Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Wanita tercantik


__ADS_3

Setelah makan malam, Dewa meninggalkan mereka bertiga untuk pergi ke rumah mbah Sastro menanyakan beberapa hal. Sementara itu, mereka bertiga, Naia, Silvia dan Nuraini sedang mengobrol di ruang tengah.


Ditengah mereka asik ngobrol, Silvia dengan suara pelan mendekatkan duduknya kepada Naia, "Eemmm.. Naia, aku minta maaf, aku tadi udah kebablasan sampai meluk tangan mas Dewa. Sebenarnya awalnya aku hanya ingin berterimakasih sama mas Dewa, tapi gak tau aku seperti tidak bisa mengendalikan diriku dan akhirnya meluk tangan mas Dewa dan bersandar padanya.." ucap Silvia merasa bersalah.


"Eh.. Kamu ngomong apa sih..? Gak pa pa Vi, aku gak marah kok, justru aku senang kamu bisa jujur sama perasaanmu.." ucap Naia dengan senyum manisnya.


"Tapi aku takut apa yang aku lakukan dapat menganggu hubungan kalian. Beneran Nai, aku gak bermaksud untuk menggoda mas Dewa. Maafin aku Naia.." ucap Silvia dengan perasaan menyesal.


Naia menatap tajam Silvia sambil tetap tersenyum.


"Vi.. Lihat aku, lihat mataku..!!" ucap Naia tegas, Silvia menatap mata Naia, demikian pula sebaliknya. Naia tersenyum sebelum dia melanjutkan ucapannya, "Aku sekali pun tidak pernah berfikir kamu menggoda mas Dewa atau apalah yang kamu pikirkan itu. Kan kemarin aku udah aku bilang, mas Dewa itu milikmu juga ..?" ucap Naia lembut.


Silvia bimgung dengan ucapan Naia, "Nai, kamu gak lagi demam kan..? Kamu sadar dengan yang kamu ucapkan..?" tanya Silvia heran dan bingung.


"Apakah aku terlihat bercanda..? Vi, aku sadar dengan apa yang kukatakan,  aku tidak akan mengingkari apa yang sudah keluar dari mulutku" ucap Naia.


Silvia menggelengkan kepala mendengar jawaban Naia, kemudian dia menoleh pada Nuraini, "Nur, ada apa dengan kak Naiamu ini..?" 


"Eeemm, Nur juga gak ngerti tuh. Tapi apapun keputusannya, Nur akan dukung kok.." jawab Nuraini sambil tersenyum.


Silvia menghembuskan nafasnya pelan, "Hhuuuffhh.. Aku ngerti kamu bermaksud baik. Tapi tidak harus seperti ini juga, niat yang baik harus dilakukan juga dengan cara yang tepat biar hasilnya juga baik. Naia, aku akan memiliki mas Dewa dengan caraku sendiri, yaitu dengan membiarkan mas Dewa berada di sisimu selamanya dan aku yang akan selalu mengawasi kalian. Ingat satu hal ini, bahagiamu adalah bahagiaku.." jawab Silvia tenang.


"Yang penting, apapun yang terjadi jangan sampai kalian itu bertengkar, karena hal itu yang tidak disukai mas Dewa.." sahut Nuraini.


"Yeeee.. Siapa lagi yang pengen seperti itu.. Yaudahlah, serahkan aja semuanya sama Yang Maha Mengatur.." jawab Naia.


*****


Keesokan paginya, Nuraini terlihat sangat sibuk mempersiapkan laporannya. Berulang kali dia menggerutu kesal karena sinyal internet yang lemot, "Ck.. ck.. Ini lemot banget sih internetnya..?" gerutu Nuraini.


"Dari tadi kakak perhatiin kamu ngedumel aja..? Udah nih pakai punya kakak aja.." ucap Dewa sambil membuka koneksi hotspot ku.


"Gak tau nih, tumben internet Nur lemot banget, buat buka email muter aja dari tadi.. Iya kak, passwordnya apa kak..?" tanya Nuraini.


Setelah mendapat koneksi internet dari hp Dewa, Nuraini sedikit lega dan mulai tersenyum karena koneksi internetnya mulai lancar.


"Lagi apa sih Nur..? Dari pagi sibuk banget..?" tanya Naia.


"Kirim email laporan ke dosen kak. Hari ini kan harusnya beliau kunjungan, tapi tidak bisa datang, jadi minta laporan sementaranya dikirim lewat email. Tapi nanti ada dosen pengganti yang berkunjung.." jawab Nuraini sambil mengetikkan sesuatu di laptopnya.


"Oh.. Emang siapa yang berkunjung nanti..? Yah.. Kalau gitu ke bank nya besok aja lah, Nur gak bisa ikut juga hari ini..?" tanya Naia.


"Gak tau, belum ada konfirmasi lebih lanjut. Tapi kayaknya dosen baru deh, pak Ulin tadi bilang mbak-mbak siapa gitu, Nur gak begitu jelas karena suaranya putus-putus.." ucap Nuraini menghentikan mengetik di laptopnya, "Eh.. Gak pa pa kak kalau kalian pergi ke bank sekarang. Nur gak pa pa gak ikut, lagian ini juga berita dadakan banget.." jawab Nuraini.


"Gak lah.. Besok aja, kan rencananya juga sekalian jalan-jalan.." jawab Naia.

__ADS_1


"Eh.. Masih mbak-mbak udah jadi dosen..? Kira-kira dia cantik gak Nur, umur berapa emangnya..?" tanya Dewa untuk menggoda Naia.


Mendengar ucapan Dewa, Naia langsung mencubit pinggang Dewa. "Emang kalau cantik kenapa..? Masih kurang cantikkah aku .? Atau mau ditambah Silvia juga..?" ucap Naia, Nuraini dan Silvia hanya tertawa melihatnya, kemudian Naia kembali melanjutkan ucapannya, "Gak ada yang lebih cantik dari aku di dunia ini..!! Paham kan sayangku..?!" ucap Naia dengan masih mencubit pinggang Dewa.


"A-aduh-aduh.. I-iya-iya paham kok paham. Lepasin dong, s-sakit-sakit-sakit.. A-mpuuun.... Becanda aja tadi itu.." jawab Dewa sambil meringis.


Naia melepaskan cubitannya lalu meminta ijin kepada Dewa, "Mas, nanti aku bawa ya mobilnya..? Mau ke toko alat tulis sama Silvia. Gak usah diantar gak pa pa.." ucap Naia merayu.


Dewa hanya menganggukkan kepalanya sambil memegang pinggang yang baru saja dicubit Naia, "Memang perempuan itu susah dimengerti. Baru saja dia marah-marah, begitu ada maunya, langsung aja ngerayu.." gerutunya dalam hati.


*****


Kemudian dengan diantar Naia, Dewa berangkat ke rumah mbah Binti menggantikan adiknya, sedangkan Nuraini menunggu dosennya di basecamp. Progres renovasi rumah mbah Binti sudah sekitar 70%, genteng pun sudah terpasang. Konsep rumah sederhana tapi nyaman dan layak huni sudah bisa dilihat. Dewa mengelilingi tiap sudut bangunan rumah untuk melihat lebih dekat bagaimana bentuk rumah mbah Binti nantinya, "Adikku memang benar-benar hebat. Walaupun tanah mbah Binti tidak begitu luas, tapi penataan yang tepat membuat tiap ruangannya terasa lega.." gumam Dewa dalam hati.


Tak lama berselang, Loreng dan beberapa pekerja datang, "Eh bos, sudah lama bos..? Bos kecil kemana bos, kok gak kelihatan..? Biasanya sebelum pekerjaan dimulai selalu kasih arahan ke orang-orang.." tanya Loreng.


"Enggak, paling sepuluh menitan.. Dia lagi nunggu dosennya, katanya sih mau datang, jadi hari ini lanjutkan aja kerjaannya. Oiya semua material sudah lengkap..? Apa masih ada yang belum dikirim..?" tanya Dewa.


"Tinggal lantai keramiknya aja bos. Mungkin nanti baru dikirim.. Oiya bos, untuk tukang pasang keramiknya itu dia minta borongan bos.." kata Loreng.


"Maksudnya borongan gimana tuh..?" sahut Dewa.


"Jadi mereka minta upah per meter pasang keramik. Itu tukangnya dari desa sebelah bos, orang-orang ini gak ahli pasang keramik.." jawab Loreng.


"Oh.. Yaudah kamu atur aja sama Nuraini, dia kan pimpronya. Aku ikut aja, yang penting bagus pekerjaannya.." ucap Dewa.


Mereka pun melanjutkan aktifitasnya. Loreng kadang-kadang membantu mengambilkan adukan semen buat tukang, sedangkan Dewa mengobrol dengan para tetangga mbah Binti. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, hingga waktu makan siang tiba. Tukang dan pembantu tukang pun bergegas menuju warung setelah sebelumnya menerima beberapa batang rokok dari Loreng, "Ini jatah rokok kalian hari ini. Sekarang kita makan.." ucap Loreng kepada mereka, kemudian bertanya kepada Dewa, "Sekalian ke warung bos..?" tanya Loreng.


"Kalian dulu aja, aku masih nunggu Naia datang.." jawab Dewa dijawab anggukan Loreng.


Setelah Loreng pergi, tidak berapa lama, Nuraini datang bersama dengan dosennya, "Kak.. Ada yang nyariin tuh..?" teriak Nuraini.


Dewa menoleh ke arah Nuraini, dia melihat seorang perempuan yang berdiri di samping Nuraini tersenyum dan menyapanya, "Dewa.. Gimana kabarmu..? Masih inget aku kan..?" tanyanya sambil memegang tanganku.


"Eh.. Bentar-bentar, kamu Novi kan..? Lho kok bisa kamu ada disini..? Jangan-jangan kamu dosennya adikku..?" tanya Dewa


Novi adalah teman sekelas SMA Dewa, perempuan dengan tinggi 160 cm, berperawakan langsing dan berkulit putih dan berambut sebahu itu adalah siswi yang pandai dan primadona sekolah waktu itu, "Alhamdulillah.. Ternyata masih inget sama aku.. Wah udah jadi pemborong nih.." ucapnya meledek.


"Apanya yang pemborong, aku cuma lihat-lihat aja. Tuh pimpro nya ada di sebelahmu.." ucap Dewa sekalian memuji Nuraini.


"Ah.. Kakak bisa aja. Masih banyak yang harus Nur pelajari kak, belum pantas lah jadi pimpro.." jawab Nuraini merendah.


"Kalian udah makan..? Itu di depan pasar ada yang jual makanan favoritmu, soto ayam, enaaak banget. Yuk kesana..?" ajak Dewa


"Eh.. Kakak sama mbak Novi duluan aja gih, Nur mau checklist dulu pekerjaan mereka.. Nanti aku susul kalian.." jawab Nuraini.

__ADS_1


*****


Mereka pun meninggalkan Nuraini yang sedang mengecek pekerjaan tukang untuk makan siang. Suasana jalan di depan pasar yang ramai, membuat Dewa dan Novi harus menyeberang dengan hati-hati.


"Nai.. Itu mas Dewa kan..? Itu yang lagi nyebrang.." ucap Silvia sambil menunjuk.


"Eh.. Iya. Tapi itu siapa cewek di samping mas Dewa..? Kok kelihatannya deket banget mereka. Iihhhh.. Awas aja ya kalau sampai berani kenalan sama cewek lain.." ucap Naia geregetan.


"Jangan mikir yang macem-macem ah. Mungkin itu mbak-mbak yang sekalian nyebrang.." jawab Silvia.


"Tuh.. Mereka masuk warung soto, itu lihat mas Dewa malah mempersilahkan dia. Gak-gak-gak.. Gak boleh dibiarin, ayo kita samperin aja Vi.. Aku gak terima ini.." Naia mulai jengkel.


Sementara itu di dalam warung, setelah memesan dua mangkuk soto dan minumannya, Dewa duduk di kursi berhadapan dengan Novi. Merekapun mulai mengobrol, "Kok kamu tau aku suka banget sama soto ayam kampung..?" tanya Novi.


"Siapa juga yang gak tau makanan favorit cewek tercantik di sekolah..? Tukang kebun aja tau tuh.." ucap Dewa meledek, yang disambut tawa renyah Novi.


"Anakmu berapa Wa..?" tanya Novi mulai serius.


"Anak..? Belum tau tuh berapa nanti rencananya.." jawab Dewa santai, kemudian tiba-tiba Naia duduk di sebelah kiri Dewa dan langsung memeluk tangannya, "Gak banyak kok, cuma dua aja, cowok sama cewek. Iya kan sayang..?" sahut Naia ketus.


"Eh. K-kalian kapan datangnya. Eee anu, ini k-kenalin t-teman SMA ku dulu Novi.." ucapku gagap.


Novi terkejut melihat kedatangan Naia dan Silvia yang tiba-tiba, "Eh.. Siapa mereka Wa..?" 


"Eeee.. Anu itu yang ini, sebelah kanan ini calon istriku, d-dan yang di sebelahnya...." Dewa terdiam setelah Naia memotong ucapannya, 


"Iya aku calon istrinya. Dan gak lama lagi kita mau menikah, eee tiga bulan lagi kan sayang..?.." ucap Naia sambil mengulurkan tangannya.


"Oh.. Aku Novi, Novi Wulandari, teman sekelas Dewa waktu SMA dulu.. Wah selamat ya kalian, jangan lupa undangannya.." jawab Novi lembut sambil menjabat tangan Naia dan Silvia.


Dewa berusaha memberikan penjelasan, "Eh, enggak kita masih la......" Dewa kembali terdiam setelah Naia memotong ucapannya, "Iya tenang aja, nanti pasti aku undang.." sahut Naia yang membuat Dewa benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.


Novi tersenyum kemudian dia tertawa kecil, "Hihihihi.. Waaah.. Ternyata gelar cowok yang terkenal suka bikin onar bisa dibuat tidak berdaya dihadapan ceweknya.. Hihihihi.." ucap Novi, kemudian dia menunjukkan sesuatu di jarinya sambil berkata kepada Naia, "Tapi kamu tenang aja, seandainya aku belum bertunangan, aku siap juga bersaing dengan kamu. Cuma kayaknya aku harus merelakan Dewa buat Naia saja deh.." ucap Novi kemudian tertawa.


"Selamat ya Nov.. Terus kapan nih resminya..?" tanya Dewa.


"Harusnya akhir bulan ini Wa, tapi calon mertua masih tugas ke luar negeri. Jadi diundur tiga bulan lagi. Kalian pasti dapat undangannya, tenang aja.." jawab Novi.


Tak lama kemudian, Nuraini sampai di warung, kemudian mereka mengobrol sambil meluruskan kesalah pahaman Naia terhadap Novi.


Saat asik memgobrol, calon suami Novi datang, "Ini Wa, kenalin mas Bayu, dia dosen informatika Universitas Budi Utama kota AB.." ucap Novi memperkenalkan calon suaminya, kemudian dia memperkenalkan Dewa kepada calon suaminya, "Ini mas orang yang aku bilang bernama Dewangga, dia teman sekelasku dulu, panggilannya Dewa dia terkenal tukang bikin onar bersama trio Wajannya.. Hihihi.."


Bayu memperhatikan Dewa dan memastikan sesuatu, sampai Dewa mengulurkan tangannya untuk berkenalan, "Dewa, teman Novi.."


Bayu menjabat tangan Dewa, kemudian dia mengajak Dewa untuk keluar warung soto, "Maaf, bisa kita bicara sebentar diluar..? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan.." jawabnya sopan.

__ADS_1


"Hhhhheeee..? Ada apa mas..?" tanya Novi.


__ADS_2