Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Kembali ke kota AB


__ADS_3

Mbah Sastro memperhatikan Yuma dan yang lainnya satu per satu dengan seksama untuk mempelajari karakter dan sifat dari masing-masing orang. Setelah beberapa saat, mbah Sastro terkekeh dan mulai memberikan penjelasan, "Hehhehhehhe.. Sebelum kalian belajar ada hal yang harus kalian tau, bahwa yang kalian pelajari bukanlah sesuatu yang mudah dan sangat berat. Disini aku hanya membimbing kalian saja, keberhasilan kalian tergantung diri kalian sendiri.." tanya mbah Sastro.


"Aku akan berusaha dengan segenap kemampuanku kek, aku mohon kakek mau membimbingku.. Aku merasa dengan belajar dari kakek, aku akan lebih bisa membantu bang Dewa, tidak hanya menjadi beban baginya.." jawab Tiara dengan penuh keyakinan.


"Hehhehhe.. Bagus, aku bisa merasakan keyakinan di dalam dirimu, namun keberhasilanmu, selain keyakinan yang kuat juga tergantung pada usaha dan kerja kerasmu.." jawab mbah Sastro.


"Lalu bagaimana aku belajar bersama mbah Sastro kalau harus ikut bos ke kota AB..?" tanya Sandhi.


"Hehhehhe.. Jangan berfikir terlalu berlebihan, jalani saja dan ikuti saja perintah nak Dede. Dia sudah memperhitungkan semuanya.." sahut mbah Sastro.


"Aku juga akan berusaha dengan sungguh-sungguh kek.." sahut Yuma dan yang lainnya pun mengucapkan hal yang sama.


"Hehhehhe.. Baiklah, sebagai langkah awal aku ingin kalian tertib dan bersungguh-sungguh menjalankan sholat lima waktu, sebisa mungkin lakukan secara berjamaah.. Aku melihat beberapa dari kalian masih malas melakukannya.." ucap mbah Sastro.


Loreng dan Yuma merasa bahwa mbah Sastro sedang menyindir mereka. Dengan tanpa ragu, Loreng dan Yuma mengakui bahwa mereka sering meninggalkan sholat terutama waktu shubuh, "Benar yang mbah katakan, aku sering meninggalkan sholat shubuh.. Tapi mulai hari ini aku akan berusaha menjalankan sholat lima waktu dengan tertib.." ucap Loreng dan diikuti anggukan Yuma.


Mbah Sastro tersenyum mendengar kesunggugan teman-teman Dewa, kemudian memberikan perintahnya, "Jadi mulai besok aku menunggu kalian di musholla ini sebelum magrib. Kita lakukan jamaah sholat magrib dan isya' di sini, kemudian aku akan mengajari kalian membangkitkan dan menggunakan kekuatan spiritual.." ucap mbah Sastro.


"Maaf mbah, bos pernah mengajari kami tentang tenaga dalam, apakah itu sama dengan kekuatan spiritual..?" tanya Roni.


"Tidak, sangat berbeda. Tenaga dalam itu adalah kekuatan fisik kalian, sedangkan kekuatan spiritual adalah kekuatan batin kalian. Pada tingkatan lebih tinggi lagi, maka kalian dapat bertemu dengan Sang Guru Sejati. Tapi disini aku hanya akan mengajari kalian bagaimana membangkitkan kekuatan spiritual saja, maka dari itu aku memerintahkan agar kalian memperbaiki sholat kalian dahulu.." jawab mbah Sastro kemudian mengakhiri wejangannya.


Setelah berpamitan, Yuma dan yang lainnya kembali ke sasana, sedangkan Dewa dan mbah Sastro melanjutkan perbincangan mereka di rumah Dewa dengan menikmati secangkir kopi.


"Guru, apakah tidak menjadi masalah jika Tiara belajar dari guru..?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Hehhehhe.. Tidak masalah jika dia belajar hanya sebatas kanuragannya saja. Dia sudah terlatih, kekuatan fisiknya jauh diatas perempuan pada umumnya. Tapi jika dia ingin mempelajari lebih mendalam lagi, maka dia harus belajar kitab Kilisuci.." jawab mbah Sastro.


"Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih kepada guru atas kesediaan guru membimbing mereka. Dengan begini, aku menjadi lebih tenang.." ucap Dewa.


"Sudahlah, tidak perlu berterima kasih. Bagaimanapun ini adalah kewajibanku juga untuk membimbing mereka. Justru tugas berat ada di pundakmu untuk memastikan mereka menggunakan kekuatannya di jalan yang benar.. Ini sudah larut malam, aku permisi dulu.." ucap mbah Sastro kemudian menghabiskan kopi yang tersisa di cangkirnya.


Dewa mengantarkan kepergian mbah Sastro hingga depan pagar rumahnya dan segera masuk setelah tidak lagi melihat gurunya.


*****


Pagi itu suasana di balai desa Lerengwilis cukup ramai, kepala desa dan perangkatnya mengadakan acara serah terima proyek KKN sekaligus pelepasan kelompok KKN Naia dan teman-temannya.


Pagi itu, Dewa berkumpul dengan teman-temannya di ruang kantor sasana Lerengwilis untuk membahas beberapa hal sebelum dia berangkat ke kota AB. Di saat yang sama, beberapa alat berat juga sudah mulai didatangkan oleh perusahaan kontraktor di lokasi gudang untuk persiapan pembangunan pusat pelatihan keamanan, "Salam tuanku, ada hal yang ingin aku laporkan. Saat ini beberapa peralatan besar datang di depan gudang milik tuanku. Apakah tuan yang mendatangkannya..?" Gandarwamaya tiba-tiba datang sehingga Dewa menghentikan pembicaraan dengan Roni dan yang lainnya.


Dewa menganggukkan kepalanya, kemudian berpesan kepada Gandarwamaya, "Salam.. Benar, tolong jagalah peralatan-peralatan itu. Jangan sampai, baik dari bangsamu maupun bangsa manusia merusaknya. Juga dalam beberapa hari kedepan, bangunan gudang itu dihancurkan dan kemudian akan diganti dengan bangunan baru. Perkuatlah pembatasmu agar kerajaanmu tidak ikut terkena dampaknya. Dan para pekerja yang bekerja disana, mereka semua adalah keluargaku, jangan ganggu mereka kecuali yang mempunyai niat jahat.." ucap Dewa.


"Untuk apa..? Apakah kamu ingin dipuja dengan persembahan..?!" jawab Dewa dengan nada meninggi.


"Maaf tuan, bukan seperti itu. Selamatan yang tuan lakukan berfungsi membuat pembatas dari dunia tuan. Sehingga tidak hanya pembatas dari alam kami saja, tapi juga dari alam tuan. Mohon tuan jangan salah paham.." jawab Gandarwamaya dengan merendah.


"Oh.. Maaf aku telah salah sangka kepadamu. Baiklah, aku akan mengadakan selamatan, tapi dengan tata cara agamaku. Dan satu lagi, tidak ada sesajen atau apapun, yang aku lakukan adalah bentuk sedekah sebelum melakukan sesuatu.." ucap Dewa tegas.


"Aku setuju dengan tuan, kami bangsa jin tidak sama dengan bangsa siluman, kami tidak membutuhkan sesajen atau persembahan. Kalau begitu, aku mohon diri tuan.." ucap Gandarwamaya sebelum dia pergi kembali ke kerajaannya.


Setelah kepergian Gandarwamaya, Dewa kembali melanjutkan pembahasan bersama teman-temannya, "Baru saja aku mendapat kabar, alat berat sudah didatangkan dan dalam beberapa hari ini pembangunan pusat pelatihan akan dilaksanakan. Kalian jalankan sesuai dengan yang sudah kita bahas kemarin.." ucap Dewa.

__ADS_1


"Lalu kapan bos akan ke kota AB..? Apakah aku sekalian berangkat bersama bos..?" tanya Sandhi.


"Mungkin besok pagi aku akan berangkat, dan sementara kamu disini dulu sampai aku memintamu untuk berangkat.. Satu hal lagi, kalian berlatihlah kekuatan spiritual dengan sungguh-sungguh.." jawab Dewa.


"Siap bos.." jawab mereka serempak.


*****


Sementara itu di kota B, berada di salah satu rumah mewah, Baros terlihat sedang menemui seseorang di ruang pribadinya, "Bagaimana panglima, apakah pertapaanmu sudah selesai..?"


"Sudah pangeran, sekarang wujud harimauku sudah sepenuhnya dapat aku sembunyikan dan aku bisa berwujud manusia seperti pada umumnya. Hanya di bagian punggung masih ada sedikit kulit harimau.." jawabnya.


"Bagus..., berarti kemampuanmu sekarang sudah tidak perlu aku ragukan lagi dan mulai sekarang pakailah nama Sulam.." ucap Baros.


Sulam adalah siluman harimau dan merupakan salah satu panglima dari raja kegelapan yang sudah berumur ribuan tahun. Umur yang panjang membuat kesaktian Sulam sangat tinggi, setelah melakukan pertapaan selama beberapa tahun, dia bisa memiliki tubuh seperti manusia.


"Baik pangeran, aku mengikuti segala perintah pangeran. Apa tugas yang akan pamgeran berikan sekarang..?" tanya Sulam.


"Sebelum kamu mencari tubuh Kilisuci dan Candrakirana, aku ingin kamu habisi Wakil Presiden Nurdiono, tapi buat seakan-akan dia terkena serangan jantung.." ucap Baros.


"Apakah pangeran ingin menduduki posisi itu..? Mengapa tidak langsung presiden saja yang aku habisi..? Dengan demikian pangeran bisa langsung memimpin negeri ini.."


"Tidak.. Sudahlah lakukan saja perintahku, sisanya aku yang akan melakukannya. Aku ingin semua tampak wajar dan masuk akal sehingga tidak membuat kegaduhan.." ucap Baros.


"Baik pangeran, kalau seperti itu aku mohon diri. Dalam waktu tujuh hari, aku jamin Nurdiono akan bertemu ajalnya.." ucap Sulam kemudian berubah menjadi asap hitam dan menghilang dari hadapan Baros.

__ADS_1


*****


Pagi itu Dewa, Naia, Silvia dan Nuraini terlihat bersiap untuk berangkat ke kota AB. Barang yang akan mereka bawa kembali ke kota AB sudah masuk semua ke dalam bagasi mobil. Tepat jam 7 pagi mereka berangkat ke kota AB.


__ADS_2