
Sore itu setelah latihan Dewa mengumpulkan orang-orang yang ada di dalam sasana untuk membahas rencana menyambut kepulangan mbah Binti pada esok pagi, "Gimana masalah tumpeng dan nasi kotak Ron, besok pagi sudah siap kan..?" tanya Dewa mengawali obrolan.
"Beres bos. Besok sekitar jam 7 semua akan diantar ke rumah mbah Binti.." jawab Roni.
"Baik, kita bagi tugas. Roni, pagi-pagi jemput mbah Binti sama Kartika, Icong kamu besok temani Roni jemput mbah Binti. Loreng kamu dan beberapa orangmu, amankan sekitar rumah mbah Binti sekalian sambut pak kepala desa beserta aparat desa lainnya. Eeee, Untuk urusan pembagian nasi kotak aku serahkan sama bang Kosim aja dibantu oleh Risa, dan teman-temannya. Naia dan Silvia, kalian dampingi mbah Binti dan Kartika. Nuraini kamu nanti mendampingi pak kepala desa saat menyerahkan bantuan kepada mbah Binti.." ujar Dewa menjelaskan.
"Siap bos, aku akan mengajak sekitar sepuluh anak buahku buat pengamanan.." jawab Loreng.
"Siap bos.." jawab Roni, Kosim dan Icong bersamaan.
"Alhamdulillah aku dapat tugas juga. Eeee itu mas, buat bagi nasi kotaknya itu setiap rumah dikasih satu saja atau dikasih sesuai jumlah anggota keluarga masing-masing..?" tanya Risa malu-malu.
"Mengingat jumlah nasi kotak yang terbatas, kalian bagi aja satu rumah satu nasi kotak.. Eee, untuk masalah ini, kalian koordinasi aja sama bang Kosim.." jawab Dewa.
Dewa berhitung kebutuhan nasi kotak untuk acara syukuran atas kepulangan mbah Binti, "Oiya bang, besok sisihkan dulu lima kotak untuk dibawa aparat desa kembali ke kantor dan sepuluh kotak untuk anak buah Loreng. Kemudian sisanya baru bagi ke tetangga mbah Binti. Dan khusus tim ini, aku akan traktir kalian di kafe Pinus.." ujar Dewa kepada mereka.
"Waahh.. Asik tuh.. Mantab tuh bang.." jawab mereka semangat.
"Oiya sayang, aku tadi udah ijinkan Kartika tidak masuk sekolah. Ini malah wali kelasnya besok juga mau hadir, sekalian pengen lihat kondisi rumah Kartika dan ada yang mau dibahas katanya.." ucap Naia.
"Ah.. Aku hampir lupa, guru-guru Kartika belum dimasukkan hitungan nasi kotak ya..? Yaudah kalau begitu, bang Kosim siapkan juga paling tidak sepuluh kotak buat guru-guru Kartika, aku rasa masih cukup kok itu nasinya.." jawab Dewa.
"Siap bos. Sesuai perintah.." jawab Kosim.
Setelah selesai membahas rencana yang besok harus dilakukan, Risa dan yang lainnya pun pamit untuk kembali ke basecamp. Kemudian Dewa meminta Naia, Silvia dan Nuraini pulang duluan, karena ada hal yang akan dia bahas dengan Loreng dan Roni. Dewa menyerahkan kunci mobil kepada Naia, lalu mereka segera meninggalkan sasana.
Setelah kepergian Naia, Dewa bertanya kepada Loreng, "Oiya, ada kabar apa Reng..? Sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan..?" tanya Dewa yang membuat Loreng terkejut.
"Loh.. Kok bos tau ada yang mau aku laporkan..? Eemmm.. Ini bos, tadi siang anak buahku melihat dua mobil ini masuk ke dalam gudang bos.." jawab Loreng sambil menunjukkan video kiriman anak buahnya.
Dewa memperhatikan video yang loreng tunjukkan. Video pertama menunjukkan Sebuah mobil sedan berwarna hitam disusul mobil berjenis city car berwarna putih masuk ke dalam gudang, sedangkan video kedua memperlihatkan kedua mobil itu meninggalkan area gudang, "Anak buahmu tau gak, berapa lama mereka di dalam gudang..?" tanya Dewa
"Kata anak buahku sekitar sepuluh sampai lima belas menit bos.." jawab Loreng.
Dewa terdiam berfikir apa yang akan dia lakukan selanjutnya, kemudian dia bertanya kepada Loreng, "Oiya Reng, kamu tau jalan lain menuju gudang selain lewat jalan raya..?" tanya Dewa.
"Ada bos, melalui jalan makam. Tapi hanya bisa dengan sepeda motor.." jawab Loreng.
Dewa kembali berfikir untuk menyusun strategi. Lalu dia menemukan sebuah ide yang mungkin akan bisa dijalankan, "Ron, kamu siapkan mobil, bawa bang Kosim dan Icong, tapi kamu standby saja di sekitar jalan masuk ke gudang. Jangan terlalu dekat tapi juga gak terlalu jauh. Yang penting kamu bisa tau ada yang masuk ke area gudang, lalu tunggu instruksiku.." ucap Dewa.
"Siap bos, sesuai perintah.." jawab Roni.
"Reng, ayo bawa motormu, kita pergi melalui jalan makam saja.." Dewa dan Loreng segera bergegas menuju gudang.
*****
Loreng memarkir motornya di sekitar area makam, lalu mereka berdua bergegas menuju gudang dengan berjalan kaki. Sementata itu, tidak begitu lama, Roni pun sudah siap di posisinya menunggu instruksi lebih lanjut dari Dewa. Sore itu, menjelang magrib, di dalam gudang cukup gelap sehingga Dewa dan Loreng harus menyalakan lampu flash hp untuk penerangan, kemudian menuju tempat berhentinya mobil itu. Dewa melihat ada jejak ban disana. Kemudian Dewa memberi instruksi kepada Loreng, "Reng, kamu lihat di sebelah sana sampai sana, beritahu aku kalau ada hal yang mencurigakan.." Loreng segera menuju ke arah yang ditunjuk Dewa, sedangkan Dewa mencari di arah yang berlawanan dengan Loreng.
Setelah sekitar 20 menit mencari, akhirnya Dewa menemukan sesuatu yang mencurigakan diantara tumpukan kayu pallet bekas. Dewa melihat ada kotak kayu yang terlihat masih baru. Ada lima kotak dengan tinggi setengah meter dan panjang sekitar satu meter, yang diletakkan bertumpuk. Dewa memanggil Loreng, "Reng kemari, kamu videokan ini. Aku akan membuka paksa kotak ini.." ucap Dewa.
"Siap boss, agak gelap tapi masih kelihatan bos.." jawab Loreng.
__ADS_1
Dewa mengambil salah satu kotak dan membukanya dengan memukul pinggiran kotak itu.
Braaaaakk..
Tutup dari kotak itupun terbuka, Dewa terkejut dengan isi dari kotak itu, beberapa kantong plastik tebal berisi butiran kristal berwarna putih seperti pecahan kaca, Dewa membuka salah satu plastik dan mengambil isinya, "Ini jelas sabu-sabu. Siapa pemilik barang haram ini..? Lebih baik aku sembunyikan saja dulu semuanya sambil menunggu pemiliknya datang. Aku yakin jika tidak malam ini, pasti dini hari mereka akan mengambilnya.." gumam Dewa dalam hati.
"Loh bukankah itu seperti narkotika jenis sabu sabu ya bos..?" tanya Loreng.
"Matamu tajam juga Reng. Benar ini sabu sabu. Tapi milik siapa ya..? Udah sekarang kita pindahkan dulu kelima kotak ini, kita sembunyikan dulu sambil menunggu pemiliknya datang.." ujar Dewa.
Dewa mengajak Loreng untuk memindahkan kelima kotak itu ke sisi lain gudang. Lalu mereka menunggu, apakah pemiliknya akan datang atau tidak. Kemudian Dewa menghubungi Roni melalui pesan singkat.
[Dewa] |Kalau ada yang masuk, segera beritahu..|
[Roni] |Siap bos..|
Kemudian Dewa mengirimkan pesan suara kepada Roni,
[Dewa] "Rencananya nanti begini Ron, nanti kalau ada yang masuk, tunggu tanda dariku, kemudian yang harus kamu lakukan adalah gunakan mobilmu untuk menghalangi akses jalan keluar area gudang. Selanjutnya, di sisi kanan gudang itu ada gerobak sampah. Kosim dan Icong pindahkan gerobak itu sampai menghalangi pintu masuk gudang. Sekarang tunggu saja di posisimu sampai aku memberi tau kapan kau jalankan rencananya.."
Hampir dua jam menunggu, akhirnya Roni memberitahu bahwa ada mobil MVP hitam yang masuk ke area gudang. Setelah mendapat informasi dari Rini, Dewa berbisik kepada Loreng, "Reng, aktifkan perekam suara di hp mu. Pastikan bisa merekam dengan baik.." bisik Dewa.
Empat orang turun dari mobil tanpa mematikan mesin mobilnya agar mereka bisa menggunakan lampu mobil untuk penerangan di dalam gudang. Mereka ribut mencari kotak yang sudah disembunyikan oleh Dewa sebelumnya, "Mana kotaknya..? Cepat kalian cari. Johan bilang ada di sekitar tumpukan palet bekas ini.. Segera temukan kotak itu..! Kata Johan ada lima kotak dan ditumpuk.." suara Komeng memerintah.
"Tidak ada bos. Yang ada hanya tas ini, berisi paket cimeng saja. Sebaiknya bos telepon saja si polisi sialan itu.." jawab anak buah Komeng
"Aarrrggghh.. Brengsek Johan.." gerutu Komeng lalu menelepon Johan
[Johan] "Aku menaruhnya di tumpukan pallet bekas yang ada di tengah-tengah gudang itu. Disampingnya ada tas merah.."
[Komeng] "Mana..? Tidak ada, aku dan anak buahku sudah mencarinya, tidak ada kotak yang kau maksud, hanya ada tas merah saja.
[Johan] "Coba kamu cari dulu lah, pasti ketemu.."
[Komeng] "Sudah kau kemari saja, tunjukkan langsung dimana tempatnya. Nilai barang itu miliayan, jangan sampai kau main-main dengan Suwarno.."
Komeng menutup sambungan teleponnya. Sambil marah-marah, Komeng menyuruh anak buahnya tetap mencari. Sementara itu, di tempat sambil bersembunyi, Dewa dan Loreng mendengarkan celotehan-celotehan Komeng dan anak buahnya, "Nilai sabu-sabu ini setidaknya sepuluh milliar, pantas saja mereka panik. Dan yang ditelepon tadi oknum polisi, siapa dia..?" gumam Dewa dalam hati.
Sekitar hampir satu jam, Johan sampai kemudian dia turun dari mobil putih bersama dengan rekannya dengan tetap membiarkan mesin mobil menyala. Melihat kedatangan Johan, Dewa segera mengirimkan pesan singkat kepada Roni untuk menjalankan rencana yang sudah mereka susun tadi.
Sementara itu Johan menemui Komeng sambil memaki-makinya, "Kamu itu gak bisa cari malah marah-marah. Barangnya ada di....., eh dimana kotak-kotak itu..? Aku bersumpah menaruh kotak itu disini.." Johan mulai panik, kemudian dia bertanya kepada rekannya, "Kau tadi menaruh kotak itu belakangan kau pindah kemana kotaknya..?" tanya Johan kepada teman yang datang bersamanya
"Bukannya kamu tau sendiri aku menumpuk kotak yang kubawa diatas kotak yang kamu taruh duluan..?" jawab orang itu bingung.
Komeng semakin emosi, diapun membentak Johan, "Jangan cari alasan kalian, mana mungkin kotaknya hilang..?! Emang diambil gendruwo..?" ejek Komeng.
"Sebentar, kita cari dulu, mungkin ada di sebelahnya.." jawab Johan sambil memindahkan beberapa kayu palet, tapi tetap saja tidak menemukan kotak yang dicarinya.
Braaakk.. Praaakk.. Praaaakk..
Tak lama berselang, Roni mengirimkan tanda bahwa mereka sudah selesai menjalankan rencana, kemudian Dewa keluar dari persembunyiannya dengan membawa salah satu kotak dan membanting kotak itu di hadapan mereka sehingga isinya berhamburan.
__ADS_1
Braaaaaakkk..
"Barang ini yang kalian cari..? Sabu-sabu senilai hampir sepuluh milliar milik Suwarno bukan..?" tanya Dewa santai.
"S-siapa kamu..? Ternyata kamu yang ambil barang milik Suwarno..? Kalau memang sabu-sabu kenapa, apa masalahmu..?" hardik Johan lalu mengeluarkan pistolnya dan menodong Dewa
"Udah Jo, tembak aja. Daripada bikin masalah buat kita nanti.." perintah Komeng.
Dewa menggunakan langkah kalimasada bergerak dengan sangat cepat dan berada di depan Johan sambil mencengkeram tangan Johan yang memegang pistol, kemudian mematahkan siku Johan ke atas dan menendang lutut Johan bagian samping.
Krtaaaaaakk.. Kraaaaaakk
Johan ambruk sambil berteriak kesakitan, "Aaaaaarrgg..!! S-sakiiitt... S-sakiiiittt..."
Melihat gerakan Dewa yang sangat cepat, Komeng dan yang lainnya panik. Dewa berteriak memberi instruksi kepada Roni dan yang lainnya, "Kalian..!! Waktunya beraksi, jangan sampai mereka kabur..!!" teriak Dewa.
Mendengar teriakan Dewa, Loreng segera berlari dan langsung menghantam kepala Komeng. Roni, Kosim dan Icongpun juga melakukan hal yang sama terhadap ketiga anak buah Komeng.
Jbuuugg.. Jdaaaagg.. Jbuuuuuugg..
Sementara itu, teman yang bersama Johan langsung masuk ke mobil dan mengundurkan mobilnya secepat mungkin.
Bruaaaaaaakkkk..
Mobil itu menabrak gerobak yang sudah disiapkan Kosim dan Icong sebelumnya. Dia semakin panik setelah Dewa datang mendekatinya, "Keluar dari mobil, cepaaaaatt..!!" bentak Dewa.
"I-iya bang. Aku tidak tau a-apa-apa bang. A-aku hanya disuruh saja.." ucapnya gemetar sambil keluar mobil. Dewa langsung meninju perut dan lehernya yang membuat dia pingsan.
Jbuuuuuuggg.. Jtaaaaaaakk..
Roni dan lainnya dengan mudah melumpuhkan Komeng dan anak buahnya, "Selanjutnya gimana bos..?" tanya Roni.
"Kalian takut sama Suwarno..?" tanya Dewa dijawab dengan gelengan kepala mereka. Kemudian Dewa berkata, "Baik, aku ingin membuat kalian terkenal, tapi ingat, jangan pernah sebutkan namaku.." ucap Dewa.
"Kami percaya sama bos. Kami yakin bahwa itu pasti yang terbaik.." jawab Roni dan Loreng diikuti anggukan Icong dan Kosim
"Telepon pamanmu, yang polisi baik itu. Bilang kalian baru saja menggagalkan transaksi sabu sabu yang melibatkan oknum polisi. Berikan rekaman di hp Loreng sebagai bukti bahwa barang itu milik mereka.." ucap Dewa.
"Siap bos.." jawab Roni kemudian segera menghubungi Husain pamannya dan melaporkan kejadiannya. Kemudian Dewa meminta Kosim mengantarnya pulang menggunakan mobil Roni.
"Eh.. Bos, motorku gimana..? Tadi ada di sebelah kuburan sana bos.." tanya Loreng bingung.
"Ya tinggal ambil aja kan..? Apa susahnya..?" ucap Dewa.
"Kuburan itu angker bos, aku takut, sering ada kuntilanak disana.." jawab Loreng yang membuat kami semua tertawa.
"Sudah sama kuntilanak aja takut, yang penting baca do'a.." ucap Dewa.
"Waduh, do'anya gimana bos..?" tanya Loreng bingung.
"Baca aja do'a sebelum makan bang.." sahut Icong dan disambut tawa oleh mereka.
__ADS_1
Dewa pun meninggalkan gudang dengan diantar Kosim.