Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Menjadi petarung


__ADS_3

Setelah cukup lama mengobrol dengan Kosim dan Icong di warung samping balai desa, Dewa bergegas pulang untuk membersihkan dirinya, kemudian pergi ke sasana untuk berdiskusi dengan Roni dan Loreng.


*****


Dewa sampai di sasana Lerengwilis, terlihat dua orang sedang memasang kamera cctv di tempat parkir. Dewa bergegas masuk ke dalam sasana, terlihat cctv sudah terpasang rapi di bagian dalam sasana. Dewa tersenyum, tampak kepuasan tersirat di wajahnya, dia pun segera menuju ruang kantor untuk bertemu dengan Roni dan Loreng.


"Kamera bagian dalam udah terpasang rapi, berarti tinggal yang luar aja ya..? Nanti DVR sama TV nya taruh aja ruangan ini aja Ron, biar mudah mengaksesnya.. Terus itu yang nentuin titik pasang kamera cctv siapa Ron..?" tanya Dewa.


"Oke bos. Emang tadi rencananya mau dipasang disini


untuk DVR dan TV nya. Klo yang nentuin titik pemasangan kameranya mereka bos, katanya kamera akan lebih maksimal nangkep gambarnya gitu. Apa perlu dipindah..?" Roni menjelaskan.


#


"Gak usah. Serahkan aja sama ahlinya. Yang penting dengan adanya kamera pengawas, mereka yang datang bisa tenang dan ngerasa aman, dan kita bisa melakukan pengawasan juga.." jawab Dewa.


"Ternyata bos sangat memperhatikan kenyamanan orang-orang yang berlatih juga.. Keren lah bos ini.." puji Roni.


"Ya semua juga demi sasana kita Ron.. Ok, yuk kita mulai diskusi kita.. Bagaimana Reng..? Ada hal apa yang ingin kamu sampaikan..?" tanya Dewa sambil duduk.


"Eeee.. Itu bos, masalah kompetisi bos, jadi sudah menjadi tradisi, di setiap kompetisi semi pro tarung bebas pasti ada pertarungan lain diluar kompetisi.." jawab Loreng.


Dewa bingung mendengar penjelasan Loreng, dia bertanya, "Maksudnya gimana..? Lalu apa hubungannya dengan petarung yang kita kirimkan..?" ucap Dewa. 


Roni mulai membuka suara untuk memperjelas maksud Loreng, "Jadi gini bos, ada pertarungan dimana pesertanya bukan dari petarung yang didaftarkan resmi. Mereka adalah petarung bebas yang sengaja didaftarkan untuk dibuat taruhan, ya bisa dibilang pertarungan terselubung lah, dan biasanya yang taruhan adalah para bos perusahaan besar, pejabat, terkadang dari kalangan artis juga ikut taruhan.. Mereka yang menang dari pertarungan itu, kadang direkrut untuk menjadi pengawal atau bodyguard, bisa juga mereka diberikan tugas untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu.." ucap Roni.


"Lalu kamu ingin aku ikut bertaruh..? Atau ingin aku ikut jadi petarungnya..?" Dewa menatap Roni dan Loreng.


Roni dan Loreng sedikit gugup dengan tatapan Dewa. Mereka khawatir ucapan mereka membuat Dewa marah. Lalu Roni kembali menjelaskan detailnya, "Sebentar bos, ini belum membahas ke arah itu. Jadi petarung yang terdaftar dalam pertarungan terselubung ini rata-rata mereka tidak pernah muncul di ring atau gelanggang. Tapi latar belakang mereka juga tidak sederhana, ada anggota tentara, polisi, bodyguard, bahkan ada yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran juga. Pada dasarnya mereka bertarung untuk harga diri mereka dan untuk mendapatkan uang. Pertarungan terselubung ini tanpa aturan dan tidak memakai pelindung diri. Kemenangan ditentukan dengan lawan yang menyerah atau karena petarung cidera. Petarung yang menang akan mendapat 14% dari total uang yang dimenangkan di dalam taruhan, sedangkan yang kalah mendapat 1%.." ucap Roni.


Dewa terdiam mendengar penjelasan Roni, lalu Loreng menyerahkan selembar kertas kepada Dewa, "I-ini bos, daftar petarung yang akan ikut pertarungan terselubung itu.." 


Dewa melihat dengan seksama daftar nama itu. Ada 17 nama tercatat disana, tapi satu orang yang tidak mempunyai calon lawan, "Ini siapa yang menentukan siapa lawan siapanya..? Lalu ini nama-nama mereka sepertinya nama samaran semua ya..?" tanya Dewa


"Oh.. Jadi yang mendaftar langsung memilih siapa yang akan dilawannya, jika yang ditantang menolak, maka dia akan dicoret dari daftar nama dan penantang akan bertahan di daftar sambil menunggu siapa penantang selanjutnya. Jika menerima, maka akan tercatat di daftar ini. Petarung boleh menyembunyikan identitasnya dengan menyamarkan nama, boleh juga memakai masker atau topeng setengah wajah.." Roni menjelaskan mekanisme pendaftarannya.

__ADS_1


Dewa menunjuk satu nama yang tidak memiliki lawan, "Terus orang ini, apakah belum ada yang menantang..?"


"Nah.. Ini yang mungkin akan membuat bos tertarik. Tidak ada satu orang pun yang berani menantang dia bos.. Sebenarnya dia termasuk petarung baru, sekitar tiga kali mengikuti pertarungan terselubung ini. Tapi dia orang yang kuat dan cepat, gaya bertarungnya seperti gaya bos Dede. Bahkan yang terakhir dia mengalahkan Bruno hanya dalam waktu delapan detik saja.." jelas Loreng.


"Bruno..? Siapa dia..?" tanya Dewa penasaran.


"Bruno sangat terkenal sebagai petarung yang brutal dan kuat. Dia tak terkalahkan dalam setahun terakhir ini, gak sedikit lawannya yang cidera. Badannya tinggi gedhe, hampir seimbang sama Icong. Beberapa bulan terakhir tidak ada yang berani melawannya, sampai orang bernama Yuma ini mengalahkannya. Menurut informasi, Bruno adalah tentara aktif anggota pasukan kobra hitam milik angkatan darat.." jawab Loreng


Jawaban Loreng membuat Dewa berfikir, "Yuma..? Cepat dan kuat, apa mungkin dia..? Mengalahkan anggota pasukan Kobra Hitam dalam 8 detik. Hhmmmm ini sangat menarik.." gumamnya dalam hati. Setelah itu Dewa kembali bertanya, "Kalian tau siapa Yuma ini..? Latar belakangnya bagaimana..?" tanyanya menyelidik.


"Maaf bos, kami belum mendapat informasi apapun tentang dia. Dia tiba-tiba saja muncul, tidak diketahui juga siapa orang dibelakang dia. Tapi ini aku ada rekamannya waktu dia bertarung melawan Bruno.." Loreng menunjukkan video berdurasi 30 detik di hp nya.


Dewa tersenyum lebar setelah melihat video yang ditunjukkan oleh Loreng, "Kalau melihat postur tubuh dan gaya bertarungnya sangat mirip dengan orang yang sangat kukenal.." ucap Dewa dalam hati. Setelah melihat video yang ditunjukkan Loreng, Dewa memberikan instruksinya, "Daftarkan namaku untuk melawan dia. Gunakan nama Mamba Hitam untuk namaku.." ucap Dewa.


"Siap bos, sesuai perintah.." jawab Loreng.


"Sebentar lagi kita akan bertemu kawan.." gumam Dewa dalam hati.


Loreng segera mendaftarkan Dewa sebagai petarung  di pertarungan terselubung tersebut. Setelah menyelesaikan pendaftaran, mendadak hp Loreng hampir tidak pernah berhenti berbunyi, "Wah bos di grup rame membicarakan bos melawan Yuma. Perbandingannya 1:10 untuk Yuma, bos ada di posisi bawah. Ini sudah ada yang pasang 50 juta untuk Yuma bos. Dan pertarungan bos akan dilaksanakan setelah pertarungan final kompetisi. Mungkin bisa hari jum'at atau sabtu depan bos.." Loreng terlihat kegirangan mengikuti setiap berita yang masuk ke hpnya.


Dewa hanya bisa tersenyum mendengar informasi dari Loreng. Tak lama kemudian, pintu kantor diketok oleh teknisi cctv.


"Permisi om, mau pasang DVR sama TV nya.." ucap mereka.


"Ok mas, atur aja biar rapi dan jangan sampai ruwet kabelnya ya..?" sahut Roni.


"Siap om.. Pasti akan kami rapikan semua nanti.." jawab mereka.


Setelah satu jam, pemasangan cctv pun selesai. Lalu mereka memberikan pelatihan singkat tentang bagaimana mengoperasikan, mengambil data rekaman dan lainnya yang berhubungan dengan cctv. Dewa  terlihat puas dengan kerja para teknisi itu, sangat rapi dan teliti.


Teknisi itu memberikan penjelasan kepada Roni, "Jadi begini om. Untuk memutar kameranya tombol ini lalu begini, kalau memutar rekamannya seperti ini caranya. Nyimpen rekaman ke external storage caranya begini, pakai flashdisk juga bisa om.."


"Eee.. Gini aja mas, tuliskan saja tutorialnya. Jadi kalau aku lupa, aku bisa lihat catatannya.." ucap Roni.


"Baik om, nanti tutorialnya akan saya kirimkan ke nomer wa om nya saja. Kami mohon diri dulu om, semua sudah selesai.. Kalau ada yang kurang atau bermasalah, langsung saja hubungi kami.." ucap mereka.

__ADS_1


"Sebentar, berapa total biayanya..?" tanya Dewa.


"Biaya sudah dibayarkan lewat kantor om. Kami hanya melaksanakan pemasangan atas perintah kantor aja.." jawab mereka.


"Bener bos, tadi aku sudah transfer ke kantor mereka, ini bukti transfernya.." sambung Roni sambil menunjukkan bukti transfer di hp nya.


Dewa mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu dan menyerahkan kepada salah satu petugas pemasangan, "Ini mas, yaa hanya sekedar untuk ganti bensin sama beli rokok aja.." ucap Dewa sambil menyerahkan uang.


"Eh.. Gak perlu om, kami gak bisa terima. Karena biaya yang ditransfer om nya tadi sudah termasuk untuk biaya transport kami.. Bisa dimarahi bos kalau kami berani terima.." jawabnya dengan sopan.


"Sudah terima aja, kalau kalian tidak bilang juga gak akan tau bos kalian.." ucap Dewa.


"Udah terima aja mas, rejeki buat keluarga itu. Gak baik kan menolak rejeki..  Udah tenang aja, kalau bos kalian marah, kalian kesini bilang sama aku, nanti biar aku yang urus. Kalau sampai berani pecat kalian, berarti udah bosan nafas dia.." ujar Loreng


Merekapun menerima uang yang dberikan Dewa sambil berulang kali mengucapkan terimakasih kepada Dewa, lalu mereka pergi.


Loreng kagum dengan apa yang dilakukan Dewa, "Bos peduli ya sama orang itu..? Emang bos kenal mereka..?" tanya Loreng.


"Gak ada syarat harus kenal dulu kan baru membantu..? Mereka itu orang kecil seperti kita, pengumpul uang receh untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bos mereka terima puluhan sampai ratusan juta per bulan, mereka paling hanya beberapa lembar saja per bulan. Kalau bukan orang nekat macam kita ini, siapa yang mau peduli sama mereka..?" ucap Dewa serius.


"Alasan bos bantu mereka apa kalau boleh tau..?" ucap Roni.


"Aku bantu mereka itu karena mereka bukan orang malas, mereka bekerja untuk keluarga. Selagi kita ada, ya kasih aja.. Gak usah tanya nama atau agama, toh mereka manusia juga seperti kita kan..?" ucap Dewa kepada Roni dan Loreng.


"Hehehe.. Iya bener bos.." jawab Loreng.


"Makanya Reng, aku gak pengen kalian jadi preman jalanan seperti dulu yang hanya bisa membuat resah orang lain. Kamu bantu orang yang dipasar untuk parkir, dikasih berapapun terima, jangan pernah tentukan nominal, kalau dikasih lebih, berikan kembalian, kecuali mereka ikhlas memberikan. Tapu kalau dikasih kurang atau mungkin tidak dikasih, jangan pernah minta, terima aja.. Tuhan akan ganti kekurangan itu, asal kita mau ikhlas.. Beri kenyamanan orang yang belanja, kalau ada copet, silahkan kalian sikat.. Akhirnya pedagang itu akan ngerti sendiri, tanpa kalian minta pasti akan memberi.." ucap Dewa kepada Loreng, lalu Dewa melanjutkan ucapannya, "Roni, arahkan anak-anak muda yang nganggur itu untuk berlatih, siapa tau dengan berlatih, mereka bisa bekerja lebih layak, misalnya jadi security.." ucap Dewa memberi wawasan kepada Loreng dan Roni.


"Oh.. Iya bos. Sekarang kondisi pasar udah jauh lebih aman. Seminggu terakhir ini sudah belasan copet kami sikat, ditambah dua hari kemaren ada jambret yang dihajar sama anak buahku. Untung saja polisi cepat datang, kalau tidak pasti udah mati dia. Semenjak ada parkir juga udah gak terdengar ada motor hilang bos.." jawab Loreng.


"Bagus lah, tapi ingat, jangan berlebihan. Kalau pelaku sudah diamankan, serahkan saja sisanya sama polisi. Aku yakin pasar juga akan lebih rame lagi, karena pengunjung merasa aman. Pastinya pendapatan kalian juga akan meningkat.." Dewa menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya, "Aku memang lebih muda dari kalian, bukannya aku mau menggurui, tapi ini semua demi kebaikan kita bersama. Percayalah, siapa yang menanam pasti akan menuai. Kalian menanam kebaikan, akan menuai kebaikan juga. Begitu juga sebaliknya.."


"Eeee.. Kami tidak pernah merasa digurui sama bos. Justru kami sangat berterimakasih bos sudah menunjukkan jalan yg benar kepada kami. Bener gak Reng..?" ucap Roni dan Loreng hanya mengacungkan jempolnya.


"Eh.. Dari tadi aku kok gak lihat Kosim sama Icong..? Kemana mereka..?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Tidur bos. Katanya badannya pegel semua, dihajar lari sama bos. Habis gosok badan pakai balsem, langsung tidur mereka.. Hahahahaha.." jawab Roni dan Dewa pun tertawa mendengarnya.


*****


__ADS_2