sudah terjadi padamu, seharusnya semakin menambah keyakinan dan kepasrahanmu kepada Sang Pencipta.." jawab Dewa sambil mengelus kepala adiknya. Nuraini menjawab dengan anggukan kepalanya.
Saat memegang kepala Nuraini, Dewa merasakan energi yang mirip seperti api putih yang mengalir di dalam tubuh Nuraini, "Energi ini sangat mirip dengan api putih yang ada di dalam diriku. Apakah Dewi Agni yang menjadi pembimbing adikku..? Tapi sudahlah, setidaknya Nuraini bisa menjaga dirinya sendiri, sehingga membuatku jauh lebih tenang. Mungkin Nur juga akan masuk ke jalan spiritual. Sebaiknya aku bertanya saja kepada mbah Sastro.." gumam Dewa dalam hati.
"Eh kenapa kak..? Sepertinya ada yang kakak pikirkan..?" tanya Nuraini membuyarkan lamunan Dewa.
"Eh, gak ada. Ingat pesan kakak, kamu harus tetap konsisten pada jalan yang sudah diajarkan di dalam agama, misalnya sholat, puasa, sedekah, apapun lah yang penting tidak melakukan hal yang dilarang oleh agama.." ucap Dewa.
"Siap boss.. Nur akan berusaha menjalankannya sebaik mungkin.." jawab Nuraini, dan disambut senyuman oleh Dewa.
Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa matahari sudah mulai naik. Naia bersama Silvia dan Nuraini menuju tempat KKN mereka sedangkan Dewa menuju rumah mbah Sastro.
*****
Sementara itu jauh di kota B, di sebuah rumah mewah, terlihat Baros sedang berkumpul bersama dengan beberapa orang berpakaian batik. Raut muka serius terlukis di wajah Baros, sedangkan tiga orang berpakaian batik terlihat menundukkan kepala, "Ada seseorang yang menganggu rencana kita, sehingga Karman gagal melakukan tugasnya, selain itu orang ini juga telah membakar salah satu kloningan kekuatanku.. Apa kalian tau siapa orang ini..?" ucap Baros.
Orang berpakaian batik yang bersama Baros adalah Kohari, Teddy dan seorang wanita bernama Purwanti. Kohari adalah seorang perwira bintang tiga yang masih aktif di angkatan darat, Teddy adalah perwora bintang dua di kepolisian, sedangkan Purwanti adalah seorang pejabat di salah satu kementrian.
"Apakah mungkin mantan anggota pasukan Ganendra yang melakukannya..?" sahut Teddy.
"Mana mungkin..? Meskipun mereka tidak diketahui keberadaannya, mereka juga tidak akan tau bahwa kita yang menjebak mereka. Lagipula orang ini bisa membakar kloningan kekuatan tuan besar. Meskipun mereka terlatih, tapi tidak ada satu pun yang mempunyai kekuatan itu.." jawab Kohari
"Tidak mungkin kakek tua itu yang melakukannya..?" tanya Baros penasaran.
"Maksud tuan besar si tua, kakek Kuncung itu..? Aku rasa tidak mungkin. Informasi yang aku dengar, kakek Kuncung sudah meninggal beberapa tahun lalu.." jawab Purwanti.
"Kohari, Teddy, masalah ini aku serahkan sama kalian. Kalian cari siapa orang yang sengaja mengacaukan bisnis kita.. Dan Purwanti, pastikan lagi kebijakan yang akan keluar bisa memuluskan rencana kita.." ucap Baros.
"Siap tuan besar.." jawab mereka serempak.
__ADS_1
Mereka pun meninggalkan ruangan itu. Kemudian Baros masuk ke dalam kamar yang cukup gelap. Ruangan tanpa jendela dengan penerangan lampu 5 watt berwarna merah, dan terlihat altar pemujaan dengan patung perempuan berwajah rasaksa. Baros melepas semua pakaiannya dan mulai melakukan ritual pemujaan. Tiba-tiba dari patung tersebut keluar asap berwarna hitam dan perlahan mewujud menjadi perempuan cantik.
"Ada apa kamu memanggilku pangeran..? Apa yang membuatmu gelisah..?"
"Maafkan hamba Ratu, beberapa hari yang lalu, ada yang membakar salah satu kekuatan hamba. Hamba tidak tau siapakah orang itu.." jawab Baros dalam hatinya
"Oh.. Jadi itu yang membuat pangeran gelisah..? Pangeran takut dia bisa mengalahkanmu..? Pangeran jangan khawatir, kekuatan pangeran tidak akan ada yang bisa menandinginya. Tapi baiklah, aku paham maksudmu, aku akan memberikan lagi kekuatan kepada pangeran.."
Perlahan wanita cantik itu mendekati Baros. Kemudian mereka melakukan hubungan badan untuk mentransfer energi gelap kepada Baros.
*****
Setelah mendapatkan wejangan dari gurunya, Dewa segera mengumpulkan Roni, Yuma, Loreng, Luki, Kosim dan Icong, di ruang kantor sasana Lerengwilis.
"Aku sengaja mengumpulkan kalian disini untuk membahas masalah perusahaan yang pernah aku katakan kapan hari itu.." ucap Dewa membuka pertemuan.
Kemudian Dewa menjelaskan apa dan bagaimana perusahaan itu nanti beroperasi. Mereka terlihat antusias mendengar penjelasan Dewa tanpa memotong sedikitpun pembicaraannya.
"Jadi seperti itulah perusahaan kita nanti beroperasi. Selain bergerak di bidang keamanan, kita juga akan bergerak di sektor pangan dengan menjalin kemitraan dengan para petani. Setidaknya itulah pesan guruku, kita harus selamatkan petani dari para tengkulak dan mafia pangan.. Ingat, perusahaan ini adalah milik kita bersama, ini akan menjadi tempat kita mencari penghidupan yang layak.." ucap Dewa mengakhiri penjelasannya.
"Aku akan memberi nama PT. Perkutut Emas.. Nama yang diberikan oleh guruku.. Oke, setelah kalian mendengar master plannya, aku punya beberapa pekerjaan buat kalian.." ucap Dewa.
Kemudian Dewa memberikan tugas kepada Loreng untuk mencari pemilik gudang terbengkalai tempat Komeng menyembunyikan Narkoba waktu itu. Sedangkan Roni diberi tugas untuk mencari pemilik tanah kosong disamping sasana Lerengwilis, "Jadi aku pengen beli gudang itu dan akan aku akan gunakan tempat itu menjadi tempat pelatihan pelatihan dan tanah di samping sasana ini untuk perluasan sasana.." ucap Dewa.
"Beres bos, dalam satu sampai dua hari pasti beres urusan gudang itu.." ucap Loreng.
"Kalau tanah sebelah ini, kebetulan milik budhe ku. Nanti sore aku akan berikan kepastiannya bos. Tapi aku yakin tanah itu pasti dijual oleh budheku.." jawab Roni.
"Kebetulan sekali Ron.. Aku dalam satu dua hari ini juga akan mengurus legalitasnya.." jawab Dewa.
"Lalu tugas kami apa bos..?" tanya Yuma.
"Eemmmm... Nanti sore kamu bisa kembali ke kota AB. Sekalian kamu antar Luki ke stasiun kota AB, buat dia pergi ke kota D. Jauh lebih mudah dari kota AB daripada dari sini.." jawab Dewa
__ADS_1
"Ke kota D..? Ada apa bos..?" tanya Luki bingung.
"Eeee.. Gini Luk, kamu aku tugaskan ke kota D, jemput Tiara. Aku mendapat informasi dari salah seorang teman di divisi intelijen bahwa ada seorang DJ bernama Lotus, diduga kuat dia adalah Tiara. Kamu temui dia, kalau memang benar, ajak dia kesini.." ucap Dewa.
"Bagaimana bos yakin itu dia..?" tanya Yuma.
"Ada beberapa foto yang dikirimkan oleh kawanku, dan yang membuatku yakin adalah tatto di tangan kanannya, satu tatto nama seseorang yang ditulis dalam bahasa Rusia. Sebenarnya ada satu tatto lagi yang bisa membuat aku yakin, sayangnya tidak ada satu fotopun yang menunjukkannya.." ucap Dewa yang menambah Yuma makin penasaran.
"Bagaimana bos tau..? Lalu satu tatto lagi apa bos..?" tanya Luki penasaran.
"Tatto bunga Lotus di perut kanannya.. Bagaimana aku tau..? Ya karena aku sendiri yang mengantar dia membuat tatto itu waktu kami dikirim ke pulau Dewata.." jawab Dewa santai.
Yuma dan Luki saling pandang, kemudian bertanya kepada Dewa, "Jangan-jangan rumor yang beredar itu benar bos..?" tanya Luki memberanikan diri.
"Hehhhh.. Sebagian benar dan sebagian salah, sebagian yang salah adalah Tiara dia memang tomboy tapi dia bukan penyuka sesama jenis.." jawab Dewa serius.
"Lalu tatto nama seseorang itu, bos tau nama siapa itu..?" tanya Yuma.
"Itu nama bos yang ditatto di tangan Tiara, dia pernah cerita bahwa dengan membuat tatto nama bos, dia merasa bos akan selalu bersama dia untuk mendukung dan melindunginya.. Itu semua orang juga tau.." jawab Luki.
"Eh.. Benarkah..? Kok aku gak tau ya rumor itu..? Jangan-jangan ada sesuatu nih antara si bos sama Tiara.." jawab Yuma sambil menyenggol tangan Dewa.
"Sudah-sudah kok jadi ngomongin yang enggak-enggak sih..? Yang jelas apapun yang terjadi, dia juga bagian dari kita. Kita wajib saling menjaga dan melindungi.." ucap Dewa dan diikuti anggukan keduanya.
Tak terasa matahari sudah beranjak dari titik tertingginya, Dewa melirik jam tangannya, terlihat angka 12:40, waktunya bersiap untuk menjemput Naia, Silvia dan Nuraini di basecamp.
"Mereka lebih memilih mengikutiku daripada kembali ke militer. Aku harus mempersiapkan segala sesuatu untuk masa depan mereka dan keluarganya.." gumam Dewa dalam hati.
*****
Sesampainya di basecamp, Dewa melihat dua mobil MVP berwarna putih terparkir di depan basecamp. Dewa segera memarkir mobilnya di halaman basecamp dan segera turun saat melihat Silvia sedang ditarik oleh seorang laki-laki berusia sekitar 50 tahunan, dan beberapa orang laki-laki bertubuh kekar terlihat mendorong Naia, Oki dan Ivan hingga mereka terjatuh.
"Alhamdulillah kak Dewa datang. Kak.. cepat tolong Silvia.." teriak Nuraini
__ADS_1
Teriakan Nuraini membuat mereka menoleh kebelakang, sehingga Silvia berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman laki-laki itu dan berlari ke arah Dewa dan menangis, "Ada apa ini..? Siapa kalian dan kenapa kalian berbuat kasar kepada mereka..?!" bentak Dewa.
Laki-laki yang menarik Silvia itu, melihat Dewa dengan tatapan mata yang sinis. Lalu dia menahan beberapa orang laki-laki kekar yang hendak menyerang Dewa.