Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Melacak keberadaan Naia


__ADS_3

Mereka segera bersiap setelah mendengar cerita dari Dewa tentang penculikan Naia dan Silvia. Sandhi bergerak cepat menyiapkan laptop dan semua peralatan yang digunakan untuk melacak seseorang melalui sinyal hp, sedangkan Yuma dan Faruq menyiapkan senjata mereka.


Ada sedikit keraguan di dalam hati Dewa sebelum mereka berangkat menemui pak Wira di villa, "Apakah benar ini saat yang tepat aku bertemu dengan ayah dan ibu..? Dan apa reaksi pak Wira dan bu Santi saat mereka tau bahwa aku adalah orang yang selama ini mereka tunggu..?" gumam Dewa dalam hati.


"Semua sudah siap bos, kapan kita berangkat..?" tanya Sandhi membuyarkan lamunan Dewa.


"Ya.. Kita berangkat sekarang.." ucap Dewa.


Jalanan yang sepi membuat Dewa bisa memaksimalkan kecepatan mobilnya untuk bisa segera sampai di villa.


Sementara itu, pak Wira dan bu Santi terlihat gelisah menunggu kedatangan Dewa, pak Wira terlihat mondar-mandir di teras villa. Dewa sampai di villa, mereka langsung turun dan segera memasuki villa dan disambut oleh pak Wira dan bu Santi di teras villa, "Dede.. Naia dan Silvia.... M-mereka diculik Karman. Ini rekaman video call kami tadi.." ucap pak Wira sambil menunjukkan rekaman video call nya.


Dewa melihat rekaman video itu, "Sebaiknya kita masuk dulu pak, kita bicarakan semuanya di dalam saja.." ucap Dewa.


Mereka masuk ke dalam ruang tamu, dan tanpa menunggu perintah, Sandhi segera merakit peralatannya kemudian melacak nomor hp yang dipakai Karman untuk menghubungi pak Wira. Dengan sangat lincah jari-jari Sandhi seakan menari diatas keyboard laptopnya.


"Bagaimana mas Dede, Naia bisa ketemu kan..?" tanya bu Santi.


"Tenang dulu bu Santi, tidak perlu panik. Kami pasti akan menemukan lokasi Naia disekap.." ucap Dewa menenangkan, walaupun sebenarnya Dewa juga tidak merasa tenang.


Dewa memperhatikan layar laptop, berharap Sandhi segera menemukan lokasi Naia dan Silvia. Tiba-tiba Dewa dikejutkan dengan suara yang memanggilnya, "D-Dewa.. Anakku Dewa.. Alhamdulillah kamu selamat Nak.." ucap bu Widya lalu berlari dan memeluk Dewa. Air mata bu Widya tak terbendung lagi, Dewa membalas pelukan ibunya sambil berkata, "Iya bu, ini aku Dewa. Maafkan aku bu, aku sudah membuat ibu khawatir. Aku terpaksa melakukan ini semua demi keselamatan kit semua bu.." ucap Dewa dengan suara bergetar. Perlahan bu Widya melepas pelukannya kemudian Dewa mencium tangan ibunya.


Pak Gunawan mendekati Dewa kemudian memeluknya sambil berkata, "Syukurlah kamu tidak apa-apa Dewa. Ayah sangat khawatir saat mendengar kamu menjadi daftar pencarian militer.."


"Maafkan aku yah, aku sudah membuat ayah dan ibu khawatir.." jawab Dewa sambil mencium tangan pak Gunawan.


Pak Wira dan bu Santi terlihat bingung dengan apa yang dilihatnya. Mereka tidak percaya bahwa Dede adalah Dewa yang selama ini mereka tunggu untuk datang di acara pertunangannya dengan Naia, "Loh sebenarnya Dewa itu....." bu Santi tidak melanjutkan ucapannya.


"Dik.. Inilah Dewa yang selama ini kita tunggu-tunggu.. Apakah dik Wira lupa dengan Dewa..?" tanya pak Gunawan.


"Terakhir bertemu saat Dewa berusia 7 atau tahun, lalu mas Gun pindah ke kota H. Jadi aku tidak mengingatnya dengan jelas.." jawab pak Wira.


"Maafkan saya pak Wira, bukan maksud saya berbohong kepada anda. Yang saya lakukan adalah demi keselamatan saya dan keluarga saya.." jawab Dewa kemudian menceritakan garis besar kejadian yang menimpa dirinya dan teman-temannya di regu III.


"Aku paham maksudmu. Sudahlah, jangan dibahas lagi masalah itu. Eeeee.. lalu mereka ini siapa..?" tanya pak Wira.


"Mereka adalah anggota regu III pasukan Ganendra, tepatnya mantan pasukan Ganendra.." kemudian Dewa memperkenalkan Yudha, Faruq dan Sandhi kepada pak Wira.


Bu Santi yang masih bingung dengan apa yang sedang terjadi akhirnya membuka suara, "Jadi selama ini yang menjaga Naia adalah calon suaminya sendiri..? Pantas saja Naia menolak pembatalan perjodohannya dengan Dewa.."


"Benar tante, Nur juga sudah menceritakan kepada kak Dewa perihal perjodohannya dengan kak Naia.." jawab Nuraini, kemudian Nuraini menceritakan kejadian pertemuannya dengan Dewa.

__ADS_1


"Tapi mengapa kamu tidak cerita ke ibu nduk..?" tanya bu Widya.


"Maaf bu, itu bukan salah Nur, tapi memang aku yang meminta mereka merahasiakannya.." sahut Dewa.


Sementara itu, Sandhi terus melacak keberadaan nomor selular Karman, dan akhirnya keberadaan terakhir nomor tersebut dapat terlacak, "Bos aku sudah menemukannya, nomor itu terakhir terhubung dengan jaringan di lokasi ini.." ucap Sandhi.


Dewa melihat gambar peta layar laptop, kemudian Sandhi menzoom peta tersebut. Sebuah kafe yang berada di sekitar bandara kota AB, "Berarti mereka sekarang disana..?" tanya Dewa.


"Belum bisa dipastikan bos. Ini lokasi terakhir nomor tersebut aktif.." jawab Sandhi.


"Yud, kamu sama Faruq  berangkat ke tempat itu, kalian awasi dulu situasi disana sampai aku memberi instruksi selanjutnya.." perintah Dewa.


"Siap boss.." jawab mereka, kemudian Yudha dan Faruq pun berangkat menggunakan salah satu mobil pak Wira menuju lokasi yang ditunjukkan Sandhi. 


Waktu berlalu dengan cepat. Tepat jam enam pagi Karman menghubungi pak Wira dengan menggunakan nomor yang berbeda dari yang digunakan tadi. Dengan cepat Sandhi melacak keberadaan nomor tersebut dengan peralatannya. Sandhi berbisik kepada Dewa, "Minta pak Wira mengulur waktu, setidaknya tiga sampai lima menit.." ucap Sandhi, kemudian Dewa memberikam kode kepada pak Wira untuk mengulur waktu pembicaraan.


Pak Wirapun paham dengan maksud Dewa dan berusaha mengulur waktu pembicaraannya dengan Karman.


[Wira]  "katakan bagaimana keadaan Naia dan Silvia.."


[Karman]  "Tenang saja abangku, mereka akan baik-baik saja selama kamu memenuhi permintaanku seperti yang aku bilang tadi. Sisanya akan aku urus sendiri ke Notaris.


[Wira]  "Gila kau Karman..!! Mana bisa seperti itu..? Aku butuh rapat dulu dengan pemegang saham lainnya, tidak semudah itu mengalihkan saham mas Sanjaya menjadi atas namamu.."


[Wira]  "Baik-baik. Aku akan segera membuatkan sesuai keinginanmu. Tapi kalau terjadi apa-apa dengan mereka, aku tidak akan melepaskanmu..!!"


Karman tidak menjawab, dia langsung memutus sambungan teleponnya. Pembicaraan antara Karman dan pak Wira membuat Sandhi berhasil melacak lokasi darimana Karman menghubungi pak Wira, "Mereka berada di kompleks pergudangan blok A7, sebelah utara Bandara kota AB.." ucap Sandhi sambil menunjuk layar laptopnya. Dewa memeriksa sekitar lokasi pergudangan itu, ada beberapa kafe dan restoran yang mungkin bisa digunakan untuk pertemuan pak Wira dan Karman.


"Aku akan segera meluncur ke kompleks pergudangan itu. Mungkin Naia dan Silvia ada disana.." ucap Dewa.


"Ayah akan temani kamu Wa.." ucap pak Gunawan.


"Tidak yah, lebih baik ayah temani pak Wira menemui Karman. Naia dan Silvia, aku pasti akan menyelamatkan mereka apapun resikonya.." jawab Dewa tegas.


*****


Dewa memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi kompleks pergudangan. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai kompleks pergudangan itu. Dewa melaju perlahan saat memasuki kompleks pergudangan itu, "Ternyata banyak gudang yang dibiarkan kosong. Ini blok A1, berarti A7 ada di depan sana.." gumam Dewa


Setelah berjalan beberapa saat, Dewa melihat dua mobil berjenis van berwarna hitam dan sedan berwarna hitam terparkir di halaman salah satu gudang kosong, "Ini gudang nomor A7 sesuai dengan yang dikatakan Sandhi. Sebaiknya aku cari tempat untuk memarkir mobilku dulu.." gumam Dewa dalam hati. Dewa berjalan lurus melawati gudang itu lalu berbelok ke kanan menuju gudang yang berada di belakang gudang A7. 


Dewa memarkir mobilnya di depan sebuah gudang nomor C8 yang berada di belakang gudang A7, dimana Naia dan Silvia disekap. Dewa mengurimkan lokasinya kelada Yuma dengan beberapa perintah tentunya.

__ADS_1


[Dewa]  |Yud, aku sudah menemukan lokasi Karman, kamu awasi pertemuan pak Wira dan Karman, dan tunggu instruksi lebih lanjut..|


[Yuma]  |Siap bos..|


Dewa mendekati gudang A7 dari belakang, kemudian dia memanjat pohon di belakang gudang itu yang dahannya menjulang hingga keatas atap gudang A7. Dari tempatnya, dia dapat melihat situasi di dalam gudang A7 melalui celah exhaust van. Terlihat banyak kayu-kayu bekas pallet yang tertumpuk di sisi kiri dan tengah gudang, sedangkan Karman dan lima orang anak buahnya berada depan sebuah ruangan di sisi kanan gudang.


"Naia dan Silvia pasti ada di dalam ruangan itu.. Lebih baik biarkan Karman menemui pak Wira dulu. Setidaknya orang yang menjaga Naia berkurang.." gumam Dewa dalam hati.


Sementara itu, Karman yang tidak menyadari kedatangan Dewa berkata kepada anak buahnya, "Sebentar lagi kita akan kaya, Wira pasti menyerahkan saham Wiryawan Goup miliknya. Setelah itu aku akan melakukan hal yang sama saat dia berada di Kusuma Group dulu.. Hahahha.." ucap Karman.


"Lalu cewek-cewek itu bagaimana bos..?" tanya salah satu anak buahnya.


"Jangan apa-apakan mereka dulu sampai aku mendapat dokumennya. Setelah itu, terserah kalian mau apakan mereka..." jawab Karman.


Dengan persepsi jiwanya, Dewa terus memperhatikan gerak-gerik Karman dan anak buahnya sambil mencari jalan untuk masuk ke dalam gudang. Tiba-tiba persepsi jiwanya menangkap adanya kekuatan gelap yang teramat jahat berasal dari salah satu anak buah Karman yang sedang berdiri di depan pintu gudang. Kekuatan gelap yang pernah dia temui saat pertandingan tarung bebas waktu itu, "Mungkinkah itu kekuatan gelap yang ada di dalam diri Sakri..?"


Dengan langkah Kalimasada, Dewa berjalan bagai angin di atas atap gudang menuju sisi kiri gudang. Dewa masuk ke dalam gudang melalui lubang bekas exhaust fan, kemudian melompat dari dari lubang itu dan mendarat tanpa suara. Dewa bersembunyi di balik tumpukan kayu palet sambil mengamati situasi.


"Kalian berdua, ayo ikut aku temui Wira, dan kalian bertiga jaga gadis-gadis itu. Jangan apa-apakan dulu sebelum aku mendapat dokumennya.." ucap Karman kemudian mereka pergi dengan menggunakan mobil sedan berwarna hitam.


Setelah sepuluh menit kepergian Karman, salah seorang anak buah Karman dengan kekuatan gelap itu berkata, "Kalian jaga diluar, aku akan bermain sebentar dengan mereka berdua. Terlalu lama kalau harus menunggu Karman selesai, aku sudah tidak sabar.. Hahahaha.." ucapnya.


"Siap bos, kami akan sabar menunggu giliran.. Hehehehe.." jawab mereka serempak.


Orang itu lalu masuk ke dalam ruangan dimana Naia dan Silvia disekap. Tangan yang terikat kebelakang dan kaki yang juga terikat membuat mereka benar-benar tidak berdaya. Mereka hanya meringkuk di atas tumpukan kardus. Orang itu mendekati Naia dan hendak mengelus pipi Naia, tapi Naia segera menghindarinya sehingga tangannya tidak sempat mengenai pipinya.


"Eeemmmm.. Hheeeeemmm.." teriak Naia dengan mulut tersumpal.


"Tenanglah cantik. Jangan takut, awalnya sakit sedikit tapi lama-lama kamu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa.." jawab orang itu sambil memegang baju Naia.


Sraaaaakkkkk....


Orang itu menarih baju Naia hingga sobek di bagian dada, hingga terlihat belahan dada dan perut Naia yang putih. Orang itu melihat tubuh putih Naia tanpa berkedip. Kemudian dia beralih kepada Silvia. Hal yang sama dilakukan pada Silvia, baju Silvia sobek hingga terlihat belahan dada dan perut Silvia yang tak kalah putih dengan kulit Naia.


"Eeemmmm.. Eeemmmmmm..." teriak keduanya dengan air mata yang mengalir.


"Hahahaha.. Tenanglah, aku akan pelan-pelan saja kok. Sungguh tubuh Dewi Kilisuci dan Dewi Candrakirana sangat sempurna. Kulit seputih susu dan bentuk dada bulat yang begitu sempurna, dan pasti tubuh kalian lebih sempurna lagi saat tidak memakai apapun.. Hehehehe.." ucapnya sambil berulang kali menjilat bibirnya.


Orang itu berjongkok dan hendak menyentuh dada Silvia, "Eemmmm.. Hhhheeeemmm.." Silvial meronta sambil berusaha menghindari tangan orang itu.


"Uupppsss.. Baik-baik, aku akan sabar sampai membuka semua baju kalian. Tenang saja sebenarnya aku hanya ingin mengintip sedikit sesuatu yang tersembunyi di balik BH kalian saja, tapi baiklah kita mulai saja, aku hanya butuh menanamkan benihku dalam rahim kalian saja.. Hahahahaha.." ucapnya lalu dia melepas bajunya.

__ADS_1


Naia dan Silvia hanya bisa menangis pasrah. Mereka hanya bisa berfikir bahwa kehormatan yang mereka jaga selama ini harus direnggut oleh seorang bajingan, "Mas Dewa tolong kami mas.." tangis mereka dalam hati.


__ADS_2