
Mereka berempat mengobrol dengan sangat santai siang itu. Ditengah asiknya mereka mengobrol, Dewa bertanya tentang hal pribadi adiknya, "Nur, kamu belum punya pacar..? Kakak kok gak pernah lihat kamu telepon atau catting sama cowok..?" tanya Dewa serius.
"Tumben kakak tanya masalah pacar sama Nur..? Eeee.. Nur gak punya pacar kak, males ah pacaran paling juga gitu-gitu aja, terus ujung-ujungnya putus.." jawab Nuraini.
"Itu si Satria yang lagi deketin Nur mas, cuma Nur nya yang menghindar terus, padahal mereka berdua itu cocok, sama-sama tekun ibadahnya.." ucap Silvia.
Nuraini hanya tersenyum kecil mendengar nama Satria, "Satria ya..? Udah dua kali dia bilang suka sama Nur dan pengen jadi pacar Nur, tapi Nur gak mau. Satria itu possesive orangnya, terus sukanya ngatur-ngatur gitu, apa-apa harus sesuai kemauan dia. Males sama orang kayak gitu, orang belum jadi pacar aja udah ngatur-ngatur apalagi kalau jadi.. Sebenarnya dulu sih Nur punya pacar kak, selain ganteng dia pengertian banget sama Nur, tapi tiga bulan lalu dia tiba-tiba putusin Nur tanpa alasan yang jelas, ya tiba-tiba aja dia bilang kalau putus.." jawab Nuraini sedih.
"Lah kok ada ya cowok yang kayak gitu..? Berani juga ya dia permainkan wanita, belum tau kamu itu adiknya mas Dewa.. Cowok kayak gitu emang harus dikasih pelajaran.." protes Naia.
"Udah, yang seperti itu gak perlu diingat, ikhlas aja lah.. Oiya, kakak sebenarnya mau kenalkan teman kakak, itupun kalau Nur mau kakak kenalin.. Eeeemm, kamu kenal kok, itu loh si Niko, teman SMA kakak.." ucap Dewa.
Nuraini terkejut dengan ucapan kakaknya tadi, raut mukanya langsung berubah sedih. Naia melihat perubahan pada raut muka Nuraini, kemudian bertanya, "Loh kenapa kamu sedih Nur..? Emang kami ada salah ngomong ya..?" tanya Naia dengan nada merendah.
"Enggak kok kak, Eeee, sebenarnya mas Niko adalah mantan pacar Nur. Tiga bulan lalu dia tiba-tiba memutuskan Nur, dia tidak memberi Nur penjelasan apapun.." mata Nuraini mulai berkaca-kaca.
Dada Dewa bergetar mendengar cerita adiknya, dengan emosi dia berkata, "Hee..? Apa benar yang kamu ucapkan itu Nur..? Sebentar, kakak akan telepon dia. Udah kamu tenang aja ya..?" Dewa mengambil hp nya dan menghubungi Niko. Dewa sengaja meloudspeaker hp nya agar Nuraini ikut mendengarnya. Tanpa basa-basi, Dewa langsung menanyakan apa yang terjadi antara dia dan adiknya. Suara Niko bergetar, dia menjelaskan alasan mengapa dia memutuskan Nuraini,
[Niko] "Wa, aku benar-benar minta maaf karena telah memutuskan adikmu sepihak dan tanpa menjelaskan apapun kepada dia. Jujur Wa, aku hanya tidak ingin dia terlibat dalam masalahmu, aku ditekan oleh atasanku untuk memanfaatkan adikmu agar kamu keluar dari persembunyianmu. Aku tidak ingin dia dalam bahaya, makanya aku terpaksa harus memutuskan dia.
[Dewa] "Tapi mengapa kamu tidak menjelaskan apapun kepada adikku..?"
[Niko] "Aku tau sifat adikmu, Nuraini sangat ingin bertemu denganmu saat itu, aku yakin dia akan melibatkan dirinya dalam masalah ini, dan akibatnya tidak akan baik untuknya dan keluargamu. Jujur Wa, aku sangat mencintai adikmu, tapi…"
[Dewa] "Sudah cukup, aku tidak butuh alasanmu yang lain. Aku tidak mau tau, hari ini juga hubungi adikku, jelaskan semuanya kepadanya dan ajak dia kembali kepadamu kalau kamu memang masih mencintai dia. Jangan sampai buat aku kecewa Nik, kamu paham resikonya kan..?"
[Niko] "Iya, aku paham.."
Dewa langsung memutus sambungan teleponnya, mendengar sendiri percakapan kakaknya dengan Niko, Nuraini bergegas ke kamar dan mengambil hp nya, berharap Niko segera menghubunginya. Lima belas menit kemudian, Niko menghubungi Nuraini. Sama halnya dengan Dewa, Nuraini meloudspeaker hp nya. Setelah obrolan pembuka, Niko berusaha ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, meskipun dia sudah tau apa yang akan dijelaskan Niko.
[Nuraini] "Gak ada yang perlu dijelaskan lagi mas, semua udah jelas, mas udah buat hati Nur sakit. Jadi apalagi yang mau dijelaskan..?"
[Niko] "Mas minta maaf Nur, mas sudah buat kamu sakit, tapi mas ingin kita bisa kembali seperti dulu lagi. Apapun syarat dan permintaanmu, mas akan penuhi. Tolong Nur, kasih mas kesempatan lagi.."
[Nuraini] "Baik, aku ingin bukti bahwa mas benar-benar serius dengan ucapan mas Niko. Akhir bulan ini ayah ulang tahun. Aku ingin memberi hadiah istimewa kepada ayah. Hadiah itu siapapun tidak akan pernah mampu membelinya, tapi hanya aku yang mampu memberikannya. Mas sanggup..?"
__ADS_1
[Niko] "Baik aku mengerti, aku menyanggupinya. Akhir bulan ini aku akan datang untuk melamarmu, kalau perlu aku siap buat menikahimu. Karena hanya itu hal yang orang lain tak mampu membeli, tapi hanya kamu yang mampu memberikannya.."
Niko dan Nuraini mengakhiri percakapannya. Hal yang membuat Dewa semakin kagum dengan Nuraini, walaupun dia sangat ingin kembali bersama Niko, dia tidak merendahkan dirinya dengan langsung mengiyakan permintaan Niko. Justru Nuraini memberikan syarat yang mungkin orang lain akan berfikir belasan kali.
"Nur maafin kakak ya, kakak udah buat kamu menderita.." ucap Dewa pelan.
"Eh, kakak ngomong apa sih..? Justru kakak udah berbuat banyak hal buat ku, buat ayah dan ibu, juga buat kak Robi. Nur yang harusnya minta maaf sama kakak, selama ini Nur udah menjadi beban buat kakak.. Maaf dan terimakasih ya kak.." jawab Nuraini sambil mencium tangan kakaknya.
"Kakak masih aja menganggapmu anak kecil. Ternyata adikku sudah dewasa sekarang.." jawab Dewa sambil membelai kepala Nuraini.
Silvia dan Naia ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Nuraini, "Alhamdulillah, akhirnya masalah yang selama ini dipendam oleh Nuraini selesai juga. Oiya aku lupa, tadi mama telepon, kata mama akhir bulan ini ulang tahun pernikahan papa dan mama, mereka punya rencana mau ngerayain di sebuah villa di kota N, rencananya sih bareng sama om Gun, sekalian ngerayain ulang tahun om Gunawan dan persahabatan papa dan om Gun yang ke 35 tahun. Kebetulan sekali nih.." ucap Naia bersemangat.
"Nuraini udah siapin hadiah buat ayahnya. Kita kasih hadiah apa ya Nai buat papa dan mama..?" tanya Silvia.
"Gak tau Vi, aku juga bingung. Tadi sih rencana mau cari hadiah buat mama di mall, karena ada kejadian perampokan itu akhirnya batal deh.." jawab Naia sedih.
"Udah.. Masih ada waktu buat memikirkan. Sekarang siap-siap gih, udah sore waktunya latihan sama bang Kosim. Hari ini aku antar kalian, sekalian juga aku ada perlu sama Roni.." jawab Dewa mengalihkan pembicaraan.
Merekapun bersiap untuk pergi ke sasana melanjutkan program latihan bela diri mereka.
*****
"Sudah dengar berita baru bos..? Perampokan di BoA katanya perampok dikalahkan oleh satu orang, tapi orang itu kabur begitu saja setelah mengalahkan para perampok itu.." ujar Roni.
"Lah aku sudah bisa menebak siapa orang itu, dia pasti bos. Bener kan bos..?" tanya Loreng.
"Gini, kita lupakan saja masalah perampokan itu, ada hal yang jauh lebih penting. Kalian harus mulai belajar tenaga dalam. Kejadian melawan taring harimau menunjukkan bahwa penting bagi kalian untuk belajar tenaga dalam.." ucap Dewa serius.
"Jadi kita belajar ilmu seperti punya Sukirno bos..?" tanya Roni.
"Bukan, itu bukan tenaga dalam. Yang dipelajari Sukirno itu hanya meminjam kekuatan dari alam semesta saja, bukan energi yang bangkit dari dalam diri kita sendiri.." jawab Dewa.
"Maksudnya gimana bos..?" tanya Kosim bingung.
Dewa menberikan penjelasan kepada mereka, "Pada prinsipnya sama tapi, ilmu yang pelajari Sukirno itu hnaya meminjam atau mengambil energi dari alam semesta. Tidak peduli seberapa besar dia ambil, apakah fisiknya mampu atau tidak, yang penting dia hanya menyedot energi dari alam untuk memperkuat pertahanannya, kecepatannya, kekuatannya, sampai tubuh tidak kuat lagi menampung. Dan yang terjadi selanjutnya energi itu akan dilepas lagi ke alam saat tubuh tidak kuat lagi menampung energi alam semesta, akibatnya kekuatannya akan menurun. Semakin sering digunakan, maka fisiknya akan rusak.." ucapnya.
__ADS_1
"Lalu kalau tenaga dalam itu gimana bos..?" tanya Loreng.
"Kalau tenaga dalam, prinsipnya hampir sama, tubuh kita meminjam energi dari alam semesta, bedanya adalah kita tidak langsung menggunakannya, tapi mengolah energi alam tersebut di dalam tubuh kita untuk membangkitkan dan menyelaraskan energi yang ada di dalam tubuh kita dengan energi alam semesta. Semakin kita sering melatihnya, maka energi yang ada di dalam tubuh kita akan semakin besar, dan energi di dalam tubuh kita bersifat permanen, dia akan selalu siap kapanpun kita membutuhkannya. Jadi pada saat digunakan kita tidak lagi meminjam energi dari alam semesta.." ujar Dewa
Mereka mendengarkan penjelasan Dewa, diantara mereka bertiga, hanya Roni yang bisa sedikit mengerti tentang prinsip dasar dari tenaga dalam yang dijelaskan oleh Dewa, "Jadi meminjam energi alam semesta itu hanya dilakukan pada saat kita latihan untuk membangkitkan dan menyelaraskan energi yang ada di dalam tubuh kita saja bos..? Setelah itu kita kembalikan lagi ke alam semesta..?" tanya Roni.
"Ya sederhananya seperti itu. Jadi energi yang kita pakai nantinya adalah energi kita sendiri. Energi alam semesta itu hanya dibuat sebagai pancingan agar energi kita bangkit, itulah yang disebut tenaga dalam.." jawab Dewa
"Lalu apa manfaat kita belajar tenaga dalam bos, selain untuk bertarung melawan orang-orang seperti Sukirno..?" tanya Kosim penasaran.
"Untuk kesehatan, kebalikan dari milik Sukirno, semakin sering kita berlatih, tubuh kita semakin selaras dengan alam semesta, maka semakin sehat dan bugar tubuh kita. Selain itu tenaga dalam akan membantu kekuatan fisik, kecepatan, stamina, saat kita menggunakannya. Tentunya itu berbanding lurus dengan kekuatan fisik kita.." jawab Dewa.
Kosim, Roni dan Loreng sepertinya semakin tertarik untuk mempelajarinya. Terbukti dengan pertanyaan yang mereka lontarkan kepada Dewa, "Lalu apakah kita berlatih fisik seperti yang bos lakukan..?" tanya Kosim
"Ini bisa kalian latih secara bersamaan, latihan tenaga dalam dan latihan fisik. Tidak harus ekstrim seperti yang aku lakukan, tapi tingkatkan terus fisik kalian. Lakukan hal ini dengan sabar dan bertahap.." ucap Dewa.
"Lalu bagaimana tekniknya untuk meminjam dan mengembalikan energi alam semesta bos..?" giliran Roni yang bertanya.
"Dengan teknik pernafasan dan gerakan lembut selaras dengan gerakan alam, seperti pada teknik tai-chi. Kalian bisa lakukan teknik pernafasan pada pagi hari dan latihan fisik pada sore hari. Tapi ingat, lakukan dengan sabar dan bertahap.." pesan Dewa, kemudian Dewa mencontohkan gerakan sederhana salah satu pernafasan yang dilakukan sambil duduk bersila, salah satu gerakan pernafasan yang ada di kitab Kalimasada, lalu Dewa meminta mereka bertiga untuk mempraktekkannya. Roni melakukannya dengan sangat baik. Tapi beberapa kali Dewa harus menegur Loreng karena terlalu terburu-buru melakukannya, "Pemahaman Roni sangat baik, dia dengan cepat bisa memahami apa yang aku ajarkan.." ucap Dewa dalam hati.
"Ingat, lakukan semuanya mulai menarik nafas, merasakan nafas dan menghembuskannya dengan selembut mungkin. Biarkan tubuh kalian bergerak dengan sendirinya sesuai dengan irama nafas kalian. Satu hal lagi, jangan pernah ajarkan ini kepada murid lainnya kecuali dia sudah siap.." pesan Dewa dengan nada tegas.
"Baik bos. Terimakasih telah mengajari kami bos.." ucap mereka serempak.
"Lho bos, kok aku gak diajari juga..?" protes Icong.
"Hush.. Mulai besok pagi, kamu ikuti saja apa yang kita lakukan. Udah sekarang fokus buat lanjutkan materi yang kemarin saja.." jawab Kosim.
"Ron, tolong ajari Icong juga. Pastikan melakukan semuanya dengan baik.." ucap Dewa.
"Siap bos. Sesuai perintah.." jawab Roni.
"Berhasil atau tidak itu tergantung kalian sendiri. Semoga saja hal ini bisa membawa kebaikan bagi kalian dan sasana ini. Bulan depan aku harus meninggalkan kalian semua, karena aku harus mengawal Naia ke kota AB.." gumamku dalam hati.
Sambil menunggu Naia selesai berlatih, Dewa, Roni dan Loreng memanfaatkan waktu untuk berlatih fisik dengan alat yang ada.
__ADS_1
*****