Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Secercah harapan (Bag. 1)


__ADS_3

Truk yang dikemudikan Jaka berbelok ke kanan dan tak terlihat lagi, Dewa kemudian masuk ke dalam sasana dan mendapati beberapa orang termasuk Loreng tiduran di atas matras. Mereka langsung duduk saat melihat Dewa memasuki sasana. "Eh.. Bos datang tuh.." celetuk salah satu anak buah Roni.


Loreng berdiri dan mendekati Dewa, "Baru datang bos..?" tanya Loreng sambil menyalami Dewa.


"Udah dari sore tadi, cuma tadi ketemu teman lama, terus kami ngopi di warung.." jawab Dewa. Kemudian Dewa berbisik kepada Loreng, "Oiya Reng, tolong minta anak buahmu yang buat bungkuskan nasi goreng tapi yang ada di dekat pintu masuk pasar itu, 4 bungkus terus sekalian suruh antar kesini ya. Nanti sampai disini aku ganti uangnya.." bisik Dewa, kemudian Loreng segera menelepon anak buahnya dan menyuruh membungkuskan nasi goreng pesanan Dewa.


Disaat yang sama, Roni keluar dari dalam gudang, berjalan ke arah Dewa. "Gimana bos..? Mau ngobrol didalam atau..?" tanya Roni.


"Gak usah. Kita ngobrol disini saja, di atas matras ini saja.. Sepertinya nyaman juga duduk disini.." ucap Dewa sambil duduk di matras.


Roni, Loreng duduk di samping kanan dan kiri Dewa, sedangkan lainnya duduk menghadap ke arah mereka bertiga. Dewa mulai berbicara, "Udah santai aja, gak usah terlalu formal, kita bukan sedang rapat keluarahan.. Eemm, jadi mulai sekarang aku akan mengganti nama sasana ini menjadi Sasana Lerengwilis. Aku ingin kalian terus berlatih dengan maksimal, manfaatkan sebaik mungkin semua peralatan yang ada disini dan jadilah petarung profesional.." kata Dewa memberikan motivasi kepada mereka. Kemudian Dewa melanjutkan ucapannya, "Untuk merayakannya, hari Senin sore kita adakan selamatan disini, agar kita semua selalu dalam perlindungan Tuhan. Eeeee, Ron tolong kamu pesan nasi tumpeng buat hari Senin, kamu hitung aja butuh berapa tumpengnya untuk kita makan bareng-bareng. Hari senin habis magrib kita adakan selamatan nasi tumpeng disini.." ucapnya diiringi tepuk tangan dan sorak sorai anak buah Roni.


"Mantaaaab.. Alhamdulillah setelah sekian lama baru kali ini kita selamatan.."


"Makan besaaarr..


"Siiipp bosssss... Asiiiiiikkkkk.. Tumpengan.." sambut mereka.


Suasana di dalam sasana menjadi ramai. Mereka terlihat antusias dan sangat senang dengan rencana Dewa mengadakan selamatan. Beberapa saat kemudian, Roni mengangkat tangannya, dan seluruh anak buahnya pun langsung diam, "Kalian ingat, bos Dede sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk sasana ini. Tanpa bos Dede, mungkin selamanya kita akan berlatih dengan alat-alat rusak itu. Semua ini bos lakukan agar kita bisa berlatih dengan maksimal.." ucap Roni serius. Dia melihat ke semua anak buahnya sebelum melanjutkan ucapannya, "Ucapan terimakasih kalian tidak akan bisa untuk membalas apa yang sudah dilakukan bos. Jadi hanya dengan menjadi petarung handal dan profesional, kita bisa membayar apa yang telah dilakukan bos untuk sasana ini.. Mulai saat ini, jika ada yang tidak bersemangat dalam berlatih, aku akan langsung menendangnya keluar.  Kalian siaaappp menjadi petarung profesional..?" Roni menatap tajam anak buahnya.


"Siaaaaappp..!! Kami akan bersungguh-sungguh dalam berlatih dan akan menjadi petarung profesional.." ucap mereka serempak.


Dewa tersenyum mendengar jawaban kompak dari anak buah Roni, kemudian Roni melanjutkan ucapannya, "Satu hal lagi, tetap pegang teguh aturan yang telah dibuat bos. Sasana ini adalah tempat dimana kalian menjadi petarung, tidak ada lagi premanisme, alkohol apalagi Narkotika. Aku tidak segan-segan menghukum siapa saja yang melanggar aturan itu.."


"Baik bos, kami akan mentaati seluruh aturan yang ada di sasana ini.." jawab mereka kompak.


Dewa menepuk pundak Roni dan berkata kepada Roni, "Ron, jika kamu perlu tambahan instruktur, ajak temanmu untuk membantumu melatih disini.." ucapnya, tidak hanya kepada Roni, Dewa memberikan instruksi kepada Loreng, "Loreng, kamu atur anak buahmu terutama yang masih muda untuk ikut berlatih juga.."


"Siap bos.. Saya memang berencana menarik dua orang teman saya untuk bergabung dengan kita. Mereka adalah mantan petarung profesional, kebetulan mereka sedang membutuhkan pekerjaan juga.." jawab Roni yang kemudian dismabung dengan Loreng, "Beres bos. Beberapa dari mereka memang sudah ikut berlatih juga disini. Besok rencananya aku akan kumpulkan mereka dan memilih orang-orang yang potensial untuk ikut berlatih.." jawab Loreng.


Dewa tersenyum puas dengan jawaban mereka. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya nasi goreng pesanan Dewa datang, "Berapa ini hanisnya..?" ucap Dewa.


"Empat puluh ribu bos.." jawabnya. Dewa memberikan selembar uang pecahan seratus ribu kepadanya, "Udah bawa aja kembaliannya. Terimakasih ya udah repot mengantar pesananku.." ucap Dewa.


"Wah.. beneran bos..? Alhamdulillah, terimakasih bos.." ucapnya lalu dia pergi. Tak lama kemudian, Dewa pun juga meninggalkan sasana menuju rumahnya.


*****


Di rumah, Silvia nampak lesu dan tidak bersemangat. Nuraini terlihat sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya, sedangkan Naia duduk di samping Silvia yang sedang meringkuk di atas kursi membelakangi Naia.


"Ada apa sih Vi.. Dari tadi pagi gak semangat gitu..? Jadi sepi kalau kamu kayak gini.." tanya Naia.


Silvia menoleh kepada Naia, sambil menahan sakit dia bercerita kepada sahabatnya itu, "Udah tiga bulan ini, tiap aku mens selalu sakit di perut bawahku. Padahal gak pernah aku ngrasa seperti ini sebelumnya.." Silvia menghembuskan nafasnya untuk menahan rasa sakitnya sebelum melanjutkan ucapannya, "Hhuuuuffhh.. Aku sempat cari di internet, banyak artikel yang menulis kalau ini merupakan salah satu gejala kanker serviks.. Aku takut Nai.. Gimana kalau aku kena kanker serviks..?" ucap Silvia sedih.

__ADS_1


"Huussh.. Jangan ngomong gitu ah.. Kamu udah periksa ke dokter..?" sahut Naia.


"Belum sih.. Aku takut mau periksa.. Pas yang bulan-bulan kemaren aku minum paracetamol 2 butir udah reda sakitnya.. Tapi gak tau kenapa mens kali ini, dari pagi aku udah minum paracetamol 6 butir, tapi gak berkurang sakitnya.." ucap Silvia mulai menangis.


"Ih... Gila kamu ya..? Bisa overdosis kalau begitu caranya.." ucap Naia serius, kemudia dia memeluk Silvia, "Udah tenang aja, besok sampai kota L aku temani kamu periksa. Gak usah takut ya..?" ucap Naia.


Nuraini menghentikan pekerjaannya, dia ikut menenangkan Silvia, "Berpikir positif saja Vi.. Bisa jadi sakitmu itu karena kamu setress aja.. Nur juga pernah kok ngrasain seperti itu waktu SMA, terus sama ibu Nur dibuatin jamu. Setelah rutin minum juga alhamdulillah gak pernah kambuh lagi.. Eemmm, besok aku minta ibu buatin jamu buat kamu deh.." ucap Nuraini.


"Emang aman ya Nur minum jamu..?" sahut Naia.


"Insyaa' Allah aman kak. Buktinya Nur baik-baik aja sampai sekarang.." jawab Nuraini.


"Terimakasih ya, kalian perhatian banget sama aku.." sambung Silvia.


Sesampainya di rumah, setelah memarkir mobil di halaman, Dewa segera masuk ke dalam rumah, "Assalamu'alaikum.. Eh.. Habis ngelihat hantu ya kalian..? Kok pada pelukan gitu..?"


Wa'alaikumsalam.." jawab mereka.


"Enggak kak.. Itu Silvia sakit dia.." ucap Nuraini


"Loh Silvia sakit..? Sakit apa..?" tanya Dewa.


"Udah tiga bulan ini, tiap datang harinya Silvia ngrasa sakit di perut bawahnya. Dia takut ada apa-apa sama dirinya.." jawab Naia.


"Oh.. Nur tolong kamu hangatkan air lalu masukin botol ya..?" ucap Dewa.


"Buat apa kak..?" tanya Nuraini


"Udah lakuin aja, gak usah banyak tanya dulu.." jawab Dewa


Nuraini pun pergi ke dapur dan Dewa menggelar karpet di lantai ruang tamu. Dewa duduk di atas karpet, "Silvia, sini kamu berbaring disini, kaki rapat lurus.. Naia, tolong bantuin Silvia ya..?" ucap Dewa dengan lembut.


Dewa duduk di bawah telapak kaki Silvia menghadap ke arahnya, Silvia pun berbaring dan berusaha meluruskan kakinya, "S-sssshhhh.. Sakiiitt.." rintih Silvia.


"Tahan dulu, nanti juga akan terbiasa.." jawab Dewa


"Eh mas bisa sembuhin Silvia..?" tanya Naia.


"Bukan sembuhin, hanya bantu lancarkan peredaran darahnya saja. Silvia hanya setress aja itu, makanya siklus bulanannya terhambat, jadinya sakit.." jawab Dewa.


Nuraini membawa botol berisi air hangat dan handuk kecil lalu menyerahkannya pada Dewa, "Ini kak airnya, kalau masih terlalu panas, balut saja sama handuk ini.." ucapnya.


"Sekarang Silvia buka perutnya, air hangat ini tempelkan ke bagian yang kamu rasakan sakit.." ucap Dewa.

__ADS_1


Silvia menarik bajunya ke atas, terlihat kulitnya yang putih bersih oleh Dewa. Mengetahui hal tersebut, "Eh.. Mas Dewa ih.. Gak boleh lihat.." ucapnya sambil menutup mata Dewa.


"Kalau yang lihat mas Dewa sih aku gak pa pa Nai, aku ikhlas.. Hihihi.." goda Silvia.


"Ih.  Kamu tuh ya, sakit gini masih bisa-bisanya lho godain mas Dewaku.." ucap Naia kepada Silvia.


"Gak boleh lihat.. Gak boleh.. Gak boleh.." sahut Naia masih menutup matanya Dewa. Dewa pun berusaha untuk melepas tangan Naia, "Kalau ditutup gimana bisa cari titik syarafnya sayang.." ucap Dewa.


Naia melepaskan tangannya dari mata Dewa, selanjutnya Dewa memegang telapak kaki Silvia dan mulai memijat titik-titik syarafnya. Terlihat Silvia meringis menahan sakit, tapi setelah beberapa saat tidak tampak ekspresi sakit di wajah Silvia.


"Gimana Vi..? Udah enakan..?" tanya Dewa


"Eh.. Iya mas. Alhamdulillah udah berkurang sakitnya, udah gak sakit malahan.." jawabnya dengan tersenyum.


"Udah sekarang kamu duduk gih.. Botolnya biarin dulu sampai airnya dingin.. Kamu mikir apa sih sampai setress gitu..?" tanya Dewa.


"Ada sih mas, cuma masih malas aja buat cerita.. Biar pikiranku tenang dulu, biar aku bisa enak ceritanya.." jawab Silvia.


"Yaudah.. Makan yuk..? Tuh aku bawain nasi goreng.." sahut Dewa.


Mereka menikmati nasi goreng yang sudah agak dingin. Silvia terlihat makan dengan lahapnya, mungkin energinya habis karena menahan sakit.


Dewa melihat adiknya makan sambil melakukan sesuatu di depan laptopnya, "Kamu itu ngerjakan apa Nur..?" tanya Dewa.


"Oh.. Ini projek membuat toilet umum di dusun Janti kak. Biar bisa dimanfaatkan sama warga sekitar sana.." jawab Nuraini.


Dewa melihat desain yang dibuat Nuriani di laptopnya, "Ternyata kamu bisa ya buat gambar seperti ini..? Kalau begitu sekalian gih kamu buatkan toilet dan tempat wudhu di musholla.. terus biaya pembangunan seperti itu darimana..?"


"Biaya kan dari dana Desa, kalau kurang bisa ditambah dari patungan warga.. Beres kak, besok setelah balik dari kota L, Nur buatkan kak. Sekalian perhitungan biayanya.." jawab Nuraini.


"Eeee, besok berangkat jam berapa mas..?" tanya Naia.


"Enaknya jam berapa..? Eeeemm.. Terserah kalian aja deh mau berangkat jam berapa.." ucap Dewa.


"Gimana kalau pagi kak, setelah sholat shubuh.." jawab Nuraini


"Gak masalah.. Biar bisa santai nanti di jalannya.." jawab Silvia.


Waktu terus berjalan, malam pun datang menyelimuti Lerengwilis. Jam dinding menunjuk angka 9, Naia, Silvia dan Nuraini tidur di kamar, sedangkan Dewa memilih untuk tidur di ruang tamu. Malam semakin larut, setelah membuat segelas kopi, Dewa menggelar karpet di teras rumahnya. Pagar yang tertutup fiber glass membuat orang diluar pagar tidak bisa melihat ke dalam.


Dewa menikmati kopi tanpa gula dan rokok djisamsu kesukaannya. Suasana damai, tenang, sunyi dia rasakan di lingkungan dimana dia tinggal sekarang. Dewa menikmati setiap detik keberadaannya, udara dingin yang menyapa kulitnya, membuat Dewa merasa menyatu dengan alam semesta. Dalam kesendiriannya dia memikirkan banyak hal, "Besok pagi sebaiknya aku hubungi Niko Semoga saja dia bisa membantuku mencari petunjuk.. Hahh.. Bagaimana ya kabar anggota regu III lainnya..?" gumamnya dalam hati. Dewa berusaha mengendalikan pikirannya, dia kembali mengingat wejangan-wejangan mbah Sastro yang selama ini sudah diberikan kepadanya. Di dalam hati, Dewa berterima kasih kepada mbah Sastro yang telah mengajarinya jalan spiritual sehingga dia bisa berdamai dengan dirinya dan melepas beban pikirannya.


Dewa larut dalam keheningannya, tiba-tiba Naia menyapanya, "Mas Dewa kok diluar..? Masuk gih, diluar dingin. Ntar masuk angin lho..?" 

__ADS_1


__ADS_2