Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Kompetisi tarung bebas


__ADS_3

Suasana latihan di sasana Lerengwilis tidak seperti biasanya. Roni dan anak buahnya berlatih lebih intensif dari biasanya. Hal ini disebabkan adanya undangan dari asosiasi tarung bebas untuk mengikuti Kompetisi Semi Pro yang akan dilaksanakan di kabupaten AE. Setiap sasana yang mendapat undangan hanya boleh mengirimkan maksimal tiga petarungnya untuk bertanding.


Kompetisi ini menggunakan sistem gugur, dimana petarung yang menang akan melangkah ke babak berikutnya hingga babak final, sedangkan yang kalah otomatis tidak bisa lanjut ke pertarungan berikutnya. Sama seperti pertandingan bela diri lainnya, kemenangan pada kompetisi tarung bebas ditentukan dengan poin atau nilai, lawan yang tidak dapat melanjutkan pertarungan karena menyerah, wasit menghentikan pertandingan karena ada petarung yang cidera, atau salah satu petarung di diskualifikasi karena dengan sengaja berniat menciderai atau membunuh lawannya.


Roni terlihat lebih keras dalam melatih anak buahnya ditemani oleh dua orang pelatih yang baru saja direkrutnya. Latihan yang kali ini juga digunakan Roni untuk melakukan seleksi kepada anak buahnya untuk mewakili sasana Lerengwilis mengikuti kompetisi tarung bebas. Tentunya Roni ingin mengirimkan petarung yang handal dan bermental kuat. Anak buah Roni pun terlihat antusias mengikuti pelatihan yang diberikan Roni. Selain latihan fisik, Roni juga mengajarkan teknik-teknik dalam pertarungan. 


Priiiitttt... Priiiiiittt..


Tiba-tiba Roni meniup peluitnya dan memberi pengumuman, "Oke.. Latihan siang ini saya akhiri, nanti setelah sholat magrib nanti kita lanjutkan lagi latihannya. Sekarang kalian istirahat dan setelah makan siang, kalian bisa pulang.." perintah Roni kepada anak buahnya.


"Siap boss.." teriak mereka lalu membubarkan diri menuju meja makan di sebelah ruang ganti.


Sambil menunggu mereka makan, Roni, Kosim dan Icong duduk santai di matras. Kosim pun bertanya kepada Roni, "Eh Ron, mana bos pemilik sasana ini..? Dari kemaren aku kok gak ngelihat dia..?" tanya Kosim.


"Sabar bang, nanti juga akan ketemu sama bos.." jawab Roni.


Kosim, 38 tahun, 170/70, adalah mantan petarung profesional, dia menguasai Mua Thai sebagai bela diri andalannya. Kosim berasal dari sasana yang berada di kota W, dan akhirnya bergabung dengan Roni karena sasananya bubar akibat konflik internal di dalamnya.


Icong pun juga penasaran dengan Dewa, "Eh Ron, apa bener kamu dikalahkan sama bos mu itu Ron..? Dia beneran hebat kah..?" sahut Icong.


Icong, 28 tahun, 182/75, adalah petarung semi profesional, dia menguasai Taekwondo dan Jiujitsu sebgai bela diri andalannya. Icong pernah menjadi lawan terberat yang pernah dihadapi Roni, walaupun akhirnya Roni yang memenangkan pertarungan itu. Dia bergabung dengan sasana Lerengwilis atas bujukan Roni.


"Kamu bisa coba kalau kamu mau. Tenang aja, nanti aku yang bilang sama bos.." jawab Roni.


*****


Sementara itu, Dewa menambah kecepatan mobilnya sampai batas maksimal kecepatan di jalan tol. Situasi jalan tol yang tidak begitu ramai dan kondisi mobil yang sehat, membuat Dewa tetap rileks walaupun mobil melaju pada kecepatan tinggi.


Saat kau di sisiku.. Kembali dunia ceria.. Tegaskan bahwa kamu.. Anugerah terindah yang pernah kumiliki..


Suara musik terdengar dari audio mobil, lantunan lagu sebuah grub band terkenal, membuat perjalanan mereka semakin menyenangkan dan santai, "Ayah sama ibu sehat kan Nur..?" tanya Dewa membuka obrolan.


"Alhamdulillah sehat kak. Cuma ibu kadang masih kepikiran dan menghawatirkan kakak.. Kemaren ibu juga tanya, apa kakak pernah menghubungi Nur atau tidak. Nur gak menjawab, tapi Nur bilang sama ibu agar tidak terlalu menghawatirkan kakak.." jawab Nur


Dewa menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan untuk menenangkan pikirannya lalu dia menjawab, "Kalau sudah saatnya, kakak pasti akan menemui ayah dan ibu. Insyaa' Allah tidak akan lama lagi.." ucapnya


Dewa melirik Naia, dia terlihat menikmati lagu dengan senyum di wajahnya, "Eh.. Kenapa senyum-senyum sendiri Non..? Baru dapat undian ya..?" tanya Dewa mencoba menggoda Naia.


"Enggak tuh, emang undian apa lho..? Ini aku teringat sesuatu aja pas denger lagu ini.." jawab Naia ceria.

__ADS_1


"Sesuatu apa lho..? Kok kayaknya bikin bahagia banget..?" sahut Dewa


Naia menceritakan kejadian di rumahnya siang itu. Naia bercerita dengan penuh semangat, Naia berusaha menunjukkan kepada semua bahwa papa dan mamanya memberikan dia kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Kemudian Nuraini pun menambahkan hal-hal yang belum diceritakan Naia tentang kejadian siang itu dan beberapa kejadian saat Nuraini pulang bersama kedua orang tuanya. Mereka bertiga begitu asyik mengobrol dan tertawa hingga ditengah asyiknya mengobrol, tiba-tiba Silvia memotong obrolan mereka dengan candaannya, "Hhhaaaahh.. Aku dimana..? Aku siapa..?" celetuk Silvia dengan wajah memelas.


"Hahahahaha.." mereka pun tertawa melihat ekspresi Silvia.


"Ih.. Kalian tuh anggap aku penumpang gelap ya..? Hanya sebagai seseorang gak penting keberadaannya.." protes Silvia.


"Astagaaaa.. Aku lupa, ternyata ada sahabatku tersayang, tercantik, terimut disini.." goda Naia.


"Dari tadi nih ya, ku perhatikan kalian ngobrol masalah keluarga, eh aku nya dicuekin.." jawab Silvia sambil memanyunkan bibirnya.


"Kamu sendiri dari naik mobil tadi diem aja.. Biasanya udah berkicau kayak burung habis makan pisang.. Weeeekk.." ledek Naia.


"Ih.. Kalian ini bikin jelous aja.." sahut Silvia sambil menyilangkan tangannya di dada.


"Jelous yang gak jelas.. Weeekk.." balas Naia.


"Hihihi.. Kak Naia sama Silvia ini lucu.." sahut Nuraini.


"Lucu..? Emang kami pelawak..?" jawab Silvia dan Naia bersamaan sambil melihat Nuraini, lalu Naia, Silvia dan Nuraini saling pandang dan selanjutnya mereka tertawa bersama-sama "hahahahaha..."


"Aku senang bisa melihat kalian seperti ini, berbahagia dan tertawa bersama, aku janji akan menjaga tawa dan bahagia kalian meskipun nyawaku taruhannya.." janji Dewa dalam hati.


"Udah ikut aja, nanti juga tau sendiri.." jawab Dewa.


Setelah berlajan lurus beberapa ratus meter, Dewa mengurangi kecepatan mobilnya dan memarkir mobilnya di lahan kosong di samping sasana. Sasana terlihat sepi, hanya ada Roni dan dua orang yang sedang duduk-duduk santai di mattas. Mereka pun turun dan bersiap masuk ke dalam sasana.


Nuraini melihat sekeliling dan bertanya, "Ini tempat apa kak..?" bisik Nuraini kepada Dewa.


"Oh.. Ini tempat berlatih beladiri. Sasana Lerengwilis namanya, milik Roni, orang yang bantu kita waktu di kafe itu.." jawab Dewa menerangkan.


"Mas Dewa berlatih disini..?" tanya Silvia.


"Ya bisa dibilang begitu. Kalian mau berlatih juga..? Atau cuma pengen nge gym aja juga gak pa pa.." jawab Dewa menawarkan.


"Emang boleh mas..?" sahut Silvia.


"Ya boleh lah.. Ayo kapan kalian mulai latihan, nanti biar aku yang ngomong sama Roni.. Yuk masuk dulu lah.." jawab Dewa sambil mengajak mereka bertiga masuk sasana.

__ADS_1


Mengetahui kedatangan Dewa, Roni dan kedua temannya langsung berdiri dan menyapa, "Lho habis darimana bos, dua hari ini gak kelihatan sama sekali..? Eh.. Ada mbaknya juga.." ucap Roni yang hanya dijawab anggukan sama mereka bertiga.


"Dari antar mereka pulang ke kota L.." jawab Dewa singkat.


Lalu Roni memperkenalkan pelatih yang baru direkrutnya, "Oh iya bos, ini Kosim dan Icong, orang yang membantu pelatihan di tempat kita.. Bang Kosim, Icong, ini bos kita yang aku ceritakan.." ucap Roni.


Kosim dan Icong menjabat tangan Dewa sambil memperkenalkan kembali nama mereka, "Salam kenal bos. Saya Kosim.. Wah gak nyangka ternyata bos disini masih muda.." Kosim berbasa-basi.


"Oh.. aku Dede.. Bukan, aku bukan bos disini, Roni yang jadi bos disini, Aku cuma bantu-bantu Roni aja.." jawab Dewa sambil tersenyum


Icong melihat Dewa dengan rasa tidak percaya, "Ah.. Beneran Roni kalah sama orang ini..? Kayaknya biasa aja orang ini, cuma memang fisiknya aja yang tegap seperti tentara.." gumam Icong dalam hati, lalu dia memperkenalkan dirinya, "Salam kenal bos. Saya Icong.." ucap Icong sambil mengulurkan tangannya.


Dewa mendengar dengan jelas apa yang ada di pikiran Icong, tapi dewa tidak memperdulikannya, dia hanya tersenyum sambil menjabat tangan Icong. Setelah berkenalan dengan kedua pelatih baru itu, Dewa menyerahkan tas hitam berisi cctv, "Oh iya, gini Ron besok carikan orang buat pasang cctv ini ya..? Pasang dua di depan sama dua lagi di dalam.. Kalau masih kurang, nanti kita cari saja di Kota AG.." ucap Dewa memberi instruksi.


"Siap bos. Sesuai perintah.. Oiya bos, saya pesankan minuman dulu. Bos mau kopi seperti biasanya..? Kalau mbak nya mau minum apa..?" tanya Roni.


"Teh hangat aja lah. Kalian juga sama..?" tanya Naia dijawab anggukan Nuraini dan Silvia.


Roni dan Icong keluar untuk memesan minuman dan beberapa makanan ringan, sedangkan Dewa dan Kosim mengobrol di sasana. Kosim orang yang tegas tapi sederhana dan apa adanya. Dia menceritakan selama karirnya sudah banyak memenangkan pertarungan dan pernah merebut sabuk juara. Kosim juga menceritakan alasan dia mau bergabung dengan Roni di sasana Lerengwilis. Dewa menyambut Kosim dengan baik, dalam hatinya dia berkata, "Kosim ini selain petarung, dia juga seorang pelatih yang baik. Mungkin kedepan, kepelatihan sasana ini biar dipegang oleh Kosim saja.."


Sementara itu di warung, sambil memesan kopi, Icong bertanya kepada Roni, "Eh Ron, beneran kamu dikalahkan sama dia..? Kalau kulihat sih orangnya biasa aja, bukan seperti petarung. Memang sih badannya tegap, seperti seorang tentara.." tanya Icong heran.


"Kamu boleh coba. Nanti deh aku bilang sama bos, biar kamu paham apa itu kekuatan yang sebenarnya. Tapi asal kamu tau, kekuatan kita sangat jauh dari kekuatan bos.." jawab Roni.


"Wah, jadi makin bersemangat aku Ron.. Tapi ngomong-ngomong, ketiga cewek yang sama bos itu cantik-cantik mereka. Kira-kira boleh gak ya kenalan sama mereka..?" tanya Icong iseng.


"Hush.. Ngawur kamu..!! Aku kenal bos udah lumayan lama, tapi sampai sekarang gak tau nama mereka. Kalau kata Loreng, yang berjilbab itu adik kandung bos, yang dua lainnya itu pacar bos.." ucap Roni.


"Waduuuhh.. Ternyata playboy juga ya si bos.." sahut Icong.


"Hush.. Jangan asal ngomong, aku yakin sebentar lagi kamu pasti gak akan berani berfikir seperti itu lagi.. Udah ini bantu bawa.." ucap Roni sambil membawa nampan berisi makanan sedangkan Icong membawa minuman.


Tak butuh waktu lama untuk Roni dan Icong kembali. Dia meletakkan makanan dan minuman di atas meja kecil, "Loreng mana Ron..?" tanya Dewa


"Oh itu bos, dia lagi urus pendaftaran kompetisi tarung bebas yang diadakan di Kabupaten AE minggu depan.." jawab Roni lalu menjelaskan tentang kompetisi tarung bebas kepada Dewa disambung oleh Kosim yang ikut menjelaskan juga, "Jadi gini bos, mereka yang menjadi juara di kompetisi tarung bebas ini akan mendapat kesempatan untuk bertanding di tarung profesional. Kompetisi ini merupakan kesempatan bagi sasana dan petarung semi pro untuk naik daun.." Kosim menambahkan penjelasan Roni.


Dewa hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Kosim, "Lalu mengapa kamu tidak turun ke laga profesional Ron..? Bukannya kamu sudah memenuhi syarat..?" tanya Dewa heran.


"Untuk berlaga di kelas profesional bukan hanya masalah petarungnya saja, tapi sasana juga harus memenuhi syarat. Bos tau sendiri gimana kondisi sasana dulu seperti apa.." Roni menjelaskan aturannya.

__ADS_1


"Kalau sekarang, apakah sasana kita memenuhi syarat untuk berlaga di kelas profesional..?" tanya Dewa.


"Sangat memenuhi syarat bos. Makanya bang Kosim mau bergabung dan melatih disini.. Bener gak bang..?" jawab Roni. Dewa menjadi lebih bersemangat lagi setelah mendengar jawaban Roni.


__ADS_2