Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Kepergian Sang Wapres


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Dewa dan Naia, pak Wira dan pak Gunawan sepakat menentukan tanggal pernikahan mereka dan mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan Dewa dan Naia. Undanganpun telah selesai dibuat dan siap untuk disebar kepada sahabat, teman dan kolega pak Wira dan bu Santi. Berbeda dengan pak Gunawan yang hanya mengundang beberapa teman dekat dan keluarga besarnya. Pak Gunawan masih merasa khawatir dengan keamanan Dewa.


Pagi itu di ruang tengah rumah pak Wira, "Yakin mereka tidak kita ajak bicara dulu pa..? Mungkin Naia juga ingin mengundang teman-teman kampusnya.." tanya bu Santi.


"Akan terlalu lama kalau mengajak mereka bicara, pasti ada saja nanti alasannya. Hal seperti ini sebaiknya memang orang tua yang memutuskan.. Sudah mama tenang saja, masih ada waktu satu bulan. Dua minggu lagi kita kunjungi Naia sekalian mengantarkan undangan untuk teman-teman Naia.." jawab pak Wira.


"Ya sudahlah terserah papa gimana baiknya saja. Mama ikut aja keputusan papa.." jawab bu Santi.


Obrolan mereka terhenti ketika siaran berita di salah satu stasiun TV Nasional yang memberitakan kematian sang wakil presiden akibat serangan jantung.


"Pa itu lihat berita di TV, wakil presiden meninggal dunia terkena serangan jantung saat sedang memimpin rapat bersama dengan beberapa menteri.." ucap bu Santi.


"Benar ma.. Tapi pak Nurdiono terlihat sehat-sehat saja sebelumnya. Bahkan beberapa minggu lalu papa sempat bertemu saat beliau meresmikan stadion sepak bola, dan beliau terlihat sangat sehat. Tapi yang namanya umur manusia, hanya Tuhan yang tau.." jawab pak Wira


Berita kematian sang wakil presiden menjadi berita utama sejumlah media Nasional yang membuat kaget seluruh rakyat tak terkecuali Dewa dan teman-temannya.


"Mas coba lihat ini deh, berita ini beneran gak sih..? Pak Wapres meninggal dunia karena serangan jantung.." ucap Naia sambil menunjukkan hp nya kepada Dewa.


Dewa yang sedang mempelajari rencana biaya investasi yang dibuat Silvia pun langsung melihat layar hp Naia, "Eh beneran ini, pihak dokter kepresidenan juga sudah mengumumkannya. Tapi mengapa kok aku merasa ada yang aneh ya..? Bukankah pak wapres tidak punya riwayat penyakit jantung..?" ucap Dewa heran.


"Mas tau dari mana kalau pak wapres tidak punya penyakit jantung..?" tanya Silvia.


"Benar yang bos katakan, aku dan bos pernah menjadi pasukan pengawal wakil presiden selama lebih dari satu tahun. Selama kami menjadi pengawalnya, pak wapres selalu memperhatikan kebugaran fisiknya, jadi tidak mungkin beliau terkena serangan jantung.." sahut Yuma.


"Selain rajin berolah raga, pak wapres adalah sosok yang humoris dan senang bercanda. Jadi kecil kemungkinan beliau punya penyakit jantung. Pasti ada penyebab lain yang tidak diungkapkan oleh dokter.." sambung Dewa kemudian menceritakan keseharian sang wakil presiden saat dia masih menjadi pengawalnya.


"Ternyata pak wapres adalah orang baik dan sangat perhatian kepada bawahannya.." ucap Silvia sedih.


"Benar nyonya muda bos, selain itu pak wapres juga perhatian kepada rakyat, hanya saja beliau jarang mendapat kesempatan untuk turun langsung ke masyarakat. Kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat diambil semuanya oleh presiden.." sahut Yuma.


"Sudahlah kita do'akan saja semoga pak wapres mendapat tempat terbaik disisiNya. Oiya Yudha sama Roni, nanti sore ajak orang-orangmu ke gunung, tempat dimana kalian biasa berlatih bersama mbah Sastro.." ucap Dewa.


"Siap bos.." jawab Yuma diikuti anggukan Roni.


"Sepertinya kematian wapres sudah direncanakan oleh seseorang sejak lama. Aku bisa merasakan campur tangan kekuatan kegelapan pada kematian wapres. Tapi siapa dan apa tujuannya..? Kalau memang untuk menguasai negeri ini, mengapa bukan presiden yang menjadi sasarannya..?" tanya Dewa dalam hati.


"Ada apa sayang..? Sepertinya ada yang menganggu pikiran mas Dewa..?" tanya Naia.

__ADS_1


"Bukan apa-apa.. Yaudah kita jemput Nur di lokasi proyek terus pulang dan istirahat.." ucap Dewa sambil berdiri.


*****


Seperti yang sudah mereka sepakati, Yuma bersama dengan Roni dan yang lainnya bertemu dengan Dewa di puncak Wilis, di depan goa tempat mereka berlatih kekuatan Kalimasada. Dewa mulai menjelaskan tujuannya kepada Yuma dan yang lainnya, "Kalian sudah mengetahui sendiri berita tentang kematian pak wapres. Tapi aku merasakan ada campur tangan kekuatan gelap pada kematian wapres. Jadi aku ingin mengingatkan kepada kalian bahwa musuh yang akan kita hadapi sangat kuat. Itulah mengapa aku meminta kalian berkumpul disini, aku ingin tau hasil latihan kalian bersama mbah Sastro.."


"Lalu apa yang harus kami lakukan bos..? Kami selalu menjalankan pesan kakek Sastro untuk terus berlatih dan bermeditasi agar kekuatan dan kemampuan kami terus meningkat.." jawab Yuma.


"Benar apa yang diucapkan bang Yuma, kami selalu berlatih bersama di sela-sela kesibukan kami. Dan aku merasa kekuatanku meningkat pesat sekarang.." sambung Roni.


"Aku tidak meragukan itu, tapi yang ingin aku tau, sejauh mana kemampuan kalian berkembang. Jadi sekarang, kalian serang aku bersama-sama dengan kekuatan maksimal kalian.." jawab Dewa kemudian mengambil posisi kuda-kuda.


Yuma tersenyum mendengar ucapan bos nya itu, "Saatnya membuktikan kepada bos, bahwa aku bisa memgalahkannya sekarang.." gumam Yuma dalam hati.


Dengan langkah kalimasada, Yuma langsung bergerak maju menyerang Dewa dengan pukulan kalimasada miliknya.


Whuuuuussss.. Bweeeetttt..


Disaat pukulan Yuma hendak mengenai dadanya, dengan langkah kalimasada, Dewa bergerak menghindar dan membalas pukulan Yuma. Dengan sigap Yuma menahan pukulan Dewa dengan dobel covernya. Kekuatan pukulan Dewa membuat Yuma harus mundur beberapa langkah kebelakang dan menabrak pohon yang ada di belakangnya.


Sreeeeeettt... Jtaaaaaakkk..


"Aku sudah bilang, serang aku bersama-sama dengan kekuatan maksimal kalian..!" ucap Dewa serius.


Melihat keseriusan Dewa, mereka tanpa ragu-ragu menyerangnya dengan kekuatan penuh. Mereka silih berganti menyerang Dewa seakan tidak memberi kesempatan kepada bosnya itu untuk bernafas walaupun sesaat.


Whuuuusss.. Ctaaaakk.. Ctaaaaakkk..


Taaaappp.. Sreeettt.. Jbuuugggg... Jdaaaaggg..


Beberapa pukulan dari mereka mendarat di tubuh Dewa dan membuatnya mundur beberapa langkah, "Kekuatan dan kecepatan mereka meningkat dengan pesat, entah pukulan siapa tadi, tapi lumayan keras dan cukup membuat pertahananku kacau. Hhmmm.., saatnya meningkatkan kekuatan, ternyata mereka tidak bisa dianggap remeh.." gumam Dewa dalam hati.


Roni dan yang lainnya tidak memberikan kesempatan kepada Dewa untuk bersiap, mereka melanjutkan serangannya.


Whusssss.. Ctaaaaapp.. Whuuuungg..


Sreeetttt... Ctaaappp.. Ctaaaapp..

__ADS_1


Sudah berpuluh pukulan maupun tendangan mereka arahkan ke pada Dewa, tapi kali ini tidak ada satupun yang dapat menyentuh kulit Dewa, tapi sebaiknya, Dewa berhasil menyerang balik mereka. Kosim yang sedikit lengah harus merasakan pukulan Dewa yang mengenai perutnya dan membuatnya terpental hingga terjatuh.


Wheeeetttt.. Jbuuuggg.. Bruuuuuggg...


"Sial.. Pukulan bos benar-benar kuat dan keras sekali. Aku hampir tidak bisa merasakan tubuhku.." gerutu Kosim sambil berusaha berdiri.


"Bagaimana bos bisa menjadi lebih kuat..? Bos dengan mudah menghindar dan menangkis serangan kami.." gumam Roni hati sambil maju menyerang Dewa.


Yuma bangkit dan langsung menyerang Dewa mambantu teman-temannya yang mulai kuwalahan menghadapi serangan dari Dewa. Puluhan jurus, ratusan tendangan dan pukulan silih berganti mereka keluarkan, demikian juga dengan Dewa yang juga sudah menghindar dan menangkis serangan-serangan mereka, "Ayo keluarkan seluruh kemampuan kalian, tekan batas diri kalian untuk meningkatkan kekuatan kalian. Jika hanya seperti ini, bagaimana kalian akan menghadapi kekuatan kegelapan..?!" teriak Dewa untuk membangkitkan semangat mereka.


Ucapan Dewa membuat Yuma, Kosim, Roni dan Loreng merasakan kekuatan di dalam dirinya bergejolak, mereka merasakan kekuatan spiritual mereka meningkat. Dengan mengatur pernafasan, mereka mengalirkan kekuatan spiritual mereka melalui nadi prana ke seluruh tubuh mereka. Setelah beberapa saat, mereka kembali menyerang Dewa dengan kekuatan dan kecepatan yang lebih besar dari sebelumnya.


"Awas bosss, kami datang..!!" teriak Yuma.


Whuusssss... Ctaaaapp.. Ctaaaakk..


Dewa menghindar beberapa langkah kebelakang kemudian mengangkat tangannya di depan dada dan membentuk medan energi untuk menangkis serangan mereka.


Sreeetttt.. Whuuuuuungggggg...


Sebuah medan energi seperti tameng terbentang di depan Dewa dan menahan pukulan dari Yuma dan yang lainnya. Suara ledakan terdengar setelah kedua energi itu berbenturan.


Boooooommmmm....


Dewa terseret mundur beberapa meter, sedangkan Yuma dan yang lainnya terpental hingga jatuh ke tanah atau menabrak pohon yang ada di belakang mereka.


Sreeettttt...


Bruuuuggg.. Braaaakkk...


"Cukuupp..! Bagus aku bangga dengan kalian. masing-masing dari kalian berhasil menahan seranganku.. Tapi ingat, jangan jumawa, terus tingkatkan kekuatan kalian.." ucap Dewa memuji teman-temannya.


"Aahhh.. B-bos sangat kuat, aku hampir tidak bisa berdiri.." keluh Loreng sambil berusaha berdiri.


"Maaf bang, aku masih belum bisa seperti yang bang Dewa inginkan. Tapi aku akan terus berusaha.." ucap Tiara.


"Sudahlah, aku tidak menyalahkanmu, seharusnya kamu mempelajari ilmu yang lainnya. Kamu bisa mengobrol dengan Naia, atau bisa juga dengan Silvia dan Nuraini. Aku yakin kamu pasti menemukan sesuatu yang bisa meningkatkan potensi yang ada di dalam dirimu. Tapi aku merasa lega, kemampuan dan kekuatanmu bertambah besar.." ucap Dewa.

__ADS_1


Plok.. Plok... Plok...


Tiba-tiba terdengat suara tepuk tangan dari seseorang kemudian orang itu berjalan menghampiri mereka.


__ADS_2