
Naia terlihat sedang emosi saat itu, Dia menutup pintu mobil keras-keras saat dia masuk mobil untuk melampiaskan kekesalannya. Mulutnya tertutup rapat, tak ada omelan yang keluar dari mulutnya. Pertanyaan dan ucapan Dewa sama sekali tidak dihiraukannya. Nafasnya kasar memburu tanda dia memendam rasa jengkel yang luar biasa. Dewa kembali bertanya untuk yang sekesian kalinya, "Emang ada apa sih..? Sampai segitu marahnya. Kita yang gak ikut-ikut jadi kena deh imbasnya.." tanya Dewa pelan.
Lagi-lagi tak ada jawaban yang keluar dari mulut Naia, mulutnya terkunci rapat. Dewa kembali hendak bertanya lagi, tapi Silvia segera menepuk pundak Dewa dan menggelenggakan kepalanya. Dia memberi kepada Dewa kode untuk membiarkan Naia sampai dia menangis dulu. Dan benar saja, setelah beberapa saat didiamkan, air mata Naia mulai menetes dan selanjutnya dia menangis sambil membenamkan mukanya ke lengan Dewa.
Dewa membelai rambut Naia kemudian bertanya lagi, "Hhhmmmm udah gak usah emosi lagi. Emang ada apa sih sampai marah sebegitunya..?" tanya Dewa.
"Itu lho mas, yang cowok tadi pagi itu gangguin Naia terus, padahal udah gak digubris sama Naia, eh dia malah makin menjadi. Yang buat jengkel lagi, si Rendi malah dukung cowok itu.." jawab Silvia.
"Gak itu aja, yang bikin aku jengkel dia itu sok mau bikin aku bertekuk lutut lah, memohon lah, dan ngancam-ngancam buat mas gak bisa jalan lagi kalau gak putusin aku. Emang sehebat apa dia mau bikin mas Dewaku kayak gitu..?" protes Naia.
"Eh.. Emang dia bilang gitu ya..? Kok aku gak dengar ya..?" tanya Silvia bingung.
"Iya dia bilang seperti itu, tapi ke Rendi bilangnya, bukan ke kak Naia.." sahut Nuraini.
Dewa menarik nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya, kemudian dia berkata, "Ealah cuma karena itu..? Udah biarin aja, ngomong kan gratis gak bayar. Suka-suka mereka aja lah, gak perlu ditanggapi. Yaudah, sekarang kita ke rumah mbah Binti aja yuk.." jawab Dewa santai.
Disaat mereka sedang mengobrol di dalam mobil, Bagus, Dimas dan Rendi mendekati mobil Dewa. Dengan gayanya yang sok jagoan, Bagus berdiri di depan mobil sambil melepas almamaternya dan memperlihatkan logo salah satu perguruan bela diri bernama Tapak Waja di bajunya.
Dewa memperhatikan Bagus, "Kalau dilihat dari matanya, sepertinya dia itu pecandu. Hhhmmm.. Ada satu cara untuk membuktikannya.." gumam Dewa dalam hati sambil menekan klakson mobil.
Diiiinn.. Diiiiiiiiiiinn..
Seorang pecandu narkoba akan bereaksi lebih dan tidak sewajarnya saat mereka terkejut, dan benar saja Bagus melompat hingga jatuh karena kaget kerasnya klakson mobil Dewa. Wajah Bagus pucat pasi yang membuat Naia tertawa. Bagus berdiri dan berkacak pinggang di depan mobil sambil memaki-maki Dewa, "Bangsat..!! Bajingan..!! Jangan sok kau. Sini kalau berani keluar..!!" umpatnya.
Melihat Bagus memaki-maki Dewa, Loreng dan Roni segera berlari ke arah mereka, kemudian Loreng langsung menendang Bagus hingga dia terjungkal.
Jdaaaaagggg.. Gdebuuug..
Bagus terjungkal karena tendangan Loreng, lalu Loreng membentaknya, "Woi bangsat..!! Siapa kamu beraninya bentak-bentak orang disini..?! Udah capek bernafas kamu..? Cepat pergi atau kubuat pincang kau..!!"
Badan Loreng yang tinggi besar membuat ciut nyali Bagus, Dimas dan Rendi. Mereka, tanpa mengucap satu katapun pergi dari gedung serbaguna.
Roni menepuk pundak Loreng, "Sejak kapan kau sabar Reng..? Biasanya juga langsung bag bug bag bug aja.." ujar Roni.
"Sejak kenal sama bos Dede, bos banyak mengajariku bagaimana harus bertindak, jadi harus melakukan sesuatu di waktu dan tempat yang tepat.." jawab Loreng dan Dewa hanya mengangkat jempolnya untuk Loreng.
Sebelum pergi, Dewa berpesan kepada Loreng dan Roni, "Jangan lupa pesanku tadi. Oh iya Reng, kelihatannya anak tadi itu pecandu, jadi kau awasi dia juga.." ucap Dewa lalu pergi meninggalkan Roni dan Loreng.
Siang itu Dewa pergi melihat hasil renovasi rumah mbah Binti. Seperti yang sudah diperkirakan, antara dua hingga tiga hari lagi rumah mbah Binti akan siap untuk ditempati. Terlihat saat itu dua orang petugas petugas dari PLN memasang jaringan listrik di rumah mbah Binti.
*****
Tak terasa renovasi rumah mbah Binti telah selesai, hanya tinggal membersihkan sisa-sisa dari material bangunan yang tertumpuk di luar rumah. Pagi itu Nuraini dibantu dengan Naia, Silvia, Oki, Ivan dan Risa membersihkan bagian dalam rumah mbah Binti sekaligus menata perabot rumah tangga yang mulai berdatangan satu demi satu. sedangkan material sisa bangunan yang tertumpuk di luar rumah dibersihkan oleh Loreng, Bagio dan dua orang pembantu tukang. Mereka terlihat bersemangat hingga tiba-tiba hp Nuraini berdering, tukang yang mengerjakan proyek KKN Nuraini mengatakan bahwa ada masalah di lokasi proyek. Tukang itu memberi laporan bahwa ada tiga orang mahasiswa yang setelah memfoto dan memvideo bangunan proyek, mereka memaksa menggeser posisi tandon air karena akan dibangun satu toilet lagi.
Dewa melihat raut wajah adiknya yang terlihat emosi, "Ada apa Nur..? Kok tegang banget mukamu..?" tanya Dewa.
"Itu kak, barusan tukang yang ngerjakan proyek toilet umum di dusun Janti telepon, katanya ada yang maksa ngrubah posisi tandon diganti dengan toilet. Aku tanya siapa, katanya gak tau, hanya bilang tiga orang cowok.." jawab Nuraini.
"Gini aja, kamu datang aja kesana sama Loreng, nanti kalau ada apa-apa segera kasih tau kakak, biar kakak nyusul kesana.." jawab Dewa diikuti anggukan Nuraini.
__ADS_1
Nuraini dengan diantar Loreng dan Oki berangkat menuju lokasi proyek KKN. Dan benar saja disana sudah ada Bagus, Dimas dan Rendi yang bersitegang dengan tukang yang membantu mengerjakan proyek itu.
Nuraini langsung menanyakan maksud dari mereka bertiga, "Heeeeei.. Maksud kalian apa maksa-maksa suruh geser tandon air..?" ucapnya emosi.
"Hanya buat nambah satu toilet aja, kan gak masalah kalau proyeknya dijadikan satu, kamu tinggal ganti aja laporannya ke kampus. Tenang, gak akan ketahuan juga, kan kampus kita juga beda sama mereka.." jawab Rendi
"Gak-gak, kamu hanya memanfaatkan jerih payah kami, udah kau buat aja sendiri proyekmu, tuh masih banyak tempat di desa ini yang butuh perbaikan..!" ucap Nuraini tegas.
"Kamu kok jadi rewel amat sih. Wis lah, gak usah dibikin ribet, kalau aku bilang geser ya geser. Aku mau buat satu toilet lagi disini.." jawab Bagus menyepelekkan.
"Kamu kok malah belain mereka Ren..? Sebagai ketua kelompok, harusnya kamu bantu kita, bukan bantu mereka. Jangan hanya numpang nama aja di kelompok kita. Kami sudah diamkan, tapi kamu malah gak sadar juga. Aku pasti akan buat laporan ke kampus untuk masalah ini.." sahut Oki.
"Coba aja kalau kau berani, kamu akan tau akibatnya nanti.." jawab Rendi mengancam.
Loreng yang semula hanya diam melihat mereka berdebat, akhirnya bertindak. Dia merasa harus melindungi Nuraini, "Woi.. Kalau bos kecilku udah bilang gak ya gak. Kalian gak ngerti bahasa manusia..?!" bentak Loreng sambil maju di depan Nuraini.
"Preman gak usah ikut campur deh. Dengan pendidikanmu, kamu gak layak ikut omong disini, kamu belum tau aku anggota tapak........" belum sempat meneruskan bicaranya, Loreng langsung menghantam rahang Bagus dan menendang perut Dimas.
Praaaaaaakk.. Jbuuuuuuugg..
Bagus langsung terjatuh tersungkur setelah mendapat pukulan di rahangnya, sedangkan Dimas terjungkal kebelang.
Bruuuuuuukk..
Melihat Rendi akan menyerang Loreng dari belakang, Oki dengan cepat menendang Rendi
Jbaaaaaaagg..
Braaaakk...
Mendapat tendangan dari Oki membuat Rendi kesakitan sambil mengumpat Oki, "Bajingan kau, berani-beraninya menyerangku dari belakang.." ucap Rendi, kemudian menyerang balik Oki, tapi Oki yang sudah mendapat dasar bela diri dari Kosim dengan mudah menangkisnya dan membalas serangan Rendi.
Ctaaaaaakk.. Jbuugg.. Jdaaaaggg..
Rendi kembali terjungkal setelah mendapat pukulan di perut dan tendangan yang mengenai dadanya.
Bruuuukk...
Melihat perkelahian, tukang dan pembantu tukang segera melerai mereka, "Woiii.. Sudah-sudah kalian cukup jangan berkelahi lagi.. Bang Loreng, tolong mereka hanya mahasiswa, jangan terlalu serius sama mereka.." ucap tukang.
"Tenang pak, tadi hanya main-main saja. Mereka itu belum pantas membuat aku serius, santai pak.." jawab Loreng sambil maju ke tempat Bagus.
Tukang yang tau siapa Loreng hanya diam saja, dalam hati mereka berdo'a agar ketiga mahasiswa itu masih diberi kesempatan bertobat.
"Eh.. Kau tadi bilang tapak apa..? Tapak anjing..? Itu nama grup lawak ya..?" ejek Loreng.
"Jangan asal ngomong bang. Kamu belum tau siapa guruku, mungkin kamu gak pernah lihat youtube, jadi ngomongmu sembarangan.." jawab Bagus.
"Kamu juga gak tau siapa Bagus, dia anak seorang Ulama di kota AG, santrinya pasti akan membalas perbuatanmu.." sahut Dimas.
__ADS_1
Mendengar ucapan mereka, Loreng langsung menampar Bagus dan Dimas.
Plaaaaakk.. Plaaaaakk..
Mereka hanya diam saja tidak berani membalas tamparan Loreng, "Panggil gurumu kemari, jangankan gurumu, kalau perlu mbah dari gurumu suruh kemari..!! Dan aku sama sekali tidak perduli, mau kau anak ulama atau ubentar aku gak akan takut. Kalau kau memang merasa anak seorang ulama, harusnya kelakuanmu tidak seperti ini.." bentak Loreng kemudian kembali menampar Bagus.
Plaaaaaakk.. Ploooookk..
"Itu aku sengaja bantu bapakmu untuk memberimu pelajaran. Sekarang kau pergi. Jangan pernah ganggu proyek bos kecilku lagi..!! Kalau kamu masih berani menganggu proyek ini lagi, aku akan patahkan jari-jarimu itu.. Paham..?! Cepat Pergi..!!" bentak Loreng.
Mereka bertigapun meninggalkan lokasi proyek KKN Nuraini dengan perasaan malu dan dendam. Nuraini hanya tersenyum, ada perasaan bangga saat Loreng menyebutnya bos kecil, "Ini semua berkat kak Dewa, walaupun dia tidak ada disini, tapi kak Dewa yang telah membantuku melalui bang Loreng, sampai-sampai bang Loreng pun juga menghormatiku. Makasih kak Dewa, aku sayang banget sama kakak.." gumam Nuraini dalam hati.
Loreng kembali meneriaki Bagus dan Dimas, "Woooiii.. Jangan lupa panggil gurumu kemari. Bilang Loreng sudah menghajarmu.. Hahahha.." Loreng memprovokasi.
"Bang Loreng, Oki, makasih ya udah bantuin Nur.." ucap Nuraini.
"Udah kewajiban saya buat bantu bos kecil. Jadi bos kecil tidak usah berterimakasih.." jawab Loreng, lalu dia menepuk pundak Oki, "Wah ternyata bang Kosim udah berhasil melatihmu.. Gerakanmu udah lumayan bagus, terus aja berlatih. Sedikit koreksi aja, tadi pas kamu nendang, posisi kakimu harusnya gini, biar kalau ada serangan balasan kamu bisa menghindar.." ucap Loreng memberi saran.
"Iya bang, memang masih perlu latihan terus. Ternyata bermanfaat juga berlatih bersama bang Kosim.." jawab Oki sambil menggaruk kepalanya.
Setelah memberikan instruksi kepada tukang, Nuraini kembali ke rumah mbah Binti.
*****
Nuraini langsung berterima kasih sambil memeluk kakaknya kemudian menceritakan kejadian di lokasi proyek, "Kak.. Terima kasih, karena kakak bang Loreng bantuin Nur tadi.." ucap Nuraini mengakhiri ceritanya.
"Yang penting masalahmu sudah selesai. Oiya, Upah Bagio dan teman-temannya terus biaya makan di warung udah beres semua..?" tanya Dewa.
"Udah dong, semua sesuai arahan kakak. Awalnya bang Bagio dan teman-temannya gak mau terima, katanya terlalu banyak, dia gak enak sama kakak. Ya Nur bilang aja kalau gak mau terima siap-siap aja kalau mereka kena marah sama kakak. Akhirnya mereka mau terima.. Hihihihi.." jawab Nuraini.
"Kamu itu ada-ada saja Nur.." ucap Dewa sambil memeluk adiknya.
Setelah hampir seharian menata, rumah mbah Binti akhirnya siap untuk ditempati. Para wargapun terlihat senang dengan keadaan rumah mbah Binti yang baru. Silvia keluar rumah mbah Binti dan langsung menyapa Nuraini, "Sudah beres Nur masalah di lokasi proyek..?" tanya Silvia.
"Sudah dong. Diberesin semua sama bang Loreng.. Loh kak Naia mana..?" tanya Nuraini
"Eh.. Tumben nih adik iparku nyariin. Kenapa kangen kah sama kakak..? Hihihi.." sahut Naia.
"Iya kangeeeeen banget, udah tujuh tahun ya kita gak ketemu.. Weeekk.." balas Nuraini.
Dewa hanya tersenyum melihat mereka bertiga, kemudian mengajak mereka semua ke warung di pasar, "Yuk sekarang kita ke warung. Kalian semua makan sepuasnya. Reng ajak sekalian itu Bagio sama yang bantu tadi.." ucapnya.
"Boleh bungkus gak bang..? Buat makan malam nanti.. Hehehhe.." sahut Oki.
"Udah bungkus aja gak pa pa, kalau perlu sekalian ajak yang jual buat masakin kalian di basecamp.." jawab Dewa disambut tawa oleh mereka semua.
"Wah, bang Dede ternyata suka bercanda juga ya..?" celoteh teman-teman Naia.
"Hahahahaha.."
__ADS_1
*****