Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Tanah sangar


__ADS_3

*****


Jalanan kota D yang padat, membuat Luki dan Putri membutuhkan waktu lebih lama menuju rumah Tiara. Mereka tiba di rumah kontrakan Tiara menjelang Isya' dan mereka mendapati rumah itu dalam keadaan sepi. Berulang kali Luki memgetuk pintu tapi tidak terdengar jawaban dari dalam rumah, "Benar ini rumahnya mbak..? Kok sepertinya gak ada orang ya..?" tanya Luki.


"Iya bener mas.. Apa mungkin mbak Putrinya audah berangkat ya..? Tapi biasanya dia berangkat sekitar jam sembilan malam, nah ini belum ada jam 7.." jawab Putri.


Luki mengetuk pintu rumah itu sekali lagi, tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam rumah.


"Atau gini aja, mas tunggu mbak Putri pulang di rumah saya aja. Deket kok, hanya beda gang aja, tuh di ujung situ belok kiri.." Putri memberikan tawaran.


"Eeemmm.. Aku tunggu disini saja lah, terimakasih atas tawarannya.." jawab Luki.


"Kalau begitu, mas catet aja nomer kontak saya, kalau ada apa-apa mas hubungi saja gak pa pa.." ucap Putri, kemudian dia menyebutkan nomer kontaknya.


Setelah bertukar nomer kontak, Putri segera meninggalkan tempat itu. Luki berusaha mengintip ke dalam rumah melalui jendela depan, tapi selambu yang tertutup menghalangi pandangan Luki ke dalam. Luki duduk di kursi di teras rumah kontrakan Tiara, "Tau gini mending aku ke diskotik aja tadi. Ternyata sama saja, harus menunggu sampai Tiara selesai bekerja.." gerutu Luki dalam hati.


Luki memperhatikan sekeliling rumah dan pandangannya terhenti pada lubang kunci di pintu rumah Tiara, "Ahaaa.. Lebih baik aku kejutkan saja dia.. Hehehehe.." gumam Luki dalam hati, kemudian dia mengeluarkan mini tool set yang selalu dibawanya. Sebagai seorang yang ahli dalam menyusup, sudah tentu Luki mempunyai keahlian dalam membuka paksa segala jenis kunci, dan memang itulah salah satu yang dia pelajari saat di Ganendra.


Cleekk.. Cliiikk.. Kliiiikk..


Klaaaakk.. Klaaaaakk..


Tanpa mengalami kesulitan yang berarti, pintu rumah kontrakan Tiara pun terbuka, "Bingo.. Hahahaha.. Jangankan hanya pintu seperti ini, pintu brangkas yang ada di istana presiden pun aku juga bisa membukanya.." gumam Luki dalam hati, kemudian dia masuk ke dalam rumah.


Aroma harum bunga lotus tercium saat Luki masuk ke dalam rumah. Meskipun berukuran kecil, rumah itu tertata dengan sangat rapi. Luki kembali menutup pintu dan mengunci pintu tersebut dari dalam, kemudian dia berbaring di sofa panjang yang berada di ruang tamu sambil menunggu Tiara kembali. Perjalanan yang panjang dari kota AB ditambah dengan mengejar penjambret dan macetnya jalanan kota D, membuat tubuh Luki kelelahan sehingga membuat dia tertidur pulas di sofa.


Tak terasa pagi menjelang, Luki terbangun saat dia merasakan kesulitan bernafas, dia membuka matanya dan seseorang sedang mencekiknya sambil membawa pisau komando, "A-apa ini.. Tiara l-lepaskan aku. K-kau mau m-membunuhku..?" ucap Luki sambil berusaha melepaskan tangan Tiara.

__ADS_1


"Siapa kamu..? Bagaimana kamu bisa masuk ke dalam rumahku..? Jawab atau pisau ini akan menancap di tenggorokanmu..!!" bentak Tiara.


"L-lepaskan aku d-dulu tomboy, apa k-kau lupa d-denganku..? L-luki aku luki.." jawab Luki terbata-bata karena cekikan Tiara.


Mendengar Luki menyebutnya tomboy dan mendengar nama Luki, perlahan Tiara melepaskan cekikannya tapi tetap bersikap siaga dengan pisau di tangannya.


"Uhuk.. uhuk.. Gila, apa kau mau membunuhku..? Kalau aku mati, memang kamu bisa bertanggung jawab kepada kapten..? Atau kamu memang benar-benar sudah melupakanku..?" tanya Luki.


Tiara sangat terkejut Luki menyebut kata kapten, dia meletakkan pisaunya, "Ya ampuuuunn, maaf Luk. Aku hanya terkejut ada seseorang yang tidur di sofa. Aku pikir kamu adalah pencuri, jadi aku hanya refleks aja tadi.. Kapten..? Kamu sudah bertemu dengan kapten Dewangga..? Diamana dia sekarang..? Aku sudah kangen banget sama kapten.." ucap Tiara.


"Hadeeehh.. Satu-satu dong kalau tanya, jangan kayak gerbong kereta.. Justru aku kemari diperintah kapten untuk menjemputmu. Tidak hanya kapten, buto ijo, petruk dan Sandhi juga ada. Hanya tinggal kamu saja yang terakhir.." jawab Luki, kemudian Luki menceritakan pertemuannya dengan Dewa dan tujuan sang Kapten mengumpulkan mereka kembali.


Wajah Tiara berseri, dia sangat senang mendengar cerita Luki, "Puji Tuhan.. Akhirnya do'aku terkabul, aku yakin kesayanganku pasti bisa menemukanku.." ucap Tiara lalu mencium tatto di tangan kanannya. Kemudian dia menjutkan ucapannya, "Kalau begitu aku akan berkemas, sore ini kita berangkat ke tempat kapten.." sambungnya antusias.


"Hah.. Nanti sore..? Kamu tidak membiarkanku istirahat dulu..? Setidaknya biarkan aku melihatmu nge DJ dulu lah.. Oiya, kapten sudah punya calon istri, bulan depan mereka akan menikah. Jadi jaga sikapmu.." ucap Luki.


"Emang kamu pikir aku mau apa..? Kapten sudah aku anggap sebagai abangku sendiri, walaupun jika kapten minta lebih, aku pun tidak keberatan. Sudah berulang kali kapten menyelamatkanku, jadi nyawaku ini milik dia. Sebelum berangkat ke tempat bang Dewa, nanti siang aku akan ajak kamu ke suatu tempat.." sahut Tiara dan dianggukkan oleh Luki.


Tiara membangunkan Luki dan mengajaknya ke sebuah tempat di pinggiran kota D. Sebuah gedung kosong dimana sekitar dua puluhan orang berkumpul.


"Selamat siang bos.. Selamat siang bos.." sapa mereka saat mengetahui Tiara masuk bersama dengan Luki.


Tiara bersama Luki masuk salah satu ruangan dan disambut oleh seseorang berperawakan tinggi besar, "Selamat siang bos, tumben bos kemari, adakah hal yang harus kami lakukan..? Lalu siapa orang ini bos..?" tanya laki-laki yang bernama Daniel itu.


"Perkenalkan dia Luki, rekan satu tim ku di pasukan Ganendra. Luk ini adalah Daniel atau biasa dipanggil Dunhill. Dia adalah pemimpin kelompok serigala darah, gangster terkuat disini.." ucap Tiara.


"G-gangster..? Jadi k-kamu itu pemimpin mereka semua..? Sebenarnya apa yang sudah kamu lalui selama ini..?" tanya Luki tidak percaya.

__ADS_1


"Maaf bos, aku tidak tau kalau anda juga anggota pasukan Ganendra.." sahut Dunhill.


"Mereka adalah kelompok gangster yang dikalahkan bang Dewa. Waktu itu kelompok mereka menculik putra dari salah satu pejabat di kementrian sumber daya alam. Aku, bang Yudha dan bang Dewa diberi tugas untuk membebaskan anak itu. Akhirnya mereka berhasil kami kalahkan dan anak itu berhasil kami selamatkan.." ucap Tiara.


"Lalu bagaimana mereka akhirnya menjadi pengikutmu..?" sahut Luki penasaran.


"Bos besar melepaskan kami karena kami hanya orang yang disewa Baros. Aku memohon untuk bos besar membebaskan kmai, karena kalau kami sampai ditangkap, maka kami pasti akan mati. Akhirnua bos Dewa melepaskan kami, dan sejak saat itu kami berjanji untuk mengabdi kepada bos Dewa dan pasukan Ganendra.." jawab Dunhill.


"Baros lagi.. Kejadian yang menimpa kita juga ulah dari Baros. Kapten sudah mempunyai bukti keterlibatan bajingan itu. Tapi Baros bukan sesuatu yang mudah dihadapi, maka harus menyusun strategi yang matang dahulu.. Eh, tapi kok aku gak tau ada kejadian penculikan itu ya..?" sahut Luki.


"Wajar kalau kamu tidak tau, kalau tidak salah waktu itu kamu sedang menjaankan misi penyamaran di negara Singa.. Jadi setelah kejadian yang menimpa kita, merekalah yang membantuku saat aku dalam persembunyian, dan merekalah yang membuatku bisa menjalani profesi DJ.." ucap Tiara menjelaskan. Kemudian Tiara menepuk pundak Dunhill sambil berkata, "Dunhill, aku akan meninggalkan kota D. Aku akan bertemu dan berkumpul lagi dengan bang Dewa juga teman-teman reguku. Terimakasih selama ini kamu dan teman-temanmu selalu membantuku. Kalian teruslah mempertajam kemampuan kalian seperti yang pernah aku ajarkan, karena aku yakin bang Dewa pasti akan menghubungi kalian suatu saat nanti untuk meminta bantuan kalian.."


"Aahhhh.. Mengapa begitu tiba-tiba bos..? Ya baik bos, aku dan teman-teman akan selalu mempertajam kemampuan kami. Sampaikan ke bos Dewa, kami akan selalu siap saat bos Dewa membutuhkan kami.." jawab Dunhill


Setelah cukup mengucapkan perpisahan, Tiara dan Luki meninggalkan tempat itu menuju stasiun untuk berangkat ke kota AB, berkumpul dengan Yuma, Faruq dan Sandhi.


*****


Di saat yang sama, di sasana Lerengwilis, Dewa sedang berkumpul dengan Loreng dan Roni membicarakan masalah pembelian tanah dan gudang, "Ron, aku setuju dengan harga yang diminta oleh budhemu itu. Besok pagi kita lakukan perjanjian jual beli di Notaris terdekat. Masalah pembayaran, setelah semua clear, kita lakukan pembayaran di bank terdekat.. Dan Loreng, kok harga gudang itu murah sekali, dibawah harga pasaran tanah disini..? Apakah gudang itu dalam masalah atau masih terjadi sengketa..?" Dewa membuka perbincangan mereka.


"Siap bos.. Untuk masalah notaris, sebaiknya kita pakai saja yang di dekat sekolah Tika bos. Dia itu sangat kredibel dan terpercaya.." jawab Roni.


"Udah atur aja, aku ikut aja gimana baiknya. Yang penting kedepan tidak terjadi masalah.." sahut Dewa.


"Jadi gini bos, gudang beserta tanah itu sebenarnya sudah lama dijual tapi tidak laku-laku. Karena banyak yang bilang tanah itu tanah sangar, selain berdekatan dengan kuburan angker, disana pernah ada kejadian orang gantung diri bos.." jawab Loreng kemudian melanjutkan ceritanya setelah menyalakan rokok, "Jadi sebenarnya gudang itu milik haji Sholeh. Ceritanya berawal saat rumah haji Sholeh dirampok, haji Sholeh dibunuh perampok itu, dan anak perempuannya diperkosa secara bergiliran oleh para perampok itu. Karena depresi akibat perkosaan itu, akhirnya sang anak memilih gantung diri di gudang itu. Tak lama kemudian istri haji Sholeh jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Tinggal satu-satunya anak laki-lakinya, dia akhirnya menjual gudang itu beberapa tahun yang lalu, tapi sampai selarang tidak laku. Itulah mengapa gudang dan tanahnya dijual murah bos.." jelas Loreng.


Dewa terkejut mendengar cerita Loreng, "Pantas saja aku merasakan hawa kesedihan dan dendam yang luar biasa di gudang itu.." gumam Dewa dalam hati.

__ADS_1


"Jadi bagaimana bos..? Apa perlu dicari penggantinya..?" tanya Loreng.


"Tidak, aku malah semakin tertarik dengan gudang itu. Kamu hubungi penjualnya, besok pagi minta dia bawa dokumen lengkap kepemilikan gudang itu, sekalian bersama budhenya Roni, kita selesaikan urusan jual beli tanah ini, sekalian aku akan mengurus legalitas pendirian perusahaan.." jawab Dewa dengan tersenyum.


__ADS_2