
Setelah masuk ke dalam rumah, Pak Wira langsung mengajak Dewa dan Yuma duduk di ruang tengah, dan bu Santi langsung menawari mereka minum sesaat setelah mereka duduk
"Kalian mau minum apa..?" tanya bu Santi.
"Eee, kopi aja ma. Tapi biasanya saya tidak pakai gula, kalau si Yuma biasanya kopi manis dia.." ucap Dewa dengan nada santun, lalu bu Santi menuju dapur.
"Kalian darimana saja..? Kok baru sampai jam segini..?" tanya pak Wira.
Dewa kemudian menceritakan semua yang mereka lakukan hari ini dan menceritakan apa yang sudah diungkapkan oleh Karman. Pak Wira serius mendengarkan dengan sesekali mengambil nafas panjang hanya untuk menenangkan dirinya karena terkejut dengan kenyataan yang baru saja dengarnya. Kemudian dengan suara pelan pak Wira berkata, "Syukurlah kalau Karman mau bertobat dan mempertanggung jawabkan perbuatannya.. Sebenarnya papa sudah tau kalau Kusuma Group bangkrut sehingga terjadi gagal bayar atas hutang mereka di Bank Of Asia, sehingga bank melelang aset yang menjadi jaminan hutang Kusuma Grup. Beberapa aset berhasil papa dapatkan melalui lelang tersebut. Tapi yang sama sekali aku tidak menyangka Kusuma Group sekarang dijadikan salah satu boneka Baros.." ucap pak Wira heran.
"Eeeee... Aku hanya berfikir tentang nasib anak dan istri Karman selanjutnya. Berdasarkan cerita Karman, mereka tidak tau tentang apa yang selama ini dilakukan Karman. Aku seperti merasa berdosa kepada mereka.." ucap Dewa pelan.
"Ya, istri Karman adalah orang baik dan tekun beribadah, begitu pun anak-anaknya. Tapi kamu jangan khawatir, sebenarnya tanpa sepengetahuan Karman, papa sudah memberikan perusahaan konstruksi kepada anak tertua Karman yang bernama Amri. Di tangan dia, perusahaan itu berjalan dengan baik dan hasilnya bisa dipakai untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya.." jawab pak Wira.
Mendengar jawaban pak Wira, Dewa merasa sangat lega. Setidaknya apa yang dia lakukan kepada Karman tidak menyebabkan anak-anak dan istri Karman terlantar.
"Lalu bagaimana rencanamu selanjutnya..? Apakah kamu tetap ingin membuat perusahaan keamanan..?" tanya pak Wira.
"Kalau itu sudah pasti pa, tapi aku akan meminta pertimbangan guruku dulu, kemudian aku akan berembug dengan Naia dan teman-teman lainnya.. Eeeee, tapi yang pasti aku ingin memulai usaha itu dari nol.." jawab Dewa.
"Hahahaha.. Bagus.. bagus.. Papa suka semangatmu, papa akan tunggu sampai perusahaanmu nanti pantas bergabung dengan Wiryawan Group.." jawab pak Wira bangga.
"Karena sudah tidak ada lagi yang dibahas, kami mohon pamit. Dalam waktu seminggu kedepan, aku akan mengirimkan desain dari bisnisku nanti. Aku mohon papa bisa membantuku untuk menyempurnakannya.." ucap Dewa diikuti acungan jempol pak Wira.
__ADS_1
"Loh.. Ini sudah larut malam, kalian gak nginep disini saja..? Besok pagi baru pulang.." ucap bu Santi
"Tidak ma, lebih baik kami pulang saja. Naia pasti khawatir kalau aku tidak ada di rumah saat dia bangun nanti.." jawab Dewa diikuti senyum geli dan gelengan kepala pak Wira.
"Baiklah.. Nanti papa akan transfer sejumlah uangĀ sebagai gaji terakhirmu sebagai pengawal Naia dan sedikit bantuan untuk rencana usahamu. Eeee dua mobil MVP itu kamu bawa saja, kamu jelas butuh kendaraan operasional nantinya.." ucap pak Wira sambil menyerahkan kunci dari mobil MVP yang berwarna putih kepada Dewa.
Setelah berterimakasih, aku berpamitan untuk kembali ke kota AG. Jalanan yang sepi membuat Dewa dan Yuma memacu mobil sampai melebihi batas kecepatan di jalan tol.
*****
Setelah dua jam perjalanan, mereka sampai di sasana Lerengwilis, "Yud kamu nginep aja dulu disini, besok ada yang harus kita bahas bersama dulu sebelum kamu kembali ke kota AB.." ucap Dewa dibalas dengan dianggukkan oleh Yuma.
Mendengar ada suara kendaraan di tempat parkir, Roni dan Loreng keluar sasana, "Eh bos, bos Yuma, darimana kalian..? Tumben malam-malam kemari..?" tanya Roni.
"Loh.. Kalian kok masih disini..? Gak ditungguin sama anak istri di rumah..?" tanya Dewa heran.
"Waduh.. Gawaaatt.. Udah Ron, kamu cepat antar aku pulang. Yuma biarkan istirahat sama Kosim malam ini.." ucap Dewa.
Roni segera mengantarkan Dewa pulang, "Aku benar-benar gak nyangka bisa sampai seperti ini. Padahal sasana itu sudah bertahun-tahun berdiri dan tidak ada perubahan. Tapi hanya dalam beberapa minggu bos mengubah semuanya. Aku merasa beruntung bisa bertemu dan berada di lingkungan bos.." ucap Roni sesaat setelah sampai di depan rumah Dewa.
"Sudahlah ini semua takdir, yang lalu biarlah berlalu. Jadikan pelajaran untuk melangkah kedepan.. Oiya, mobil ini jadikan sebagai kendaraan operasional sasana.." jawab Dewa kemudian turun dari mobil.
Dewa membuka pagar rumah dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan Naia, Silvia dan Nuraini. Bukan karena takut mengganggu istirahat mereka, tapi Dewa tidak ingin mendengar omelan dan pertanyaan dari mereka. Dewa hanya ingin segeta mandi dan langsung tidur.
__ADS_1
Dewa dikejutkan oleh Naia yang berdiri di depan pintu kamar mandi, "Darimana saja jam segini baru pulang..?!" ucap Naia lalu menggembungkan pipinya.
Dewa mendekati Naia dan memeluk pingganggnya yang ramping lalu mencium keningnya, "Jangan marah-marah dulu, yuk kita ngobrol aja di depan.." ucap Dewa lalu berjalan menuju ruang tamu.
"Eh.. Mas Dewa, kok baru pulang sih..? Di wa cuma centang satu. Mas Dewa kemana aja sih, ngapain aja..?" tanya Nuraini.
Dewa menceritakan apa saja yang dilakukannya hari ini bersama Yuma, "Itulah mengapa sudah larut malam aku baru sampai rumah. Emang aku kelupaan menonaktifkan mode pesawat tadi, makanya pesan kalian tidak dapat masuk.." ucap Dewa mengakhiri ceritanya.
"Iya.. Tapi lain kali jangan seperti ini lagi ya..? Kita kan jadi mikirnya aneh-aneh.." ucap Naia manja.
Perjalanan panjang hari ini sangat menguras energi fisik dan spiritual Dewa. Dewa memanfaatkan sisa malam ini untuk bermeditasi memasuki alam weningnya untuk mengumpulkan membali energinya yang tercecer. Dalam setiap tarikan dan hembusan nafasnya, Dewa merasakan energi dari alam semesta masuk ke dalam tubuhnya, mengalir dengan lembut dan perlahan membawa Dewa masuk ke dalam telaga kalbunya.
Air telaga yang jernih dan entitas kehidupan di dalamnya membuat pikiran dan jiwa Dewa menjadi damai. Dewa dapat melihat dengan jelas Sang Diri Sejati duduk bersila diatas tahtanya, dan seakan mengajak Deqa untuk mengikuti apa yang dilakukannya. Dewa segera duduk bersila seperti yang dilakukan oleh Sang Diri Sejati. Sosok Dewi Kilisuci dan Dewi Candrakirana membasuh tubuh Dewa, membersihkan setiap inchi kulitnya dari kotoran yang menempel. Suara Sang Diri Sejati menggema di seluruh telaga kalbu dan memberi wejangan kepada Dewa,
"Uripmu urupana kanthi nglakoni laku lan lelakon, supaya iso nguripi lan ngurupke uripe liyan. Saknyatane lelaku ing sakjroning urip iku kaya mlaku ing pinggire jurang, mlayu ing oro-oro kang jembare ngungkuli langit. Urip utawa umur iku pindha cerita cekak. Nanging lelakon sakjroning urip pindha cerita kang ora ketemu pungkasane. Lakokna lelakonmu, dadekna cerita kang bakal dadi pepeling canggah warengmu. Budi pekertimu kang dieling-eling, dudu wadhag lan wadhukmu. Ana wewadi kang kasingitake dedening pepesthi. Satiti, ngati-ati, tanpo wedi, mung iku kang sakderma janma den lakoni"
Wejangan itu masuk ke dalam kepala Dewa dan terus terngiang di telinganya hingga membawa Dewa pada kesadaran jaganya. Dewa membuka mata perlahan dan melihat jam dinding menunjukkan angka empat pagi, tanda waktu shubuh akan segera datang.
"Aku paham bahwa tugasku hanya berusaha dan menjalani apa yang sudah menjadi dharma atau kewajibanku, yaitu membawa manfaat buat sesama sehingga dapat meninggalkan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi anak cucuku kelak.. Hanya dengan berbekal kehati-hatian, kewaspadaan dan tidak takut menjalani sesuatu yang benar, aku akan menjalankan dharmaku, dharma dari Dewangga.." gumam Dewa dalam hati penuh keyakinan.
Nuraini keluar dari kamar dan menyapa Dewa, "Loh, kakak tidak tidur lagi..? Eh.. Tapi sepertinya lelah di wajah kakak udah hilang, malah kelihatan seger deh.. Itu mungkin karena kakak bermeditasi ya..?" ucap Nuraini sambil duduk di sebelah Dewa.
"Kamu juga kakak lihat makin beda. Aura yang keluar dari tubukmu juga jauh lebih terang. Apa karena efek sholat yang kakak bilang kemaren..?" tanya Dewa penasaran.
__ADS_1
"Oh.. Nur mau cerita kak, kejadian pas di villa itu. Kan Nur lagi sholat malam, pas tahiyat akhir, Nur itu didatangi kayak putri gitu kak. Cantiiiikkk banget, eeeee, cantik lah pokoknya. Kemudian dia itu tersenyum, lalu putri itu bilang, aku akan berada di dalam jiwamu menjadi pamomongmu. Sekarang selesaikan sholatmu.." cerita Nuraini.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya..?" tanya Dewa penasaran.