
Akhirnya strategi Dewa bersama dengan pak Hendra berhasil membongkar kejahatan Sarko sehingga selanjutnya melakukan sidak di beberapa dinas yang dicurigai melakukan hal serupa dengan yang dilakukan Sarko.
Setelah menyelesaikan urusannya, Dewa kembali ke desa Lerengwilis. Naia menceritakan semua kejadian yang mereka alami bersama dengan pak Hendra. Silvia dan Nuraini mendengarkan dengan sesekali menggelengkan kepalanya.
"Rasain tuh, akhirnya kena batunya juga pajabat korup itu.." gerutu Silvia.
"Aku heran kok ada ya mas pejabat yang berani melanggar sumpah jabatannya..? Apakah mereka tidak takut dihukum sama Tuhan..?" tanya Naia.
"Ya buktinya ada, dan masih ada sarko-sarko lain di negeri ini. Semua karena kurangnya rasa syukur kepada Sang Pencipta, sehingga keserakahan dengan mudah menguasai hati dan pikiran mereka. Maka dari itu leluhur kita dulu memiliki ungkapan akeh durung tentu cukup, sithik durung mesti kurang.." ucap Dewa.
"Maksudnya bagaimana kak..? Seperti membingungkan gitu..?" tanya Nuraini.
"Maksudnya jika rasa syukur hilang dari hati kita, maka sebanyak apapun yang kita punya tidaklah cukup, atau bisa juga kurang. Tapi kalau rasa syukur selalu melekat di hati kita, sesuatu yang sedikit itu sudah pasti bisa mencukupi kebutuhan kita.." jelas Dewa.
"Dan Tuhan akan menambah nikmat yang diberikanNya saat kita bersyukur, bukankah begitu kak..?" sahut Nuraini.
"Pinter adikku.. Itulah janji Tuhan kepada kita makhluknya, dan janji Tuhan itu pasti.. Cukup atau tidak itu tergantung dari bagaimana kualitas syukur kita.." jawab Dewa.
"Oiya mas, ini perhitungan untuk biaya pembangunan pusat pelatihan, coba deh mas periksa dulu, kalau ada yang gak ngerti nanti aku jelaskan.." Silvia memberikan laporannya.
"Oke aku akan pelajari dulu. Oiya, bukankah lusa KKN kalian sudah berakhir..? Lalu rencananya kalian bagimana, langsung kembali ke kota AB..?" tanya Dewa.
"Rencananya sih kita ke kota AB buat serahkan laporan KKN sama bayar uang semester. Setelah itu ada waktu libur sekitar dua minggu sampai awal semester baru. Emang kenapa mas..?" tanya Naia.
"Nur juga mau ajukan buat skripsi mas, udah gak ada mata kuliah yang Nur ambil, tinggal skripsi aja.." sahut Nuraini.
"Semua harus dipersiapkan dulu sebelum aku ke kota AB bersama kalian. Untuk skripsi Nur, pembangunan pusat pelatihan itu bisa gak kamu jadikan judul buat skripsi..? Kalau bisa, sekalian kamu ngerjakan skripsi, sekalian jadi pengawas proyeknya aja.." ucap Dewa.
"Rencanaku juga gitu kak, tapi aku akan konsultasikan dulu sama dosen pembimbingnya.." jawab Nuraini.
Disaat mereka asik mengobrol, tiba-tiba Gandarwamaya datang untuk memberikan laporannya, dan tentunya Nuraini juga menyadari kehadiran Gandarwamaya, "Salam tuanku.. Mohon maafkan aku datang menghadap. Ada hal yang ingin aku laporkan kepada tuanku.." sapa Gandarwamaya.
"Ada apa Gandarwamaya, apa yang hendak kamu laporkan..?" tanya Dewa.
__ADS_1
Kemudian Gandarwamaya menceritakan tentang kejadian di rumah Brewok, "Begitulah kejadiannya tuanku. Aku juga meminta tuanku untuk membebaskan Banaspati dari pengaruh mantra pengikat jantung yang ada di diri Banaspati, jika tidak segera dilepaskan, maka banaspati akan ikut musnah..?"
"Mengapa aku harus menolong dan menyelamatkannya..? Dia sudah berbuat kerusakan dan banyak mencelakai manusia.." jawab Dewa.
"Maaf tuanku, Banaspati adalah penguasa api, akan banyak manfaat kedepannya untuk tuan kalau berhasil membuatnya menjadi pengikut tuan. Banaspati adalah sosok yang sangat kuat dan dia bisa dengan mudah menyusup, bahkan penguasa kegelapan juga tidak bisa menyadarinya.. Perbuatan membuat kerusakan dan mencelakai manusia itu karena dia mantra pengikat jantung, dia terpaksa melakukannya karena kalau dia tidak melakukannya, maka mantra itu akan aktif dan membuat seluruh anak buahnya musnah.." jawab Gandarwamaya.
"Bagaimana bisa seperti itu..? Bukankah hanya Banaspati yang terkena mantra..?" tanya Dewa heran.
"Karena Banaspati adalah sosok pemimpin, maka saat dia terkena mantra itu, maka seluruh anak buahnya pun juga akan terkena.." ucap Gandarwamaya.
Dewa berfikir beberapa saat, kemudian berkata kepada Gandarwamaya, "Hhhmmmm.. Baiklah aku akan membantunya, tapi bukan karena aku ingin dia menjadi pengikutku. Aku hanya ingin menjaga keseimbangan alam ini saja. Kalau Banaspati dan pengikutnya musnah, maka kesembangan alam kalian pun akan terganggu. Sama seperti kalian, aku membebaskan Banaspati memilih jalan hidupnya sendiri.. Lalu bagaimana cara menghilangkan mantra itu, apakah sama dengan cara melepaskan rantai yang mengikat ayahmu..?" ucap Dewa.
"Benar tuanku, dengan aji kulhugeni.." jawab Gandarwamaya.
"Baiklah, tapi bukan sekarang aku membantu Banaspati, tunggu sampai 40 hari kedepan, aku akan membantunya.." sahut Dewa.
Gandarwamaya segera pergi meninggalkan kediaman Dewa setelah memberi penghormatan. Nuraini kembali bertanya kepada kakaknya, "Oiya kak, yang tadi datang siapa..? Katanya kakak mau cerita..?" tanya Nuraini.
"Emang siapa yang datang Nur..? Kok aku gak ngelihat siapa-siapa..?" tanya Silvia penasaran.
"Ternyata memang benar apa yang tertulis di kitab suci, selain kita manusia, ada juga jin sebagai penghuni bumi ini.." gumam Silvia.
"Ya benar, hanya saja dimensi kita yang berbeda, sehingga kita tidak secara langsung bersinggungan dengan mereka. Itu merupakan salah kuasa Tuhan dan wujud kasih sayang Nya kepada kita makhluknya. Coba bayangkan kalau mereka hidup satu dimensi dengan kita, mungkin bumi ini sudah penuh dan sesak.. Maka dari itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengagungkan namaNya dan tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur kepada Nya.." jawab Dewa.
Mereka mengakhiri obrolan setelah Oki menghubungi Nuraini untuk mempersiapkan acara penutupan program KKN. Kemudian Naia, Silvia dan Nuraini menuju basecamp, sedangkan Dewa memilih untuk mempelajari gulungan yang diberikan oleh Gandarwa Raja.
Saat membuka gulungan itu, Dewa merasakan getaran yang luar biasa di dalam pusat hatinya, di kesadaran jaganya dia dapat merasakan seakan ada kekuatan yang membuat telaga kalbunya berguncang. Dewa mengatur nafasnya dan mulai membaca tulisan yang ada di gulungan itu, yang ditulis dengan menggunakan aksara jawa kuno. Meskipun tidak pernah mempelajari tulisan jawa kuno, Dewa seakan memahami apa yang tertulis di dalamnya.
"Hana hurip wening suci, Nur candra gaib candra warsitaning
Cipta wening cipta mandulu cipta dadi, Rasaingsun handulusih
Karsaingsung memayu hayuning bawana, Dumadining dzat kang tanpo winanengan
__ADS_1
Tatas tutus titis titi lan wibawa, Sifatingsun handulu sifatullah
Wujud hana tan keno kinira, Lir handaya paseban jati
Papan kang tanpa kiblat, Dhuwur wekasane endhek wiwitane
Jumbuhing kawula lan Gusti, Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi
Nyata tanpa mata ngerti tanpa diwuruki, Madhep mantep manembah mring Gusti
Guru sejati kang muruki,Bayu sejati kang andalani
Thukul saka niat, Ngracut busananing manungsa"
Kata itu terus berulang di kepala Dewa hingga membawanya ke dalam telaga kalbunya. Dewa merasakan kakuatan spiritual yang bergejolak di dalam alam weningnya. Sang Diri Sejati meminta kepada Dewa untuk duduk bersemedi, kemudian menjelaskan makna dari setiap aksara yang ada di gulungan itu.
"Setelah penjelasanku ini, kamu akan dibawa ke suatu tempat. Apapun yang ada di depanmu, harus kamu hadapi dengan segenap kemampuanmu.."
Sambil duduk bersila dengan memejamkan mata dan mengatur aliran nafasnya, Dewa mendengarkan Sang Diri Sejati menjelaskan makna dari setiap kata yang ada di dalam gulungan itu. Satu persatu penjelasan Sang Diri Sejati masuk ke dalam ubun-ubun Dewa, dan menembus ke pusat hatinya. Tiba-tiba alam wening Dewa berubah menjadi padang pasir yang sangat luas, hingga nyaris tak bertepi, "Dimana ini..? Mengapa aku berada di gurun..?" tanya Dewa dalam hati.
Belum hilang rasa herannya, tiba-tiba sesosok yaksa yang besar berdiri di hadapan Dewa, "Hahahaha.. Akhirnya setelah berabad-abad, makananku datang. Aku sudah lapar.."
Selama ini dalam memghadapi apapun, tidak ada rasa takut sedikitpun di hati Dewa, tapi sosok yaksa yang ada di depannya, membuat ada rada takut di hati Dewa, "S-siapa kamu..? Mengapa kamu dangat mirip denganku, tapi dengan tubuh yaksa..?" tanya Dewa.
"Hahahahaha... Akulah sejatinya dirimu. Lebih baik kamu menyerah saja dan menjadi budakku. Dengan kekuatanmu, bukan tidak mungkin kita akan mengusai dunia.."
Belum sempat Dewa menjawab, sosok yaksa itu marah kepada Dewa, "Aku tau kamu ragu-ragu.. Kalau seperti itu hanya ada satu jalan, yaitu aku akan memakanmu saja..!" kemudian sosok itu menyerang Dewa dengan pukulannya.
Dhueeessssss....
Pukulan yang sangat cepat dan membuat Dewa tidak sempat bereaksi sehingga tangan yaksa itu tepat mengenai dada Dewa dan membuatnya terpental beberapa meter. Yaksa itu bergerak secepat kilat berada di belakang Dewa dan langsung menendang punggung Dewa, hingga membuatnya terpental kembali dan jatuh di atas pasir.
Jdaaaaasssss.. Blaaaaaamm...
__ADS_1
Dewa memuntahkan darah segar dan berusaha bangkit, "Gerakannya sangat cepat dan aku tidak bisa menggunakan kekuatan spiritualku untuk bertarung. Kekuatan spiritualku seperti hilang.." gumam Dewa dalam hati.