Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Sebuah keyakinan


__ADS_3

Dewa membawa mobilnya dengan pelan saat akan keluar dari kawasan perumahan elit tersebut. Tapi dia dikejutkan oleh sebuah mobil yang baru masuk kawasan perumahan mobil Kijang dengan warna hijau khas angkatan darat. Dia memperhatikan mobil kijang tua tersebut, sambil bergumam pelan, "Itu seperti mobil ayah.. Ahhh benar itu ayah dan ibu. Beliau pasti mau berkunjung ke rumah pak Wira.."


Saat kedua mobil berpapasan, Dewa melihat wajah kedua orang tuanya dengan sangat jelas dari jendela mobil ayahnya yang terbuka. Tapi sebaliknya, kaca film yang terpasang di mobil Dewa membuat kedua orang tuanya tidak bisa melihat bahwa Dewa lah yang mengendarai mobil BMW itu. Dewa merasakan sesak di dada ketika melihat mereka tersenyum. Dewa menghentikan mobilnya sejenak, dia terdiam kemudian dia membuka dompetnya dan melihat foto ayah dan ibunya saat mendampingi dirinya ketika dia lulus dari pendidikan di akademi militer, "Ayah, ibu, maafkan aku. Aku belum bisa menemui kalian saat ini. Aku rindu kalian. Aku berjanji akan mencuci kaki kalian saat kutemui kalian nanti.." gumam Dewa dalam hati sambil meneteskan air mata.


Sementara itu di dalam mobil kijang, "Kok aku tiba-tiba merasa Dewa sangat dekat dengan kita ya yah..?" ucap ibu Dewa dengan gelisah.


"Mungkin itu hanya perasaanmu saja bu.. Kamu terlalu memikirkan Dewa. Sudah dido'akan saja semoga anak kita dalam keadaan sentosa.." jawab ayah Dewa menenangkan.


Dewa segera menjalankan mobilnya dan keluar dari kawasan perumahan itu menuju ke sebuah hotel terdekat, hotel Singgasana yang berada tak jauh dari kawasan perumahan elit itu.


*****


Sementara itu Naia dan Nuraini masuk ke dalam rumah disambut oleh bu Santi di ruang tengah.


"Assalamu'alaikum.." ucap Naia dan Nuraini.


"Wa'alaikumsalam.." jawab bu Santi


Naia dan Nuraini mendekati bu Santi lalu bersalaman dan mencium tangan bu Santi, "Papa mana ma..? Kok gak kelihatan..?" tanya Naia.


"Ada itu lagi di kamar, lagi siap-siap. Ayahnya Nur mau kesini.." jawab Bu Santi


"Oh.. Jam berapa kesininya tan..?" tanya Nuraini.


"Satu jam yang lalu sih ayahmu telepon bilang kalau berangkat, mungkin mereka masih di jalan.." jawab bu Santi.


"Loh Dede mana Nai..? Gak diantar sama dia..?" tanya bu Santi kepada Naia.


"Diantar kok ma, tapu habis antar Naia tadi, mas Dedenya langsung pergi ma.. Katanya sih masih ada beberapa urusan yang mau dia selesaikan dulu.." jawab Naia.


Tak berapa lama pak Wira keluar dari kamarnya dan terlihat memakai pakaian batik berwarna biru muda. Melihat papanya, Naia dan Nuraini bersalaman dan mencium tangan pak Wira, "Papa rapi banget..? Mau ada acara apa sih pa..?" tanya Naia.


"Om mu mau silaturahmi kemari, sekalian ada yang mau kita bahas.." jawab pak Wira.


"Loh, emang masalah apa yang mau dibahas pa..?" tanya Naia penasaran. Tapi belum sempat pak Wira menjawab, terdengar suara ketukan pintu rumah.

__ADS_1


Tok... tokk.. tokk..


Assalamu'alaikum.." terdengar suara pak Gunawan.


Pak Wira segera menuju ruang tamu diikuti bu Santi, Naia dan Nuraini. Pak Wira dengan segera menjawab salam dari ayah Nuraini tersebut, "Wa'alaikumsalam.. Monggo-monggo mas Gun, mbak Widya, silahkan masuk.." jawab pak Wira sambil menyalami ayah dan ibu Nuraini. Bu Santi pun juga ikut menyapa dan menyalami ayah dan ibu Nuraini. Hubungan mereka sangat dekat, seperti hubungan keluarga, padahal tidak ada hubungan darah antara keduanya.


Bu Santi menyambut ibu Nuraini seperti menyambut saudara kandungnya sendiri, "Mbak Widya, lama gak ketemu makin cantik aja lho.." ucap bu Santi sambil menyalami ibu Nuraini.


"Eh.. Dik Santi ini bisa saja.." jawab bu Widya.


Nuraini pun langsung mendatangi ayah dan ibunya lalu menyalami mereka, "Ayah, ibu.. Alhamdulillah ayah sama ibu sehat.." ucap Nuraini memeluk ayah dan ibunya bergantian.


"Alhamdulillah nduk. Kamu sehat juga to..?" jawab bu Widya diikuti anggukan Nuraini.


Giliran Naia yang membagikan salam buat orang tua Nuraini, "Om, tante, gak lupa kan sama aku..?" Naia menyalami dan mencium tangan mereka.


"Lho.. lho.. Ini mbak Naia kan..? Lama gak ketemu, aduuuhh, makin cantik aja ini anak tante.." jawab bu Widya sambil memeluk dan mencium pipi Naia.


"Masih kalah cantik sama Nuraini tan. Udah jadi bintang kampus dia.. Hihihi.." jawab Naia bercanda.


"Apaan sih kak Naia ini. Mana ada bintang kampus kayak Nur kak.." jawab Nuraini.


"Nur bantu ya kak.." sahut Nuraini sambil menyusul Naia.


"Sini mas Gun, mbak Widya. Kita ngobrol di ruang keluarga saja.." pak Wira mempersilahkan keduanya untuk menuju ruang tengah dan mereka pun duduk di sofa ruang keluarga. Tak butuh waktu lama, Nuraini dan Naia keluar dengan membawa beberapa cangkir kopi dan teh.


"Naia, Nuraini, sini kalian duduk disini saja.." ucap pak Wira.


Naia dan Nuraini duduk bersebelahan di sofa panjang. Kemudian pak Wira mulai menjelaskan maksud dan tujuan mereka berkumpul, "Jadi begini Naia, om Gun dan tantemu Widya datang kemari memang khusus untuk membahas masalah perjodohan kalian, makanya itu papa minta kamu untuk pulang. Jadi setelah papa dan mama pulang dari Lerengwilis, papa, mama, om dan tantemu bermusyawarah dan kami sudah sepakat untuk membatalkan perjodohan antara kamu dan Dewa, kakak dari Nuraini.." pak Wira mulai memberikan penjelasan.


Pak Gunawan pun menambahkan apa yang dikatakan oleh pak Wira, "Benar mbak Naia, kami merasa perjodohan ini sudah tidak mungkin lagi dilanjutkan lagi. Karena sampai detik ini om juga tidak tau bagaimana kabar dari Dewa anak om. Tapi walaupun perjodohan ini tidak berlanjut, itu tidak akan mempengaruhi hubungan kami, kami tetap akan menjadi saudara.." ucap pak Gunawan.


"Benar yang dikatakan om mu itu. Jadi sekarang kamu bisa menentukan sendiri siapa orang yang memang kamu pilih untuk menjadi pendampingmu kelak. Siapapun dia, papa, mama, om dan tantemu akan mendukungmu.." sambung pak Wira.


Naia mengambil nafas panjang dan tersenyum lalu berkata, "Eeeemm.. Pa.. Boleh aku bicara..?" ucap Naia.

__ADS_1


"I-iya boleh. Kamu boleh mengungkapkan apa yang kamu rasakan.." ucap Pak Wira mempersilahkan.


"Pa, ma, om, tante, sebelumnya Naia minta maaf kalau apa yang Naia katakan ini menyinggung kalian. Begini pa, om, dulu waktu kalian ingin menjodohkanku, papa dan mama sama sekali tidak mengajak aku berdiskusi. Yaa, aku bisa menerima itu, mungkin karena waktu itu aku masih kecil tidak tau apa-apa.. Tapi sekarang aku sudah dewasa, aku sudah 20 tahun, lalu mengapa papa dan om memutuskan perjodohan ini tanpa meminta pendapatku..?" Naia menatap tajam pak Wira dan pak Gunawan bergantian sebelum melanjutkan ucapannya, "Sekarang aku ingin papa dan om tau apa yang aku pikirkan. Bahwa aku tidak setuju dengan keputusan kalian. Aku ingin perjodohan ini tetap dilanjutkan..!!" ucap Naia tegas.


Pak Wira, pak Gunawan, bu Santi dan bu Widya kaget mendengar ucapan Naia. Mereka sebelumnya berfikir bahwa Naia akan senang menerima keputusan mereka. Hanya Nuraini yang terlihat biasa mendengar jawaban Naia.


Pak Wira hampir tidak percaya dengan apa yang diucapkan putrinya itu, "T-tapi bukannya kamu dulu sering protes sama papa tentang perjodohan ini..? Bukannya kamu ingin papa membatalkannya terlebih setelah kejadian batalnya acara pertunangan itu..? Tapi sekarang kamu malah menolak pembatalan, kenapa nak..?" tanya pak Wira bingung.


"Iya sayang.. Ada apa sebenarnya..? Bukannya kamu ingin memilih orang yang sesuai dengan pilihanmu semdiri..?" tanya bu Santi menegaskan.


Naia menatap tajam bu Santi dan pak Wira sambil tetap tersenyum santun, dia mejawab kebingungan orang tuanya, "Pa, ma, selama dua tahun ini aku selalu memikirkan apa yang sebenarnya papa dan mama inginkan dengan perjodohan ini. Memang pada awalnya aku berfikir bahwa ini tidak adil bagiku, sampai akhirnya aku bisa merasakan sesuatu yang kalian yakini, bahwa perjodohan ini akan membuatku aman dan bahagia.." Naia mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, "Dan akhirnya aku bisa meyakini apa yang papa dan mama yakini. Tapi mengapa disaat keyakinanku sudah kuat, kalian malah ingin membatalkannya tanpa meminta pendapatku dulu..?" tanya Naia serius sambil menatap orang-orang yang sangat dia hormati itu.


Pak Wira dan pak Gunawan hanya terdiam mendengar ucapan Naia. Bu Widya pun mencoba memberi penjelasan kepada Naia, "Tapi mbak Naia, dengan keadaan seperti ini, tidak jelas dimana keberadaan Dewa, itu juga tidak baik bagi mbak Naia. Mau sampai kapan mbak Naia menunggu..?" tanya bu Widya.


Naia tersenyum. Dengan tenang dia mulai menjawab pertanyaan bu Widya dengan sebuah pertanyaan, "Maaf tante, bukannya aku ingin durhaka kepada om Gunawan dan tante Widya. Om dan tante tidak tau keberadaan mas Dewa, bukan berarti mas Dewa tidak ada kan om..? Bener kan tante..?" Naia menatap pak Gunawan dan bu Widya bergantian, lalu melanjutkan ucapannya, "Jadi aku akan menunggu sampai mas Dewa datang untuk menikah denganku. Itu keputusanku..!! Seandainya sekarang mas Dewa yang berada di posisiku, aku yakin mas Dewa juga akan memberikan jawaban yang sama denganku.." jawab Naia tegas.


Nuraini memegang tangan Naia sambil tersenyum. Dia yang sedari tadi diam mulai angkat bicara, "Bukannya Nur mau ikut campur urusan ini. Tapi Nur setuju dengan kak Naia. Nur yakin dengan keputusan kak Naia.." ucap Nuraini sambil melihat Naia.


Mendengar jawaban Nuraini, tak terasa air mata bu Widya menetes. Nuraini merasa ada sesuatu yang dipikirkan ibunya, "Ibu kenapa ibu menangis..?" tanya Nuraini.


Semua yang ada di ruangan itu langsung melihat kepada bu Widya. Dengan berlinang air mata, bu Widya berjalan ke arah Naia, "Dewa... Aku melihat anakku Dewa dalam diri mbak Naia.." ucap bu Widya sambil memeluk Naia.


"Ibu bisa merasakan kak Dewa hanya dengan melihat mbak Naia. Insting seorang ibu memang tidak pernah meleset.." gumam Nuraini dalam hati.


Bu Widya lalu duduk di sebelah Naia sambil memegang tangan Naia. Naia pun menyandarkan kepalanya di pundak bu Widya. "Terimakasih ya nak.. Ibu merasa kangen ibu kepada Dewa terobati karena kamu.." ucap bu Widya kepada Naia.


Melihat kejadian itu, Bu Santi mengambil nafas panjang lalu berkata, "Pa.. Mungkin semua ini adalah takdir yang sudah ditetapkan Tuhan untuk anak kita, untuk keluarga kita.." ucap bu Santi.


"Mas Gun, sepertinya keputusan kita untuk membatalkan perjodohan ini tidak diridhoi oleh Yang Maha Kuasa. Sebaiknya kita lanjutkan saja perjodohan ini. Kita serahkan saja semuanya kepada anak-anak kita.." ucap pak Wira mengulurkan tangannya kepada pak Gunawan.


"Benar dik aku setuju.. Semoga Naia bisa membawa Dewa kembali.." jawab pak Gunawan menjabat tangan pak Wira.


Suasana haru dan bahagia menyelimuti keluarga pak Wira dan pak Gunawan. Keyakinan Naia membuat apa yang sudah mereka putuskan terpaksa harus mereka batalkan. Bu Santi pun merasa sangat lega dengan keputusan itu. Kemudian bu Santi menawarkan untuk bersantap siang bersama, "Ayo.. Sekarang sudah waktunya makan siang. Monggo kita makan dulu, sudah disiapkan itu.. Monggo mbak Wid.. Keburu dingin nanti.." ajak bu Santi.


"Ayo.. Monggo mas Gun.." pak Wira ikut mempersilahkan lak Gunawan.

__ADS_1


Mereka berenam menuju ruang makan untuk menikmati makanan yang sudah disiapkan ART pak Wira.


*****


__ADS_2