
Santoso memohon kepada Dewa agar dia diberikan kesempatan untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, dan Dewa pun memberi Santoso kesempatan untuk bercerita, "Baik.. Aku akan memberimu kesempatan, tapi kalau kau tidak berkata yang sebenarnya, maka kepalamu akan ku gantung di pintu itu.." ancam Dewa.
Dengan posisi kaki dan tangan yang terikat, Santoso mulai menceritakan kejadian yang dialaminya, "Sebenarnya sekitar satu minggu sebelum perintah itu turun, sudah beredar rumor di regu kami, bahwa akan ada penyelundupan senjata melalui perairan Borneo yang dilakukan oleh personel militer. Aku tidak tau siapa personel yang dimaksud dan dari kesatuan mana mereka berasal.." Santoso mengambil jeda sejenak.
"Siapa yang menyebarkan rumor itu itu dan bagaimana rumor itu bisa tersebar..?" tanya Dewa.
"Aku tidak tau siapa yang pertama kali menyebarkannya di regu kami, yang pasti tidak butuh waktu lama rumor itu menjadi perbincangan di regu kami. Tiga hari setelahnya tersebar kabar kalau yang akan menyelundupkan senjata adalah pasukan Ganendra. Tapi aku merasakan ada keanehan dari kabar yang tersebar, aku curiga karena rumor itu hanya beredar di regu kami, sedangkan regu lain di kesatuan kami tidak mengetahui ada rumor tersebut. Aku merasa bahwa informasi tentang penyelundupan senjata itu adalah rekayasa saja.." ujar Santoso.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya..?" sahut Dewa.
"Kecurigaanku semakin besar ketika ada perintah dari atasan, tapi hanya ditujukan kepada tiga orang saja dari regu kami. Aku dan kedua orang temanku diberikan tugas untuk bergabung dengan pasukan Ganendra lainnya untuk menjadi sniper. Bagaimanapun aku tidak dapat menolak perintah itu dan mau tidak mau harus menjalankan perintah, kamu pasti paham maksudku.." ujar Santoso menceritakan kejadiannya.
Dewa semakin penasaran dengan cerita Santoso, "Lalu perintah apa yang kalian dapatkan..?" tanya Dewa.
"Santoso menghembuskan nafasnya sebelum menjawab, "Hhuuuuffhh.. Awalnya kami ditugaskan untuk membackup Regu I, II dan IV pasukan Ganendra. Tapi perintah itu berubah saat dalam perjalanan, yaitu menembak mati anda dan raja Yama.." jawab Santoso.
Dewa terkejut mendengar cerita Santoso. Dia tidak menyangka bahwa dialah yang menjadi targetnya, Dewa melanjutkan pertanyaannya, "Kamu yakin mereka dari pasukan Ganendra..?" tanya Dewa, dan Santoso dengan segera menjawab pertanyaan Dewa, "Aku tidak tau, tapi aku merasa bahwa pasukan itu tidak hanya pasukan Ganendra saja melainkan gabungan dari beberapa pasukan khusus.."
Dewa menarik nafas panjang, "Kalau memang aku yang menjadi targetnya, mengapa engkau tidak melakukannya, tapi kau malah mengalihkan targetnya kepada rekanku..? Asal kau tau, demi melindungiku, dia mati tertembus pelurumu..!!" ucap Dewa geram.
"S-siapa yang kau maksud kutembak mati..? Aku tidak menembak mati siapapun.." ucapnya membela diri.
"Bangsat..!! Kau sudah membunuh rekanku tapi tidak mengaku..?" bentak Yuma sambil mengarahkan pukulan ke wajah Santoso, tapi dengan cepat Dewa menghentikannya, "Cukup.. Hentikan Yud..!!" hardik Dewa.
"Kau ingat Sandhi..? Orang yang kau tembak punggungnya dan tembus ke dada itu..?!" bentak Yuma sambil memegang kerah baju Santoso.
"Siapa bilang dia mati..? Dia masih hidup, dan sekarang dia pasti sudah beraktifitas seperti biasa. Kau bisa lihat buktinya di hp ku, kau buka saja rekaman video call ku sama dia saat dia masih dirawat di rumah sakit.." ucap Santoso dengan mata berkaca-kaca.
Yudha memeriksa saku baju Santoso, tapi tidak menemukan hp yang dimaksud. Lalu Dewa memerintahkan Roni memeriksa mobil mencari hp Santoso yang jatuh di mobil. Roni dengan cepat memeriksa mobil dan kembali dengan membawaa hp Santoso.
"Buka saja, kodenya 101010.." ucap Santoso lirih.
Dewa membuka hp Santoso dan memeriksa galeri hp itu dan menemukan rekaman video percakapan Sandhi dan Santoso. Melalui Video itu, Dewa melihat Santoso yang sedang berbicara melalui video call dengan Sandhi. Sandhi terlihat berbaring di kasur dengan infus dan alat bantu nafas di hidungnya. Dalam video itu, Santoso menangis meminta maaf kepada Sandhi, dan Sandhi memaafkan semua yang telah dilakukan Santoso, bahkan berterimakasih kepada Santoso karena membiarkan Dewa pergi. Dewa hampir tidak percaya dengan yang dilihatnya, "I-ini bagaimana mungkin..? Aku melihat sendiri luka itu jelas menembus dada Sandhi.." tanya Dewa tidak percaya.
"Bukalah galeri selanjutnya. Disana aku sempat memfoto hasil ronsen dari Sandhi. Peluru itu tidak mengenai organ vital Sandhi, bahkan melewati sela-sela tulang rusuknya.." ujar Santoso.
"Lalu siapa yang membawa Sandhi..? Dimana dia sekarang..?" sahut Dewa.
"Semua yang aku lakukan adalah permintaan komandanmu, Kol. Sumardi, dan beliau jugalah yang membawa Sandhi setelah kejadian itu, aku sendiri yang membantunya naik ke dalam helikopter evakuasi.." ucap Santoso.
__ADS_1
"Apakah komandan terlibat dalam rencana itu..? Atau memang dia yang sengaja menjerumuskan kami..?" tanya Dewa memastikan.
"Tidak, aku yakin sekali beliau tidak terlibat bahkan sengaja melindungimu. Jadi sehari sebelum kami berangkat beliau menemuiku di camp tempat kami berkumpul. Beliau memberitahuku akan ada perubahan perintah untukku, seperti yang aku katakan tadi. Kol. Sumardi mengatakan kepadaku, bahwa dia sudah mengubah formasi kalian. Tapi ku katakan aku harus tetap menembak target. Kol. Sumardi mengatakan bahwa targetku adalah siapapun yang ada di posisimu, tapi aku harus memastikan bahwa tembakanku tidak berakibat fatal pada target. Beliau juga memintaku melepaskan mu dan Yudha. Sebenarnya sangat mudah bagiku membidik dan menembak kalian, tapi aku lebih percaya dengan Kol. Sumardi.." Santoso menceritakan kejadian itu, lalu setelah itu dia melanjutkan ucapannya, "Aku sengaja merekam percakapan kami, karena aku khawatir akan dijadikan kambing hitam nantinya.." ujar Santoso.
Dewa mendengarkan rekaman percakapan antara Santoso dan Kol. Sumardi. Disana terdengar Kol. Sumardi meminta kepada Santoso seperti yang diceritakan Santoso, bahkan Kol. Sumardi meminta jaminan kepada Santoso bahwa Dewa dan Yuma harus selamat. "Jadi ini alasan komandan merubah formasi kami saat sebelum kami berangkat..? Aku pikir itu wajar, ternyata aku sudah salah sangka kepada komandan. Beliau sudah memikirkannya sampai sejauh itu.." gumam Dewa dalam hati.
"Kapten Dewa, dari ceritaku seharusnya kau tau bahwa kau dan Yudha lah target sebenarnya. Bahkan perintah pengejaran dan status buronan hanya tertuju padamu dan Yudha. Aku juga tidak tau mengapa dan siapa yang menginginkan kalian.." ucapnya.
"Mungkin komandan tau kebenarannya kapten.." ujar Yuma.
"Lalu bagaimana nasib dua orang rekanku yang tertangkap..?" tanya Dewa memastikan.
"Kalau masalah itu aku tidak tau. Dua hari setelah menjalankan perintah itu, aku dipindahkan kemari karena aku dianggap gagal menjalankan tugas. Kapten, aku akan membantumu, aku juga ingin keadilan untukku dan keluargaku. Sekarang bukalah foto selanjutnya di galeri.." pinta Santoso.
Dewa membuka galeri dan mendapati sebuah foto dirinya bersama dengan istri dan kedua anaknya. Sebuah foto keluarga yang sangat harmonis, "Apa maksudmu dengan foto ini..?" tanya Dewa heran.
"Mereka jaminannya kalau yang aku ceritakan itu tidak benar.. Saat ini mereka ada di desa Pajang kota AD.." jawabnya berusaha meyakinkan Dewa.
Dengan persepsi jiwanya, Dewa sama sekali tidak menemukan kebohongan dari cerita Santoso. Justru dia mendapati ketulusan Santoso di setiap ucapannya. Santoso bersungguh-sungguh untuk membantu Dewa demi keadilan bagi dirinya dan keluarganya.
"Yud, lepaskan dia.." perintah Dewa.
"Sejak kapan kau meragukan kemampuanmu sendiri dan kemampuanku..?" tanya Dewa, lalu Yuma melepaskan Santoso
Ikatan Santoso sudah terlepas, tapi dia tidak langsung berdiri melainkan bersimpuh menunduk kepada mereka. Dia meminta maaf atas semua yang telah terjadi, "Kapten, Raja Yama, aku mohon maaf atas apa yang telah aku lakukan. Aku akan menyerahkan nyawaku kepadamu, tapi aku mohon berikan keadilan kepada keluargaku.." ucap Santosi lirih.
Dewa membantu Santoso berdiri, lalu Santoso memeluk Dewa sambil menangis, lalu Santoso berkata, "Kapten, memang dengan posisiku sekarang aku tidak bisa secara langsung membantumu, tapi aku bisa mengerahkan teman-temanku untuk mencari informasi.." ucap Santoso meyakinkan Dewa.
"Baiklah, tapi kamu tau kan, kamu masih harus menyembunyikan identitas kami. Jadi jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi.. Paham..?" ucap Dewa dengan tegas.
"S-siap kap eh.. bang anu bos.." jawab Santoso gugup.
Setelah semuanya selesai, Dewa segera mengajak mereka segera pergi dari tempat itu, dan kembali ke tempat kompetisi tarung bebas dilaksanakan. Sebelum pergi Dewa menyempatkan untuk menyalurkan energi spiritualnya ke tempat itu, agar jiwa yang dari awal tidak senang dengan kehadiran mereka menjadi tenang.
*****
Roni menyetir mobilnya ditemani Dewa yang duduk di kursi depan. Yuma dan Santoso duduk di kursi tengah. Di dalam mobil mereka mengobrol santai, "Eh bos, tadi bos ngapain..? Seperti ritual gitu..?" tanya Yuma.
"Oh.. Aku sedang mendoakan jiwa-jiwa gentayangan disana yang sangat tidak senang dengan kehadiran kita disana.." jawab Dewa santai.
__ADS_1
"J-jadi tempat itu b-benar-benar angker bos..? Hiiiiii.." tanya Roni begidig.
"Pantesan dari tadi merinding terus kulitku.." sahut Yuma.
Dewa hanya tertawa kecil mendengar ucapan Roni dan Yuma. Selanjutnya dia memperkenalkan Roni kepada Santoso, "Bang San, yang sedang menyetir ini adalah Roni. Yud, kamu gak minta maaf sama bang Santoso..? Bukannya tadi kamu udah buat dia pingsan..?" ujar Dewa.
"Eh.. Kan bos yang suruh..? Yaudah deh, bang mentos, saya minta maaf ya..? Masih sakit lehernya..?" tanya Yuma.
"Sudah mari kita lupakan kejadian tadi. Aku bisa mengerti apa yang kalian lakukan. Justru aku berterimakasih kepada Raja Yama dan bos Dewa, sekarang aku lebih lega karena hal yang membebani pikiranku selama ini sudah keluar semua.." jawab Santoso.
"Eh Yud, kamu panggil dia apa..? Mentos..? Wah kamu itu gak ada hormat-hormatnya, bagaimanapun bang Santoso itu letnan, sedangkan kamu hanya sersan.." ujar Dewa.
"Aku sudah tidak ingin lagi mengingat itu. Jadi gak masalah kalian mau panggil aku apa, santai aja.." ucap Santoso.
"Eh.. Maaf bang Men, eh bang San. Aku hanya bercanda saja.." jawab Yuma.
Roni akhirnya bisa ikut tersenyum setelah mendengar mereka bercanda. Hingga akhirnya dia berani bertanya, "Maaf bos, jadi sebenarnya kalian ini tentara..?" tanya Roni.
"Ya bisa dibilang seperti itu, atau lebih tepatnya tentara buronan.. Hahahaha.. Tapi Ron, rahasiakan ini semua. Jangan sampai siapapun tau termasuk Loreng.." ucap Dewa tegas.
"Woi pria kecil.. Denger tuh kata bos mu.." celetuk Yuma
"Namaku Roni bang.." protes Roni.
"Mau kau Roni, rantang, rantai kalau aku pengen panggil pria kecil ya pria kecil. Apa perlu kupatahkan kakimu dulu biar pantas ku panggil pria kecil..?" hardik Yuma.
"Oh.. Siap bang siap. Gak pa pa, pria kecil juga boleh.." jawab Roni gugup, mereka pun tertawa melihat tingkah Roni yang ketakutan.
"Jangan takut pria kecil, aku gak akan pernah tega sama saudaraku sendiri. Beda lagi kalau kamu itu musuh. Jadi santai saja gak usah tegang.." ucap Yuma menenangkan Roni.
"I-iya bang siap.. Hehehhe.." jawab Roni.
"Bang San, saat di GOR aku butuh bantuanmu. Pasti akan terjadi keributan saat pertarungan Yuma melawan Mamba Hitam. Itu pertarunganku dengan Yudha. Tolong bantu aku melindungi seseorang.." ucap Dewa kepada Santoso.
"Siap laksanakan bos. Bos Dewa tinggal tunjukkan aja siapa yang harus aku lindungi.. Atau sekalian aku undang teman-teman dari Koramil..?" jawab Santoso.
"Aaahh.. Tidak perlu, dengan kemampuan bang San ditambah Roni dan petarungnya, itu sudah lebih dari cukup. Nanti biar Roni nanti yang tunjukkan siapa orangnya.." jawab Dewa
Dewa meminta Roni untuk mengantarnya ke hotel tempatnya menginap lalu meminta mereka langsung menuju GOR. Disana sudah ada Loreng yang menunggu di pintu masuk GOR sebelah utara dimana Roni memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
*****