Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Kelompok tersembunyi


__ADS_3

Setelah mengantar Naia, Silvia dan Nuraini ke padepokan Tunjung Seto, Dewa segera meninggalkan mereka bertiga. Tujuan Dewa adalah sasana Yamadipati milik Yuma untuk mencari informasi sekaligus mengakrabkan diri dengan anak buah Yuma.


Jalanan yang ramai, membuat Dewa membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk sampai di sasana itu. Setelah memarkirkan mobilnya, Dewa segera memasuki sasana dan menyapa semua yang ada di dalam, "Assalamu'alaikum.. Apa kabar semua..?" tanya Dewa sambil tersenyum.


Sasana Yamadipati terlihat sepi, hanya ada beberapa orang saja yang berlatih pagi itu. Mendengar sapaan Dewa, mereka terlihat kebingungan hingga salah satu dari mereka menjawab, "Wa'alaikumsalam.. Maaf mas ada keperluan apa..? Apa mas mau mendaftar di sasana ini..? Maaf mas, kebetulan pemilik sasana sedang tidak ada, mungkin mas bisa kembali beberapa hari lagi.." ucap orang itu.


Tak lama kemudian, Jono, salah satu orang yang dipercaya Yuma menjaga sasana, masuk ke dalam sasana setelah dari kamar mandi. Dia sangat terkejut melihat Dewa datang, "Loh bos besar, kapan datang..? Tapi kok sendirian saja, dimana bos Yuma..? Itu maaf bos, mereka orang baru, belum tau bos besar.." kemudian Jono menoleh kepada anak buahnya, "Kalian semua, ini bos besar kita, cepat kalian beri salam kepada bos besar.." perintah Jono.


"Maaf bos, kami tidak tau kalau anda adalah bos besar. Maklum kami orang baru disini.." ucap salah satu dari mereka.


"Sudahlah, kalian kembalilah berlatih.." kemudian Dewa berjalan menuju ruangan kantor diikuti oleh Jono, "Oiya Jon, kamu handle dulu sasana ini, untuk sementara waktu Yuma dan yang lainnya berada di kota AG.." ucap Dewa.


"Siap bos, tapi saat ini ada sedikit masalah di sasana. Aku sudah berusaha menghubungi bos Yuma, tapi bos sama sekali tidak menanggapinya.." ucap Jono.


"Oh..., ada masalah apa..?" tanya Dewa.


"Sepeninggal bos Yuma, banyak orang-orang yang keluar dari sasana. Sebagian besar dari mereka bergabung dengan kelompok tersembunyi.." ujar Jono.


"Kelompok tersembunyi..? Apa itu, lalu apa kamu tau tujuan kelompok tersembunyi ini..?" tanya Dewa heran.


"Mereka adalah kelompok yang tidak pernah menunjukkan eksistensinya, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui mereka, bahkan kepolisian saja tidak bisa menelusuri jejak mereka. Anggota mereka adalah orang-orang yang ahli di bidangnya, petarung-petarung mereka sangat kuat, mungkin sebanding dengan bos Yuma. Mereka biasanya disewa untuk melakukan sesuatu, misalnya membunuh, mengintimidasi, meretas bahkan mereka biasa juga disewa untuk menggiring opini masyarakat.." ujar Jono.


"Ternyata ada hal semacam ini di kota AB, apa mungkin mereka adalah mantan anggota militer..? Atau memang mereka adalah kelompok yang sengaja dididik oleh militer..? Aku pernah mendengar, selain kami para prajurit, militet juga mendidik orang-orang yang berbakat tertentu untuk menjadi alat negara juga. Tapi mengapa mereka sampai bisa disewa untuk melakukan tindak kejahatan..?" gumam Dewa dalam hati.


"Ada apa bos..? Sepertinya bos mengetahui sesuatu tentang kelompok itu..?" tanya Jono.

__ADS_1


"Ahh.. Bukan apa-apa. Oiya Jon, sementara atasi semua yang berkaitan dengan sasana ini, sampai Sandhi kembali. Kemudian ajak orang-orang untuk kembali berlatih disini. Dalam beberapa hari, aku akan mengirim orang untuk membantumu menata sasana ini.." ucap Dewa.


"Siap bos.." jawab Jono.


Setelah berbicara dengan Jono, Dewa menghubungi Roni dan meminta salah satu anak buahnya membantu Jono menata dan mengkondisikan sasana Yamadipati. Dengan tanpa ragu-ragu, Roni langsung menyuruh Huda untuk segera berangkat ke kota AB memenuhi tugas dari bosnya itu.


Setelah mendapatkan arahan lebih lanjut dari Dewa, Huda bersama dengan Jono dan anak buahnya mulai menjalankan apa yang diperintahkan Dewa, merekrut anggota baru dan menata sasana agar pelatihan berjalan lebih maksimal. Sementara itu Dewa lebih banyak bermeditasi untuk mencari lebih dalam makna mantra kalacakra.


Tak terasa tiga hari berlalu dengan cepat, sedikit demi sedikit Dewa mulai memahami makna dari mantra kalacakra, "Akhirnya setelah mendapatkan wejangan dari Sang Guru Sejati, aku dapat memahami makna dari mantra kalacakra ini. Ternyata mantra kalacakra berisi tentang hukum sebab akibat.." gumam Dewa dalam hati.


"Sopo sing nandur bakal ngundhuh, wong becik bakale ketitik, wong kang tumindak ala wahyune bakale sirno.."


Suara yang terdengar di telinganya itu, membuat Dewa menghentikan meditasinya. Dewa melihat jam tangannya menunjukkan jam 10 pagi, "Saatnya melihat hasil kerja Jono dan Huda. Semoga saja sesuai dengan arahanku.." gumam Dewa dalam hati.


"Siapa pak..? Laki-laki apa perempuan..? Apa pak Mardi tidak bilang kalau Nur sedang tidak di kosan..?" tanya Dewa.


"Laki-laki mas. Sudah bapak bilang, tapi dia ngeyel pengen bertemu dengan mbak Nur dan akan menunggu sampai mbak Nur datang. Sebaiknya mas saja yang menjelaskan.." ucap pak Mardi.


Dewa segera menuju ruang tamu untuk bertemu dengan laki-laki itu, "Loh, Nik ngapain kamu kemari..?" tanya Dewa.


Ternyata laki-laki yang ingin bertemu dengan Nuraini adalah Niko.


Niko terkejut melihat Dewa berada di rumah kos Naia, "Loh Wa.. Eh Kak.. Kok ada disini..? Dimana Nuraini..? Semenjak pulang dari KKN, sudah beberapa hari ini dia tidak ada kabar dan tidak bisa dihubungi sama sekali. Hp nya juga gak aktif.." ucap Niko.


"Oh, jadi masalah itu.. Kamu tenang aja, saat ini Nuraini bersama dengan Naia dan Silvia ada di suatu tempat. Sudah kamu gak usah khawatir masalah itu.." ucap Dewa.

__ADS_1


"Apa aku bisa bertemu dengan Nuraini..? Ada hal yang ingin aku bahas dengannya, masalah pernikahan kami.." tanya Niko.


"Sabar, tunggu setidaknya 4-5 hari lagi. Saat ini, jangan ganggu dia dulu. Ada hal yang harus dia selesaikan bersama dengan Naia dan Silvia.." ucap Dewa serius.


"Emang apa yang mereka kerjakan sampai gak bisa ditemui..?" tanya Niko.


"Sudahlah kamu gak usah banyak tanya, tunggu saja sampai semuanya selesai..!" jawab Dewa tegas.


Mendengar jawaban dari Dewa, Niko hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia hanya bisa mengikuti ap yang diucapkan calon kakak iparnya itu. Kemudian Dewa mengeluarkan secarik kertas bertuliskan beberapa nama, "Oiya Nik, aku butuh bantuanmu. Itupun kalau kamu bersedia, kalau tidak ya tidak masalah.."


"Cih, cara bicaramu gak pernah berubah kak. Emang membantu apa..?" tanya Niko kesal.


"Lihat nama-nama ini, aku ingin informasi detail tentang mereka.." jawab Dewa.


Niko sangat terkejut membaca nama-nama yang tertulis di kertas yang diberikan oleh Dewa, "Gila kamu kak, kamu kan tau sendiri mereka ini adalah perwira bintang, kalau sampai ketahuan, aku bisa kena hukuman ini.. Emangnya informasi seperti apa yang kakak inginkan..?" tanya Niko penasaran.


"Ya makanya jangan sampai ketahuan. Hhmmmm, apa mereka bisa membantuku untuk mencari kebenaran dari kasusku atau tidak.." jawab Dewa.


"Kamu masih ingin balas dendam..? Bukankah aku sudah memberitahumu bahwa kasusmu sudah dihentikan dan status kalian juga sudah dicabut..? Kakak hanya perlu kembali ke kesatuan dan menjalani sidang etik sebagai formalitas saja. Kalian akan bebas sepenuhnya.." ucap Niko.


"Hheeeeeh.. Kamu masih saja polos. Sudahlah kalau memang kamu tidak bisa membantu, tidak apa-apa. Aku yakin akan ada orang yang dengan sukarela membantuku untuk mencari informasi.." ucap Dewa sambil mengambil kertas yang dipegang Niko.


"Masih saja seperti itu, sini kertasnya. Aku akan membantumu.." ucap Niko kemudian mengambil kertas itu dari tangan Dewa.


Dewa kemudian menceritakan rencananya untuk membangun perusahaan kepada Niko. Tanpa terasa mereka berbincang hingga menjelang sore, mereka berdua pun pergi ke sebuah warung untuk mengisi perut mereka sambil berbincang.

__ADS_1


__ADS_2