
Naia dan Silvia saling pandang mendengar ucapan mbah Sastro lalu mereka tertawa kecil karena sama-sama tidak mengerti maksud ucapan mbah Sastro. Dewa segera masuk ke dalam rumah setelah mbah Sastro pergi. Setelah menyimpan kitab Kalimasada Dewa duduk di kursi panjang ruang tamu. Nuraini keluar membawa nampan berisi beberapa cangkir berisi kopi dan teh, dan menyuguhkannya di meja, "Kopinya kak.. Eh kakek yang ngomong tadi itu siapa kak..?" tanya Nuraini sambil duduk di samping Dewa.
"Oh.. Itu mbah Sastro, beliau adalah kepala dusun sekaligus imam di musholla ini.." jawab Dewa, kemudian terdiam memikirkan ucapan mbah Sastro di musholla. Sampai akhirnya Dewa tersadar ada hal yang belum dia ketahui, "Hheeeh.. Aku sampai lupa tidak tanya tentang tubuh dewi Agni. Aku terlalu fokus dengan tubuh dewi Kilisuci dan dewi Candrakirana.." pikirnya, kemudian Dewa menghembuskan nafas panjang, "Hhuuuuuffhh, Naia dan Silvia, gak mungkin aku menyakiti Naia. Selain itu, hal itu juga tidak mudah bagi Silvia, dan aku merasa bahwa ini tidak akan membawa kebaikan buat mereka berdua. Lebih baik aku bertarung dengan ratusan orang daripada harus memikirkan masalah ini.. Ini sungguh menguras energiku.." gumam Dewa dalam hati.
Baru pertama kali ini Nuraini melihat Dewa begitu tertekan, dengan memberanikan diri dia bertanya, "Eh.. Lagi mikir apa kak..? Kok kayaknya kakak bingung gitu..?" tanya Nuraini sambil memegang lengan Dewa.
"Entahlah Nur, ada banyak hal yang kakak gak ngerti harus bersikap bagaimana.." ucap Dewa sambil menerawang.
Nuraini sangat memahami bagaimana kakaknya itu, "Enggak banyak sih sebenarnya, cuma satu hal aja kan..? Kak, kalau memang kakak yakin mampu, lakukan saja, tapi jika kakak ragu-ragu maka jangan pernah melakukannya. Apapun yang kakak lakikan, Nur akan dukung. Nur juga akan bantu kalau kakak membutuhkan.." jawab Nuraini. Dewa tersenyum mendengar ucapan Nuraini, dia merasa ucapan adiknya itu membuat pikirannya tenang.
Kemudian Dewa menceritakan obrolannya dengan mbah Sastro saat di musholla kepada adiknya, Nuraini pun mendengarkan cerita kakaknya tanpa berkomentar apapun. Dewa mengakhiri ceritanya dengan bertanya kepada Nuraini, "Menurutmu apa yang harus kakak lakukan Nur..?"
"Kalau mengenai tubuh kak Naia dan Silvia, Nur gak ngerti juga. Mungkin saja hal itu memang nyata adanya kak, hanya saja butuh kejernihan hati dalam memahaminya. Kalau untuk masalah kak Naia dan Silvia, menurut Nur sih mbah Sastro hanya memberikan pilihan saja sama kakak, ya seperti yang Nur bilang tadi, kalau mampu ya lakukan, kalau ragu-ragu mending gak usah.." ucap Nuraini.
"Kakak mengambil pilihan yang salah karena terjebak pada nafsu saja sehingga malah menyakiti mereka.." ucap Dewa.
"Kakak gak perlu bingung, kan juga dari awal kak Dewa sama kak Naia sudah dijodohkan sama ayah. Nur pikir itu yang terbaik untuk saat ini.." ucap Nur sambil tersenyum.
*****
Sementara itu, Naia mengajak Silvia ke musholla dan duduk di teras musholla, "Sini nah Vi, duduk sini jangan berdiri aja disitu.." ajak Naia merayu.
"Eh.. Ngapain disini..? Ntar mas Dewa nyariin lho..?" ucap Silvia.
"Engak-enggak. Mas Dewa gak akan nyariin, udah tenang aja. Sini gih temenin aku disini.." jawab Naia masih berusaha merayu.
"Iihhhh.. Iya deh. Dasar manja.. Ada apa sahabat cantikku..?" gerutu Silvia sambil duduk di sebelah Naia.
"Gak pa pa, pengen duduk aja disini sama kamu. Jadi keingat waktu SMP dulu ya..? Kita sering duduk di musholla sekolah buat saling curhat.." ucap Naia dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Eh.. Masih inget aja kamu.. Padahal itu udah kejadian lama banget.." jawab Silvia.
"Mana mungkin aku lupa Vi.. Itu saat pertama kali aku merasa punya saudara perempuan, kita saling bercerita, berbagi, bahkan kamu sering mengalah untukku.." ucap Naia sambil tersenyum, lalu tiba-tiba mata Naia berkaca-kaca, Ih.. Ternyata dulu aku jahat ya, aku sering ambil punyamu, dan kamu hanya mengalah saja saat aku menginginkan apa yang jadi milikmu.. Maafin aku ya Vi.." ucap Naia dengan suara bergetar
Mendengar ucapan Naia, Silvia memeluk Naia dan berkata, "Hush.. Jangan ngomong gitu ah, aku jadi sedih tau.. Aku tuh seneng ngelakuinnya. Kamu tau gak, semenjak kejadian yang menimpa mama dan papaku, tante Santi dan om Wira memperlakukanku dengan sangat baik, bahkan beliau memperlakukanku seperti kamu, anaknya sendiri. Sejak saat itu aku berjanji akan melakukan apapun agar kamu selalu bahagia dan tersenyum, walaupun harus menukarnya dengan hidupku.." suara Silvia bergetar menahan tangisnya dan berhenti sesaat sebelum melanjutkan ucapannya, "Sebenarnya aku ingin sekali memanggil om Wira dan tante Santi dengan panggilan papa dan mama, apalagi setelah kejadian dik Galih. Tapi aku takut hal itu akan membuat kamu berfikir aku merebut papa dan mamamu.." ujar Silvia dengan air mata yang menetes.
Air mata Naia menetes, walaupun berulang kali Naia menghapusnya seakan air matanya tak mau berhenti, "Kenapa kamu begitu bodoh sih..? Kenapa tidak pernah kamu ungkapkan hal ini kepadaku..? Kamu itu sudah seperti saudara perempuanku, tapi kenapa tidak pernah kamu ceritakan ini kepadaku..?" protes Naia. Kemudian dia menggeser duduknya menghadap Silvia, "Mulai detik ini aku janji akan selalu berbagi denganmu, apapun itu.." jawab Naia sambil menghapus air mata Silvia.
"Gak Nai, jangan lakukan itu, jangan berjanji seperti itu, tidak semua bisa kamu bagi kepadaku. Yang terpenting bagiku adalah bisa melihatmu bahagia, tersenyum, manyun, manja, tertawa, itu sudah lebih dari cukup.." jawab Silvia.
"Enggak-enggak bukan seperti itu. Bukan aku tapi kita. Aku ingin kita bisa selalu tersenyum, manyun, manja dan tertawa bahagia bersama. Mulai detik ini dan seterusnya, tidak ada lagi om Wira dan tante Santi, kamu harus panggil beliau berdua papa dan mama. Dan satu lagi, jangan pernah korbankan apa-apa lagi buatku, bukan itu yang buat aku bahagia, karena bagiku kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.. Janji..?" ucap Naia sambil menyodorkan kelingkingnya. Silvia terdiam sambil menatap mata Naia. Air matanya tak terbendung lagi, "Kok malah nangis sih..? Ayo, kamu harus janji.." sambung Naia.
Silvia menganggukkan kepalanya, "Iya. Aku janji.. Kebahagiaanmu akan selalu jadi kebahagiaanku juga.." jawab Silvia sambil mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Naia, "Terimakasih Nai.." ucapnya pelan lalu memeluk Naia sekali lagi.
Naia membiarkan Silvia memeluknya untuk beberapa saat, kemudian dia tersenyum lalu bertanya, "Kamu cinta sama mas Dewa..? Eeemm, tapi kalau kamu gak mau jawab gak pa pa kok.."
"Vi, bantu aku buat jaga mas Dewa seperti apa yang dikatakan kakek tadi, aku gak akan bisa menjaganya sendiri.." ucap Naia serius.
"M-maksudmu bantu jaga gimana..? Aku gak paham.." ucap Silvia bingung
"Hanya dengan menjadi istrinya kita bisa menjaga mas Dewa sepenuh hati.." jawab Naia.
"Gak-gak mungkin Nai, jangan lakukan itu. Mas Dewa itu milikmu, aku gak berhak untuk itu. Jangan bercanda seperti itu ah.." ucap Silvia kebingungan.
"Aku serius Vi, aku gak lagi bercanda. Aku merasa kamu juga berhak memiliki mas Dewa, dia itu bukan hanya milikku tapi juga milikmu.." ucap Naia sambil menatap sahabatnya itu.
Silvia terdiam, dia kaget dan bingung dengan permintaan Naia, sahabatnya itu. Terjadi pergolakan di dalam batinnya, di satu sisi dia senang tapi di sisi lain dia merasa merebut kekasih sahabatnya itu. Setelah terdiam beberapa saat, Silvia menghembuskan nafas panjang, "Hhuuuffhh.. Bukan, mas Dewa adalah milikmu seorang. Aku tidak bisa lagi memiliki dia, yang bisa aku lakukan adalah mendukung kalian berdua.." ucap Silvia sambil tersenyum.
"Heeemm.. Sudahlah aku gak mau berdebat denganmu, tapi aku akan berusaha untuk mewujudkan keinginanku ini. Yaudah balik yuk..?" ucap Naia sedikit kecewa dengan jawaban Silvia.
__ADS_1
Naia hendak berdiri, tapi Silvia segera menahannya kemudian memeluk Naia, "Jangan lakukan itu Nai, aku memang mencintai mas Dewa tapi aku lebih sayang sama kamu. Plisss, jangan lakukan itu ya..?" ucap Silvia memohon.
"Silvia sayang, aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan, dan aku yakin kamu juga bisa merasakan apa yang aku rasakan. Sudahlah jangan berdebat lagi, keputusannya ada di tangan mas Dewa. Kita jalani saja seperti air yang mengalir.. Udah yuk balik, bantu Nur masak.." ucap Naia sambil menggandeng tangan Silvia.
*****
Sementara itu, Dewa masih duduk di ruang tamu rumahnya sambil menikmati rokoknya, ditemani Nuraini yang bermain hp. Tak lama berselang, Naia datang dan langsung duduk di samping Dewa sambil menyandarkan kepalanya di bahunya, sedangkan Silvia duduk di depan Naia.
Melihat kelakuan Naia, Dewa menjadi bingung, "Eh ada apa ini..? Loh, olahraga kok yang keringetan matanya.. Kalian habis nonton drakor ya, kok pada nangis..?" tanya Dewa sambil melihat Naia dan Silvia bergantian.
"Ih.. Siapa yang nangis, emang kita kelihatan habis nangis..? Kita tadi dari teras musholla, ngobrol-ngobrol aja.. Kalau gak percaya, tanya tuh Silvia.." jawab Naia. Silvia hanya menganggukkan kepalanya.
"Emang ngobrolin apa sampe matanya bengkak gitu, kayak habis nangis.." tanya Dewa.
"Gak ada yang serius sayang, cuma ngobrol kenangan pas SMP dulu, ya ada yang sedikit agak serius sih.. Tapi udah ah, gak usah dibahas dulu.." ucap Naia bingung. Sebenarnya Naia ingin mengatakan keinginannya kepada Dewa, tapi dia tidak tau harus memulai darimana.
Silvia terlihat sedikit cemas, karena dia paham bagaimana sifat Naia saat dia menginginkan sesuatu, "Naia sangat keras kepala, keinginannya harus dituruti. Semoga saja mas Dewa bisa meredam sifat Naia.." gumam Silvia dalam hati.
Mereka berempat akhirnya terdiam beberapa saat, sampai Naia membuka suara, "Mas, maksud kakek tadi itu apa ya..? Kok sampai kita disuruh jagain mas, emang ada apa mas..?" tanya Naia membuka obrolan.
"Aku juga gak ngerti, mungkin beliau salah ngomong. Harusnya aku kan yang jaga keselamatan kalian, jangan sampai terjadi apa-apa sama kalian. Kan kamu juga udah ngalami kejadian waktu di GOR itu..?" jawab Dewa.
Nuraini merasa bahwa ada hal yang memang harus mereka selesaikan, diapun pamit ke dapur, "Eh.. Nur masak buat sarapan dulu lah. Kalian ngobrol aja dulu.. Kak Naia, Silvia, itu tehnya diminum gih.." ucap Nuraini lalu pergi ke dapur.
"Iya. Makasih ya Nur.." jawab Naia.
"Iya aku pikir juga seperti itu, mungkin memang ucapan mbah Sastro itu buat mas Dewa biar selalu menjaga kita.." jawab Silvia.
"Kalau menurutku sih gak seperti itu Vi, gak mungkin kalau kakek itu salah ngomong. Jelas-jelas kita denger tadi, suruh jagain muridnya. Nah muridnya itu kan mas Dewa, jadi itu permintaan beliau untuk kita berdua. Emang jagain yang seperti apa sih mas..? Kita berdua harus nikah sama mas Dewa gitu..?" ucap Naia serius.
__ADS_1