Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Pembuktian


__ADS_3

Mbah Sastro menjelaskan kepada Dewa bahwa ada kitab lain yang menjadi pasangan kitab Kalimasada. Kitab yang menjadi penyeimbang sekaligus pelengkap dari kitab Kalimasada, "Apa nama kitab itu guru..? Bagaimana sebuah kitab bisa memiliki pasangan..? Lalu darimana asal kitab itu..?" tanya Dewa sangat ingin tau.


"Hehhehhehhe.. Kitab itu bernama kitab Kilisuci, tapi kitab itu hanya bisa dipelajari oleh wanita. Sedangkan kitab kalimasada hanya bisa dipelajari oleh laki-laki.." jawab mbah Sastro, kemudian menarik nafas panjang sebelum mbah Sastro melanjutkan penjelasannya, "Sebenarnya setiap yang ada di dunia ini mempunyai pasangannya, contohnya ada kanan dan kiri, terang dan gelap, laki-laki dan perempuan, matahari dan bulan, siang dan malam, dan lain sebagainya. Hal itu juga berlaku pada Kitab Kalimasada yang mempunyai pasangan yaitu Kitab Kilisuci. Keduanya memiliki energi yang berbeda, satu maskulin dan yang satunya feminim, dimana kedua energi ini sama besarnya. Sifat kedua energi ini berlawanan tapi keduanya juga bisa saling melengkapi dan menyeimbangkan satu sama lain.."


"Lalu siapa yang membuat kedua kitab itu guru dan apa isi dari kitab Kilisuci, apakah sama dengan kitab Kalimasada..?" tanya Dewa


"Aku juga tidak tau siapa yang mengarang kedua kitab itu. Tapi siapapun yang mengarangnya, beliau pasti orang yang sangat memahami kehidupan ini dan memiliki kedekatan dengan Sang Sumber Hidup. Kitab Kalimasada dan Kilisuci berisi ajaran dan ilmu yang berasal darijaman leluhur jawa kuno. Aku sendiri tidak tau apa isi dari kitab Kilisuci, karena dulu isi kedua kitab itu diajarkan turun temurun secara lisan, dan pada beberapa abad terakhir ditulis menjadi sebuah kitab. Mungkin kitab yang tertulis sekarang hanyalah 10% dari keseluruhan isinya.." mbah Sastro menjelaskan dengan serius.


"Hah..? Hanya 10% guru..? Bagaimana bisa..?" tanya Dewa


"Hehhehhehhe… Ya pada kenyataannya memang seperti itu, karena diajarkan secara lisan, tentunya banyak yang terlupakan. Dan yang terpenting sebenarnya bukan seberapa banyak mempelajari ilmu atau ajarannya, tapi seberapa banyak kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.." jawab mbah Sastro.


Jawaban mbah Sastro menyadarkan Dewa akan hal yang paling penting dari mempelajari ilmu, yaitu mengamalkan ilmu yang sudah di pelajari, "Benar yang guru katakan, percuma saja mengetahui banyak ilmu tapi tidak bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.. Itulah mengapa guru pernah mengatakan bahwa ilmu itu kelakone kanthi laku, tidak hanya sekedar teori belaka.." gumam Dewa dalam hati.


Mbah Sastro melanjutkan wejangannya, "Tapi ingat, jangan pernah hubungkan ajaran kitab Kalimasada atau Kilisuci dengan agama apapun. Walaupun kamu telah mempelajari kitab Kalimasada, syariat dari agama yang kamu peluk harus tetap kamu jalankan. Bagaimanapun agama itu mengatur hubunganmu dengan manusia lain dan Tuhan, sedangkan kitab Kalimasada yang kamu pelajari adalah agar kamu terhubung dengan rasa sejatimu sendiri atau yang disebut dengan Sang Diri Sejati, sehingga lakumu akan selaras dengan energi alam semesta.." mbah Sastro menarik nafas panjang sebelum melanjutkan wejangannya, "Jadi baik kitab Kalimasada maupun Kilisuci itu adalah laku ilmu peninggalan dari leluhur yang bisa juga sebagai tambahan dari laku makrifat yang sudah diatur oleh agama yang kamu peluk.."


Dewa memahami apa yang disampaikan gurunya itu, "Baik. Saya paham guru.."Jadi kitab Kilisuci hanya boleh dipelajari oleh wanita saja guru..?" keingintahuan Dewa semakin besar setelah mendapat wejangan dari mbah Sastro.


"Ya itu benar, seperti yang sudah aku katakan tadi bahwa energi feminim yang terkandung dalam kitab kilisuci lebih dominan. Sebaliknya dengan kitab Kalimasada yang lebih dominan adalah energi maskulin. Jadi kamu bisa bayangkan jika salah mempelajarinya sehingga seorang laki-laki lebih besar energi feminimnya atau sebaliknya, apa yang terjadi..?" mbah Sastro mengajak Dewa berfikir dengan pertanyaannya.


"Mereka akan keluar dari kodratnya sebagai laki-laki atau perempuan. Lebih parahnya lagi adalah penyimpangan perilaku seksual.. Apakah seperti itu guru..?" tanya Dewa untuk memastikan jawabannya.


"Ya begitulah sederhananya.. Hehhehhehhe.." jawab mbah Sastro singkat.


Obrolan mereka terus berlanjut, mbah Sastro dengan sabar menjawab setiap pertanyaan Dewa, menjawab rasa penasarannya, walaupun ada beberapa hal yang tidak disampaikan mbah Sastro karena memang masih menjadi rahasia. Mereka mengobrol hingga lupa waktu, tak terasa jam dinding sudah menunjukkan jam 2 pagi. Mbah Sastro pun berpamitan kepada Dewa. Seperti biasa, mbah Sastro selalu memberikan wejangan penutup sebelum beliau pergi, "Ingat, rasa penasaran yang berlebihan justru akan mencelakakanmu. Jadi kendalikan rasa penasaranmu. Kalau memang kamu ditakdirkan tau tentang kebenarannya, maka kebenaran itu akan mencari jalannya sendiri untuk sampai kepadamu.. Kuncinya adalah kendalikan rasa penasaranmu.." ucap mbah Sastro sambil menepuk pundak Dewa.


"Terimakasih guru.. Aku akan selalu mengingatnya.." jawab Dewa sambil mengantar mbah Sastro sampai depan pagar.


Dewa masuk ke dalam rumah setelah tidak melihat lagi sosok mbah Sastro. Kata-kata mbah Sastro sebelum beliau meninggalkan rumah terngiang di telinganya. Dewa teringat pertemuannya dengan Niko di hotel, "Mungkin memang belum waktunya aku tau siapa perwira yang terlibat dalam kasusku. Aku harus setahap demi setahap untuk mengungkap kasus ini.. Selanjutnya adalah menemui penembak jitu itu.." gumamnya dalam hati.


*****


Sementara itu, Loreng sudah sampai di sasana sejak jam delapan malam. Demi menunggu Dewa, dia sampai tidur di sasana bersama dengan Kosim dan Icong, sementara Roni memilih untuk pulang ke rumahnya. Sebelum pulang Roni berpesan kepada Loreng, "Reng kamu tunggu aja bos disini. Jangan hubungi bos dulu, sepertinya waktu bos sekarang untuk kedua nyonya bos.." ucap Roni.

__ADS_1


Keesokan paginya Dewa segera menuju sasana, kondisi sasana tidak begitu ramai, hanya beberapa orang saja yang terlihat berlatih fitnes disana. Dewa memarkir mobilnya di depan sasana. Dia sengaja datang pagi hari untuk membicarakan jadwal latihan Naia dan teman-temannya kepada Roni. Mengetahui Loreng berada di dalam sasana, Dewa langsung bertanya kepada Loreng, "Lah.. Roni bilang kamu ke kabupaten AE buat urus kompetisi..? Udah selesai urusannya..?" tanya Dewa.


"Sudah beres bos. Hanya membayar biaya pendaftaran sama mengambil nomor registrasi saja, terus sekalian urus penginapan buat petarung dan officialnya bos.." jawab Loreng.


"Sip kalau begitu.. Oiya, Roni mana..?" sambung Dewa.


"Belum datang bos.. Sebentar aku wa dulu dia. Paling juga masih tidur.." jawab Loreng lalu mengirim pesan kepada Roni bahwa Dewa sedang menunggunya di sasana.


"Wah bos sudah datang..? Ada apa bos..?" tanya Icong.


"Mau ketemu Roni, itu mau tanya jadwal latihan buat cewek-cewek kemarin itu.." jawab Dewa sekenanya.


"Bos kapan latihan larinya..? Yang bos bilang kemaren itu, kalau boleh saya mau ikut bos.. Bang kosim mau ikut juga..?" tanya Icong diikuti anggukan Kosim.


"Lari kemana..? Kok gak ajak-ajak..?" tanya Loreng


"Ke gunung, kalau mau ikut gak pa pa. Nanti jam sembilan gimana..? Kita start dari depan balai desa saja.. Kalian gak usah bawa beban dulu, lari aja biasa sekalian menghafalkan rutenya.. Gimana..?" tantang Dewa kepada mereka.


Mendengar rute yang akan mereka lalui, Loreng langsung menyerah, "Aduh.. Aku pikir kemana, gak lah.. Gak jadi ikut.." sahut Loreng.


"Mana jadwal buat cewek-cewek kemaren..? Dari semalam aku nunggu kamu gak kirim..?" ucap Dewa.


"Oh.. Kemaren sebenarnya mau aku wa ke bos. Tapi kupikir bos lagi sibuk sama nyonya bos, Loreng aja yang mau kasih laporan aku larang. Nah maksudku habis bersepeda mau aku kirim, eh bos datang duluan.." Roni menjelaskan sambil memberiku kertas.


"Ini kok pagi semua yang kosong..? Kalau pagi mereka gak bisa, kan masih ada tugas dari kampus..?" protes Dewa.


"Gini aja bos, kamis ini terakhir latihan buat mereka yang ikut kompetisi. Mulai kamis aja bos, nanti kamis sore aku kosongkan sasana.. Gimana bos..?" jawab Roni.


"Oh.. Oke atur aja lah.. Asal latihan mereka bisa nyaman. Oiya Ron, buat kasih semangat Naia, Silvia dan adikku, itu cewek anak buah Loreng suruh ikut aja.." ucap Dewa.


"Oke bos. Siap laksanakan sesuai perintah.." jawab Roni.


Sebelum pergi, Dewa berkata kepada Kosim dan Icong, "Bang Kosim, Icong, kita kumpul di warung samping balai desa jam sembilan, jangan telat ya..?" ucap Dewa.

__ADS_1


"Emang ada apa bang..?" tanya Roni kepada Kosim.


"Mau ikut latihan bos.." jawab Kosim singkat.


Setelah urusannya selesai, Dewa pamit pulang untuk bersiap berlari bersama Kosim dan Icong. Loreng yang ingin memberi laporanpun terpaksa dia pending sampai sore hari.


*****


Jam sembilan tepat Dewa, Kosim dan Icong berkumpul di warung samping balai desa, "Eh.. Ini tas apa bos..? Berat banget..?" tanya Icong mencoba mengangkat tas beban Dewa.


"Tas beban, buat lari.." jawab Dewa sambil memasang tas di punggungnya


Mereka pun bersiap. Dewa sudah hafal semua rute yang ada di Gunung Wilis, rencana Dewa akan memilih rute yang paling ringan. Setelah aba-aba dari Dewa, mereka pun mulai berlari. Awalnya mereka masih bisa mengikuti Dewa, tapi saat mulai memasuki wilayah jalan pegunungan mereka terlihat keteteran, apalagi saat jalan itu naik dan berbatu, "Edan tenan... Bos itu manusia apa siluman sih..?" gumam Icong dalam hati.


"Pantas gerakan bos lincah dan ringan. Dengan beban seberat itu, bos masih bisa berlari dengan stabil di rute seperti ini.." pikir Kosim.


Tidak terasa sudah lima kilometer mereka berlari. Hari makin panas, Kosim dan Icong mulai kehabisan tenaga mereka. Mengetahui kondisi fisik mereka, Dewa mengubah rute menuju sungai yang mengalir di lembah Wilis. Kondisi fisik yang lelah dan jalanan yang turun membuat Kosim dan Icong berulang kali terjatuh. Dewa menghentikan larinya setelah berada di pinggir sungai, sungai daerah pegunungan yang sangat jernih airnya, "Kita istirahat disini saja.." ucap Dewa santai lalu menurunkan tasnya dan turun ke sungai untuk minum.


Dengan nafas yang memburu Icong berjalan ke arah sungai, "Hosh.. hosh.. hosh.. C-capek b-bos. Gak k-kuat lagi aku lari.." ucap Icong tersengal.


Setelah sepuluh menit beristirahat, Dewa mengajak mereka untuk lari lagi dan menawarkan rute kepada mereka sebelum mulai berlari, "Kita lewat jalur tadi, tapi naik dulu kesana atau menyusuri sungai ini. Kalau lewat sungai jaraknya jadi lebih jauh, selisih sekitar dua kilometer.." Dewa menjelaskan kepada mereka.


"Lurus saja bos. Membayangkan naik aja udah ngeri.." jawab Kosim.


Mereka berlari lagi dengan menyusuri sungai. Setelah sekitar lima belas menit berlari, mereka mulai kehabisan nafas lagi. Dewa sangat paham dengan kondisi fisik mereka, "Kalau gak kuat kalian jalan aja, ikuti aja sungai ini sampai ketemu bendungan kecil. Dari sana kalian belok kanan, nanti akan tembus di jalan setapak dekat balai desa.." ucap Dewa, setelah melihat anggukan mereka, Dewa melanjutkan larinya dan meninggalkan mereka.


Setelah sekitar sepuluh menit, Dewa telah sampai di warung samping balai desa dan memesan kopi tanpa gula minuman favoritnya. Sepuluh menit kemudian mereka berdua pun sampai. Dewa hanya tersenyum melihat kondisi mereka, "Kalian pesan minum gih, asal jangan es saja. Sebaiknya kalian minum hangat saja.." ucap Dewa


"Teh hangat saja bu, dua ya bu.." ucap Icong memesan.


"Eee.. Sekalian tolong buatkan mereka air hangat dikasih gula sama garam sedikit bu.." sambung Dewa.


"Eh bos.. Buat apa..? Itu kan jadinya oralit..? Kita kan gak diare bos..?" protes Kosim.

__ADS_1


"Itu buat kembalikan cairan tubuh bang. Biar tubuh cepat pulih dan gak dehidrasi.." jawab Dewa.


Mereka akhirnya percaya dengan cerita Dewa saat di sasana waktu itu.


__ADS_2