Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Sambutan hangat


__ADS_3

Setelah sholat dhuhur, Dewa meninggalkan rumah bersama Silvia menyusul Naia ke desa Candi, kota AB. Perjalanan nereka cukup lacar walaupun kondisi jalan cukup ramai siang itu. Suara lantunan musik membuat perjalanan mereka menjadi semakin rileks. Setelah beberapa saat mereka diam, Dewa membuka obrolannya, "Eeeemm, nanti setelah kamu turun, aku langsung pergi ya..? Tolong bilang sama Naia untuk tidak terlalu menghawatirkanku.." ucap Dewa pelan.


"Iya mas, terus rencana mas mau kemana..? Emang mas ada tempat buat tidur malam ini..?" tanya Silvia.


"Aku akan mengunjungi seorang teman. Naia tau kok siapa yang aku kunjungi. Kalau dia tanya bilang aja aku ke tempat Yuma.." jawab Dewa sambil tersenyum.


Tepat jam 17:15, mereka sampai di salah satu villa di desa Candi, kota AB, sesuai dengan lokasi yang dikirimkan Naia kepada Dewa. Setelah Silvia turun, Dewa langsung pergi menuju tempat Yuma berada.


Silvia memasuki halaman villa tersebut, "Assalamu'alaikum.." teriak Silvia.


"Wa'alaikumsalam.. Eh mana mas Dewa..?" bisik Naia kemudian mengajak Silvia masuk dan menuju kamar.


"Katanya tadi langsung ke tempat temannya, eh siapa ya tadi namanya.. eeee.. Yuma apa siapa gitu. Trus dia pesan, kamu jangan terlalu menghawatirkannya.." jawab Silvia sambil duduk di kasur.


"Berangkat jam berapa kalian..?" ucap Naia.


"Habis sholat dhuhur tadi. Sebenarnya sih jam 10 aku sudah selesai acara di balai desa. Aku tukar sesi pertama, jadi cepet selesainya. Maksudku sih mau berangkat bareng kamu, tapi kata Risa kalian udah berangkat dari jam 9.." sahut Silvia.


"Selesai jam 10 terus baru berangkat jam 12..? Hayooo, kalian ngapain aja..?" goda Naia dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Silvia.


"Gak ngapa-ngapain, cuma ngobrol aja sambil nunggu dhuhur.. Emang kamu mikirnya apa lho..?" jawab Silvia dan dibalas tawa kecil oleh Naia, "Hihihihi.."


Setelah cukup mengobrol, mereka segera ke dapur membantu bu Santi dan bu Widya menyiapkan makanan untuk acara nanti malam.


*****


Sementara itu Dewa sudah sampai di lokasi yang di kirimkan oleh Yuma, sasana tarung bebas yang berada di pinggiran kota AB. Luas sasana itu dua kali luas sasana milik Roni, tapi belum tau bagaimana sarana dan prasarana berlatihnya, "Sepertinya ini alamatnya. Lumayan lah, semoga saja fasilitasnya lebih baik dari milik Roni pas awal-awal dulu. Jadi bisa menghemat biaya.." gumam Dewa dalam hati.


Dewa turun dari mobil dan segera memasuki sasana. Di dalam cukup ramai, banyak yang berlatih disana. Semua menoleh ke arah Dewa saat dia membuka pintu dan masuk ke dalam sasana. Beberapa pasang mata melihat Dewa dengan pandangan merendahkan. Kemudian seseorang berteriak kepada Dewa, "Woi cari siapa..? Disini bukan tempat bermain, sebaiknya kamu segera pergi dari sini..!!" hardik salah seorang yang bertubuh besar dan bertato di lengannya.


"Maaf mas, saya mencari Yuma. Apakah dia disini..?" tanya Dewa sopan.


"Heh.. jangan kau sebut nama bos disini seenaknya..? Lagian kamu dia cari bos..? Dia lagi gak mau diganggu, jadi sebaiknya kamu pergi aja..!" ucapnya sambil menunjuk pintu.


Dewa tidak memperdulikan orang itu, dia melangkah masuk menuju ruangan kantor. Merasa kata-katanya tidak diindahkan oleh Dewa, orang itu memberi kode kepada lainnya untuk menghentikan Dewa. Tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh kekar menyerang Dewa dengan tendangannya.


Mengetahui dirinya diserang, Dewa menghindari serangan itu dan menjegal kaki penyerangnya hingga dia jatuh menabrak kursi. 


Sreeeeettt.. Gubraaaaakkk...

__ADS_1


Melihat temannya terjatuh, merekapun langsung mengepung Dewa, salah satu dari mereka mengumpat Dewa, "Bangsaaattt..!! Baru punya kemampuan sedikit saja sudah sok. Disini bukan tempat yang bisa kau remehkan..!!" bentak orang yang mengusir Dewa tadi.


"Aku datang baik-baik untuk mencari seorang teman. Beginikah sikap kalian terhadap orang baru..?!" bentak Dewa.


Belum selesai bicara, salah seorang yang berdiri di belakang Dewa menyerang dengan tinjunya, tapi Dewa dengan mudah menghindar dan membalas dengan sikutan ke arah perut orang itu. 


Whuuuuusss.. Jbuuggggg


Sebelum yang lain bergerak menyerang, Dewa segera merangsek maju ke arah orang yang mengusirnya tadi. Dia pun mencoba menyerang Dewa dengan tinjunya, tapi secepat angin Dewa bergerak ke belakang orang itu kemudian menendang belakang lututnya dan mencengkram pundaknya..


Sreeeeett... Jduuuukk..


"Aaaaarrgggh.. S-sakit-sakit. A-ampun-ampun.." rintihnya.


Dewa berteriak memanggil Yuma, "Yud, kalau kamu tidak segera keluar, maka anak buahmu akan aku buat cacat semua..!!"


Mendengar keributan di depan, Yuma, Faruq dan Sandhi keluar, "Siapa berani buat keributan di tempatku..!!" teriak Yuma dengan emosi. Tapi setelah melihat yang membuat keributan adalah bos nya, "Eh.. Eeee.. I-itu anu eee.. B-bos kapan datang..? Kok t-tidak telepon..?" ucap Yuma tergagap.


Semua orang sangat terkejut dengan perubahan sikap Yuma dan ternyata yang mereka bully adalah Dewa, orang yang sering diceritakan Yuma. Perlahan Dewa melepaskan orang itu, setelah Yuma memohon untuk melepaskannya.


"Boooosss... Gimana kabarmu..? Kami kangen bos.." teriak Faruq dan Sandhi sambil memeluk Dewa.


Plaaaaakk.. Plaaaaakk.. Plooookkk


Plaaaaakk... Plooookk.. Cplaaaaakk


Kemudian Yuma memarahi anak buahnya, "Kalian bikin malu saja. Kalian gak tau siapa dia..? Dia itu bos besar yang sering aku ceritakan. Jadi ini kesan yang kalian tunjukkan sama bos besar..?!" hardik Yuma.


"B-bos b-besar..? Eee.. Maafkan saya bos besar. Saya benar-benar tidak mengenali anda. Mohon jangan dimasukkan hati bos.. Saya Jono bos, saya yang diberi kepercayaan bos Yuma untuk mengawasi tempat ini.." jawab Jono, laki-laki yang mengusir Dewa.


"Kalian seratus orang pun tidak akan bisa mengalahkan bos. Untung bos gak serius, kalau bos serius tadi, sudah cacat kalian. Paham..!!" bentak Yuma. Mereka pun hanya menundukkan kepala saja.


Dewa menepuk pundak Jono, "Sudah-sudah, masalah ini cukup sampai disini saja. Kalian semua dengarkan, mulai sekarang siapapun yang masuk ke sasana ini, perlakukan dengan baik, mereka juga manusia sama seperti kalian. Hormati dia, kecuali dia memang bermaksud membuat rusuh.. Paham..?!" ucap Dewa tegas.


"P-paham bos.." jawab Jono sambil menundukkan kepala.


Setelah masalah selesai, Yuma mengajak Dewa ke sebuah kantor untuk bersantai, "Sebenarnya fasilitas di sasana ini cukup lengkap dan baik, tapi perlu penataan saja Yud. Nanti lah aku suruh Roni buat menata tempat ini.." ucap Dewa. 


Dewa, Yuma, Sandhi dan Faruq mengobrol santai di ruangan kantor sasana. Mereka saling bercerita tentang perjalanan mereka.

__ADS_1


*****


Waktu berjalan sangat cepat. Di villa desa Candi, pak Wira dan istrinya, bersama dengan pak Gunawan dan istrinya tengah bersiap untuk merayakan kebahagiaan hari ulang tahun pernikahan pak Wira dan bu Santi juga merayakan persahabatan mereka, "Alhamdulillah hari ini genap 23 tahun pernikahan kami, juga genap 30 tahun persahabatan kita mas Gun.. Walaupun masih akhir bulan saya ucapkan selamat ulang tahun buat mas Gun, semoga mas Gun selalu dalam lindungan Tuhan.." pak Wira membuka acara.


"Alhamdulillah.. Selamat atas 30 tahun persahabatan om dan ayah dan happy anniversary yang ke 23 tahun buat om dan tante.. Ayah, selamat ulang tahun juga, sehat selalu ya ayah.. Maaf Nur belum siapkan kado buat ayah dan om.." ucap Nuraini.


"Siapa bilang..? Kamu sudah beri kami kado terbaik. Kemarin malam, Niko bersama orang tuanya datang melamar kamu. Tapi kami belum memberi jawaban karena belum tau kamu setuju atau tidak. Walaupun ibu yakin kamu pasti setuju.." jawab bu Widya.


"Alhamdulillah.. Iya bu, aku setuju kalau ibu dan ayah juga setuju.." jawab Nuraini.


"Eh.. Selamat ya mbak Widya.." ucap bu Santi sambil memegang tangan ibuku.


"Papa, mama.. Happy anniversary ya..? Aku ada kado buat papa dan mama.." ucap Naia sambil memberi kode kepada Silvia.


Silvia seperti terdiam beberapa saat dan mengambil nafas panjang sebelum bicara, "Selama ini kalian sudah sangat baik kepadaku, apalagi setelah kejadian papa dan mamaku.... Kalian sudah menganggapku sebagai anak kalian sendiri, tapi aku selalu menganggap kalian orang lain. Hari ini ijinkan aku memanggil kalian papa dan mama.." ucap Silvia dengan air mata yang meleleh di pipinya.


"Alhamdulillah, inilah yang sebenarnya kami tunggu-tunggu, tentu-tentu kamu boleh memanggil kami seperti itu. Mas Sanjaya, akhirnya aku bisa memenuhi janji kami kepadamu. Sini nak, biarkan papa dan mama memelukmu.." ucap pak Wira sambil memeluk dan mencium kening Silvia. Hal yang sama pula dilakukan bu Santi kepada Silvia.


"Akupun punya hadiah spesial juga buat om Gun.. Mulai saat ini dan seterusnya, apapun yang terjadi, om Gun dan tante Widya adalah ayah dan ibu kami. Happy B'day ayah, semoga ayah dan ibu selalu sehat.." ucap Naia dan Silvia bersamaan dan mencium tangan pak Gunawan dan bu Widya. Terlihat air mata menetes di pipi bu Widya.


Pak Wira kemudian menjelaskan kepada pak Gunawan siapa sebenarnya Silvia, "Eeee, mas Gun, Silvia ini adalah putri dari mas Sanjaya. Dialah yang tahun depan menggantikan posisi mas Sanjaya menjadi Komisaris di Wiryawan Group.." ucap pak Wira.


"Ohhh.. Pantas saja aku seperti familiar dengan wajah cah ayu ini. Dia ternyata anak dik Sanjaya bu.." ucap pak Gunawan kepada istrinya.


Silvia bingung dengan apa yang baru saja dia dengar, "Tahun depan aku menjadi komisaris dari salah satu perusahaan terbesar di negara ini..? Apa mereka sedang bercanda..?" gumam Silvia dalam hati. Kemudian Silvia memberanikan diri untuk bertanya, "Eeee.. Maaf pa, maksudnya bagaimana pa..? Bukankah perusahaan papaku sudah diambil oleh paman-pamanku..? Bagaimana bisa......" tanya Silvia bingung.


"Akan papa ceritakan, kisah kami bertiga.. Semua ini bermula saat Karman adik tiri papa, dengan segala kelicikan dan tipu dayanya berhasil mencoret papa dari daftar ahli waris Kusuma Group, sehingga papa tidak memiliki apapun setelahnya. Mas Gunawan dan mas Sanjayalah yang menyelamatkan papa. Lalu kami mendirikan sebuah perusahaan komanditer yang kami beri nama CV. Wira Guna Jaya, yang merupakan gabungan dari nama kami. Karena papa tidak memiliki apa-apa, hanya bermodal tenaga dan pikiran saja, papa bekerja dengan segenap kemampuan papa untuk menjalankan perusahaan itu, dibantu oleh mas Sanjaya, papamu. Kami mulai mengerjakan proyek-proyek kecil hingga kami bisa berkembang mendirikan sebuah PT. Karena waktu itu nama PT harus terdiri dari dua kata, mas Gunawan meminta agar namanya saja yang tidak dimasukkan. Singkat kata, berdirilah PT. Wira Jaya yang berkembang sampai saat ini, dengan mas Gunawan dan mas Sanjaya sebagai komisarisnya.." pak Wira menghentikan ceritanya sejenak untuk minum. 


Pak Wira melanjutkan ceritanya, "Kemudian kami bertiga sepakat, saat umur kalian 21, maka kepemilikan perusahaan akan beralih kepada kalian. Papa sebagai direktur akan digantikan Naia, mas Sanjaya akan diganti dengan Silvia dan mas Gunawan sudah digantikan oleh Nuraini, sedangkan kami hanya akan menjadi mentor kalian sampai kalian siap kami lepas dan menjalankan perusahaan.. Oiya Silvia, masalah perusahaan papamu yang diambil oleh paman-pamanmu itu merupakan perusahaan uji coba dari papamu, makanya sebentar saja sudah bangkrut.. Setelah kejadian yang menimpa papamu, papa memakai nama papamu di depan nama papa, menjadi Sanjaya Wirakusuma dan berjanji untuk menjadikanmu putri kami.."


Naia mendengarkan cerita papanya, kemudian dia bertanya, "Jadi Nur adalah komisaris Wiryawan Group..? Sejak kapan pa..? Kok aku gak tau..?" tanya Naia.


"Ya sejak Nur ulang tahun ke 21 itu. Kalian masih beberapa bulan lagi. Selanjutnya kami akan pensiun dan menikmati masa tua kami bersama cucu-cucu kami.. Hahahaha.." jawab Pak Wira tertawa.


Nuraini hanya tersenyum saja melihat kebingungan Naia. Memang Nuraini sengaja tidak cerita karena memang hal yang hanya boleh diketahuinya saja waktu itu.


"Nur.. Kok gak cerita sih sama kakak..? Iihhhh.. Jahatnya adikku ini, pakai rahasia-rahasiaan..?" ucap Naia protes.


"Maaf kak, emang sama ayah dan om, Nuraini disuruh merahasiakannya dulu. Lagian Nur juga masih belajar kak, masih didampingi sama om Wira, sekalian nunggu Nur selesai kuliah.." jawab Nuraini.

__ADS_1


Kemudian pak Wira melanjutkan ceritanya.


__ADS_2