Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Menempati rumah baru


__ADS_3

Kosim segera kembali ke gudang setelah mengantar pulang Dewa. Sementara itu, di gudang Roni, Loreng dan Icong menunggu kedatangan petugas kepolisian. Setelah hampir satu jam menunggu, polisi akhirnya datang ke tempat kejadian perkara. Polisi segera mengamankan para tersangka dan barang bukti ratusan kilo sabu-sabu yang berada dalam kotak kayu, dan beberapa paket besar daun ganja kering yang ada di dalam tas berwarna merah. Husain sendirilah yang memimpin penangkapan terhadap Komeng dan teman-temannya, "Cepat tangkap mereka semua dan amankan barang buktinya..!" perintah Husain.


"Ini masih ada lagi empat kota yang tadi saya amankan disini pak.." ucap Loreng sambil menunjukkan kotak lainnya.


"Bagus Ron, om bangga padamu. Memang seharusnya begini menjadi pemuda, bisa menjadi garda terdepan dalam keamanan minimal di wilayah masing-masing.. Tanpa peran serta masyarakat, terutama pemuda, Narkoba akan sangat sulit untuk diberantas.." puji Husain.


"Sebenarnya bukan saya om, semua ini berkat teman saya, itu dia orangnya.." jawab Roni sambil menunjuk Loreng.


"Siapapun itu tidak penting. Yang penting kalian bisa menjaga keamanan wilayah kalian, terutama terhadap peredaran Narkoba. Karena barang haram ini setiap saat mengincar anak-anak kalian dan menghancurkan masa depan mereka.. Sekarang jelaskan secara rinci kejadiannya kepada petugas itu.." ucap Husain sambil menunjuk anak buahnya.


Roni dan Loreng menceritakan kronologi kejadiannya. Mereka menceritakan mulai dari kecurigaan Loreng hingga bagaimana mereka dapat melumpuhkan Komeng dan anak buahnya, sedangkan Kosim dan Icong hanya mengiyakan apa yang diceritakan oleh Loreng dan Roni. Mereka sama sekali tidak menyebutkan nama Dewa sekalipun untuk menjaga kerahasiaan identitas bos mereka itu.


"Sementara cukup, besok kalian berempat datang ke kantor untuk melengkapi berkas perkaranya. Tenang aja, kalian pasti aman.." ucap petugas itu.


"Lapor ndan, untuk oleh TKP sudah cukup. Tinggal besok mereka berempat melengkapi berkas pemeriksaannya.." ucap petugas lainnya.


"Baik. Bawa semua barang bukti dan tersangkanya. Kita kembali ke kantor.." ucap Husain kepada anak buahnya. Kemudian Husain berkata kepada Roni, "Kalian pulang saja dulu, besok pagi atau siang datang ke kantor, aku tunggu kalian.." ucap Husain.


Husain dan anak buahnya bersiap hendak meninggalkan lokasi kejadian, tapi Loreng meminta sesuatu kepada Husain, "Sebentar pak, mbok saya minta tolong, perintahkan anak buah bapak untuk menemani saya mengambil motor saya yang di dekat kuburan. Disana angker pak, banyak setannya.." kata Loreng memohon.


Seluruh petugas yang ada disana pun tertawa mendengar permintaan Loreng, tak terkecuali Husain, "Hahahaha.. Badan aja gedhe, tapi takut sama setan.. Sudahlah, setan itu gak akan ganggu manusia selama manusia itu percaya dan yakin terhadap Tuhannya.." ucap salah satu petugas.


"Ah.. Kamu bikin malu aja bang, udah biarkan bapak-bapak ini kembali bertugas, nanti biar aku temani kamu.." sahut Icong.


Akhirnya semua meninggalkan gudang, Loreng ditemani Icong mengambil motornya yang di dekat makam. Kemudian terlihat mereka mengendarai motor sambil ngebut dan berteriak seperti orang gila, "Kuntilanaaaaakkk... Tolooooonggg... Ada kuntilanaaaakkk.." teriak mereka berdua.


"Xixixixixixixi......"


*****


Hari berlalu dengan cepat, matahari mulai mengintip dari balik awan di langit sebelah timur. Naia, Silvia dan Nuraini tampak bersemangat pagi ini, karena pagi ini adalah hari dimana mbah Binti dan Kartika pulang ke rumah mereka. Naia terlihat telah rapi saat menyuguhkan kopi kepada Dewa, "Ini sayang kopinya.. Semalam pulang jam berapa..? Emang ada apa sih kok sampai kita disuruh pulang dulu..?" tanya Naia heran.


"Terus semalam mas diantar sama siapa lho..?" sambung Silvia.


Dewa menceritakan kejadian semalam secara detail kepada Naia dan Silvia. Mereka mendengarkan cerita itu tanpa menyela sedikitpun hingga Dewa selesai bercerita. Naia yang penasaran langsung bertanya kepada Dewa, "Emang mas tau itu sabu-sabu dari mana..?" tanya Naia penasaran.


"Aku dulu sering menjalankan misi membongkar sindikat perdagangan narkotika internasional. Kadang di dalam negeri, kadang bersama pasukan gabungan di luar negeri. Jadinya paham jenis-jenis narkotika dengan sekali lihat.." jawab Dewa, kemudian  menceritakan sedikit pengalamannya waktu bertugas menyergap dan menangkap pelaku penyelundupan narkotika di perbatasan.

__ADS_1


"Emang mas dulu juga saling tembak gitu pas bertugas..? Terus sekarang masih pegang juga senjatanya..?" tanya Naia.


"Iya, kalau mereka melawan ya kita lawan balik. Senjata, eemmm.. sudah aku buang waktu melarikan diri.." jawab Dewa berbohong.


Tiba-tiba Nuraini berteriak, "Kak Naia.. Hadiah buat Kartika dimana ya..?"


"Oh.. Udah aku masukkan tas dik, coba deh cek di tas warna kuning itu.." jawab Naia.


"Yaudah yuk kita berangkat..? Roni barusan kasih kabar, mereka sudah menjemput mbah Binti sama Kartika.." ucap Dewa.


*****


Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah mbah Binti, suasana di lingkungan rumah mbah Binti cukup ramai, tetangga mbah Binti begitu antusias menyambut kedatangan beliau dan cucunya. Tepuk tangan para tetangga menyambut kedatangan mbah Binti dan Kartika mulai dari depan gang sampai di depan rumahnya. Naia dan Silvia segera mengajak mbah Binti masuk ke dalam rumahnya, tapi beliau tampak ragu-ragu, "I-ini rumah siapa nak..?" tanya mbah Binti kepada Naia


"Ini rumah nenek dan Kartika. Mari nek kita masuk.." ajak Naia.


Dengan mata berkaca-kaca, mbah Binti melangkah masuk ke teras rumahnya. Belum sempat mbah Binti masuk rumah, rombongan pak kepala desa datang bersama dengan seorang hasip desa yang mendorong gerobak angkringan. Naia mengajak mbah Binti masuk rumah dan mempersilahkan pak kades dan aparat desa untuk masuk ke dalam rumah juga. Kepala Desa Lerengwilis secara simbolis menyerahkan paket bantuan usaha kepada mbah Binti, "Mbah Binti, ini ada sedikit bantuan usaha dari pemerintah desa. Jadi mbah Binti gak perlu lagi jadi tukang cuci baju atau setrika. Cukup jualan saja di rumah, dan ini sekedar untuk beli kebutuhan mbah Binti selama usahanya belum lancar.." ucap pak kepala desa sambil memberikan amplop berwarna coklat kepada mbah Binti disambut dengan tepuk tangan dan sorak soria para tetangga mbah Binti.


Mbah Binti menerima pemberian Kepala Desa dengan tangan bergetar, kemudian sambil meneteskan air mata, mbah Binti berkata, "Ya Allah.. Aku merasa belum pernah berbuat kebaikan untuk hidup ini, tapi Engkau telah memberikan aku anugrah yang sangat besar.. Jadikan anugrah ini sebagai jalan untukku dan cucuku lebih mendekatkan diri kepadaMu ya Allah.. Alhamdulillah.." mbah Binti pun bersujud diikuti oleh Kartika.


Silvia keluar dari dapur dengan membawa tumpeng nasi kuning dan diletakkan di meja yang sudah disiapkan. Sesaat setelah mbah Binti bangun dari sujudnya, Silvia meminta mbah Binti untuk memotong nasi tumpeng,"Nek, dipotong dulu tumpengnya, untuk selamatan nenek menempati rumah baru.." kemudian mbah Binti memotong tumpeng, "Potongannya buat pak kepala desa saja Nek.." ucap Silvia, kemudian mbah Binti menyerahkan potongan tersebut kepada Kepala Dewa.


Dewa menerima potongan itu, kemudian memberikan suapan pertama kepada Nuraini yang telah menjadi pimpro dari renovasi rumah mbah Binti, kemudian suapan selanjutnya untuk Naia dan Kartika.


"Terimakasih nak Dede, terima kasih pak kades, semoga Allah membalas kebaikan kalian.." do'a mbah Binti.


"Aamiin.. Aamiin.."


"Mari pak, ini tumpengnya mari dimakan bersama-sama biar berkah. Pak RT, pak Kasun, sini pak kita nikmati bareng-bareng.." ucap pak kades.


Setelah menghabiskan tumpeng, dan cukup mengobrol dengan mbah Binti dan yang lainnya, pak kades pamit kembali ke kantor desa, "Mbah Binti, karena ini masih jam kerja, kami mau pamit dulu kembali ke kantor.." ucap pak kades lalu meninggalkan rumah mbah Binti.


Mbah Binti menatap Naia, Silvia dan Nuraini secara bergantian, air mata beliau seakan tidak ada habisnya menetes di pipi keriputnya, "Kalian bertiga adalah dewi yang dikirimkan kahyangan. Iya benar, aku yakin. Kalian adalah dewi.." ucap mbah Binti lirih sambil bergantian menyentuh pipi mereka bertiga.


"Bukan Nek, kami bukan dewi nek.." jawab Naia.


"Oiya, kakak hampir lupa. Itu kak Naia dan Kak Nur punya hadiah juga buat Kartika.." ucap Silvia kepada Kartika.

__ADS_1


"Ahh bener, untung aja kak Silvia ingetin.. Ini laptop buat Tika sekolah, kalau ada tugas bisa dikerjakan disini, gak perlu lagi pinjam sama temannya lagi.." ucap Nuraini.


"Terimakasih kak.. Terimakasih. A-aku...." ucapan Kartika terhenti karena tangisnya.


"Nak, kami sudah merepotkan kalian semua. Sungguh aku tidak tau bagaimana membalas kebaikan kalian. Hanya do'a saja yang bisa aku berikan untuk kalian, semoga Sang Maha Kaya membalas kebaikan kalian semua.." do'a mbah Binti sambil menangis.


"Mbah kami sama sekali tidak merasa kerepotan. Kami menjalani ini dengan perasaan suka cita. Bahkan warga sekitar juga ikut membantu.." ucap Dewa.


"Benar nek, kami ikhlas mengerjakan semua ini.." sambung Nuraini lalu mengajak mbah Binti melihat tiap ruangan yang ada di rumahnya, "Mari mbah kita lihat-lihat dalam rumah.." ucap Nuraini.


Tidak berselang lama, datang wali kelas ditemani guru BK dari sekolah Kartika, "Perkenalkan, saya bu Sukma, wali kelas kartika dan beliau ini bu Dina, guru BK di SMP Bina Bangsa.." ucap bu Sukma memperkenalkan diri.


"Eeee.. Ini pasti mbak Naia dan mbak Silvia ya..? Maaf kalau mas ini pasti om Dede yang sering diceritakan Kartika.." sahut bu Dina.


"Wah ternyata masih muda, seumuran dengan Bu Dina ya.. Sepertinya cocok juga dengan bu Dina.." celetuk bu Sukma.


"Bu Sukma ini bisa saja.." sahut bu Dina tersipu.


Mendengar ucapan bu Sukma dan bu Dina, Naia langsung menatap Dewa dengan tatapan tajam yang membuat Dewa salah tingkah.


Kemudian bu Sukma menjelaskan maksud kedatangannya, "Eehhmm.. Jadi begini, kedatangan kami kemari, ingin membicarakan masalah pembiayaan sekolah Kartika. Jadi kemarin mbak Naia sudah menitipkan sejumlah uang kepada sekolah. Uang itu kemudian dimasukkan kedalam rekening bank atas nama Kartika sendiri, jadi nanti otomatis pihak bank yang akan membayar untuk biaya sekolah Kartika, selanjutnya kami akan menginformasikan kepada wali Kartika..." ucap bu Sukma.


"Eeee.. Wali dari Kartika disini tertulis bapak Londo Ireng, kami butuh tanda tangan beliau sebagai penanggung jawab dari rekening Kartika, siapa ya bapak Londo Ireng..?" sambung bu Dina.


"Eh.. Siapa itu Londo Ireng..?" Dewa juga bingung.


Tiba-tiba, "Anu.. Itu nama asli saya bos. Disingkat Loreng.." jawab Loreng.


"Oh.. Jadi beliau bapak Londo. Salam kenal pak, saya gurunya Kartika.. Sama ini pak, minta tanda tangan untuk penanggung jawab rekening Kartika.." ucap bu Sukma, kemudian Loreng menandatangani formulir yang diserahkan oleh bu Dina.


Mbah Binti dan Nuraini kembali ke ruang tamu setelah melihat ruangan demi ruangan yang ada di rumahnya sehingga bertemu guru-guru Kartika dan berkenalan dengan mereka.


"Oh.. Ini mbah Binti, nenek kandung Kartika, kalau bapak Londo itu walinya Kartika. Mohon maaf kalau mas dan mbak-mbak nya ini hubungan dengan Kartika apa ya..?" tanya bu Sukma bingung.


"Sebenarnya tidak ada hubungan apapun, hanya saja kami sudah berkomitmen untuk bertanggung jawab atas pendidikan Kartika hingga dia lulus sarjana.." jawab Dewa serius.


"Kartika, dia anak yang cerdas dan mudah bergaul. Sifatnya yang rendah hati disukai oleh teman-temannya. Sungguh beruntung ada yang mau membiayai sekolahnya.." ucap bu Dina.

__ADS_1


Setelah cukup mengobrol, bu Sukma dan bu Dina pun ijin untuk kembali ke sekolah. Tak lama kemudian Dewa dan yang lainnya juga berpamitan kepada mbah Binti, "Mbah Binti, Kartika, kami mohon pamit dulu, semoga kalian betah tinggal disini, dan mbah Binti bisa berjualan di depan rumah saja.." ucap Dewa.


Kartika memeluk Dewa dengan erat. Sambil menangis dia tak henti-hentinya berterima kasih kepada Dewa. Sambil membelai rambut Kartika, Dewa berpesan agar Kartika terus bersemangat dalam belajar, Dewa juga berjanji akan menyekolahkan Kartika hingga dia lulus Sarjana.


__ADS_2