Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Perguruan Taring Harimau


__ADS_3

Dewa meminta Naia untuk berangkat latihan sendiri bersama Silvia dan Nuraini. Dewa beralasan akan bertemu dengan mbah Sastro untuk membicarakan hal penting. Tapi sebenarnya itu adalah alasan yang dibuat-buat oleh Dewa, "Kalau ada aku disana, Kosim tidak akan melatih secara maksimal. Pasti dia akan segan melatih mereka dengan tegas. Teknik dasar itu sangat penting untuk pondasi bela diri mereka.." gumam Dewa dalam hati.


"Jadi beneran nih kami harus berangkat sendiri..? Gak diantar..?" tanya Naia.


"Iya, sekali-sekali gak pa pa kan..?" jawab Dewa lembut.


"Yaudah lah, tapi janji besok pagi antar aku ke bank pusat ya sayang..? Gak tau ini kenapa m-banking ku tiba-tiba bermasalah.." ucap Naia.


"Iya.. Besok aku antar ke bank, sekalian jalan-jalan. Oiya klo gitu besok gak usah ke proyek ya Nur..?" ucap Dewa.


"Oke.. Sip.. He-em.." jawab mereka, sesaat kemudian mereka berangkat ke sasana Lerengwilis untuk berlatih.


Sore itu hp Dewa cukup berisik, notifikasi tanda ada pesan yang masuk berbunyi berulang kali. Beberapa pesan masuk perihal keberangktan Yuma sampai Loreng yang mengirimkan video anak istrinya yang mengucapkan terimakasih kepada Dewa karena telah memberi mereka sejumlah uang melalui Loreng, "Ternyata Loreng orang yang jujur dan amanah juga. Dia benar-benar melakukan apa yang aku amanahkan. Walaupun seorang preman, dia tetaplah seorang suami dan ayah dari anak-anaknya. Dia sangat memperhatikan anak istrinya.." ucap Dewa dalam hati. Kemudian dia membuka laptopnya untuk memeriksa emailnya.


[nick007@]  |Wa, info ini mungkin bisa membuatmu sedikit lebih tenang akan keadaan rekanmu yang tertangkap. Surya dan Rahman mereka dipindah tugaskan ke pulau cendrawasih atas rekomendasi kol. Sumardi, tapi ada berita mengejutkan juga, kemarin Kol. Sunardi dikirim ke Gaza untuk bergabung bersama pasukan perdamaian..|


[nick007@]  |Wa, ini aku kirimkan beberapa data orang yang mungkin terlibat. Kamu periksa saja sendiri|


Dewa segera mendownload data yang dikirimkan Niko. Sambil menunggu hasil download dia berfikir, "Mereka sungguh rapi. Siapapun yang dirasa tau tentang kejadian itu langsung dibuang. Tapi apa alasan mereka melakukan ini pada kami..? Apa kesalahan yang telah kami buat sehingga mereka harus menyingkirkan kami..?" beberapa pertanyaan muncul di kepala Dewa. Dia menarik nafas panjang, "Ahhh.. Sudahlah, suatu saat pasti akan terbuka kebenarannya.." gumamnya pelan, kemudian dia membalas email Niko,


[godbody@]  |Nik, Sandhi belum meninggal. Coba kamu cari informasi dimana dia sekarang. Peti yang dikirimkan ke keluarganya mungkin kosong. Apa kamu bisa mencarikanku informasi kontak dari komandanku..? Aku menghubungi nomor lamanya sudah tidak aktif lagi.|


"Semoga ada petunjuk baru lagi dari Niko.." gumam Dewa, kemudian membuka file dari Niko yang telah berhasil didownloadnya


*****


Sementara itu di sasana Lerengwilis, Kosim melatih teknik dasar beladiri Mua Thai kepada Naia dan teman-temannya dengan sangat tegas. Kosim tidak segan-segan membentak siapapun yang tidak serius berlatih, bahkan Naiapun tidak luput dari ketegasan Kosim.


Bagaimanapun Naia tergolong anak yang manja, yang tidak terbiasa dengan bentakan. Hatinya dongkol, "Bang Kosim ini kenapa sih..? Gini salah, gitu salah padahal juga udah bener. Berani juga marah-marahin aku, coba ada mas Dewa, mana berani marah-marahin aku.. ih... Awas aja, aku bilangin mas Dewa nanti.." gerutu Naia dalam hati.


"Ayo lakukan yang bener..!! Ini baru gerakan dasar, kalian harus melakukan dengan benar..!! Woi, itu salah posisi kakimu, kurang lebar. Dan kamu, kuda-kuda yang benar, badan harus tegap..!!" ucap Kosim tegas sambil menunjuk siapapun yang tidak sempurna gerakannya.


Mata Naia mulai merah menahan tangisnya, "Hhiiiiihh... Ini mana lagi bang Roni, malah gak kelihatan lagi. Awas aja ya kalian, tak suruh nanti mas Dewa kasih pelajaran kalian.." umpatnya dalam hatinya.


Berbeda dengan Silvia dan Nuraini, walaupun kaget dengan gaya melatih Kosim yang berubah, tapi mereka terlihat semangat mengikuti arahan dari Kosim. Tidak jarang juga mereka ditegur Kosim karena gerakannya kurang benar, tapi mereka tidak semengeluh Naia.


Icong ikut membantu Kosim menjelaskan fungsi dari teknik dasar yang diajarkan Kosim, karena pada pada dasarnya teknik dasar bela diri hampir sama, "Teknik itu untuk memperkuat pondasi kalian, jadi fungsi dari posisi itu adalah agar kalian bisa lebih bertenaga jika melakukan serangan.." ucap Icong sambil memperagakan teknik pukulan.


Naia sama sekali tidak memperhatikan Icong, "Udah kalah sama mas Dewaku masih aja sok. Hhuuhhh.. Lama bener ya ini, kapan selesainya sih..?" pikir Naia..


Disaat sedang serius berlatih, terdengar suara berisik knalpot dan klakson puluhan motor di luar sasana. Puluhan pemuda berpakaian serba hitam dari salah satu perguruan bela diri berhenti di tempat parkir sasana. Mereka mematikan motornya kemudian enam orang masuk ke dalam sasana, sedangkan yang lain berjaga diluar. Salah seorang dari mereka melihat-lihat kondisi di dalam sasana, "Wah lumayan, bisa kita buat basecamp nih tempat ini.." ucapnya lalu ditanggapi oleh temannya, "Cocok bro. Daripada sepi tempat ini.." celoteh mereka.


Melihat ada yang masuk, pelatihanpun terhenti. Kosim dan Icong hanya mengawasi mereka sambil melindungi Naia dan teman-temannya, sedangkan Roni yang ada di dalam ruangan kantor pun keluar untuk menemui mereka, "Mas, kami sedang tutup. Gak bisa baca tulisan di pintu..?" ucap Roni sedikit emosi.

__ADS_1


"Kalau tutup, mengapa mereka latihan disini..? Oohhh.. Mungkin karena cewek cantik itu ya..?" ucap salah seorang dari mereka, kemudian temannya pun menyahut, "Jangan-jangan latihan cuma buat kedok aja ya..? Kalian lagi bikin film uh-ah ya..?" ucap salah seorang yang berambut gondrong, yang merupakan pemimpin mereka. Kemudian dia berjalan mendekati Naia tapi langsung dihalangi Roni.


Mendengar ucapan pemimpin mereka membuat Roni terpancing emosinya, "Jaga omonganmu bangsat..!! Itu urusan ku mau siapa yang latihan disini. Yang jelas sekarang kami sedang tutup. Kalian sebaiknya pergi saja.." hardik Roni.


"Wah ketahuan berbuat mesum kok marah..? Santai bro, semua bisa diatur, asal cewek yang tinggi itu biar temani aku.." ucap pemuda itu dan langsung meninju Roni.


Mendapat serangan tiba-tiba, Roni langsung bertahan dengan double covernya.


Jbaaaaaagggg...


Roni mundur beberapa langkah kebelakang, tinjuan si gondrong itu membuatnya terkejut, "Pukulan pemuda ini sedikit aneh. Aku merasa ada kekuatan yang mendorongku dengan keras..?" gumam Roni dalam hati.


Melihat Roni mundur terkena pukulan pemuda itu, Icong segera maju untuk melindungi Roni dari serangan susulan dengan menyerang pemuda itu.


"Woi bangsat..!! Kau sengaja cari masalah..?" ucap Icong emosi dan langsung menendang pemuda itu. 


Jdaaaaaagg.. Jbuuuuugg..


Tendangan Icong mendarat telak di dada dan perut pemuda gondrong itu. Tapi yang membuat mereka terkejut adalah tendangan Icong sama sekali tidak membuat pemuda itu bergeser sedikitpun. Bahkan dia seperti tidak merasakan tendangan Icong, "Kamu berani menendangku..?!" bentak pemuda itu membalas serangan Icong.


Ctaaaaaakkk..


Icong dengan mudah menangkisnya, pemuda gondrong itupun terus menghujani Icong dengan pukulan dan tendangan, tapi Icong dapat menangkis dan menghindarinyai. Icong juga sesekali menyerang tapi dengan mudah ditangkis pemuda itu.


Seeeet.. Ctaaaaapp... Ctaaaaakk.


Melihat Icong sedang bertukar pukulan dan tendangan dengan pemuda gondrong itu, Roni maju untuk membantu Icong, tapi sepertinya bukan masalah bagi pemuda itu, "Woooo.. Main keroyokan nih.." ucap pemuda itu sambil membalas pukulan Roni.


Seeeettt.. Ctaaaaapp.. Jduuuug


Ctaaaaapp.. Jbuuuugg.. Jbuuuuugg..


Tendangan Icong tepat pengenai kepala pemuda itu saat tapi sama sekali tidak dirasakannya, bahkan pemuda itu membalas dengan memukul keras Icong dan menendang Roni yang membuat mereka terpental ke belakang.


Bruuuuuugg.. Gdebuuugg..


Mereka berdua merangsek maju dan menyerang kembali pemuda itu. Melihat situasi Roni dan Icong yang terdesak, Kosim akhirnya maju dan menyerang pemuda itu. Pemuda gondrong itu tampak tenang dan tidak terlihat kualahan menghadapi Roni, Icong dan Kosim. Melihat mereka bertiga tidak dapat mengalahkan pemuda itu, Naia dan teman-temannya mulai ketakutan. Nuraini pun segera menghubungi dan meminta Dewa datang ke sasana secepatnya karena sasana diserang puluhan pemuda, "Semoga mas Dewa cepet datang.." do'a Nuraini dalam hatinya.


Sementara itu, mendapat kabar dari Nuraini, Dewa segera mengayuh sepedanya sekuat tenaga menuju sasana. Hampir lima belas menit waktu yang dibutuhkan Dewa untuk sampai di sasana dan melihat sekitar belasan pemuda berpakaian seba hitam memenuhi depan pintu sasana, "Woi ada apa ini..? Minggir aku mau masuk.." hardik Dewa.


Belasan pemuda yang ada di luar sasana tidak menjawab, tapi mereka malah menyerang Dewa. Mendapat serangan, Dewa membela diri dan segera menyerang balik mereka. Terdengar renyah suara tulang dan sendi mereka yang bergeser dan bahkan retak karena serangan Dewa.


Kraaaakk… Seeeett.. Kraaaaakk.. Kreeeeekkk

__ADS_1


Sreeett.. Kraaaakkk.. Whuuss.. Kreeeekkkk..


Tidak butuh waktu lama bagi Dewa melumpuhkan belasan pemuda yang berada di depan sasana. Beberapa dari mereka ada juga yang melarikan diri karena takut. Dewa tersenyum melihat mereka tergeletak tak berdaya, "Ternyata lebih lama perjalananku kemari dari pada mengalahkan mereka. Benarkah Roni, Kosim dan Icong tidak mampu menghadapi mereka..?" gumam Dewa dalam hati.


Serangan Dewa membuat mereka merintih kesakitan, "A-aduuuuhh.. Aaaaarrgh.. Sakiiiiitt… T-tolong k-kakiku patah.. tanganku a-aduuuhh.." rintih mereka.


Dewa melihat badge yang ada di baju mereka, bertuliskan perguruan bela diri Taring Harimau, "Siapa mereka..? Mengapa menyerang sasanaku..?" tanya Dewa dalam hati, kemudian dia segera masuk ke dalam sasana. Dewa melihat Roni, Icong dan Kosim babak belur, bahkan Roni dan Icong sudah tidak mampu berdiri, hal itu membuat Dewa menjadi geram, "Kalian siapa..?! Mengapa kalian menyerang sasanaku..?!" bentaknya.


"Eh.. Datang lagi bang satu temannya.. Udah bang langsung ha...." pemuda itu tidak meneruskan ucapannya, pukulan Dewa telak mengenai rahangnya dan membuat dia jatuh tersungkur


Jdaaaaaaggggg... Kraaaaaakk..


"Kamu gak pernah diajari orang tuamu..? Kalau ditanya itu jawab, bukan ngoceh.." ucap Dewa.


Melihat salah seorang temannya jatuh karena pukulan Dewa, beberapa yang lain pun bersiap menyerang Dewa. Tapi belum sempat mereka bergerak, Dewa langsung menyerang mereka yang berakibat mereka tidak mampu lagi berdiri.


Jdaaaaakk.. Kraaaaakk..


Jbuuuugg.. Kreteeeekk


Dewa berjalan ke arah pemuda gondrong yang menghajar Roni, "Kamu sepertinya pemimpin mereka ya..? Mengapa kamu menyerang tempat ini..? Kamu capek hidup sampai berani menyerang tempat ini..?!" bentak Dewa.


"Hahaha.. Panas juga ucapanmu, sebenarnya aku hanya iseng aja, karena kulihat sasana ini bagus, dari pada menjadi tempat bikin bokep, lebih baik serahkan sama kami saja.." jawabnya sombong.


Dewa menatap pemuda gondrong itu, "Pantas saja, dia berlatih kanuragan, kalau gak salah ilmu pengawak wojo namanya. Hhmmmm.. Tenaga dalamnya lumayan, pantas Kosim gak mampu mengalahkan dia.." ucap Dewa dalam hati. Kemudian Dewa menjawab omongan pemuda gondrong itu, "Kamu habis makan bangkai tikus..? Mulutmu bau banget.. Siapa namamu..?" tanya Dewa sambil menutup hidung.


"Kau ingat ya, aku tidak akan mengulanginya lagi. Namaku Dariy......." belum sempat dia meneruskan menyebut namanya, Dewa secepat kilat maju meninju dadanya dan beralih ke belakangnya menendang punggungnya hingga terdengar suara renyah di punggungnya, lalu melemparnya keluar.


Jbuuugg.. Jdaaaaaaagg.... Sreeeett..


Kraataaaaaakk.. Bruuuuuugg..


Pemuda gondrong itu jatuh tersungkur di depan pintu sasana sambil merintih, Dewa berjalan mendekatinya dan berjongkok di samping kepalanya, "Aku tidak peduli siapa namamu, kamu hanyalah sampah masyarakat yang suka bikin onar.." 


"A-aarggh.. S-sakiit. K-kau ini s-sebenarnya a-ap..." ucapnya lalu dia pingsan.


Dewa melihat seseorang dari mereka yang terlihat ketakutan, "Bang bawa orang itu kesini, jangan sampai dia ngompol di dalam.." kemudian Kosim mendorong salah satu dari mereka yang tidak terluka ke arah Dewa, "Sana kau.." ucap Kosim.


Dewa melihat pemuda itu lalu menyuruhnya, "Rekam teman-temanmu dan tunjukkan ke gurumu, dalam waktu satu jam, kalau gurumu tidak datang kemari, akan kubakar mereka semua.. Paham..?!" bentak Dewa.


"I-iya bang.." ucapnya merekam temannya dan segera pergi


Setelah kepergian pemuda itu, Dewa masuk ke dalam sasana untuk melihat kondisi Roni, Kosim dan Icong. Sementara itu, warga disekitar sasana hanya melihat dan sesekali mengomentari apa yang mereka lihat. Tapi tidak ada satu pun warga yang berani melapor polisi, karena takut dengan perguruan taring harimau.

__ADS_1


__ADS_2