
Karman menjelaskan secara detail tentang keterlibatannya dalam kasus yang dialami oleh regu III pasukan Ganendra. Setelah mendengar cerita Karman, Dewa bertanya kepada Karman alasan dia menculik Naia, "Lalu, mengapa kau menculik putri pak Wira..?! Bukankah dia keponakanmu sendiri..?" tanya Dewa dengan keras.
"Sebenarnya hal ini berhubungan dengan PT. Andalas Muda Perkasa milik Baros. Dia kalah tender dengan PT. Wira Jaya Oil dalam perebutan hak pengelolaan tambang minyak di pulau Andalas. Tidak hanya dalam hal pengelolaan, tapi juga transportasi dan distribusinya, semua dikelola oleh perusahaan Wira. Baros sempat menggunakan pengaruhnya di pemerintahan untuk memprotes hak pengelolaan itu kepada kementrian terkait hingga melakukan gugatan hukum, tapi tetap saja dia kalah. Puncaknya, Baros memanfaatkan aku sebagai saudaranya Wira, dia menginginkan aku bisa menjadi pemegang saham mayoritas di Wiryawan Group, sehingga aku bisa memutuskan untuk menarik PT. Wira Jaya Oil dalam pengelolaan tambang itu dan Baros menjanjikanku 500 miliar kalau aku berhasil.." ujar Karman.
"Apa artinya uang 500 miliar buatmu, bukankah kau sudah memiliki Kusuma Group dengan aset puluhan triliun..? Lalu apa hubungannya dengan penculikan Naia..?!" tanya Dewa masih dengan nada keras.
"Kusuma Group sekarang tinggal nama saja. Semua ini karena kelicikan Baros yang memanfaatkan keserakahanku. Aku terjebak dengan rencana liciknya sehingga aku kehilangan semua aset dari Kusuma Group. Jadi tawaran menjadi pemegang saham mayoritas di Wiryawan Group dan uang 500 miliar membuatku rela melakukan hal itu.. Aku tau Wira sangat menyayangi anak-anaknya, jadi ingin menekan Wira dengan menculik putrinya. Aku belajar dari pengalaman penculikan putra kedua Wira, yang membuat Wira mundur dari kepesertaan tender pengelolaan lahan sawit di pulau Borneo. Tapi sayang, ada kecelakaan kecil yang membuat putra kedua Wira meninggal dunia.." ucap Karman.
"Jadi kamulah yang menyebabkan kematian putra kedua pak Wira..?!" bentak Dewa
"B-Bukan, aku tidak ada hubungannya dengan hal itu. Itu terjadi karena waktu itu PT. Benua Biru Utama milik Wira bersaing dengan PT. Putra Borneo, salah satu anak perusahaan PT. Andalas Muda Perkasa, yang dipegang oleh Mario, anak tertua Baros.. Mario tidak tau kalau anak itu fobia tempat gelap. Dia mengalami sesak nafas saat Mario menyekap dan memasukkan ke dalam bagasi mobil dan akhirnya meninggal dunia.." jawab Karman.
"Persaingan di dunia bisnis sampai seperti ini, mereka benar-benar bangsat. Mereka akan menggunakan segala cara agar mereka bisa menang. Mereka lupa bahwa bisnis yang mereka jalankan sebenarnya adalah untuk hajat hidup orang banyak.." gumam Dewa dalam hati.
Dewa terus mencecar Karman dengan pertanyaan-pertanyaan yang terkadang membuat Karman tergagap dalam menjawabnya.
"Lalu apa tujuan Man Tio membangun relasi bisnis dengan pak Wira..?" tanya Dewa
"Aku rasa Tio juga dimanfaatkan oleh Baros. Tio adalah rencana cadangan dari Baros kalau aku gagal dalam menjalankan tugasku. Baros ingin Tio mengikat Wira dengan cara menikahkan anak laki-lakinya dengan Naia. Dengan begitu secara perlahan Tio bisa menguasai Wiryawan Group melalui anaknya.." jawab Karman.
"Apakah yang kau ucapkan itu benar dan tidak berbohong..?!" bentak Yuma.
"Mana mungkin aku berani berbohong..? Asal kalian tau, Baros itu orang yang serakah dan licik. Dia ingin menguasai semua, bahkan mungkin seluruh negara ini ingin dikuasainya. Aku adalah salah satu korbannya.." jawab Karman emosi.
"Cih.. Kamu bilang kalau kamu itu korban..? Apa yang terjadi padamu adalah hasil dari keserakahanmu sendiri. Jangan berlagak kamu adalah korban. Kamu sama bangsatnya seperti Baros..!!" bentak Yuma.
"Aku yakin kau pasti mempunyai data tentang bisnis haram Baros, berikan itu padaku. Dan katakan bagaimana kau bisa punya anak buah dengan kekuatan gelap itu..?" tanya Dewa
"Baik, asal kalian membebaskanku aku akan memberikan data itu.. Eeeemm Broto maksudmu..? Dia adalah salah satu pengawal yang aku kirim untuk menemani Yuma menculik putri Wira. Aku juga gak tau darimana dia mendapat kekuatan gelap itu. Tapi Broto belum seberapa, Baros memiliki kekuatan yang hampir sama, tapi jauh lebih mengerikan.." jawab Karman.
Dewa terkejut dengan apa yang dikatakan Karman tentang Baros, "Apakah Baros juga penyembah iblis..?" tanyanya dalam hati.
Dewa menatap tajam kepada Karman, "Membebaskanmu..? Enak saja kamu ngomong. Kamu harus menebus semua perbuatanmu terhadap pak Wira dan keluarganya, terutama Naia.. Atau sebaiknya aku akhiri saja hidupmu disini..? Mungkin hal itu bisa menebus kesalahanmu dan membuatmu tidak mengulanginya lagi.." ucap Dewa serius.
"T-tolong jangan bunuh aku. Aku akan bertobat tapi bagaimana jika Baros mencariku..?" ucap Karman bingung.
"Yud, sepertinya kamu harus siapkan lubang buat kuburkan dia. Dia lebih takut Baros daripada kepada Penciptanya.." ucapku sinis.
__ADS_1
"Orang seperti ini gak perlu dimakamkan bos. Biarkan saja dia menjadi santapan hewan di hutan sana..!!" jawab Yuma emosi.
"J-jangan.. T-tolong beri aku kesempatan, aku a-akan bertobat.." ucap Karman sangat ketakutan.
"Baiklah, pertama berikan aku akses masuk ke Kusuma Group, kedua kau harus mengakui semua perbuatanmu di hadapan polisi. Lalu jalani hidupmu di penjara, itu akan membuatmu lebih aman juga.." jawab Dewa dan langsung dianggukkan Karman.
Setelah itu Dewa menyuruh Yuma melepaskan ikatan Karman dan menghubungi Santoso. Mereka segera meninggalkan tempat itu, setelah sebelumnya Dewa mendoakan entitas lain yang ada di tempat itu, menuju kantor Santoso. Hari semakin gelap, Dewa melihat jam tangannya yang menunjukkan angka 17:09. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di koramil tempat Santoso berdinas. Dewa meminta bantuan Santoso untuk menyerahkan Karman kepada pihak kepolisian. Setelah memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, Dewa dan Yuma melanjutkan perjalanan mereka menuju desa Lerengwilis.
"Semoga dengan ID card ini, aku bisa mengetahui rencana Baros selanjutnya. Aku akan memberikan tugas ini kepada Luki.." gumam Dewa dalam hati sambil melihat ID Card yang diberikan Karman.
"Bos apa bos yakin Santoso bisa menyelesaikan tugas tadi..?" tanya Yuma merasa ragu-ragu.
"Aku yakin Santoso akan melakukan yang terbaik untuk kita. Percayakan saja sama dia.. Sebentar, aku akan menghubungi papa mertuaku dulu.." ucap Dewa.
Setelah menelepon pak Wira, Dewa memutuskan untuk langsung ke kota L mengembalikan mobil pak Wira. Dari berita yang dikirimkan Silvia di grup wa siang tadi, pak Wira tidak jadi berangkat ke kota H, dan kembali ke kota L bersama ayah dan ibuku. Sedangkan Naia, Silvia dan Nuraini juga kembali ke kota AG.
"Yud kita langsung ke kota L saja. Apa kau capek..? Perlu aku gantinya mengemudinya..?" tanya Dewa memastikan.
"Capek..? Enggak, bos santai aja. Kalau perlu, tidur saja bos. Nanti kalau sudah masuk kota L aku bangunkan.." jawab Yuma.
"Eee.. Nanti masuk aja ke rest area, kita ngopi dulu disana.." ucap Dewa dan dianggukkan Yuma.
"Apa rencanamu selanjutnya bos..?" tanya Yuma.
"Yang jelas aku akan mendirikan perusahaan itu secepatnya. Cuma aku akan memberi nama apa ya perusahaanku itu..?" gumam Dewa bingung.
"Ahhhh.. Jangan kau suruh aku mencari nama. Anakku aja bukan aku yang memberinya nama.." jawab Yuma dengan nada menyerah.
"Hahahaha.. Sudahlah pikirkan namanya nanti aja. Biar nanti aku minta seseorang untuk menamai perusahaan kita itu.." jawab Dewa.
Mereka kemudian menikmati makanan yang sudah dipesan. Setelah selesai makan dan meminum kopi, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kota L.
"Bos anggota kita hanya kurang Tiara saja yang belum diketahui keberadaannya. Bos sudah mendapat informasi tentang dia..?" tanya Yuma tiba-tiba.
"Belum. Aku juga gak tau dimana dia sekarang. Tapi firasatku dia sangat dekat dengan kita.. Sudahlah, kalau memang ditakdirkan, maka semua akan berkumpul kembali.. Tapi kenapa kamu tiba-tiba membahas Tiara..?" tanya Dewa heran.
"Gak tau, tiba-tiba kepikiran aja sama si tomboy itu.." jawab Yuma.
__ADS_1
Yuma menambah kecepatan mobilnya hingga melebihi batas maksimal kecepatan di jalan tol. Dewa percaya dengan cara Yuma mengemudi hingga Dewa memilih untuk tidur. Yuma membangunkan Dewa saat kami memasuki gerbang perumahan villa bukit mas, kemudian memandu Yuma menuju rumah pak Wira.
*****
Sementara itu di rumah, Naia tampak gelisah menunggu kabar dari Dewa, sementara jam dinding menunjuk angka 8 malam. Dia berulang kali mondar-mandir keluar masuk kamar dan sesekali melihat keluar rumah melalui jendela ruang tamu. Berbeda dengan Nuraini dan Silvia yang terlihat lebih santai.
"Hp nya gak aktif, dari tadi aku wa centang satu saja. Kemana sih mas Dewa..? Udah malam gini belum sampai rumah..?" gerutu Naia.
"Udah kak, jangan terlalu gelisah gitu.. Kak Dewa gak akan kenapa-kenapa, kak Naia yang tenang dong.." ucap Nuraini sambil melihat layar laptop.
"Gimana bisa tenang..? Dari tadi siang aku kirim pesan juga belum masuk, masih centang satu aja. Lagian ini juga udah malam.. Hiiiihhh, awas ya kalau udah sampai rumah..." ucap Naia geram.
"Kamu yang tenang dong Nai, daripada kamu menggerutu gitu, mending do'akan aja biar mas Dewa gak kenapa-kenapa.." sahut Silvia berusaha menenangkan Naia.
"Kamu emang masih bisa tenang..? Lihat deh, terakhir mas Dewa balas di Grup itu jam 11:20, pas kita berangkat tadi. Dan sampai sekarang belum ada kabarnya. Ini di wa malah centang satu, terus kamu suruh aku tenang..?" protes Naia.
"Kakak cantik, lebih baik kakak duduk deh. Tuh emosi udah nguasai kak Naia. Sebentar Nur buatin teh biar pikiran kak Naia lebih tenang.. Oke..?" ucap Nuraini, lalu Naia duduk ditemani Silvia, dan Nuraini menuju dapur untuk membuat teh.
Tak lama kemudian Nuraini keluar membawa nampan berisi tiga gelas teh hangat dan menyuguhkan kepada mereka.
"Nih.. Minum dulu gih, mumpung masih hangat.. Trus istighfar dan berdo'a biar kak Dewa lancar semua urusannya. Daripada ngomel-ngomel gak jelas gitu..?" ucap Nuraini.
Naia pun meminum teh buatan Nuraini, kemudian tersenyum kecil setelah meminumnya dan berdo'a agar perjalanan Dewa dimudahkan, "Semoga mas Dewa lancar dan dimudahkan dalam perjalanan dan urusannya.." ucap Naia.
" Aamiin.." ucap mereka bersamaan.
"Gimana, udah tenang kan..? Nur tau kak Naia itu bukan khawatir kenapa kak Dewa gak segera pulang. Sebenarnya kak Naia itu udah kangen kan sama kak Dewa..? Hayoooo..." tanya Nuraini menggoda Naia.
"Heeemmmm pantesan, kok aku baru paham ya Nur..?" sahut Silvia ikut menggoda.
"Eehh.. Kalian tuh ya, sejak kapan kompak..? Aku tuh emang khawatir, walaupun juga udah kangeeeeenn banget sama mas Dewa.. Eeemmm, Nur, Silvia, makasih ya buat semua yang udah kamu lakukan buat aku. Maaf, kalau aku teruuuus saja merepotkan kalian.." ucap Naia.
"Eh.. Kamu ini kenapa sih.. Gak perlu berterimakasih dan meminta maaf. Nur sama sekali gak merasa kalian repotkan, Nur seneng bisa bantu kakak.. Kak Naia adalah yang terbaik buat kak Dewa, jadi terbaik juga buat Nur.. Jagain kak Dewa ya kak.." jawab Nuraini.
"Yang penting jangan pernah lagi minta hal yang aneh-aneh seperti kemaren.. Janji ya..?" ucap Silvia menyodorkan kelingkingnya.
"Iya, aku janji.. Maaf ya Vi, aku udah egois.." jawab Naia sambil mengaitkan kelingkingnya.
__ADS_1
Mereka mengobrol hingga larut malam, dan tanpa disadari mereka tertidur di sofa ruang tamu.