
*****
Dewa segera bergegas pulang bersama Tiara sesaat Naia mengirim pesan singkat bahwa Pak Wira, pak Gunawan, mbah Sastro dan mbah Sumi sudah menunggunya di rumah.
"Guru berdua, sudah lama menunggu..? Maaf aku sedikit terlambat sampai di rumah. Ada beberapa hal yang harus aku diskusikan dengan teman-teman.." ucap Dewa sambil mencium tangan mbah Sastro dan mbah Sumi.
"Hehhehhe... Belum lama juga, baru beberapa menit saja.. Nak Dewa, pasukan siluman sudah mulai berkumpul dan mengepung Lerengwilis. Bahkan sudah terjadi peperangan antara pasukan siluman dan pasukan Gandarwa Raja di sisi timur Lerengwilis.." ucap mbah Sastro.
"Benar guru, Gandarwamaya juga sudah memberitahuku perihal ini. Disisi lain, Baros juga sudah mengirimkan pasukannya ke desa ini.." ucap Dewa.
"Ternyata Baros juga sudah bergerak. Sepertinya memang semua ini sudah direncanakan oleh mereka.. Nak Dewa tenang saja, meskipun hampir tidak mungkin pasukan siluman itu menembus pertahanan pasukan Gandarwa Raja, tapi kami akan tetap waspada menjaga kedua Dewi dari serangan para siluman itu.. Kalian fokus saja menghadapi Baros dan anak buahnya, karena hanya kalian yang bisa menghadapinya.." sahut mbah Sumi.
"Terimakasih kedua guru bersedia menjaga mereka berdua. Baik guru, sekalian kami akan menuntaskan urusan lama kami.." ucap Dewa.
"Berhati-hatilah, Baros terkenal sangat licik dan penuh dengan muslihat. Papa pernah mendengar bahwa Baros mempunyai pasukannya sendiri yang merupakan prajurit-prajurit terlatih.." ucap pak Wira.
"Ayah percaya kamu sudah memperhitungkan semuanya dengan matang. Percayakan saja urusan disini kepada kami.." sambung pak Gunawan.
"Ayah dan papa tenang saja, aku akan menyelesaikannya dengan cepat dan segera kembali kesini untuk membantu kalian.." jawab Dewa.
Tak terasa malam pun datang menyapa Lerengwilis. Suasana hening mencekam menyelimuti Lerengwilis. Suara adzan yang biasanya terdengar saling bersahutan, mendadak tidak terdengar, seakan-akan orang-orang di desa Lerengwilis enggan mengumandangkan adzan.
"Malam ini benar-benar berbeda. Aku merasakan tekanan yang besar akibat fluktuasi energi yang saling berbenturan antara kekuatan pasukan siluman dan pasukan Gandarwa Raja.." gumam Dewa dalam hati.
Naia bangkit dari tidurnya kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Dewa yang sedang duduk, "Malam ini berbeda dari malam-malam sebelumya. Aku merasakan udara malam ini sangat panas, dan kedua anak kita sepertinya tidak tenang. Mereka terus bergerak di dalam perutku.." ucap Naia kemudian menempelkan tangan Dewa ke perutnya.
Dewa bisa merasakan perut Naia bergerak-gerak tanpa henti, "Benar mereka sepertinya tidak tenang sama sekali. Apakah kamu merasakan sakit saat mereka bergerak..?"
Naia menggelengkan kepalanya, "Kadang-kadang, itu kalau mereka bergerak mendadak. Tapi kalau seperti ini rasanya gimana ya, bingung mau jelasinnya.." jawab Naia manja.
Dewa mencium perut istrinya sambil berdo'a, kemudian dia mengatakan, "Kalian tenanglah, ayah pasti akan menjaga kalian. Tidak akan ayah biarkan manusia-manusia laknat itu menyentuh kalian. Kalian patuhlah dan jangan buat ibunda kalian merasa tidak nyaman ya..?" ucap Dewa kemudian mencium perut Naia sekali lagi kemudian mencium kening dan bibir Naia.
Naia membalas ciuman suaminya, kemudian berkata, "Terimakasih sayang.."
*****
Keesokan harinya, sore itu, dengan bantuan Roni, Dewa berhasil masuk ke dalam rumah Yuma tanpa dicurigai oleh anak buah Baros yang sedang mengawasi rumah itu. Roni yang berpura-pura sebagai suami Naia memarkir mobilnya ke dalam garasi rumah, sehingga Dewa bisa keluar dari bagasi mobil tanpa diketahui oleh anak buah Baros. Roni sengaja memperlihatkan adegan memeluk seseorang yang menyamar sebagai Naia kepada anak buah Baros yang sedang mengintainya.
Di dalam rumah, dengan peralatan yang dimilikinya, Sandhi menyadap komunikasi antara anak buah Baros dengan komandan mereka, Benny.
"Suami target terlihat memasuki rumah.. Bagaimana selanjutnya komandan..?" tanya salah satu anak buah Benny.
__ADS_1
"Awasi terus sambil menunggu perintah lebih lanjut. Tuan besar akan sampai di lokasi esok pagi.. Yang lain laporkan situasi di lokasi kalian..!" ucap Benny.
Satu persatu anak buah Benny melaporkan keadaan di area yang mereka awasi. Sandhi merekam satu per satu suara mereka dan mencari frekuensi dari suara mereka masing-masing.
"Bos suara mereka sudah berhasil di duplikat.." ucap Sandhi.
Dewa kemudian memberikan instruksi kepada Yuma dan yang lainnya, "Malam ini lakukan pembersihan sesuai dengan rencana.." ucap Dewa melalui saluran komunikasinya.
"Siap boss.." jawab mereka serempak.
Malam pun tiba, sama seperti malam sebelumnya, suasana di Lerengwilis tidak berubah, hening dan mencekam. Yuma bersama dengan Faruq, Luki, Dunhill dan beberapa pasukan elitnya bergerak menembus gelapnya malam untuk melumpuhkan pasukan Benny yang mengawasi lingkungan tempat tinggal Yuma.
Jbuuuuukkkk.. Jdaaaaagggg..
"Titik pertama clear.." lapor Dunhill.
Jdaaaaaggg.. Kraaaaaakk..
"Titik kedua clear..." lapor Yuma.
Masing-masing kelompok melaporkan bahwa mereka berhasil mengamankan titik pantau dari pasukan Benny.
"Bagus.. Lakukan rencana kedua.." ucap Dewa.
*****
"Majuuuuuu...!! Jangan gentar, kita habisi saja mereka..!!" teriak Singo Barong, senopati memimpin peperangan di wilayah Barat.
Boooooommmm.. Blaaaaarrrr.. Jdaaaaarrrr..
"Habisi merekaa...!! Jangan gentar..!!" teriak salah satu senopati pasukan siluman.
Praaaanggg.. Jdaaaaarrrrr.. Booooomm..
Singo Barong maju dengan gagah berani menghadang senopati bangsa siluman yang hendak masuk ke wilayah dusun Keramat. Pukulan, tendangan dan ajian yang dikeluarkan Singo Barong mampu menghancurkan dan memporak-porandakan barisan musuh, entah berapa siluman yang harus kehilangan daya hidupnya setelah terkena serangan dari Singo Barong.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Singo Lodro, Singo Joyo dan Gagak Rimang. Mereka berempat adalah senopati yang ditugaskan oleh Gandarwa Rajabali untuk memimpin pasukan bangsa jin berperang menghadapi bangsa siluman.
Kukuruyuuuuuuukk...
"Munduuuurrrr...!! Sebentar lagi matahari akan terbit..!! Munduuuurrr..!!" perintah senopati bangsa siluman.
__ADS_1
Tiba-tiba semua siluman yang menyerang berubah menjadi kumpulan asap hitam dan menghilang.
"Jangan lengah, kita harus tetap waspada. Hari ini kemenangan milik kita, tapu aku yakin nanti malam mereka akan mengirimkan lebih banyak pasukan lagi. Tapi jangan takut..!! Sebanyak apapun mereka, kita hadapi pasukan brekasaan itu dengan berani, dan aku yakin kita akan memenangkan perang ini..!" teriak Gandarwa Rajabali membangkitkan semangat prajuritnya.
*****
Matahari mulai mengintip dari balik awan. Pagi itu Benny segera menghubungi anak buahnya untuk meminta laporan, "Tuan besar dalam perjalanan, semua tim kirimkan laporannya padaku.."
Masing-masing tim memberikan laporan tentang situasi di sekitar mereka, "Pagi tadi suami target berangkat menuju tempat kerja.."
Benny tidak sadar bahwa yang memberikan laporan sebenarnya adalah pasukan Dewa yang semalam sudah menguasai titik pantau mereka. Peralatan Sandh membuat suara anak buah Dewa sama persis dengan suara anak buah Benny.
Rombongan Baros berhenti tepat di depan rumah Yuma, Benny segera menyambut Baros sesaat setelah Baros turun dari mobilnya.
"Bagaimana situasinya..?" tanya Baros.
"Semua dalam kendali tim kita pak.." jawab Benny.
"Tunggu diluar, aku akan masuk dan bernegoisasi dengan wanita itu agar tidak terjadi keributan. Amankan lokasi, pastikan tidak ada saksi mata..!" perintah Baros.
"Siap pak.." jawab Benny kemudian memastikan lagi situasi di sekitar rumah Yuma.
Baros melangkah masuk ke dalam halaman dan mengetuk pintu rumah.
Tok.. Tok.. Tokk...
Indri, salah satu wanita pasukan elit Dewa, berpura-pura menjadi asisten rumah tangga membukakan pintu.
"Apakah nyonya rumah ada..?" tanya Baros.
"Oh..., ada sebentar saya panggilkan. Tapi ngomong-ngomong bapak siapa ya..?" tanya Indri.
"Bilang saja pamannya dari kota B datang berkunjung.." ucap Baros.
"Baik pak, silahkan duduk, saya panggilkan nyonya dulu. Eeeee.., bapak mau dibuatkan minum apa..?" tanya Indri.
"Sudah tidak usah repot-repot. Saya hanya sebentar saja, tidak lama.." jawab Baros.
Indri segera pergi ke belakang untuk memberitahu Dewa bahwa Baros sudah berada di dalam rumah. Baros dengan sengaja menutup dan mengunci pintu rumah untuk berjaga-jaga agar Naia dan Silvia tidak melarikan diri.
Dewa, dengan berpakaian militer keluar menemui Baros yang sedang duduk sambil tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Waaaahhhh.. Ternyata bajingan Baros datang mengunjungiku. Bagaimana kabarmu, sepertinya ada hal yang membuatmu sangat senang, apakah bisnis narkotika dan perjudianmu sedang untung besar hari ini..?" tanya Dewa dengan nada sinis.