
Dewa segera menyusul Loreng ke klinik dokter Hermawan. Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit untuk sampai di klinik dokter Hermawan. Setelah beberapa saat, pemeriksaan pun selesai, "Bagaimana dokter, kira-kira mbah Binti sakit apa..?" tanya Dewa
"Oh.. Tekanan darah beliau rendah, jadi merasa pusing. Juga ada masalah di lambungnya karena beliau sering telat makan. Ini saya beri obat untuk pusing dan lambungnya, sama vitamin penambah darah. Obatnya bisa ditunggu di loket depan mas.." ucap dokter Hermawan, kemudian dokter Hermawan berpesan kepada mbah Binti, "Jangan sampai telat makan ya mbah, obat dan vitaminnya diminum sampai habis biar mbah kembali sehat..?" ucap dokter Hermawan.
"Kartika, ajak nenek ke depan buat mengambil obat ya..?" ucap Dewa.
Kartika hanya menganggukkan kepalanya lalu mengajak neneknya mengambil obat, "Ayo mbah, kita ambil obat.."
Dewa hanya tersenyum melihat Kartika, lalu kembali bertanya kepada dokter Hermawan, "Baik dok. Berapa semuanya dok..?" tanya Dewa setelah Kartika dan neneknya keluar ruangan periksa.
"Seratus ribu mas.." jawab dokter Hermawan.
Selesai membayar, Dewa segera menyusul mereka didepan loket obat, "Reng setelah ini antar mbah Binti pulang.." ucap Dewa.
Setelah selesai mengantarkan mbah Binti berobat, mereka pun pulang, demikian juga dengan Dewa.
*****
Dewa membuka pintu ketika mendengar suara ketukan di pintu rumahnya.
Tok.. tokk.. tokk..
Ternyata bapak penjual sepeda di pasar datang untuk mengantar sepeda yang dibelinya tadi pagi. Penjual sepeda itu menyerahkan sepeda pesanan Dewa, "Ini sepedanya mas, sudah saya setel semua, dijamin awet dan langsung seeerrrr. Dan ini pompa yang saya janjikan.. Saya permisi dulu ya mas..?" ucapya sambil memberikan pompa tangan kepada Dewa.
"Terimakasih pak. Eh tapi tunggu pak, masuk dulu. Ada yang ingin saya diskusikan dengan sampean.." ucap Dewa.
"Oh.. Gimana-gimana mas, emang ada yang kurang..?" tanyanya sambil duduk di kursi.
"Enggak. Saya mau tanya, kalau sepeda untuk anak cewek usia SMP ada..? Kira-kira berapa harganya..?" tanya Dewa.
"Oh.. Ada mas. Macem-macem harganya. Sebentar saya tunjukin dulu gambarnya.." jawabnya sambil mengeluarkan hp.
Dia menunjukkan gambar jenis-jenis sepeda untuk anak usia SMP yang ada di hpnya sambil memberikan penjelasan kepada Dewa, "Nah kalau ini yang lagi nge tren sekarang mas, sepeda lipat. Ini harganya saya kasih 2 juta aja lah, kalau yang ini merk tiruan dari sepeda tadi. Harganya saya pas 900 ribu saja. Kalau yang ini produk baru, murah mas, 1,2 juta saja.." Dewa melihat gambar yang ada di hp penjual sepeda itu. Lalu penjual itu melanjutkan ucapannya, "Oh ini mas saya hampir lupa, ada satu lagi tapi bekas mas. Ya kondisi masih mulus seperti baru mas, sekitar 90-95% lah, istimewa mas barangnya. Nah ini dia, sepeda lipat merk terkenal ini mas, dijamin asli, ori mas. Saya kasih harga 1,1 juta saja. Kalau saya mending ini daripada yang merk tiruan tadi mas.." jelas pedagang sepeda.
"Eeee.. Sepeda yang bekas ini harganya bisa dikurangi gak..?" Dewa mulai bernegoisasi.
"Waduh.. Maaf mas, kalau yang satu ini gak bisa turun lagi mas, atau gini aja harga tetap tak kasih bonus bel sepeda sama kunci gemboknya, jadi aman sepedanya kalau parkir.." ucap pedagang itu.
Dewa berpura-pura berfikir untuk memutuskan mengambil baru atau bekas. Pedagang pun berusaha untuk meyakinkan dia, "Saya jamin mas, kalau sampai barangnya gak istimewa, gak seperti baru kayak di gambar ini, udah saya ganti sama sepeda yang harga 2 juta tadi. Gimana..?" ucapnya.
"Ok deal pak, salaman dulu biar jadi pak.. Hehehehe.." ucap Dewa sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Hahahha.. Alhamdulillah, rejeki lagi buat anak istri. Eeee, kalau boleh tau untuk siapa mas sepedanya..?" tanya pedagang.
"Oh.. Ada deh, nanti sampean juga tau. Oia, saya DP dulu 800 ribu ya..? Sepedanya lusa saya ambil sendiri saja ke toko sampean, sekalian saya lunasi.. Tolong di servis sekalian ya pak, biar siap pakai.." ucap Dewa.
"Oh.. Tenang aja mas, saya jual kualitas mas. Ini uang DP saya tulis di balik kuitansi ini saja ya mas.." jawabnya dan Dewa mengangguk tanda setuju. Setelah semua selesai, pedagang itu pun pergi meninggalkan rumah Dewa.
Tidak lama setelah pedagang sepeda pergi, Naia, Silvia dan Nuraini datang diantar teman KKN nya, "Bang kami langsung balik aja. Persiapan buat nanti latihan perdana.." ucap Oki sambil melambaikan tangannya, dan hanya diacungi jempol oleh Dewa.
Perhatian Nuraini tertuju pada sepeda putih yang ada di teras rumah Dewa, "Eh.. Sepeda siapa kak..? Bagus banget..?"
"Sepeda kakak, barusan diantar sama penjualnya.."
"Kirain sepeda buat Nur.. Hihihihi.." jawab Nuraini.
"Oh iya Nur, projek tempat wudhu dipending dulu ya..? Ada yang lebih urgent. Eee, kalau bikin desain rumah, bisa gak sehari selesai..?" tanya Dewa.
"Tergantung sih mas, desainnya minta yang seperti apa..? Itu ukuran luas tanahnya berapa berapa meter persegi..?" tanya Nuraini.
"Desainnya terserah gimana, kan kamu ahlinya, yang penting layak huni dan sehat, kalau luas tanahnya eeeee nanti deh, biar kakak cari tau dulu.." jawab Dewa.
"Emang mau bikin rumah siapa mas..?" tanya Naia
"Nanti habis latihan kalian aku ajak kesana.. Oh iya, ini baju buat kalian nanti latihan.. Ganti dulu gih.." Dewa memberikan baju yang dibelinya.
"Waduuh.. Itu bisa buat pelatihnya gak konsen nglatih nanti.. Janganlah terlalu ketat juga itu pakaiannya, bisa buat pikiran jalan-jalan.." ucap Dewa lalu tertawa kecil.
Mereka segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dibelikan Dewa. Setelah semua siap, mereka berangkat menuju sasana Lerengwilis.
*****
Jam tiga lebih sedikit, mereka sampai di sasana, sementara Oki, Ivan, Satria dan Risa menunggu di depan sasana. Mereka tidak berani masuk karena tulisan Tutup tergantung di pintu sasana. Sasana memang sengaja tertulis tutup karena memang Dewa yang meminta agar tidak ada orang lain yang datang. Dewa segera mengajak mereka semua masuk lalu menyerahkan pelatihan mereka kepada Kosim dan Icong. Setelah perkenalan, Kosim dan Icong memperkenalkan berbagai alat yang bisa mereka pakai, "Jadi alat ini dipakainya begini, kalau yang itu seperti ini, nah untuk melatih otot perut bisa seperti ini caranya. Sekarang kalian gunakan, jangan terlalu berat dulu. Lakukan masing-masing 30 detik dulu.." ucap Kosim dan Icong bergantian menjelaskan.
Sementara itu, Dewa, Roni dan Loreng mengobrol di atas matras, sambil sesekali aku memperhatikan Naia dan teman-temannya berlatih.
"Bos kok bisa kenal mbah Binti..?" tanya Loreng.
Dewa menceritakan kejadian di pasar pagi tadi kepada Loreng. Selesai bercerita, Dewa bertanya tentang mbah Binti, "Mbah Binti itu kerjanya apa Reng..?"
"Dulu mbah Binti itu dukun pijat bayi, terkenal dulunya, sebelum ada bidan, tapi lama-lama sepi juga. Akhinya mbah Binti kerja apapun. Kadang disuruh masak, setrika, bersih-bersih rumah, apapun asal dapat uang.." jawab Loreng
"Oh.. Begitu.. Jadi gini Reng, aku ada tugas untukmu. Pertama kamu ukur itu panjang dan lebar tanah mbah Binti, lalu yang kedua kamu minta tanda tangan seluruh warga RT di sekitar rumah mbah Binti.. Besok pagi harus sudah selesai. Bisa..?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Buat apa bos..? Trus aku bilang ke mbah Binti gimana..?" tanya Loreng bingung.
"Aku ingin merenovasi rumah mbah Binti. Kalau tanda tangan warga itu aku ingin ajukan ke pemerintah desa Lerengwilis agar bisa membantu modal usaha untuk mbah Binti saat rumahnya sudah jadi.. Tapi kamu jangan bilang ke mbah Binti soal renovasi, kamu cari alasan yang tepat lah, bisa kan..?" ujar Dewa serius.
"Oh.. Oke bos. Besok pasti sudah beres.." ucap Loreng.
"Oh iya, renovasi rencana aku mulai lusa, kamu cari orang buat ngerjakan proyek itu. Tapi ada satu masalah, mbah Binti dan cucunya tinggal dimana selama renovasi..?" tanya Dewa.
"Di rumahku aja bos, itu di perumahan depan pasar, kebetulan kosong. Rencana Kosim sama Icong yang aku suruh tempati. Tapi biar dipakai dulu sama mbah Binti gak pa pa bos.." sahut Roni.
"Kalau orang yang ngerjakan, serahkan aja sama Bagio bos, dia biasa ikut proyek perumahan. Biar dia nanti yang cari personel lainnya.." jawab Loreng.
"Bilang sama Bagio, proyek harus sudah selesai maksimal 2 minggu.." ucap Dewa.
Loreng minta ijin untuk melaksanakan tugas yang aku berikan, dan segera pergi ke rumah mbah Binti.
"Bos kok gak ngajuin aja ke pemerintah buat renovasi rumah mbah Binti..?" tanya Roni heran.
"Terlalu lama dan ribet. Harus survey lah, syarat ini itu lah.. Sebenarnya kalau pemerintah peduli, minimal ketua RT/RW nya paham, mana mungkin mbah Binti tinggal di rumah seperti itu..?" jawab Dewa sedikit emosi.
"Bener juga ya bos. Negeri kaya tapi masih aja ada rakyatnya yang sengsara.." komentar Roni.
Tak terasa satu setengah jam berlalu, Kosim mengakhiri latihan perdana buat Naia dan teman-temannya. Oki, Ivan, Satria dan Risa pun langsung pamit kembali ke basecamp, sementara Naia, Silvia dan Nuriani menunggu Dewa. Tak lama kemudian Loreng datang dengan membawa selembar kertas dan menyerahkan kepada Dewa, "Ini bos ukuran sama model rumah mbah Binti. Luas tanahnya 7x10 meter, dan ini gambar model rumahnya yang sekarang.." Dewa menerima kertas itu kemudian menunjukkan kepada adiknya, sehingga dia punya gambaran harus seperti apa membuat desainnya.
*****
Dewa segera pergi menuju rumah mbah Binti setelah sebelumnya membelikan sate kambing buat beliau dan cucunya, "Silahkan masuk nak Dede, Tika tolong bersihkan dulu kursinya nduk, biar bisa dipakai om nya duduk.." ucap mbah Binti.
"Sudah mbah, gak perlu dibersihkan. Ini mbah ada sedikit makanan buat menambah darah mbah Binti. Kartika juga makan ya..? Obatnya sudah diminum mbah..?" tanya Dewa sambil memberikan bungkusan berisi nasi putih dan sate kepada Kartika.
"Jadi merepotkan nak Dede.. Oh.. Sudah nak, alhamdulillah sekarang aku sudah gak pusing lagi. Terimakasih atas bantuan nak Dede.." jawab mbah Binti pelan.
"Tidak kok mbah sama sekali tidak merepotkan saya.. Eeee.. jadi begini mbah Binti, maksud kedatangan kami kesini untuk memberi kabar gembira kepada Kartika dan mbah Binti.. Lusa saya akan merenovasi rumah mbah Binti biar layak dihuni oleh mbah dan Kartika. Jadi sementara proses renovasi mbah dan Kartika akan tinggal di rumah teman saya di perumahan depan sana……" Dewa menghentikan ucapannya karena dipotong oleh mbah Binti.
"Lho buat apa nak, tidak usah nak kami tidak mau semakin merepotkan nak Dede.." jawab mbah Binti menahan tangisnya.
"Tidak merepotkan mbah, sudah mbah Binti tenang saja. Proses renovasi tidak akan lama, hanya sekitar dua minggu. Besok pagi teman saya akan menjemput mbah dan Kartika untuk tinggal sementara di rumahnya.." ucap Dewa berusaha merayu mbah Binti agar mau rumahnya direnovasi.
Naia yang duduk di sebelah mbah Binti langsung merangkul mbah Binti, "Benar nek, kalau rumah kondisi seperti ini malah gak bagus buat kesehatan nenek, kasihan Kartika juga..?" sahut Naia menambahkan.
"Tapi nak apa nanti tidak memberatkan kalian..? Dan saya ini tidak punya apa-apa untuk menggantinya.." ucap mbah Binti ragu-ragu.
__ADS_1
Mendengar ucapan mbah Binti, Nuraini memegang tangan mbah Binti dan berkata, "Mbah Binti, bukan mbah Binti yang menggantinya, tapi Tuhan yang akan menggantinya. Jadi mbah jangan khawatir, kami hanya ingin membantu mbah saja tidak lebih.." air mata Nuraini pun jatuh membasahi pipinya.
Dalam hatinya Dewa berkata, "Aku tidak mengharap balasan apapun. Aku hanya ingin membuat orang lain tersenyum. Mungkin itu bisa menjadi penebus dosa-dosaku selama ini.." gumam Dewa dalam hati